Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Jangan Minta Maaf Padaku.


Angelina tersenyum. Ia menatap Deril, Handoko dan Niko secara bergantian.


"Aku tidak berharap ini akan terjadi. Aku juga tidak tahu harus bahagia atau bersedih. Jujur, dengan kejadian hari ini beban dalam hatiku rasanya perlahan hilang. Mungkin aku istri yang jahat karena bahagia bahagia ketika suamiku meninggal. Tapi kalian tahu sendiri kan apa yang dia lakukan terhadap putriku? Aku lebih baik kehilangan suami daripada putriku, putriku lebih berharga dibanding suamiku."


Niko mendekati Angelina. Ia memeluk wanita itu dan menghapus airmatanya.


Setelah membalas pelukan Niko Angelina menatapnya. "Bagaimana perasaanmu, Nak? Apa yang kamu rasakan setelah pernikahan yang tidak diinginkan ini gagal?"


"Jodoh tidak pernah salah, Mama. Pernikahan dan kematian adalah panggilan. Tidak ada yang tahu itu kapan. Jika kita memaksakan kehendak sebelum waktunya, seperti inilah yang terjadi."


"Kalau begitu beritahu Wulan, ini berita penting baginya," balas Handoko.


Deril tersenyum. "Lusa aku akan kembali. Aku akan mengijinkan Wulan libur, agar dia bisa menyelesaikan urusannya dengan kalian. Terutama denganmu, Niko. Kau pria paling beruntung jika berhasil memperistri wanita seperti Wulan."


Handoko dan Angelina sedikit terkejut, tapi tidak berkata apa-apa. Sejenak mereka teringat kepada Wulan. Pasti Wulan yang memberitahukan soal itu kepada Deril.


Berbeda dengan Handoko dan Angelina, Niko terkejut mendengarnya. Pasti Viona yang memberitahukannya.


Baru saja ingin melontarkan pertanyaan kepada Deril, interupsi Angelina mengejutkan mereka.


"Ayo kita pulang, aku harus mengurus pemakaman dan mengumukan kematian suamiku."


***


Kematian Jefry menggemparkan seluruh kota. Beberapa orang tampak gembira karena saingan mereka telah tiada.


Persaingan bisnis yang tidak sehat menjadikan mereka kurang senang kepada Jefry. Masalah itu terbongkar ketika mereka menghadiri pemakaman dan memberitahukannya kepada Angelina.


Angelina terkejut ketika orang-orang yang juga pembisnis seperti mereka mengeluhkan rasa tidak suka terhadap Jefry kepadanya. Bahkan ada yang terang-terangan mendiskreditkan Jefry di hari pemakamannya.


"Apa Anda tidak berpikir, kalau sebenarnya Jefry menikahi Anda hanya karena harta?"


Angelina tak membayangkan ada orang yang akan melontarkan pertanyaan itu kepadanya. Dari sikap Jefry dan Ulan akhir-akhir ini, membuat Angelina sadar dengan apa yang dilontarkan orang itu kepadanya. Ia membenarkan pernyataan orang itu setelah membandingkan masa sekarang dan masa lalu.


Pemakaman begitu ramai. Orang-orang dari berbagai pelosok muncul untuk menghibur Ulan dan Angelina. Di antara mereka terlihat ada beberapa yang menangis begitu tulus. Ada juga yang hanya berdiri, diam, tanpa ekspresi apa-apa. Entah apa yang dilakukan Jefry terhadap orang-orang itu, Angelina tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang jelas posisi Jefry Tanujaya sangat berpengaruh di kalangan pembisnis.


Pemakaman selesai. Semua orang kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang berbeda-beda. Ulan terus menangis. Sambil melihat foto ayahnya ia naik ke atas dan masuk ke dalam kamar.


Angelina tak peduli. Dulu ia begitu menyayangi Ulan seperti putrinya sendiri. Setelah semua yang mereka perbuat kepadanya dan Wulan, rasa sayang yang dulu pernah dirasakan Angelina terhadap Ulan lenyap seketika. Ia sangat membenci Ulan. Rasanya ia ingin mengusir Ulan agar menjauh dari kehidupannya.


Para pelayat sudah tak terlihat di sana. Tersisa Niko, Handoko, Petrix dan para supir mereka. Deril juga terlihat di sana. Melihat mereka, Angelina langsung menghampiri dan menyapa mereka.


"Kalian ... aku senang Kalian ada di sini. Masuklah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian."


Angelina mengajak mereka ke ruang kerja Jefry. Karena pembahasan itu sangat pribadi, Angelina mengunci pintu setelah menyuruh pelayan membuatkan minuman untuk mereka.


