
Angelina terpaku. Ia tak menyangka Niko akan berkata jujur.
Melihat ekspresi Angelina, Niko segera mengodekan mata. Ia tak ingin orang lain mendengar pembicaraan mereka.
Angelina pun mengerti. Ia memilih cincin yang menurutnya sangat pas dan cocok untuk Wulan.
"Ini saja, Nak."
Angelina menunjukkan cincin permata kecil kepada Niko.
"Ini indah sekali, Ma. Mama yakin Wulan akan menyukainya?"
"Wulan sama seperti mama, dia sederhana. Mama yakin dia akan suka. Percayalah."
Niko tersenyum. "Mama sendiri mau yang mana? Pilih saja yang Mama suka."
Angelina tak mau menolak, ia pun memilih cincin untuk dirinya sendiri kemudian menunjukkannya kepada Niko.
"Mama jadi teringat pada papanya Wulan, dia selalu mengajak mama ke toko perhiasan setiap bulan untuk membeli cincin baru."
Niko bisa merasakan kerinduan Angelina terhadap suaminya. Melihat ekspresi wanita itu membuat hati Niko begitu sakit.
Seandainya Jefry tidak menyuruh papanya membunuh Benny, mungkin sekarang pernikahannya dan Wulan sudah terlaksana.
Seandainya mereka tahu yang membunuh Benny adalah orang terdekat mereka, impian Niko untuk menikahi Wulan pasti sudah terlaksana. Seandainya juga Handoko tidak terlibat dalam situasi itu, sekarang juga Niko akan mengungkapkan siapa pembunuh Benny Irawan kepada Angelina.
Setelah memilih cincin Niko dan Angelina kembali ke mobil. Niko memberikan alamat rumah Angelina kepada Darius. Jika tadi Niko duduk di samping Darius, sekarang ia duduk di bangku belakang menemani Angelina.
Tak mau basa-basi Niko memulai, "Aku minta maaf soal tadi."
"Soal apa, Nak?" Angelina menatap bingung.
"Aku sudah tidak sopan memanggil Tante dengan sebutan mama. Seharusnya aku meminta ijin dulu kepada Tante."
Angelina tersenyum tulus. "Tidak masalah, Nak. Tante tahu kamu sedang berakting di depan wanita tadi. Tidak masalah juga kamu ingin memanggil tante dengan sebutan mama, toh sebentar lagi kamu akan menjadi menantu tante."
"Ngomong-ngomong soal menantu," Niko gugup, "Sebenarnya aku tidak ingin menikahi Ulan, Tante. Aku tidak mencintai Ulan, aku mencintai Wulan."
Angelina tersenyum sayang. Ia meraih tangan Niko dan menggenggamnya. "Wulan sudah menceritakannya pada tante semuanya. Tante juga tahu kalau kamu yang sering mengajak Wulan makan setiap malam."
"Aku bersyukur bisa ketemu Tante hari ini. Papaku sudah berkali-kali ingin menemui Tante dan memperbaiki kesalahannya, tapi takdir tidak mempertemukan."
Alis Angelina berkerut. "Tidak mempertemukan bagaimana maksudmu, Nak?"
"Papa tadi menemui Tante di rumah, tapi kata orang rumah Tante ke luar kota bersama om Jefry."
"Kalau benar tante keluar kota, sekarang ini kita tidak akan berada di mobil yang sama, bukan?"
Niko tahu orang rumah itu di perintahkan Jefry untuk memberikan alasan demikian. Namun, ia sengaja memprovokasi Angelina, biar wanita itu menanyakannya secara langsung kepada Jefry.
"Tante benar. Kapan Tante punya waktu luang? Aku akan mengatur jadwal untuk pertemuan Tante dan papaku. Selain untuk mengklarifikasi kesalahpahaman yang dibuat papa, Tante adalah ibu kandungnya Wulan. Jadi, papa ingin melamar Wulan langsung kepada Tante."
Angelina menatap sedih. "Tante sebenarnya tidak ingin mengatakan sekarang, tapi cepat atau lambat kamu dan Wulan akan tahu soal ini. Kamu tidak bisa menikahi Wulan, Niko."
Niko terkejut. Wajah tampannya secepat kilat berubah dingin. Dari sikap Angelina padanya, jelas wanita itu sudah merestui hubungannya dengan Wulan. Pasti ada invensi yang membuat wanita itu berkata demikian.
Dengan emosi bergejolak Niko menunduk. "Tante tidak suka ya Wulan mendapatkan suami sepertiku?"
