
''Hoo.. ternyata Kalian berdua cembokur toh.? Hahahaha... dua paruh baya cembokur pada orang yang sudah gila! Aku yakin, kalian berdua memang sengaja membunuh kedua orang tuaku karena maksud lain, bukan? Bukan karena cemburu saja! Apakah mungkin karena salah satu dari kalian pernah melakukan kesalahan, hingga kalian membunuh orang yang menjadi saksi kunci dari kesalahan kalian itu? Benar tebakan ku ini Pakde Rustam?''
Deg!
Deg!
Papa Rustam terkejut mendengar ucapan Rani. Begitu juga dengan Mama Nia. Wajah mereka begitu pias saat ini.
Rani tersenyum smirk, "Jangan berbelit-belit Pakde! Aku tau kenapa Kau dan Istrimu tega membunuh ayah dan ibuku, karena kesalahan masa lalu kalian bukan? Apakah ini yang mengakibatkan kalian melenyapkan saksi kunci itu? Bude Nia?" tanya Rani masih dengan wajah datarnya.
Rani dalam hati ia berdoa, jika semua tebakan dan bukti yang ayah Alam tinggalkan padanya itu adalah sebuah kebenaran yang tertunda dan harus di ungkapkan.
"Bagaimana Bude Nia? Masih tidak mau mengaku? Katakan sekarang, sebelum semua ini terlambat. Lebih baik mereka mengetahui langsung dari mulut kalian dari pada mulut orang lain! Akan menyakitkan nantinya!"
Mama Nia dan Pakde Rustam bungkam. Mereka berdua menatap datar pada Rani, Reza dan Al Fatih.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi disini? Rahasia apa? Apa maksud mu Rani? Bisa kamu jelaskan?" tanya Fatih.
Ia masih bingung dengan semua ucapan Rani. Sementara Reza sudah mengepalkan tangannya.
"Apa yang harus mereka katakan bang Fatih, jika kebenaran yang sebenarnya adalah mereka berdua lah yang telah membunuh Kakek kita, Mahmud Baharuddin Syah dan Karmila Nirwana, istri kedua dari kakek kita yang disembunyikan dari Nenek Fatma!"
Ddddduuuaaarrrr...
Papa Rustam dan Mama Nia terkesiap mendengar ucapan Rani. Sementara Fatih terkejut bukan main.
"Apa?!!?" pekik Fatih begitu menggelegar di ruangan pengap berukuran empal kali enam meter itu.
Wajah Reza semakin merah padam. Kebenaran yang selama ini ia pendam dan tidak bisa melakukan apapun.
Tapi ditangan istrinya, rahasia itu terbuka begitu saja di depan kedua orang tuanya dan Abang kandungnya, Al Fatih.
"Kamu bicara apa Rani?! Nggak! Itu nggak mungkin!!" bantah Fatih menyangkal semua tuduhan Rani pada kedua orang tuanya.
Rani mengepal kan kedua tangannya menahan amarah yang sebentar lagi akan meluap memenuhi isi kamar itu.
Paman Ali yang berada diluar ruangan bersama Karin terkejut bukan main. "Rani? Sudah tau?" tanya Paman Ali pada Karin.
Karin menoleh padanya dengan bingung. Namun ia tetap mengangguk, mengiyakan pertanyaan Paman Ali baru saja.
"Karena rasa cemburu Nenek Fatma pada Nenek Karmila, ia gelap mata hingga mengutus putra semata wayangnya, Rustamsyah dan Rania menantunya untuk menghabisi Nenek Karmila. Ibu kandung ayahku! Nenek kandungku! Takut akan posisinya terancam dan digantikan oleh nenek Karmila! Padahal tanpa ia tau, selama ini nenek Karmila lah membiayai seluruh kehidupan nenek Fatma saat ia melahirkan Pakde Rustamsyah dulunya. Kakek Mahmud dan nenek Karmila adalah pasangan yang telah dijodohkan sedari dulu oleh kedua orang tua mereka. Tapi karena hati busuk dan begitu serakah terhadap harta, Nenek Fatma yang selaku sahabat dekat dari Nenek Karmila dengan tega merebut kakek Mahmud dari nenek Karmila!"
