
Darius bingung. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel mengejutkannya. Dengan cepat ia melihat layar yang tertulis nama Handoko.
"Halo, Tuan."
"Darius, di mana kamu? Bagaimana Niko?"
Darius masih berdiri di ruangan Niko. "Tuan Niko baru saja pergi, Tuan. Sepertinya beliau sedang bertengkar dengan nona Wulan."
"Masalah mereka masih berlanjut? Apa kau sudah memberitahu yang sebenarnya?"
"Sepertinya, Tuan. Begitu masuk ke sini tuan Niko membanting ponselnya lagi. Sebelum pergi tuan Niko juga mengatakan, bahwa mulai sekarang nona Wulan bukan kekasihnya lagi. Saya belum berani mengatakan yang sebenarnya dengan kondisi tuan Niko yang sekarang."
"Biarkan saja dulu, mungkin dia butuh ketenangan. Kamu suruh orang untuk memata-matai Wulan. Aku tidak ingin ada salah paham di antara mereka. Jefry orang yang licik, apa pun akan dia lakukan untuk memisahkan Niko dengan Wulan."
"Baik, Tuan."
Di sisi lain.
Dalam ruang kerja yang sepi Wulan sedang menangis. Waktu sudah pukul lima sore lewat lima belas menit dan karyawan yang lain sudah pulang. Wulan sendirian dan melampiaskan kesedihannya dengan menghubungi Fanny.
"... menjengkelkan dia bilang aku hanya sibuk dengan pria lain dan mengabaikannya. Aku menghubunginya berkali-kali, tapi ponselnya tidak aktif dan dia menyalahkanku, Fanny."
"Hampir semua laki-laki seperti itu. Mereka yang berbuat salah, tapi menjadikan kesalahanmu sebagai senjata untuk menyerangmu."
"Dia pasti sengaja menyalahkanku, agar aku bisa membebaskannya. Sebenarnya simple sekali, kalau memang dia masih mencintai Viona, dia tinggal mengabaikanku saja."
"Viona, Viona siapa?"
"Dia temannya Ulan."
"Apa Ulan menjodohkan mereka?"
"Kata Ulan Viona itu mantannya Niko. Malam aku berangkat, Niko bertemu lagi dengannya. Besoknya aku menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Kata Ulan dia sedang bersama Viona. Jelas sekali, kan? Dia ingin mencari masalah denganku, agar dia bisa mendekati Viona lagi."
"Sumpah, aku tidak menyangka Niko seperti itu. Tapi seperti yang kita ketahui, sebelumnya dia adalah play boy. Mungkin saja sekarang memang masih begitu. Dilihat dari sikapnya padamu aku benar-benar tak percaya dia melakukan itu padamu, Wulan."
"Aku yang salah, salah terlalu mempercayainya. Aku berharap dia akan jujur soal mereka, tahu-tahu dia menyalahkanku dengan alasan ponsel tidak aktif. Kalau memang dia masih cinta padaku, dia pasti meminta penjelasan yang detail, atau tanpa aku tanya soal mereka, dia pasti akan jujur soal itu. Nyatanya, dia tidak meminta penjelasan bahkan tidak akan menggangguku lagi."
"Kamu yang sabar, ya. Untung kau tahu sekarang, kalau kau tahu setelah menikah, kau pasti menyesal."
Wulan menarik cairan hidungnya. "Sakit sekali rasanya, Fann. Tapi aku akan berusaha untuk melupakannya. Mungkin lebih lama di sini akan lebih baik."
"Bagaimana orang yang kau ajarkan, apa dia berhasil?"
Wulan seakan terkejut. "Itu dia yang aku heran, sampai sekarang tidak ada orang yang akan aku ajarkan seperti yang dikatakan pak kepala."
"Jadi kamu posisimu di sana sebagai apa?"
"Di sini posisiku sama dengan di sana. Aku mengisi posisi yang kosong, kata pak Deril AO sebelumnya sudah mengundurkan diri. Jadi aku diminta untuk menggantikan posisinya."
"Kenapa alasannya berbeda dengan pak kepala? Seharusnya beliau mengatakan yang sebenarnya, kan?"
Kepala Wulan terlalu pusing untuk memikirkan itu. "Entalah, mungkin ada hikmahnya dari kejadian itu. Kalau tidak ke sini, aku tidak akan pernah tahu kalau ternyata Niko belum selesai dengan masalalunya."
