
"Assalamualaikum, Dan? " Sapa Zalia diujung telepon.
"Wa'alaikumussalam, Ma. Mama apa kabar? " Zidan masih sibuk dengan kegiatannya. Bahkan dirinya tak menoleh sedikit pun ke arah kamera.
"Mama baik, kamu lagi dimana? Mana putri Mama? " Tanya Zalia.
"Sebentar Ma" Ucap Zidan yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Kamu lagi apa sih, Dan. Sibuk bener kayaknya" Suara yang sangat Zidan hafal membuatnya menoleh dan menatap ke arah layar ponselnya.
Zidan kaget saat melihat banyaknya wajah di layar ponselnya. Tampaknya kini dua keluarga besar sedang berkumpul.
"Ibu? "
"Iya ini Ibu, kamu lagi ngapain sibuk banget kayaknya, putri Ibu mana? " Tampaknya mereka semua tak sabar untuk bertatap muka dengan mantan janda kembang yang satu itu.
"Kia lagi istirahat, Bu" Jawab Zidan, kakinya mulai melangkah entah kemana. Terlihat dari layar ponselnya yang berganti latar belakang.
"Kalian kapan balik? " Tanya Farida tak sabar.
"Tunggu kondisi istri aku benar-benar fit ya, Bu. Kemarin Zidan baru sampai, Kia malah drop" jelas Zidan, namun dirinya masih begitu sibuk dengan kegiatannya.
"Kia kenapa, Dan? "
"Maafin Zidan, Ma. Kia drop. kemungkinan karena banyak pikiran. Ini salah Zidan. Harusnya Zidan gak bersikap kayak kemarin sama istri Zidan, untung aja aegi gak kenapa-napa di perut Ummanya"
"Sudah, yang lalu gak usah dibahas lagi. Kamu harusnya minta maaf sama Kia, bukan sama Mama"
"Kita sudah saling memaafkan, Ma"
"Kia sampai di rawat enggak, Dan? " Tania bersuara kali ini.
"Di rawat disini. Tau sendiri Kia paling benci bau rumah sakit. Untung Gama ada plan umroh sama tunangannya. Jadi cukup tenang kalau dokter pribadi Kia ada disini" Jelas Zidan.
"Apa gak sebaiknya dibawa ke rumah sakit aja, Dan. Hanya untuk mengecek keseluruhan kesehatan Kia, kamu tau sendiri istri kamu itu habis donor darah berlebihan sama Mbak mu"
"Zidan paham Bu, ini nunggu keluarga Gibson dulu. Kia minta ditemenin Mom katanya"
"Padahal Mama bisa susulin kalian ke sana" Zalia tampak sendu.
"Mama jangan sedih dulu, sebenarnya Kia pengennya Mama yang nemenin. Tapi Kia takut Mama ngomel katanya, kan Kia pergi gak bilang-bilang" jelas Zidan.
"Emang agak random sih adek gue" Gumam Alesha.
"Itu kalian lagi ngumpul? "
"Hari ini acara aqiqah anak kedua Abang mu, Dan. Kamu lupa? " Tanya Farida.
"Maklum lah, Bu. Dunia dia berhenti kalau gak ada Kia, Mark aja sampek uring-uringan di kantor" Entah dari mana Zainal muncul.
"Sayang, isi tenaga dulu yuk" Zidan tampaknya sedang mengajak Zakia bicara.
Ponsel Zidan hanya menampilkan atap tempat mereka berteduh sekarang. Dengan suara langkah kaki, yang mereka yakini itu bunyi sandal yang Zidan gunakan.
Zidan tampak menyandarkan ponselnya entah pada apa, yang pasti kini mereka bisa melihat Zakia yang tidur dengan posisi menyamping. Tak lupa juga jarum infus yang menghiasi punggung tangan kanannya.
Zalia bahkan sudah terisak melihat wajah pucat putri bungsunya itu. Lagi dan lagi, ketika sang putri sakit dirinya gak ada disampingnya. Zakia yang terlalu pandai bersembunyi dan menyembunyikan atau bagaimana. Zalia merasa seakan dirinya tak bergumam sebagai orang tua Zakia.
Zidan tampak menepuk pelan pipi chubby istrinya itu. "Bangun dulu yuk, katanya tadi mau pancake buatan Mas"
Tampaknya Zakia mengalami fase ngidam. Dan Zidan dengan sigap menuruti permintaan sang istri.
Zakia menggeleng pelan, menarik tangan Zidan untuk dijadikan bantalan wajahnya. "Peluk"
Zidan hanya tersenyum mendengar permintaan sang istri. Andai saat ini tak sedang melakukan pangggilan dengan keluarga besarnya, mungkin dengan senang hati Zidan akan menuruti keinginan istrinya itu.
Zidan kemudian mendekatkan dirinya pada Zakia. Entah membisikkan apa yang pasti mata cantik itu terbuka dengan pelan meskipun terlihat sayu.
"Loh loh kok nangis kenapa? " Zidan panik sendiri. Sama halnya dengan keluarga besarnya yang heran sekaligus panik melihat Zakia yang tiba-tiba menangis.
"Pulang, kangen Mama. Mau peluk Mama" Rengeknya pada Zidan.
