
Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih dua puluh lima menit. Saatnya untuk Rani menjalankan rencananya.
Ia mengintip Pak Kurni dari balik tirai jendela kamarnya. Terlihat disana lelaki paruh baya itu sudah bersiap untuk sholat berjamaah di mesjid.
Ia bergegas keluar gerbang dan menutupnya. Ia mengunci pagar itu membuat Rani terkejut. Walau terkejut saat tau pintu gerbang di gembok, Rani tak patah arang.
Rani segera bergegas keluar dari ruang megah itu dan menutupnya. Tau jika gerbang utama di kunci, Rani beralih menuju ke pintu samping.
Di mana pintu itu tembus kerumah tetangga sebelah. Yaitu kediaman Bhaskara. Rani medekati tempat itu dan mulai memeriksa nya.
Beruntungnya Rani, jika pagar itu tidak terkunci dan itu mempermudah untuk Rani. Rani membukanya dengan sangat pelan.
Setelah terbuka, Rani mengendap masuk ke pekarangan keluarga Bhaskara. Seseorang memerhatikan nya dari atas.
Orang itu memicingkan matanya saat mengenali jika orang itu adalah Rani. Saat Rani mengendap ke samping mobil mewah milik keluarga itu, ia dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.
Puk, puk.
Rani terkejut. Tubuhnya menegang. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ingin berbalik tapi takut.
Puk, puk.
Lagi seseorang itu menepuk bahu Rani. Kini terasa begitu kuat. Hingga Rani meringis kesakitan.
Tak tahan dengan kelakuan Rani, orang itu menegur nya. ''Kak.. ngapain malam-malam dirumah ku??'' tanya orang itu.
Rani semakin gemetar, karena ia tau siapa sebenarnya itu. ''Gi-Gilang.. Ka-kakak.. mau pergi dari rumah itu, bisa nggak kamu membantu kakak??'' sahut nya dengan sedikit menunduk dan berbisik.
Gilang mengernyitkan dahinya. Sekilas ia melihat seorang satpam berjalan di sana membuat Rani sembunyi dibalik mobil punya Gilang.
''Kak Rani mau apa??''
''Kakak mau kabur!!'' sahut Rani membuat Gilang terkejut.
''Apa?! Tapi kenapa?! Dan juga-'' ucapan Gilang berhenti saat Rani membekap mulutnya.
''Ssssttt.. pelan Gilang! Kakak mau kabur ke tempat dimana tak ada seorang pun yang tau dimana keberadaan kakak! Kamu tau dan Di mana ada tempat seperti itu??'' tanya Rani dengan berbisik.
Gilang terdiam. Ia mengingat seseorang yang sedari dulu menerima nya dengan lapang dada saat ia kabur dari rumah.
Gilang tersenyum dalam bekapan tangan Rani. Dan Gilang mengangguk, membuat Rani melepaskan bekapan tangan nya.
''Dimana??'' tanya Rani begitu senang.
''Sebentar! Gilang ambil kunci motor dulu!'' sahutnya dengan segera berlalu dari hadapan Rani.
''Motor?? Eh? Gilang!!'' panggil Rani dengan berbisik.
Gilang menoleh, karena jarak mereka belum terlalu jauh. ''Kenapa??'' sahut Gilang sedikit pelan.
''Jangan motor, tapi mobil aja ya? Kakak nggak mau kalau satpam dirumah melihat Kakak kabur bersama mu, nanti jadi ribet urusannya!'' cegah Rani
Gilang terdiam dan berpikir. ''Oke! sebentar!'' sahutnya, kemudian ia pergi dari Rani dan masuk kedalam.
Rani terdiam. ''Ayo kak! masuk!'' ajak Gilang.
Rani mengangguk, ia membuka pintu bagian depan dan masuk duduk di sebelah kemudi. Setelah nya Gilang mulai melajukan mobilnya hingga keluar gerbang.
Saat melewati rumah nya, Rani menunduk. Pura-pura mengambil sesuatu, padahal tidak sama sekali.
Gilang terkekeh. ''Kak Rani! Nggak gitu juga kali... kaca jendela mobil ini gelap loh.. nggak akan terlihat dari luar! Jika dari dalam seperti jelas sekali kan?''
Rani mengangguk dan nyengir. ''Hehehe.. maklum Dek! seumur-umur kakak baru ini naik mobil mewah! itu pun mobil keluarga mu!'' sahut Rani.
Gilang tertawa. ''Ini mobil Gilang Kak.. Gilang beli dengan keringat Gilang sendiri.. Mama dan Papa taunya mobil ini hadiah dari mendiang Oma untuk Gilang. Padahal mah bukan euuuyyy!!'' celutuk Gilang, membuat Rani terkekeh.
''Terus, kamu mau bawa Kakak kemana??'' tanya Rani sedikit penasaran.
''Ke rumah istriku!!'' sahut Gilang dengan tersenyum manis.
''Eh? kamu sudah menikah?? Tapi kamu baru lulus SMA Dek?? dengan siapa? Apakah kedua orang tua mu tau??'' cecar Rani dengan banyak pertanyaan.
Gilang terkekeh mendengar nya. ''Aku menikah dengan nya saat masih sekolah Kak! Tak ada yang tau. Hanya pak Kosim, supir dirumah ku dan juga... asisten ku!'' sahut Gilang.
Lagi dan lagi membuat Rani terkejut. ''Kok bisa?!'' pekik Rani.
Gilang tertawa. ''Nanti kakak akan tau, tanya aja padanya. Syarat Kakak tinggal disana hanya satu!''
''Hah? Syarat?? Apa itu??''
''Katakan yang sejujurnya kepada istriku, Kakak datang dengan siapa dan untuk apa tujuan Kakak datang kerumah nya. Jujur! itu syaratnya.'' sahut Gilang lagi
Membuat Rani mematung. Jujur?? Apakah ia harus jujur dengan istri Gilang ini?? Pikirnya.
''Kalau Kakak mau? Kalau nggak juga tak masalah! Gilang akan mengantar Kakak balik ke rumah itu!'' ancam Gilang membuat Rani membulatkan matanya.
''Oke. Oke! Kakak setuju! Daripada harus kembali ke rumah itu. Ogaah!!'' sahut Rani cepat.
Membuat Gilang tertawa terbahak. Ia berhasil menggertak Rani. Padahal istrinya itu tidak seperti itu.
Ia pasti menerima siapa pun itu dengan senang hati. Apalagi jika menyangkut dengan Gilang.
Lebih baik pergi daripada harus menahan sendiri rasa sakit ini. Aku pergi Bang Reza! Aku harus ikhlas dengan semua keputusan mu!
Jika aku pamit, kau pasti tidak mengizinkan ku. Jadi lebih baik aku kabur saja darimu. Karena hanya ini jalan satu-satunya.
Dan beruntung nya aku, tetangga kita sangat baik padaku. Dan bisa ku tebak, jika istrinya ini juga sangat baik nantinya pada ku.
💕
Neng Rani kabur euuuyyy..
TBC