"Iya juga, sih. Terus, apa rencanamu sekarang?"
"Siapa tahu di sana kamu bisa dapat penggantinya."
Wulan terkekeh. "Tidak segampang itu, aku ingin fokus kerja saja. Soal jodoh, aku serahkan kepada Tuhan. Aku tidak mau berharap atau mencari lagi. Pilihan Tuhan memang lebih baik daripada pilihan kita."
"Aku hanya bisa bantu doa. Yang sabar, ya. Aku yakin Tuhan sedang menyiapkan lelaki baik untukmu di masa depan."
"Amin. Ya sudah, aku akan menghubungimu lagi, aku siap-siap pulang dulu."
"Oke. Kabari aku, ya."
Setelah memutuskan panggilan, Wulan terkejut dengan suara pria yang berdiri di dekat pintu.
"Apa ada masalah, kenapa kamu menangis?"
Keberadaan Deril di mana pun membuat Wulan senang. Pria itu begitu baik dan sangat perhatian kepadanya, tapi Wulan tidak suka pria itu terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya. Bukannya merasa nyaman, Wulan merasa risih dengan sikap Deril yang menurutnya terlalu berlebihan.
***
Pusing tidak ada Wulan yang akan diajaknya jalan-jalan, Fanny terpaksa memberanikan diri untuk pergi sendiri.
Sebelum Wulan pacaran dengan Niko, ke manapun ia akan mengajak Wulan menemaninya. Bahkan setelah sahabatnya berpacaran, ia masih bisa mengajak Wulan nonton atau makan bersama.
Seandainya bukan film kesukaannya, Fanny tidak akan mau nonton bisokop sendirian. Banyak teman kantor yang cukup dekat dengannya, tapi hanya Wulan yang benar-benar mengerti padanya.
Menghabiskan waktu hampir dua jam membuat Fanny kelaparan. Fanny mencari tempat makan yang biasa ia kunjungi dengan Wulan, tapi sayangnya restoran itu penuh dengan pengunjung.
Sekarang sudah pukul delapan malam. Fanny tidak tahu lagi harus mencari tempat makan di mana lagi. Banyak tempat makan yang kosong, sayangnya Fanny tidak suka dengan menunya.
Fanny akhirnya memutuskan ke restoran baru yang tak jauh dari mall. Saat ia berjalan menyusuri trotoar, matanya menangkap sosok tidak asing yang sedang terkikik bersama wanita asing.
"Itu kan Ulan."
Fanny memperhatikan wanita di sampingnya. Ia teringat soal teman Ulan yang katanya mantannya Niko. Penasaran ingin tahu siapa wanita yang bersama Ulan, Fanny mengikuti mereka dari jauh.
Ternyata Ulan dan temannya masuk ke restoran baru itu. Fanny mengekor dan masuk ke dalam. Ia menjaga jarak cukup jauh, agar Ulan tidak melihatnya.
Untung saja tempat itu sangat ramai. Fanny tidak terlalu khawatir. Ulan pasti tidak akan menyadari kehadirannya di keramaian pengunjung yang lain.
Fanny melihat Ulan dan temannya mengambil posisi di pojok tengah restoran. Ia pun mengekor dan menempati posisi di samping mereka.
Agar bisa tahu identitas wanita yang bersama Ulan, Fanny mengambil posisi sangat dekat dan duduk di belakang Ulan. Fanny akhirnya bisa menatap wanita yang duduk di depan ulan.
'Siapa dia? Sepertinya dia sangat dekat dengan Ulan. Apa jangan-jangan dia yang namanya Viona?'
Pikiran Fanny terganggu ketika sang pelayan menyapanya. "Selamat malam, Nona. Mau pesan apa?"
Sambil merespon sang pelayan telinga Fanny tetap fokus pada Ulan dan temannya. Ia sedikit terkejut mendengar tawa Ulan dan temannya ketika pelayan yang lain melayani mereka.
'Sepertinya mereka mabuk,' batin Fanny. Ia terus memperhatian interaksi Ulan dan wanita yang kadang-kadang menatap ke arahnya. Fanny tak peduli, karena wanita itu tidak mengenalnya.
"Kalau aku menikah dengan Niko apa kau setuju?"
Fanny terkejut. 'Ulan ingin menikahi Niko, apa dia gila?'
Bersambung___