
"Kalau begitu suruh dia masuk."
"Baik."
Deril hendak mengekor di belakang Amanda, tapi Robby menahanya.
"Papa harap kamu bisa menjaga rahasia itu, papa tidak ingin apa yang papa lakukan diketahui oleh mereka."
"Aku mengerti."
Deril berbalik ketika pintu ruangan terbuka. Ia melihat Handoko kemudian mempersilahkannya masuk.
Handoko balas tersenyum dan menyapa. Setelah pintu tertutup ia mendekati Robby dan menyapanya.
Robby yang penasaran langsung bertanya, "Apa aku mengenal Anda?"
Handoko tidak heran pertanyaan itu. Ia tersenyum lagi dan memperkenalkan diri.
Robby terkejut mendengar perusahan yang disebutkan Handoko. "Saya benar-benar minta maaf, pak Handoko. Jujur, sebelum kondisi saya seperti ini saya berniat ingin bertemu langsung dengan Anda. Mengadakan kunjungan kepada orang-orang besar seperti Anda adalah tugas kami. Saya tidak menyangka Anda sendiri yang datang ke sini untuk menemui saya."
Suasana menjadi ceria. Handoko terkekeh sedangkan Robby hanya tersenyum seolah-olah mewakilkan rasa bahagianya.
"Jadi begini, Pak Robby ... aku ke sini ingin meminta pertanggungjawaban Anda sebagai atasan," Handoko memulai sambil menatap Robby. Ia sengaja tidak meneruskan ucapan untuk melihat reaksi lelaki itu.
Robby mengerutkan kening, ia tidak paham maksud dan tujuan dari ucapan Handoko.
Handoko paham dan langsung menjelaskan tujuannya. "Aku tahu Anda mengirim Wulan ke luar kota bukan untuk melatih orang, bukan?"
Robby terkejut. Jantungnya berdetak cepat. Wajahnya bahkan semakin pucat mendengar ucapan Handoko soal Wulan. "Anda mengenal Wulan?"
"Bukan hanya mengenal, dia calon menantuku, Pak Robby."
Robby menelan ludah dengan rasa bersalah dan takut menjadi satu. Handoko Lais bukan orang biasa dan Robby telah menyinggungnya.
"Saya benar-benar minta maaf Pak Handoko, saya tidak bermaksud menyingkirkan Wulan. Saya hanya menjalankan perintah."
"Itulah tujuanku ke sini, Pak Robby, aku ingin Anda membantuku menggagalkan pernikahan Niko dan Ulan. Niko adalah putraku, sedangkan Ulan ... dia putri kandungnya Jefry."
Mendengar nama Jefry disebutkan Robby langsung paham apa yang diinginkan Handoko.
"Apa yang bisa saya bantu, Pak Handoko?"
"Aku ingin Anda mengakui kejadian itu pada Angelina, Angelina ibu kandungnya Wulan. Aku tidak berharap Jefry masuk penjara, setidaknya pernikahan putraku akan di tunda jika perbuatan Jefry terbongkar."
"Saya mengerti maksud Anda, Pak Handoko. Saya siap membantu Anda, tapi bagaimana kalau Jefry membalasnya? Saya berada di sini karena dia. Saya memang tidak punya bukti, tapi saya yakin itu perbuatannya."
"Lantas kenapa Anda tidak membalasnya? Dengan kondisi sekarang, jelas akan membuat Anda kehilangan pekerjaan, bukan?"
Robby membenarkan. "Saya tidak punya pilihan lain Pak Handoko, saya tidak punya kekuatan seperti Anda untuk melawan orang seperti Jefry Tanujaya."
"Bukan hanya Anda, Pak Robby ... Buktinya aku meminta bantuan Anda untuk melawannya, bukan? Kita sama-sama tidak punya kekuatan, tapi kita bisa bekerjasama untuk membalasnya. Aku akan menyiapkan pengacara dan lain sebagainya. Anda hanya cukup menjelaskan apa yang terjadi, Pak Robby."
"Kalau hanya itu saya bisa melakukannya, Pak Handoko. Saya akan memperlihatkan bukti pesan dan panggilan Jefry kepada saya. Saya juga masih menyimpan bukti transaksi pengiriman yang dilakulan Jefry ke rekening saya."
Handoko sedikit khawatir. "Apa uang yang dia berikan masih ada?"
"Itu dia masalahnya, sebagian uang itu sudah saya gunakan, Pak Handoko."
"Berapa jumlahnya? Anda tidak usah khawatir, aku akan menutup selisihnya, biar di saat pihak kepolisian ingin meminta barang bukti Anda bisa memberikan uang itu."
Robby menyebutkan selisihnya.
Handoko tidak masalah. Ia tersenyum penuh harap. "Pernikahan mereka dua hari lagi, Pak Robby. Jika Anda ingin melaporkan kejahatan Jefry secepatnya aku bisa membantu Anda dengan menghadirkan polisi ke sini. Aku juga akan menyiapkan pengacara untuk Anda."
"Kalau begitu Pak Handoko atur saja. Besok saya akan menyuruh anak saya untuk membuat laporan ke kantor polisi."
Handoko sangat bahagia, ia tak menyangka Robby akan mempermudah semuanya.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus bertemu dengan pengacara yang akan mewakilkan Anda."
Robby setuju kemudian membiarkan Handoko pergi meninggalkannya. Teringat akan ponsel yang digunakan ketika berkomunikasi dengan Jefry, Robby hendak turun dari ranjang untuk memanggil salah satu keluarganya. Sayangnya kekuatan yang belum stabil membuatnya berdiam diri di atas brankar pasien.