"Yang sengaja ingin merebut Kakek Mahmud dari Nenek Karmila agar seluruh harta warisan kedua orang tua mereka jatuh berpindah kepada putranya kelak. Namun sayang! Semua itu tidak terlaksana. Karena walaupun kakek Mahmud menikahi nenek Fatma, kakek Mahmud tetap ingin menikahi cinta pertamanya. Nenek Karmila. Ibu kandung Ayah Alam dan Paman Ramliansyah! Dan juga nenek kandungku. Dan juga harta peninggalan mereka itu akan diserahkan kepadaku saat aku menikah mantinya!"
"Namun karena keegoisan nenek Fatma, mereka berkonspirasi untuk membunuh Ayah dan ibuku agar semua harta itu jatuh ke tangan nenek Fatma dan akan diwariskan kepada anak kandungnya, yaitu Pakde Rustam! Cih! tidak tahu malu! kalian menikmati seluruh harta nenekku diatas penderitaan kami selama ini! Kau kejam pakde Rustamsyah! Sangat kejam!" seru Rani dengan bibir bergetar.
Sesak sekali dadanya saat ini karena harus membuka kisah masa lalu yang sengaja di kubur bersama jasad ayah dan kakek, nenek nya.
"Demi harta, kalian tega membunuh seorang anak yang memang berhak memilki harta itu! Dan sekarang, aku ingin meminta hak ku Kembali dari kalian berdua! Kalian sudah puas menikmati harta peninggalan kedua orang tuaku! Sampai kedua putra kalian, kalian sekolahkan di kampus yang terkenal di Bandung! Sedang aku? untuk sesuap nasi saja aku harus mengais sendiri! Dan beruntung nya aku, masih ada sisa harta dari nenek Karmila yang telah ayahku selamatkan dari kalian berdua! Kalian tau? Jika seluruh harta itu bukanlah milik Kakak Mahmud Baharudin syah! Tapi warisan milik Nenek Karmila Nirwana dari kedua orang tuanya! Sedangkan nenek kau bang Fatih! Tidak memilki sepeser pun harta saat menikah dengan Kakek Mahmud! Karena iri dan dengki, kakek Mahmud lebih menyayangi nenek Karmila, maka inilah yang terjadi. Akibat dendam, kalian tega membunuh orang yang tidak bersalah! Orang yang dengan suka rela memberikan harta nya untuk kalian, agar kalian bisa hidup enak ketika tua nanti! Hiks.. aku kecewa pada kalian berdua! sungguh kejam kau Pakde Rustamsyah!" seru Rani dengan terisak.
Reza dengan segera memeluk tubuh Rani dengan erat dari belakang. Dua tubuh satu hati menjadi satu saat mendapati masalah seperti ini.
Sementara Fatih membeku di tempat karena mendengar penjelasan dari Rani yang baru saja menghantam sisi terdalam dari relung hatinya saat ini.
Fakta yang begitu membuat ia shock, jatuh hingga ke jurang yang paling dalam. Ia menatap kosong pada Papa Rustam dan Mama Nia.
Ia menatap datar pada kedua orang tuanya. Sedangkan kedua orang tua itu tidak merasa bersalah sedikitpun.
Malah ia tersenyum menyeringai melihat Rani dan Reza. "Ya, itu memanglah kami yang melakukan nya! atas perintah dari ibuku Nenek kamu Fatih. Semua yang Rani katakan itu benar adanya. Kami terpaksa harus membunuh Alam, Karena dia ingin melaporkan kami ke polisi atas pembunuhan kedua orang tuanya. Namun sebelum itu terjadi, entah apa yang terjadi pada ibuku, hingga ibuku pun tewas karena bunuh diri."
"Karena kau sudah tau, berarti kalian berdua juga harus MATI!!! Sama seperti ketiga orang yang telah aku lenyapkan itu! Hahahaha..."
Deg!
Deg!
Dorrr!