Janda Kembang

Janda Kembang
Rekaman


Dengan segera mengeluarkan bukti rekaman yang sengaja ia rekam saat di kamar Papa Rustam sore tadi.


Ia tersenyum smirk melihat Papa Rustam. Wajah bengisnya itu sudah pias saat ini. Matanya melotot melihat Rani.


Rani tersenyum mengejek melihat Papa Rustam. ''Mau bukti? Baiklah.. mari kita dengarkan!''


''Sandiwara yang kalian buat saat itu sukses sekali! Hingga aku keluar dari rumah ini dengan status jandaku! Status yang tidak pernah aku sangka-sangka selama hidupku. Dan aku terpaksa harus menerima nya.''


''Dan sekarang... aku ingin balas dendam kepada kalian berdua yang telah tega membunuh ayah ku tanpa belas kasih! Menjebak ku! hingga membuatku menjadi janda dalam waktu dua hari! Kalian harus mati di tangan ku!''


''Hahaha.. kau ingin membunuhku dirumahnya sendiri? Huh! mimpi kamu! Haha ha...''


''Ya, aku akan membunuh kalian berdua! dengan cara, aku bakar rumah ini hingga menjadi abu! Kalian berdua ikut serta di dalamnya!''


''Hahaha.. kamu ingin membunuh ku Rani? Di rumahku sendiri?'''


Terdengar suara tawa begitu keras dari dalam ponsel milik Rani. Rani tersenyum smirk melihat wajah Papa Rustam semakin pucat.


''Hahaha .. sampai kapanpun aku tidak akan pernah mati Rani! Kamu tau kenapa? Karena umurku abadi! Tidak seperti Ayahmu yang lemah itu!''


''Benarkah? Pakde tidak akan mati? Baik! Berarti pakde Tuhan ya?'''


''Ya, aku tidak akan pernah mati Rani! Selama dua puluh tahun ini aku sengaja membunuh orang termasuk kau Rani. Untuk dijadikan tumbal pesugihan panjang umur. Kau tidak akan mampu membunuhku Rani! Hahaha...''


Rani terkekeh geli mendengar suara rekaman yang berada di tangannya saat ini. ''Pakde mengaku Tuhan Bude.. hihihi..'' Rani terkikik geli mengingat apa yang terjadi selanjutnya.


''Pantas saja! Hawa rumah ini begitu tidak enak ketika pertama kali aku masuk kerumah ini! Padahal dulu mendiang ayahku selalu melakukan pengajian dirumah ini! Hmmm.. ternyata ini penyebabnya! Tapi sayang! Aku tidak takut pada iblis seperti mu!'' suara Rani begitu nyaring di dalam rekaman itu, membuat Papa Rustam terdiam.


''Kau yakin ingin mendengar kelanjutan rekaman ini yang selanjutnya Bude Nia?'' tanya Rani dengan senyum mengejek nya.


''Tentu saja! Aku yakin, kau hanya membual saja! Rekaman itu palsu!'' ketus Mama Nia.


''Baiklah.. jangan marah ya?''


''Kau akan mati di tangan ku Rani! Kau akan menjadi tumbal berikutnya! Jangan salahkan aku, jika kematian mu kali ini benar-benar akan sangat menyakitkan untuk mu! Aku akan mencicipi dulu tubuh mu itu baru setelah nya aku membunuh mu!''


Deg!


Papa Rustam terkesiap mendengar suara rekaman itu. Mama Nia melotot melihat Rani. Wajahnya semakin merah padam saat ini.


Mama Nia semakin marah terhadap Rani. Papa Rustam menatap Rani dengan tatapan membunuhnya.


''Hahaha... katanya rekaman itu palsu?'' ledek Rani lagi.


''Jangan terlalu sombong Pakde! Anda bukan Tuhan yang tak pernah bisa mati walau bumi ini kiamat! Kau manusia! Sama seperti ku! kita tercipta dari air yang sama. Kau ingin menjadi Tuhan Pakde? Hahaha.. itu tidak akan pernah terjadi! Tidak ada sejarah nya manusia bisa hidup kekal abadi di dunia ini! Semuanya akan mati dan musnah! Semua yang kau punya akan habis dalam sekejap mata jika tuhan berkehendak! Jangan menyangkal takdir Pakde! Sudah terlalu jauh ternyata kau selama ini! Pantas saja Reza dan Airin tidak betah tinggal dirumah ini!'''


''Ternyata kaulah penyebabnya Pakde! Kau iblis berwujud manusia! Kau ingin membunuhku? Silahkan! Aku tidak akan melawan!'''


''Hahaha... sudah bosan hidup ternyata kamu ya? Hem.. baiklah! Karena istriku sudah tidur, waktunya aku bermain dengan mu sebelum kau, ku bunuh Rani!''


Setelah pembicaraan itu selesai maka, kini ruangan itu mendadak sunyi. Yang terdengar hanya suara derap langkah kaki.


''Tidak ada siapapun disini Rani! Sekarang kita hanya berdua saja di kamar ini. Bude mu sudah kubius tadi! Hahaha...'' terdengar suara Papa Rustam begitu dekat dengan Rani.


Terdengar suara Rani tertawa kecil namun licik. ''Lakukan! Seperti yang kau inginkan bandot tua!''


''Apa katamu? Bandot tua? Baik! Akan ku buktikan padamu jika bandot tua ini lebih perkasa dari mantan suamimu Al Fatih putraku itu! Bude mu saja kewalahan menghadapi ku! Hahaha...'''


''Silahkan! Lakukan sekarang!!''


Brraaakkk..


''Siapa kalian??''


''Aku adalah malaikat pencabut nyawa mu Rustamsyah!'''


Dddrrttt... ssrrttt.. klepak, klepak..


Terdengar suara sesuatu yang disengat listrik dan suara orang terjatuh.


''Sudah cukup! Bagaimana? Masih mau mengelak?''


''Cih! Ternyata bandot tua bangkotan ini, suami takut istri ya ternyata? Hahaha...'' suara tawa Rani begitu nyaring di dalam ruangan yang sempit itu.


💕💕💕💕


Satu aja ya? Othor batu aja pulang undangan nih, jadi harap maklum! hihihi...