
Setelah panggilan terputus Wulan menunggu pesan dari Angelina. Ia bahkan tak peduli lagi dengan pekerjaan dan kesehatannya. Sejak pagi Wulan belum sarapan. Saking dipenuhi dengan Niko dalam pikirannya, Wulan sama sekali tidak bersemangat.
Ting!
Bunyi notifikasi langsung membuat Wulan bergerak. Ia membuka pesan dari Angelina dan melihat kontak yang baru saja dikirim.
Wulan hendak menekan radial saat nama Niko muncul di layar ponsel. Jantungnya berdetak tak karuan ketika melihat nama yang dinantikan akhirnya menelepon.
Bukannya menerima panggilan Niko, Wulan menolak panggilan itu kemudian menghubungi Ulan. Yang penting baginya sekarang adalah mencaritahu alasan Niko memeluk Wulan dan siapa Viona. Wulan akan menghubungi Niko setelah ini. Sebelum ia menyalahkan siapa yang salah di antara mereka, Wulan ingin mendengar penjelasan dari keduanya.
"Halo?" suara Ulan begitu pelan.
"Lan, ini aku ... Wulan."
"Kak Wulan!" seru Ulan, "Kakak bagaimana kabarmu, kenapa ponselmu tidak aktif? Berhari-hari aku menghubungimu, tapi ponsel Kakak tidak bisa dihubungi."
Wulan mengerutkan alis. "Kenapa kau tidak memintanya ke mama, mama punya kontak baruku."
"Kakak ganti nomor? Kenapa? Apa Kakak bertengkar dengan Niko?"
Wulan ingin mengatakan kejujuran soal ponselnya. Namun, mendengar nama Niko disebutkan Ulan membuatnya beralih pikiran.
"Ya, aku sedang menghindarinya."
"Sudah kuduga. Aku bertemu dia di kelab malam waktu malam Kakak berangkat. Kakak tahu, Niko ternyata belum selesai dengan masalalunya. Dia masih menemui mantannya."
"Mantan?" Wulan syok.
"Iya, mantan kekasihnya. Namanya Viona. Dia temanku. Kakak pasti tidak akan percaya kalau dia mantannya Niko."
Dada Wulan secara tertindas tembok. Suhu ruangan yang dingin rasanya tak mampu memberikannya oksigen.
"... aku tidak percaya, tapi setelah dia mengatakan soal kecelakaan itu akhirnya aku percaya."
Wulan terkejut. "Ulan, bisa kau ulangi lagi? Aku tidak mendengarnya."
"Viona itu teman kuliahku. Karena sibuk masing-masing membuat kami tak punya waktu bertemu dengannya. Pas aku sedang berbelanja di mall sehari setelah Kakak berangkat aku dan dia bertemu di sana. Kami bicara banyak. Saat aku membahas soal Kakak dan Niko, dia terkejut mendengar nama Niko. Dia sendiri yang menyebutkan nama belakang Niko. Dia sendiri juga yang mengaku kalau punya hubungan dengan Niko."
Wulan terdiam.
"Kakak tahu, ternyata kecelakaan Niko tempo hari karena mereka bertengkar. Niko bertengkar dengan Viona sampai-sampai dia kecelakaan. Karena merasa bersalah Viona pergi keluar kota beberapa bulan. Ya ... bisa dibilang hubungan mereka belum selesai, Kak."
Wulan kembali mengingat kejadian saat ia mengeluarkan Niko dari mobil. Wulan ingat, saat itu ponsel Niko berada di kaki bangku penumpang. Ia juga ingat ketika Niko sendiri yang bilang, bahwa ia kecelakaan karena beradu mulut dengan seseorang.
Hati Wulan sakit membayangkan itu. Betapa bodohnya ia menerima pria yang ternyata masalalunya belum selesai.
"Kak?"
Suara Ulan mengejutkannya. "Ya?"
"Kakak baik-baik saja, kan?"
Wulan ingin menangis, tapi sekuat tenaga ia menahannya. "Aku baik-baik saja."
"Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi cepat atau lambat Kakak pasti akan tahu. Viona memang temanku, tapi Kakak Wulan adalah kakakku. Sudah sepantasnya Kakak tahu soal ini."
"Kamu benar. Terima kasih sudah mengatakan ini."
"Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan pada Kakak, kuharap Kak Wulan tidak akan marah padaku."
"Soal apa?"
"Waktu kami bertiga minum bersama, aku sempat meminta Niko untuk tidak menyakiti Kakak. Awalnya dia diam saja. Begitu kami keluar bar, dia memelukku dan minta maaf. Niko minta maaf karena belum bisa melupakan Viona."
Airmata Wulan tak tertahankan. Sesak di dadanya membuat ponselnya jatuh ke lantai.
