Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Pesan Misterius.


Handoko hanya tersenyum ketika Jefry terbahak-bahak. Rasa bahagia lenyap dalam dirinya. Handoko tak berharap Jefry akan membebaskannya. Selain tak mau menghadiri pesta pernikahan besok, ia tidak ingin merasa berhutang budi kepada Jefry.


"Untuk apa kau membebaskanku?"


Pertanyaan yang mengejutkan. "Besok hari bersejarah anak kita. Kalau kau di sana, siapa yang akan menjadi wakilnya Niko?"


Ingin sekali Jefry melontarkan ketidakpeduliannya kepada Handoko. Seandainya bukan karena alasan tertentu, Jefry tak peduli Handoko bersalah atau tidak.


Ketika Handoko menolak Ulan sebagai menantunya dan memilih Wulan, Jefry menghilangkan rasa persahabatan di antara mereka. Sejak itu Jefry menganggap Handoko orang asing yang tidak berarti lagi bagi hidupnya.


Tidak adil memang, Jefry bisa seperti sekarang karena Handoko. Seandainya Handoko gagal menyingkirkan Irawan, kehidupan Jefry tidak akan sebahagia sekarang. Angelina dan harta Irawan tidak akan pernah menjadi miliknya. Mungkin saja saat ini Jefry sudah membusuk di penjara karena perbuatannya jika Handoko gagal melaksanakan tugasnya.


Meski demikian, Jefry menganggap kontribusi yang ia berikan kepada Handoko tempo hari setara dengan pengorbanannya. Jefry sudah berjanji pada dirinya sendiri, begitu Niko dan Ulan sah menjadi suami-istri, ia akan menyingkirkan Handoko.


Setelah mengantarkan Handoko ke rumahnya, Jefry kembali ke kediamannya. Angelina dan Ulan kebetulan juga baru saja tiba dan baru saja keluar dari mobil.


"Kamu," Angelina terkejut, "dari mana saja?"


Saat ini mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama. Sementara Ulan mengekor di belakang mereka.


"Ada kesalahpahaman antara Handoko dan keluarganya Robby Lamber."


Mendengar nama itu Ulan spontan terkejut. Rencana akan langsung ke kamar untuk istirahat, Ulan malah bergabung bersama mereka di ruang tamu.


"Robby Lamber itu atasannya kak Wulan kan, Pa?"


"Benar."


Angelina yang duduk di samping Jefry juga terkejut. "Apa yang terjadi?"


"Handoko menemui Robby kemarin sore. Menurut mereka, Handoko satu-satunya orang telah mengunjungi Robby hari itu. Robby meninggal kemarin malam. Jadi, mereka menuduh Handoko sebagai pelakunya."


Mulut Ulan dan Angelina terbuka lebar karena kaget. Robby bukanlah orang terkenal seperti Jefry dan Handoko. Jadi, tidak heran jika kabar dukanya tidak diketahui publik.


"Meninggal kenapa, Jefry?" Angelina bertanya dengan nada khawatir, "Perasaan dia tidak sakit apa-apa."


Ulan bahagia mendengar itu. Namun, ia harus berpura-pura sedih karena ada Angelina di depannya.


"Aku juga kaget waktu Niko menceritakan soal itu. Seandainya tidak ada sangkutpaut dengan Handoko, sampai sekarang aku tidak tahu kalau Robby Lamber sudah meninggal."


Begitu mendapat kabar dari anak buahnya Jefry segera menghubungi Niko untuk mencaritahu kebenaran. Bukan karena tidak percaya, Jefry sengaja melakukan itu agar mereka tidak curiga.


Sebelum Niko dan Handoko bertanya kalau ia tahu dari mana soal berita itu, Jefry berpura-pura menanyakan keberadaan Handoko kepada Niko.


"Ya ampun, apa Wulan sudah tahu?"


"Pasti sudah," balas Ulan, "Fanny pasti sudah memberitahu kak Wulan soal itu."


"Lalu kapan pemakamannya, Jefry?"


"Istrinya meminta langsung di makamkan hari ini juga. Aku dengar Robby meninggal keracunan. Itu sebabnya mereka menuduh Handoko yang melakukannya."


Angelina lagi-lagi terkejut.


Ulan terdiam, tapi hatinya tertawa.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku? Aku kan ingin pergi ke rumah duka. Meskipun tidak dekat, aku ingin menghibur istrinya," keluh Angelina.


Jefry merangkul Angelina kemudian menyandarkan ke bahunya.


"Sebelum menangani masalah Handoko aku tadi ke rumah duka bersama supir. Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Aku sengaja tidak memberitahumu, aku tidak ingin mengganggu waktu bersenangmu dan Ulan."


Angelina terisak. "Seharusnya kau memberitahuku. Walaupun tidak dekat, setidaknya aku yang mewakilkan Wulan menghadiri pemakaman itu."


