Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Bertemu Viona dan Ulan.


"Iya, Papa. Viona setuju menggoda Niko, asalkan berikan dia kompensasi dua puluh miliar."


Jefry sebenarnya tak masalah mengeluarkan uang sebanyak itu. Hanya saja rencana untuk melenyapkan Wulan malam ini akan berhasil, jadi untuk apalagi ia mengeluarkan uang itu.


"Itu tidak perlu, Nak. Rencana papa malam ini akan berhasil. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot membayar orang untuk itu."


"Aku sudah terlanjur berjanji, Papa."


"Beri dia alasan yang tepat."


"Memangnya rencana Papa apa, kalau tidak berhasil, bagaimana?"


Jefry berdecak lidah. "Kamu akan tahu nanti. Sekarang bersenang-senanglah, setelah Niko menikahimu kamu tidak akan sebebas ini, kamu harus menjadi istri yang taat seperti mamamu."


"Baiklah, aku akan bicara dengan Viona soal itu. Padahal kalau Papa setuju, aku ingin sekali membuat kak Wulan sakit hati."


Tepat di saat itu pelayan muncul, membawa nampan berisi secangkir kopi. Karena majikannya sedang berbicara via telepon, pelayan itu segera meletakkan cangkir itu di atas meja kemudian pergi.


Jefry melanjutkan, "Itu tidak perlu. Merebut Niko darinya sudah cukup menyakitkan."


"Baiklah. Aku bersenang-senang dulu, mungkin aku tidak akan pulang malam ini."


"Papa tidak pernah melarangmu, tapi bukan berarti kamu tidak menjaga diri."


"Papa tenang saja, aku akan menjaga diri dengan baik. Aku berani jamin Niko tidak akan menyesal menikahiku."


"Kamu memang putri terbaikku."


Setelah panggilan terputus Jefry segera menari nama di kontak teleponnya. Ia menekan radial, menyambungkan panggilan dengan kepala bank yang sebenarnya ingin dihubunginya tadi.


"Selamat malam, Jefry," sapa sosok di balik telepon.


"Malam. Bagaimana rencana kita?"


"Pak Jefry tenang saja, saya sudah memberikan langsung kepada nona Wulan tiket yang Anda berikan. Nona Wulan juga tidak keberatan."


"Aku sebenarnya sudah tahu soal itu, aku hanya ingin memastikan saja. Aku khawatir Anda memberikan tiket itu kepada orang lain."


"Itu tidak mungkin, Pak. Sesuai dengan perintah Anda, rencana Anda berjalan lancar."


Jefry tersenyum lebar. "Sesuai janji, aku akan memberikan bonus kepada Anda. Karena waktu sudah malam, besok orangku akan menemui Anda."


"Pak Jefry, Anda sangat baik hati. Terima kasih banyak, Pak."


Jefry memutuskan panggilan kemudian menenggak habis isi cangkirnya. Dengan hati bahagia ia masuk ke rumah untuk istirahat.


"Aku harap bisa bermimpi indah malam ini."


Di sisi lain.


Setelah memastikan Wulan naik pesawat dengan aman, Niko membawa dirinya ke sebuah kelab malam untuk menghibur diri. Ia hanya ingin minum satu dua gelas kemudian pulang dan tidur.


"Halo, Niko. Kenapa kamu kelihatan?"


Pemilik kelab malam yang merupakan sahabat Niko menyapanya. Pria yang bernama Petrix itu menarik kursi dan duduk di samping Niko.


"Apa yang membuatmu ke sini lagi, aku pikir kau tidak pernah ke sini lagi karena sudah mengharamkan tempat ini?"


Niko menelan habis isi gelasnya kemudian menatap pria yang seangkatannya. "Kau benar, aku sudah berjanji tidak akan menginjakkan kaki lagi ke tempat ini. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa lagi menikmati satu-dua gelas anggur, bukan?"


"Wah, seorang Niko Lais tidak ingin menginjakkan kaki di tempat ini," Petrix terbahak, "Sepertinya dunia sebentar lagi akan kiamat."


Niko tersenyum samar. "Sebentar lagi aku akan menikah. Aku tidak ingin mengecewakan istriku."


"Menikah?" Petrix terkejut, "Perempuan buta mana yang ingin menikah dengan pria brengsek sepertimu, hah?"


Niko menceritakan awal pertemuannya dengan Wulan sampai hubungan mereka saat ini kepada Petrix.


