Janda Kembang

Janda Kembang
Masuk penjara


''Pa? Ini kenapa? Kenapa rumah kita rata dengan tanah? Siapa yang melakukan nya?!'' pekik Mama Nia.


Mereka berdua begitu terkejut karena melihat rumah mereka sudah rata dengan tanah. Padahal tadi, saat mereka tinggalkan rumah itu masih berdiri megah.


Seseorang di belakang mereka angkat bicara.


''Pemilik sah yang melakukan hal ini, wahai Tuan Rustamsyah dan Nyonya Nia!''


Deg!


''Apa?! Apa kamu bilang?! hah?! Pemilik sah?! Saya lah pemilih sah rumah ini!'' pekik Mama Nia begitu emosi.


Seseorang itu terkekeh, ''Anda salah Nyonya! Rumah ini milik putri Almarhum Alamsyah, Aisyahrani!''


Deg!


''Nggak! Aku nggak percaya!'' bantah Mama Nia.


Lagi, seseorang yang sengaja ditugaskan oleh Rani itu tertekekeh. Sementara Papa Rustam terdiam. Ia menatap datar pada bangunan megah yang sudah rata dengan tanah itu.


''Sudah saya duga. Anda pasti tidak percaya dengan ucapan saya. Makanya Nona Rani sengaja menitipkan surat ini untuk anda. Baca!''


Mama Nia mendelik tak suka pada orang suruhan Rani itu. Dengan segera ia rampas dan dibuka dengan cepat amplop putih kirimkan Rani itu.


''Selamat malan Bude Nia? Maaf, jika saya menitipkan surat ini kepada pengacara keluarga saya.'' Mama Nia melototkan matanya membaca tulisan Rani itu.


Ia menatap pengacara itu dengan tajam. Pengacara yang bernama Sudirman itu terkekeh lagi.


Mama Nia membaca lagi isi surat Rani. ''Saya sengaja memberikan surat ini sebagai kata pengantar pamit dari saya untuk kalian berdua. Pulanglah ke Bandung. Disanalah rumah kalian berdua. Rumah peninggalan nenek Fatma. Rumah yang sengaja diberikan untuk kenyamanan hidup kalian kelak. Dan itu saya wujudkan sekarang.''


''Semua Surat tanah beserta isinya sudah saya rubah menjadi nama Pakde Rustam sebagai pemilik yang sah. Sedangkan rumah ini, adalah rumah peninggalan kedua kakek dan nenekku yang akan diwariskan untukku. Maka dari itu saya hancurkan! Rumah ini akan saya bangun sebuah taman kanak-kanak untuk anak yang tidak mampu. Dengan kata lain yayasan taman kanak-kanak untuk yatim piatu. Jangan lupakan sesuatu Bude Nia. Tanah itu sah milikku! Itu buktinya! Baca dan pulanglah kerumah kalian di Bandung.''


Lagi, Mama Nia menatap Pak Sudirman dengan tajam. Dengan segera ia menyerah kan dua lembar kertas bukti surat wasiat Ayah Alam yang mengatakan jika tanah itu adalah milik Rani. Sah secara hukum. Berikut dengan surat itu sudah menjadi atas nama Rani sejak dua sepuluh tahun yang lalu.


Mama Nia melotot lagi. Ia semakin tak percaya sekarang ini. ''Rani? Pemilik sah? Bagaimana mungkin?! Papa!!!'' seru Mama Nia pada Papa Rustam.


Papa rustam terjingkat kaget karena terkejut. ''Hah! itu memang benar Mama. Tanah dan seluruh isinya milik Alam. Milik Ibu Karmila! Aku tau itu..'' lirih Papa Rustam semakin membuat Mama Nia shock berat.


Ia jatuh terduduk di tanah. Mama Nia menatap nanar pada rumah yang hancur rata dengan tanah.


Lagi ia membaca surat Rani. ''Saya mengambil apa yang menjadi hak milik ayah saya yang juga menjadi milik saya. Saya kembalikan pada tempatnya. Dan ya, saya sudah mendapatkan bukti bahwa kalian berdua adalah pelaku pembunuhan kakek Mamud, Nenek Karmila dan Ayah Alam. Berdoalah kalian berdua! Jika saya kembali dalam keadaam selamat setelah mendapat kan buktinya dari kalian berdua, maka kalian berdua selamat! Dan dibebaskan dari tuntutan! Dan Jika saya tidak selamat, dengan kata lain saya masuk rumah sakit...''


''Berarti kalian berdua harus di tahan! Dan dihukum! Masuk dalam jeruji besi sampai kalian di bebaskan!'''


Deg!


Deg!