"Jangan khawatir, keluarganya pasti tahu siapa aku."


Jefry mengusap punggung Angelina sambil menatap Ulan. Sayangnya Angelina tidak bisa melihat ekspresi jahat di wajah Jefry ketika lelaki itu menatap Ulan.


Ulan menggeleng kepala pelan. 'Dasar suami pembongong,' kata Ulan dalam hati, 'Ya Tuhan, semoga setelah menikah nanti, Niko tidak akan terjangkit oleh sikap jahat dan licik papaku ini.'


Sebelum Angelina melontarkan pertanyaan lagi, Jefry langsung mengalihkan pembicaraan.


"Besok hari bersejarah Ulan, apa Wulan tidak akan datang?"


Drtt... Drtt...


"Sebentar, Wulan meneleponku."


"Sekalian tanya," balas Jefry, "kenapa dia tidak pulang?"


Jefry sebenarnya tahu alasan Wulan tidak menghadiri pernikahan besok. Namun, ia bersikap seperti itu seolah-olah besok adalah hari yang sama dengan hari lainnya.


Ulan ingin berkomentar, tapi Angelina terlanjur merespon panggilan.


"Halo, Sayang?"


"Ma," Wulan menangis, "pak Robby, Ma ... pak Robby."


Sontak Angelina meneteskan air mata. "Mama juga terkejut mendengarnya, Nak. Mama baru saja tahu kabar ini dari papa."


"Seandainya dekat, aku ingin sekali melayat ke sana. Mama pergi ke rumah duka, kan?"


Angelina melirik Jefry. "Maafkan mama Wulan, mama tidak sempat menghadiri pemakamannya. Tapi malam ini mama akan berkunjung ke sana."


"Kalau Mama ke sana, tolong cari pak Deril, beliau atasanku di sini, dan aku baru tahu kalau beliau putranya pak Robby."


"Benarkah? Baiklah," Angelina melirik jam tangan, "Satu jam lagi mama akan ke sana."


Jefry menyentuh Angelina seolah-olah memberikan isyarat, tapi sayangnya Angelina tak menggubris dan langsung memutuskan panggilan.


"Kenapa kamu tidak mengajukkan pertanyaan yang kusuruh?" tanya Jefry. Ekspresinya kecewa.


Angelina berdiri. "Kau seharusnya tahu alasannya apa," tanpa menunggu balasan Angelina meninggalkan Jefry dan Ulan.


Ulan tersenyum dan berkata, "Mama benar, Papa sudah tahu, tapi berpura-pura tidak tahu, kan?"


Jefry tersenyum licik. "Semua ini papa lakukan demi kamu."


"Aku masih penasaran dengan semua ini, Pa. Terlepas dari keinginan Papa untuk menikahkanku dengan Niko, apa alasan Papa ingin menyakiti mereka? Secara tidak sadar Papa sudah menyakiti istri dan anak sambungnya Papa."


Jefry berdiri. "Papa melakukan semua ini demi kamu. Tidak usah banyak tanya, jalani saja sesuai yang papa perintahkan."


"Apa Papa ingin balas dendam?"


Jefry tak menjawab, ia memandang Ulan cukup lama kemudian meninggalkannya.


Ulan bingung. "Kalau memang ingin balas dendam, kenapa harus menikah dan menerima anaknya? Papa benar-benar aneh."


Ting!


Bunyi notifikasi dari ponsel membuat Ulan terkejut. Ia mengeluarkan benda itu dari dalam tas kemudian melihat pesan yang baru saja masuk.


"Dasar pembunuh! Kau membunuh papaku! Kau pembunuh! Aku akan membalasnya, Ulan. Aku akan membunuhmu!"


Ulan terkejut membaca pesan itu. Wajahnya pucat dan jantung berdetak cepat.


"Membunuh, siapa yang membunuh orang? Aku tidak membunuh siapa-siapa," Ulan melihat deretan angka tak dikenal itu, "Nomor siapa ini? Kenapa dia mengirim pesan seperti ini padaku? Papanya ...."


Ulan mengingat-ngingat siapa temannya yang ayah mereka baru saja meninggal.


"Perasaan tidak ada. Kenapa ...."


Pusing memikirkan itu, Ulan meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar.


Ting!


Bunyi notifikasi lagi mengejutkan Ulan saat dirinya menaiki tangga. Dilihatnya pesan yang sama muncul di layar ponselnya.


Tubuh Ulan bergetar dan ketakutan. Ia menghubungi nomor itu, tapi tidak tersambung.


"Siapa kau sebenarnya?!" pekik Ulan di layar ponsel, "Berani-beraninya kau menggangguku, hah?!"


Jefru muncul. "Ada apa?"


"Ada yang mengirim pesan misterius padaku, Pa. Dia menuduhku membunuh papanya. Aku tidak pernah membunuh orang, Papa. Papa percaya padaku, kan?"


Bersambung____