"Iya pulang"
"Sekarang Mas" Persis seperti anak kecil yang meminta permen pada ayahnya. Dan Zidan gemas melihat itu semua.
"Dengar Mas" Zidan membetulkan posisi istrinya. "Kemarin sudah telfon Mom untuk kesini, jadi tunggu Mom sampai. Kita ke rumah sakit untuk memastikan semuanya. Cek juga, aegi sudah siap buat penerbangan jauh belum. Kalau aegi sudah kuat perjalanan jauh, kita langsung pulang. Kalau misal belum, jangan sedih. Mama bisa susul kesini. Tinggal disini sementara waktu sampai aegi kuat" Pelan dan begitu lembut cara Zidan mengingatkan istrinya.
"Tapi kangen Mama" Mata itu tampak berkaca-kaca.
"Mas ngerti, Mas paham" Zidan mengelus kepala sang istri debgan lembut.
"Dad, pesankan Mama tiket. Mama mau susul Kia" Ucap Zalia di ujung sana. Dia tidak bisa berdiam diri dikala sang anak merindu padanya. Ingin memeluknya namun terhalang kondisi dan jarak.
"Ibu juga mau ikut, Yah" Farida juga ikut bersuara.
"Tunggu Mama nak, Mama packing dulu. Mbak Rida aku pulang dulu, Dad jangan lupa pesankan Mama tiket" Zalia langsung berlalu begitu saja. Tampaknya rasa bahagia lebih mendominasi calon nenek yang satu itu.
"Sudah-sudah, pakai saja pesawat pribadi kita, Bu. Ayah telfon Zayn dulu.Kalian kalau mau ikut silahkan" Al Fatih langsung bangkit sedikit menjauh untuk menghubungi anak buahnya.
Kembali pada Zidan dan Zakia yang mulai melupakan jika mereka menjadi bahan tontonan anggota keluarga besarnya.
"Berapa umur aegi disini? " Tanya Zidan mengelus perut rata Zakia.
"Dua atau tiga bulan, Kia tak terlalu paham bahasa Arab" Wajar saja, karena Zakia baru memeriksakan dirinya ketika sampai di Arab.
"Tunggu Mom kita periksa lagi, baik-baik di perut Umma ya nak" Tampaknya kegiatan mengelus perut Zakia akan menjadi candu baru bagi seorang Zidan selama kehamilan istrinya.
"Pancake Kia mana? " Zidan mengerjap sebentar, kemudian terkekeh pelan. Sang istri masih ingat dengan makanan yang dimintanya.
Zidan bangkit dan mengambil nampan yang dirinya bawa tadi. "Mau Mas suapin? " Zakia hanya menggeleng pelan.
Zidan memberikan nampan tersebut pada sang istri, memperhatikan bagaimana lahapnya Zakia saat menyantap pancake buatannya. Kadang Zidan juga terkekeh lucu kala melihat kepala Zakia bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya anak kecil yang sedang menikmati makanan.
"Kok susu, Kia pengen es jeruk" Mengerjap polos ke arah sang suami yang memasang wajah cengo.
Sedangkan diujung telepon sana sudah menyemburkan tawa keras saat melihat ekspresi di wajah Zidan.
"Mas denger Kia ngomong gak sih" tampaknya ibu hamil yang satu ini mulai kesal.
"Sebentar Mas ambilkan" Zidan langsung bangkit dan berjalan ke arah kulkas mini yang ada dikamar mereka.
"Mas kayaknya tinggal disini seru deh" celetukan Zakia membuat Zidan menoleh seketika. Apa istrinya sedang bercanda sekarang? Zidan tidak masalah mau tinggal dimanapun asal bersama istrinya, terlihat bucin memang. Namun, ayolah dia baru saja memindahkan perusahaan nya ke Indonesia demi mengikuti keinginan sangat istri. Apalagi sekarang ini?
"Gak rindu Indonesia? Mama di Indo, Kakak kamu juga di Indonesia. Keluarga kita di Indo semua sayang"
"Males balik ke Indonesia ah, ntar kalau balik Kia ketemu madu Kia disana" bibirnya mengerucut lucu. "Awss" Zakia meringis kecil saat Zidan menyentil bibirnya.
"Kalau ngomong jangan sembarangan. Kamu denger berita dari siapa? " Nada bicara Zidan berubah, tegas dan sedikit dingin.
Zakia hanya menunduk, tampaknya dirinya salah kali ini. Niat hati hanya ingin bercanda dengan Zidan, namun tampaknya sang suami tak bisa diajak bercanda.
Melihat sang istri menunduk membuat Zidan menghela napas pelan. "Mas minta maaf" Zakia mengangkat pandangannya menatap manik mata sang suami.
"Minta maaf buat apa? "
"Sikap Mas, dan atas semua kesalahan Mas"
"Kia juga minta maaf kalau Kia ada salah sama Mas. Maaf kalau Kia belum jadi istri seperti yang Mas inginkan"
"Ssstt, kamu istri terbaik. Jangan pernah bicara seperti itu" Zidan merengkuh tubuh mungil istrinya. "Tetap jadi Kia yang Mas kenal ya cantik, tetap jadi diri sendiri apapun itu. Jangan dengarkan apa kata orang lain di luar sana" Zakia hanya mengangguk dalam pelukan Zidan.