Angelina menggeleng kepala. "Itu tidak benar, Niko. Sejak Wulan bilang kamu mendekatinya tante sangat bahagia mendengar itu. Tante juga tak mempermasalahkan pria mana yang ingin mendekati Wulan. Selama itu membuat Wulan bahagia, tante juga ikut bahagia. Sudah lama tante ingin Wulan membangun rumah tangga. Namun, keinginan tante untuk menjadikanmu menantu sepertinya tidak bisa. Kamu dan Wulan tidak berjodoh, Nak."
'Om Jefry,' kata Niko dalam hati, 'pasti lelaki itu yang menghasut tante Angelina.'
Dengan lambat Niko kembali menatap Angelina. "Bisa aku tahu alasannya kenapa?"
"Om Jefry sudah tahu soal kesalahpahaman itu. Dia juga sudah tahu kalau kamu mengincar Wulan, bukan Ulan."
"Hanya saja, ibunya Ulan menginginkan kamu menikahi putrinya. Waktu masih hidup beliau meminta om Jefry untuk menjodohkanmu dengan Ulan."
Ekspresi Niko berubah dingin. Dengan segera ia mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Maafkan kami, Nak," kata Angelina. Ia merasa bersalah dan mengerti apa yang dirasakan Niko, "Tante ingin sekali kamu menikahi Wulan, tapi bagaimana lagi? Seandainya Ulan dan Wulan bukan saudara___"
"Siapa yang mengatakan begitu?" sergah Niko sambil menatap Angelina. Ia memotong pembicaraan Angelina, membuat wanita itu menghentikan kata-katanya.
"Om Jefry sendiri yang mengatakannya."
"Apa Wulan sudah tahu?"
Angelina menggeleng. "Malam ini tante akan bicara dengannya. Tante tidak tega, tapi cepat atau lambat kalian berdua harus tahu."
"Kalau aku tidak ingin menikahi Ulan, bagaimana?"
Angelina sedikit terkejut. "Apa kamu tidak mau menikahinya?"
"Tante tahu kan, aku hanya mencintai Wulan."
"Tante tahu, Nak. Tante juga tidak tahu apa keputusan om Jefry jika kamu menolak Wulan. Yang tante tahu, om Jefry akan melangsungkan pernikahan untukmu dan Ulan."
Lagi-lagi Niko mengalihkan pandangan. Emosi dalam dirinya semakin bergolak. Ia pun akhirnya menatap Angelina dengan ekspresi datar.
"Kalau jodoh takkan ke mana. Aku akan memperjuangkan Wulan bagaimana pun caranya."
***
Sejak mendapat kabar dari kepala bank, bahwa dirinya akan di mutasi membuat Wulan tak bersemangat seperti biasanya.
Sepulang kantor biasa Wulan akan langsung mandi dan istirahat, sekarang ia malah bermalas-malasan di kamar dengan setelan kantor yang masih menempel di tubuhnya. Pikiran Wulan terus melayang kepada dirinya yang akan di mutasi.
Drtt... Drtt...
Panggilan masuk mengejutkan Wulan. Dilihatnya nama Fanny sebagai pemanggil. Dengan tak bersemangat ia menyambungkan panggilan.
"Halo, Fan."
"Suaramu kenapa, kamu sakit?"
Wulan mengubah posisinya menjadi tengkurap. "Aku tidak apa-apa. Kamu tahu kan kenapa?"
"Apa kamu sudah bicara dengan Niko?"
"Malam ini aku ada janji dengannya. Aku bingung harus mengatakan apa padanya. Aku takut dia tidak akan setuju."
"Kamu jujur, deh? Sebenarnya kamu tidak ingin berjauhan dengan Niko atau cemburu Niko di dekati Ulan?"
Kata-kata Fanny dibenarkan. Wulan berbalik, berbaring dan menatap langit-langit kamar. Ia menarik napas panjang, mengeluarkan secara perlahan, seolah-olah mengontrol rasa sesak di dadanya saat ini.
"Aku takut dia diambil Ulan, Fan."
"Di ambil Ulan, bukannya kamu sudah jujur pada Wulan soal hubungan kalian?"
Air mata Wulan menetes. "Papa, papa ingin Ulan menikah dengan Niko, bukan aku."
"Kenapa, cinta itu tidak bisa dipaksakan? Papamu pernah muda, dia pasti tahu itu."
Wulan terdiam.
"Memangnya papamu tidak tahu, kalau kamu yang diincar Niko?"
Bersambung___