Lagi Mama Nia terkejut melihat jika sudah ada dua orang polisi yang berdiri tegak di belakang mereka berdua.


Papa Rustam hanya bisa menunduk. ''Papa! Katakan sesuatu! Panggil pengacara kita! Jangan sampai kita di penjara Papa!'' seru Mama Nia dengan mengguncang tubuh Papa Rustam.


Namun Papa Rustam memilih bungkam. Karena dia sadar, jika bukti yang dikatakan Rani sudah ada di tangan polisi.


Ia tersenyum kecut. ''Kau sangat cerdik Rani! Melebihi Ayah mu Si Alam! Hah! Inilah yang harus aku jalani sekarang ini.'' lirihnya dengan tertunduk.


Bahunya melemah. Ia jatuh terduduk bersimpuh di hadapan rumah mereka yang sudah rata dengan tanah.


''Kau menang Alam! Aku kalah! Apa yang kau katakan dulu Padaku, benar adanya! Bahwa keturunan ku dan keturunan mu lah yang akan membawa kami masuk kedalam penjara! Hah! Aku mengakuinya!'' ucapnya sambil menangis.


Mama Nia terdiam. Jika sudah sepeti itu, pertanda Jika sang suami sudah menyerah. ''Kita akan di hukum Papa?'' tanya Mana Nia dengan menatap kosong pada reruntuhan rumah itu.


''Ya,'' sahut Papa Rustam.


''Kalian berdua akan ditahan sesuai dengan kejahatan kalian berdua. Semua itu tergantung Rani dan hukum yang akan memutuskan! Karena kasus ini adalah kasus dua puluh tahun silam yang sengaja kalian musnahkan agar tidak di ketahui oleh pihak kepolisian! Tapi hari ini, kalian terbukti bersalah!''


''Seluruh bukti yang dikumpulkan oleh Nona Rani saat ini sudah lengkap. Belum lagi bukti penyerangan kalian terhadap nya hingga ia tertembak! Kasus ini akan sangat berat untuk kalian berdua! berdoalah semoga hukum kali ini bisa mengurangi tuntutan, untuk berapa lama kalian akan mendekam di penjara! Bawa mereka, Pak!''


''Mari Saudari Rasnia Dan Rustam Syah, kalian berdua kami tahan. Atas tuduhan pembunuhan terhadap saudara Almarhum Alamsyah dan Saudari Aisyahrani. Ini surat perintah dari pihak kepolisian!'' ucap Petugas polisi itu.


Mama Nia dan Papa Rustam menatap datar pada reruntuhan yang sudah hancur tak bersisa.


Ia kembali membaca isi surat Rani. ''Bertaubatlah! setelah masa hukuman kalian berdua selesai, pintu rumah kami terbuka lebar untuk kalian berdua. Bagaimana pun aku tetap lah keponakan Pakde Rustamsyah. Abang kandung dari Ayah Alam. Dan juga aku akan segera menikah dengan bang Reza saat kami sudah kembali ke Medan nanti! Aku tunggu kedatangan kalian di rumahku, Mama Nia dan Papa Rustam! Kami menunggu mu! Salam sayang dari Aisyah Rani binti Muhammad Alamsyah.'' Ucap Mama Nia dengan bibir bergetar.


Dua pundak dua paruh baya itu bergetar karena menangis. Mereka tak menyangka, jika Rani masih bersedia menerima penjahat seperti mereka berdua yang dengan tega telah melenyapkan kakek, serta Ayah kandung Rani saat ia masih dalam kandungan.


''Ba-baik Nak.. kami akan menerima keputusan hukum apapun itu. Kami akan mengikuti perintah hukum. Kami akan menjalani hukuman kami. maafkan kami, Nak.. maafkan Kami... tunggu kami! Kami akan datang kepada kalian berdua ke Medan nanti! Kami menyayangi mu, Nak. Semoga kamu berbahagia dengan Reza.. doa kami menyertaimu..'' lirih Papa Rustam.


Dengan segera ia menyerahkan tangannya pada petugas polisi. Setelah tangan mereka di borgol, mereka berdua pergi dengan hati senang dan tersenyum manis.


Pak Sudirman tersenyum melihat mereka berdua. ''Kamu berhasil Nak.. kamu berhasil membawa kedua orang tua mu ke jalan yang benar. Semoga kalian selalu berbahagia..'' lirihnya dengan suara serak menahan tangis.


Ia menyusut bulir bening yang mengalir di sudut matanya. Setelah itu ia berlalu meninggalkan reruntuhan yang sudah rata dengan tanah dan mengikuti Mama Nia dan Papa Rustam yang sudah terlebih dahulu dibawa ke kantor polisi.