Niko dan Petrix bersahabat sudah sejak kecil. Petrix yang terlahir dari keluarga sederhana itu akhirnya bisa membangun bisnis kelab malam terbesar di Jakarta berkat bantuan Niko.


Susah senang mereka rasakan bersama. Keterpurukan Niko ketika sang ayah meninggalkannya, Petrix dan keluarganya lah yang selalu menghibur dan memberikan dukungan kepada Niko.


Dan ketika orang tua Petrix meninggal ketika mereka di sekolah menengah atas, Handoko lah yang mengambil alih untuk membiayai semua kebutuhan Petrix.


"Aku akan mengenalkannya padamu begitu dia kembali."


Niko menyuruh bartender untuk menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


"Aku tahu sekarang alasan kau ke sini," ledek Petrix, "Apa dia meninggalkanmu?"


"Dia pindah tugas ke luar kota. Aku baru saja mengantarnya ke bandara."


Petrix menatap Niko lama sekali. Tatapannya seolah-olah tak percaya apa yang Niko ucapkan.


"Aku jadi tak sabar ingin melihatnya. Wanita seperti apa yang berhasil menaklukan hewan liar sepertimu ini, hah?"


Niko hanya tersenyum kemudian menenggak isi gelasnya sampai habis.


"Dua gelas cukup. Aku ingin pulang dan tidur."


Petrix lagi-lagi terkejut, tapi tidak melarang. Perubahan positif dalam diri Niko benar-benar membuatnya senang.


Sejak lama ia menginginkan Niko menjalani kehidupan seperti sekarang. Namun, kefrustasian Niko terhadap hidup membuat Petrix tak bisa berbuat lebih. Menasehati pasti, tapi untuk melarang Niko tidak akan pernah. Karena meskipun sudah seperti kakak-adik, Niko tak pernah melarang Petrix melakukan ini itu.


Prinsip mereka berdua sama, menasehati boleh, tapi melarang jangan. Dan prinsip itu sampai sekarang masih berlaku.


"Aku senang melihatmu yang sekarang," puji Petrix, "Tubuhmu juga terlihat lebih berisi. Pasti wanita itu mengurusmu dengan baik."


Niko tersenyum sayang membayangkan wajah Wulan. "Dia sangat spesial bagiku, aku sangat mencintainya, Petrix. Aku sangat mencintainya."


"Apa papa tahu?"


"Papa sangat menyukainya," Niko tersenyum, "Ceritanya panjang. Sekarang bukanlah waktu yang tepat. Kalau kau punya waktu, sempat lah berkunjung mumpung papa masih di sini."


Petrix sudah menganggap Handoko seperti ayahnya sendiri. Ia begitu senang mendengar keberadaan Handoko.


"Kapan papa datang, kenapa kau tidak mengabariku?"


"Ceritnya panjang. Nanti papa akan menjelaskan padamu sendiri. Ini ada hubungannya dengan Wulan, saking sibuknya aku dan papa melupakanmu."


"Besok pagi aku akan ke rumah."


Niko berdiri. "Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa kabari aku."


"Kamu juga, kalau butuh bantuku jangan sungkan untuk meneleponku."


"Itu pasti."


"Ayo, aku akan mengantarmu ke depan."


Ketika mereka hendak bergerak meninggalkan bar, mata Niko menangkap sosok yang tidak asing di pojok ruangan.


"Viona."


Tubuh Niko terhenti dan memperhatian sosok di samping Viona. "Itu kan Ulan."


Petrix penasaran. "Apa yang kau lihat?"


"Dua wanita di kursi VIP, sejak kapan mereka di sana?"


Niko sangat mengenal Viona. Melihat wanita itu bersama Ulan tentu saja membuat Niko khawatir. Seandainya Ulan bukan saudara tirinya Wulan, Niko tak akan peduli dengan siapa wanita itu bergaul.


"Aku tidak tahu. Aku baru muncul begitu tahu kau ada di sini. Kau mengenal mereka?"


Sebagai pemilik kelab malam yang mewah, Petrix tidak akan sembarangan menyapa pelanggannya. Ia hanya akan berinteraksi dengan orang-orang yang menurutnya bisa dipercaya.


"Yang satu Viona, yang satu Wulan. Yang satu penghibur kelas kakap, yang satu adik tiri pacarku."


"Adik tiri pacarmu, apa dia seprovesi dengan Viona?"


"Aku belum tahu, tapi aku harus mencaritahu. Ayo, temani aku menemui mereka. Aku tidak ingin Ulan dekat-dekat dengan Viona."


Bersambung____