"Halo, Kak?! Kak Wulan? Halo?!"
Wulan menangis.
Di sisi lain.
Pusing memikirkan Wulan, Niko memutuskan untuk ke kantor. Dengan wajah cemberut Niko duduk di ruangan sambil menatap ponsel barunya. Ia kesal panggilannya ditolak oleh Wulan.
"Sesibuk apa dia sampai-sampai menolak panggilanku?"
Niko menunggu beberapa saat.
"Apa mungkin dia sedang meeting?" Niko melirik jam dinding, "Di sana sekarang sudah jam makan siang. Apa jangan-jangan dia sedang makan dengan pria itu sampai tidak mau diganggu?"
Niko tak mau menyerah. Ia ke panggilan keluar kemudian menghubungi Wulan.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah___"
Niko mengendus. "Sedang apa kamu sekarang? Kenapa kamu mengabaikanku, apa kamu sudah tak cinta lagi padaku, hah?"
Tok! Tok!
Bunyi pintu membuat Niko terkejut.
"Masuk!"
Niko langsung berdiri. "Kupercayakan perusahan padamu, aku akan ke sana."
Dengan emosi meluap Niko meninggalkan gedung BK Group. Masalah Wulan seketika hilang dalam pikirannya.
"Jefry ... Jefry pasti yang melakukannya."
Hanya memakan waktu dua puluh menit Niko akhirnya tiba di rumah. Ia terkejut melihat pintu gerbangnya terbuka lebar.
Niko menghentikan mobil di depan gerbang, memeriksa pos pengamanan yang begitu berantakan.
"Ini keterlaluan."
Niko berlari memasuki rumah. "Magdalena, Brian! Di mana kalian?"
Brak!
Bunyi benturan membuat Niko terkejut. Ia mencari sumber suara dan mendapati tiga orang tak berdaya sedang terikat di atas lantai. Niko bergegas membuka ikatan mereka.
Mereka terlihat kesakitan. Wajah mereka juga terluka.
"Di mana papa?"
Magdalena menangis. "Mereka membawa tuan besar, Tuan. Mereka membius tuan kemudian membawanya."
"Berapa jumlah mereka?"
"Mereka sangat banyak, Tuan," kata Brian, "Aku berusaha melawan, tapi tidak bisa."
Niko melihat beberapa luka di wajah Brian dan penjaga keamanan. Ia tak bisa menyalahkan mereka atas kejadian ini. Ia juga tahu siapa orang di balik kekacauan ini.
Niko mengambil ponsel kemudian menghubungi Darius. "Bawa dokter ke sini, mereka butuh pengobatan."
"Baik, Pak."
Niko memutuskan panggilan kemudian menatap mereka. Rasa sakit menyerang Niko ketika melihat wajah Magdalena berdarah. Wanita itu sudah seperti ibunya dan ia tidak terima mereka melulai wanita itu.
"Kalian tunggu di sini, Darius akan datang bersama dokter."
"Tuan mau ke mana?" tanya Magdalena. Wanita itu terlihat khawatir.
"Aku akan menemui seseorang, seseorang yang harus bertanggungjawab."
Tak menunggu jawaban mereka Niko segera berlalu. Ia keluar rumah dan meninggalkan rumah.
Magdalena menangis. Brian mendekatinya dan memberikannya air.
"Tenang kan dirimu, semuanya akan baik-baik saja."
"Tenang bagaimana maksudmu?! Tuan Handoko hilang dan sekarang tuan Niko pergi entah ke mana. Kalau terjadi sesuatu pada tuan Niko, bagaimana?"
***
Di ruangan kerjanya Jefry begitu bahagia. Kabar dari seseorang di balik telepon membuatnya tersenyum lebar.
"Kerja bagus, Rudi. Tidak salah aku memilihmu untuk menghabisinya."
"Aku akan mengirim videonya, biar kau percaya."
"Itu tidak perlu, aku percaya padamu."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Jefry terkejut.
"Aku akan mengirim sisanya di rekeningmu. Kau jangan khawatir."
"Oke, aku tunggu."
Setelah memutuskan panggilan Jefry menyuruh orang di balik pintu masuk.
Clek!
Sekertaris Jefry masuk. "Pak, tuan Niko ingin bertemu."
"Sudah kuduga," Jefry terkekeh, "Suruh dia masuk."
"Baik, Pak."
"Tunggu."
Sekertaris itu menoleh.
"Transfer semua yang yang kuberikan tadi ke rekening Rudi Hartanto."
"Baik, Pak."
Dengan senyum lebar Jefry duduk di kursi. "Dia ke sini pasti akan menyalahkanku. Niko, Niko, kau anak ingusan tidak akan pernah mampu melawanku."
Bersambung____