Di sisi lain Ulan turun mencari sesuatu untuk dimakan. Sejak insiden dua hari yang lalu membuat jam makannya tidak teratur. Bahkan seharian Ulan tak menyadari dirinya belum makan sama sekali. Ia merasa hidupnya benar-benar. Terlebih sikap Angelina begitu cuek sejak hari itu, Ulan merasa ingin mati saja, ia merasa tidak punya siapa-siapa lagi.


"Terima kasih kalian sudah datang."


Suara Angelina membuat ekspresi Ulan berubah. Ia yang tadinya pergi ke dapur untuk memeriksa apa yang bisa dimakan, sekarang Ulan melajukan kakinya untuk menemui Angelina. Ini kesempatannya untuk meminta maaf dan memulainya dari awal.


"Ma ...."


Semua orang yang baru saja keluar dari ruang kerja itu terdiam. Handoko, Niko dan yang lain menatap ke arah Ulan kecuali Angelina. Tanpa berkata apa-apa mereka langsung pamit kepada Angelina.


Angelina mengangguk dan mengabaikan Ulan. Ia mengantar para tamunya ke depan, membiarkan Ulan berdiri seperti patung.


Melihat itu jelas membuat hati Ulan sakit. Niko, pria yang hampir saja menikahinya begitu jijik menatap wajahnya. Angelina, yang bahkan sudah merawatnya sejak lama terlihat seperti orang asing.


Penyesalan dalam dirinya pun mencuat saat menyadari perbuatan yang sudah ia lakukan terhadap mereka.


Pada dasarnya Ulan adalah gadis baik-baik. Kehadiran Angelina dan Wulan bahkan diterima baik olehnya. Ia bersyukur Angelina dan Wulan hadir dalam hidupnya. Selain bisa menggantikan sosok ibu yang sudah meninggal, Ulan senang Angelina dan Wulan memberikan perhatian dan kasih sayang layaknya saudara dan ibu kandung.


Ulan pun akhirnya sadar, bahwa kehadiran Niko dalam hidupnya bukanlah takdir, melainkan ujian baginya.


"Seandainya bisa di ulang," Ulan menangis, "aku tidak ingin melakukan ini. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku mama, maafkan aku Wulan."


"Percuma kau menangis."


Suara lantang Angelina mengejutkan Ulan. Ia menoleh dan menghapus air mata dengan kasar. Ia ingin mendekati Angelina, tapi wanita itu melangkah mundur.


"Jangan dekati aku."


Ulan kembali menangis. "Maafkan aku, Mama ... Aku benar-benar menyesal. Aku sadar aku salah. Aku ingin memperbaikinya."


"Kau berkata begitu karena papamu sudah tidak ada. Kenapa kata-kata itu tidak terlontar ketika papamu masih hidup?"


Ulan bisa melihat kebencian dan amarah di wajah Angelina. Ia berlutut dan memeluk kaki Angelina.


"Kumohon maafkan aku, Mama ... Maafkan aku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Mama dan kak Wulan. Kumohon ampuni aku ... ampuni aku, Mama."


Angelina menatap ke arah lain. "Kau tidak perlu minta maaf padaku, minta maaf lah kepada Tuhan."


"Aku menyesal, Mama. Semua ini karena papa, seandainya papa____"


"Cukup, Ulan."


Suara pelan Angelina membuat Ulan terdiam.


"Sekarang sebaiknya kau pergi dari hadapanku, aku tidak ingin melihatmu lagi."


Ulan mengeratkan pelukan di kaki Angelina sambil menangis. "Kumohon ampuni aku, ampuni aku, Mama."


"Pergi."


"Mama ... aku___"


"Pergi."


Dengan kesedihan yang mendalam Ulan terpaksa melepaskan kaki Angelina. Perut yang tadinya terasa lapar kini terasa kenyang seolah-olah sudah terisi. Dengan mata berair Ulan naik ke lantai atas kemudian masuk ke kamarnya. Ia terus menangis dan meratapi nasibnya sekarang.


Drtt... Drtt...


Dering ponsel mengejutkan Ulan. Dengan malas ia melirik benda itu dan melihat nomor tanpa nama. Spontan Ulan menekan radial kemudian menyapanya.


"Halo?"


"Halo, Ulan ... Aku turut berduka cita. Sumpah, aku benar-benar kaget mendengar berita ini."


"Kamu siapa?"


"Ini aq, Imenk. Kamu sedang menangis, ya? Kamu di mana, aku ingin bertemu denganmu?"


Ulan semakin menangis. Mengingat Imenk adalah satu-satunya teman yang sempat ia abaikan ketika Viona hadir, Ulan langsung meminta maaf dan menyesali kesalahannya.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Imenk ... Papa sudah meninggalkanku. Mama sudah marah padaku. Viona juga sudah menjauhiku."


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Ulan. Sekarang kamu di mana, aku akan menemuimu?"


"Aku di rumah. Kemarilah, banyak yang ingin kuceritakan padamu."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Bersambung____