"Semoga mereka cepat kembali."
Robby selalu membawa ponsel itu ke mana-mana selama urusannya dan Jefry belum selesai. Begitu misinya selesai, ia tak lagi menggunakan benda itu dan menyimpannya di lemari.
Sebagai orang yang pernah mendukung kejahatan Jefry, Robby menyesal pernah berkonspirasi dengan orang seperti itu. Demi uang profesinya sebagai orang nomor satu di perusahannya sedang terancam. Kondisi yang belum tahu kapan bisa beraktivitas lagi membuat Robby harus merelakan jabatannya dialihkan ke orang lain, dan itu gara-gara Jefry.
Robby melontarkan sumpah serapah kepada Jefry. Wajahnya yang putih terlihat merah saat mengingat dirinya dihajar sekelompok orang yang tidak dikenal.
"Kuharap kau akan membusuk di penjara, Jefry."
Belum selesai mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya, bunyi pintu terbuka dari luar membuat Robby senang.
"Akhirnya mereka datang."
Sayangnya rasa bahagia itu langsung lenyap ketika mata Robby melihat salah satu perawat wanita masuk dengan peralatan obat di tangannya.
"Sedikit buruk, Suster."
"Begitu, ya? Kalau begitu bersiaplah, saya akan membuat keadaan Anda tidak buruk lagi mulai hari ini."
Robby tidak bisa melihat ekspresi suster karena tertutup masker. Ia hanya tersenyum samar sambil melihat sang suster membuka bungkusan jarum hipodermik kemudian menusuknya ke botol kecil berisi cairan.
Robby tak sabar lagi, ia ingin kondisinya cepat membaik agar dirinya bisa menuntut Jefry dan mencobloskan lelaki itu ke penjara.
***
Setelah mendapat keterangan dari Robby, hari ini Handoko benar-benar disibukkan oleh aktivitas yang cukup melelahkan. Saking sibuknya ia bahkan tak punya waktu bersama Niko.
Keesokan hari Handoko bangun lebih awal. Ia mencari Niko untuk membicarakan kabar baik itu, tapi sosok yang di cari tidak menampakkan wujudnya.
"Magdalena, di mana Niko?"
Magdalena yang baru saja muncul dengan nampan berisi kopi milik Handoko langsung menjawab, "Tuan muda jogging di luar rumah, Tuan."
"Sudah berapa lama?"
"Dua jam yang lalu."
"Kalau dia sudah tiba, bilang aku mencarinya. Ada hal penting yang ingin kubicarakan."
"Baik, Tuan."
Baru berapa detik dibicarakan, sosok Niko muncul dengan tubuh keringat.
"Halo, Pa."
"Kebetulan sekali kamu datang."
Niko mengambil posisi di depan Handoko. Alisnya berkerut melihat pakaian sang ayah begitu rapi.
"Papa mau ke mana?"
Handoko menyesap sedikit kopinya. "Hari ini papa akan bertemu dengan pengacara kita. Dia akan membantu Robby dalam kasusnya melawan Jefry."
"Papa serius?"
"Tentu saja. Kemarin papa menemui Robby di rumah sakit. Kita tinggal menunggu laporannya ke pihak yang berwajib hari ini. Begitu laporannya masuk, kita akan sama-sama bergerak menyerang Jefry."
"Papa yakin ini akan berhasil?"
"Setidaknya besok tidak akan ada pesta pernikahan. Jefry bukan orang biasa dan kita tidak mudah mencobloskannya ke penjara. Setidaknya besok tidak akan ada pernikahan atau janji suci antara kamu dan Ulan."
Niko paham maksud ayahnya. Ia tersenyum dan mulai mengunyah sarapannya.
"Papa bisa membayangkannya, Jefry pasti akan terkejut ketika polisi mendatanginya karena kasus Wulan."
"Permisi, Tuan besar," suara lelaki mengejutkan mereka.
"Ada apa, Brian?" tanya Handoko.
"Di depan ada beberapa orang berpakaian rapi, mereka dari kantor polisi. Katanya mereka ingin bertemu Anda, Tuan besar."
Handoko tersenyum. "Suruh mereka masuk, Brian."
"Baik, Tuan."
"Untuk apa mereka ke sini?" tanya Niko.
"Mungkin Robby sudah membuat laporan. Kemarin papa sudah bilang padanya, dia cukup mengakui kesalahan Jefry di depan polisi, sisanya biar papa yang urus."
Tepat di saat itu tiga orang bertubuh tinggi dan besar masuk. Satu di antara mereka mengenakan kemeja putih, sedangkan dua yang lain mengenakan kemeja biru.
"Maaf mengganggu waktunya. Apa benar Anda bernama Handoko Lais?"
Handoko berdiri penuh percaya diri. Ia menjawab sambil tersenyum lebar. "Benar, dengan saya sendiri. Mari, silahkan duduk."
"Kami tidak punya waktu untuk itu Pak Handoko, kami ke sini ingin menangkap Anda."
Handoko dan Niko terkejut.
"Menangkap saya ... alasan apa?"
"Anda mengenal Robby Lamber?"
"Ya, saya mengenalnya."
"Robby Lamber di temukan tak bernyawa kemarin malam. Pihak keluarga melaporkan Anda karena Anda lah orang terakhir yang berinteraksi dengan korban."
Bersambung___