
Dua Minggu sudah berlalu dari semenjak kepergian Rani yang entah dimana. Kini Reza masih tetap tinggal dirumah mereka dikawasan perumahan elit Griya M.
Saat ini, Reza begitu merindukan Rani. Ingin berbicara melalui WhatsApp, tapi ponsel Rani tidak aktif.
Reza jadi uring-uringan sekarang ini. Tidak tau harus berbuat apa. Rasa rindu yang mendera dirinya, membuat Reza semakin galau saja.
Kebetulan hari ini Airin datang kerumah Mereka dan menginap disana. Sedangkan Karin sedang bertugas di rumah sakit Pirngadi Medan.
''Bang! Kok bengong sih? Keluar yuk! Adek bosan Bang.. sudah dua Minggu Abang nggak bawa adek jalan-jalan keliling kota Medan. Ishh.. mana Kak Ai nggak ada lagi!'' gerutu Airin begitu kesal.
Karena setiap hari yang ditemui Airin hanya Reza dan para pembantu diruang itu. Dia tanya Rani kemana, Reza cuma bilang Rani sedang bekerja.
''Ayok Bang... bosan Adek... ah! Abang mah gitu! Tau nya nggak ada Kak Ai, adek nggak mau diajak kemari dua minggu yang lalu!'' gerutu Airin lagi.
Membuat Reza menghela nafasnya. ''Sabar atuh Dek.. Abang pun lagi suntuk ini! Galau Abang! Mana lagi nomor ponsel Kakak mu tidak aktif sedari kemarin? Hisshh..'' gerutu Reza pula.
Airin terkekeh geli melihat Reza yang mengacak-acak rambutnya saking kesal nya. ''Kamu dimana sih Dek?? Susah amat nyari nya! Udah keliling kota Medan! Nggak juga ketemu! Baru si Gilang nggak mau ngomong lagi! Ishh... kesal ah!'' gerutu nya lagi.
Airin tertawa melihat Reza yang uring-uringan karena nomor ponsel Rani tidak aktif lagi sedari kemarin.
Kemarin sempat aktif selama dua jam. Rani memposting jika ia sedang berada dirumah mewah milik Alisa.
Satu jam kemudian Rani memposting lagi jika ia dan Alisa yang Reza tau dari Gilang, jika itu istrinya.
Mereka berdua sedang berjalan-jalan di Mall. Itu menurut Reza. Padahal Alisa dan Rani sedang berbelanja di toko milik Gilang.
Karena peralatan untuk memasak kue, semuanya ada di toko Gilang. Dan itu pun sesuai dengan arahan dari Gilang melalui Andi, asisten nya.
Saat mereka berdua masih sibuk dalam gerutuan masing-masing, tiba-tiba Pak Rahmat datang dengan membawa sebuah paket yang di tujukan untuk Reza.
''Permisi Den! Ini ada paket!''
Reza yang sedang menelungkup kan wajahnya ke meja, terkejut mendengar ucapan Pak Rahmat.
''Paket?? Paket apa?? Dari siapa??'' cecar Reza, membuat Airin terkekeh geli melihat tingkah Abang nya ini.
''Nggak tau Den dari siapa! Nggak ada nama nya!'' sahut pak Rahmat sembari menyerahkan kotak persegi empat itu pada Reza.
''Apa jangan-jangan??''
''Apa??'' tanya Reza pada Airin.
''isi nya... Bom!!'' pekik Airin.
Membuat Reza terlonjak kaget. ''Astaghfirullah! Kamu apaan sih Dek! Mana mungkin kotak sebesar ini Bom! Kamu ada-ada saja! Bau nya saja seperti makanan! Huummm.. enak kayaknya nih!'' celutuk Reza, membuat Airin terkekeh geli karena berhasil membuat Abang nya itu terkejut.
''Kira-kira dari siapa ya Bang??''
''Entah! Abang pun tak tau!'' sahut Reza cepat. Tangan nya sibuk membuka kotak persegi empat itu.
''Apa mungkin...''
''Apa?? Kamu jangan menerka-nerka ah! Buat jantungan saja! Abang masih ingin hidup Dek!''
Airin cekikikan mendengar sahutan Reza. ''Maksud adek tuh.. ini paket dari Kak Ai gitu loh..''
Reza menghentikan gerakan nya dari membuka kotak paket itu. ''Rani?? Mengirim paket?? Buat Abang?? Tapi Kenapa??''
Airin menghendikkan bahunya. ''Entahlah! Adek pun tak tau. Kan cuma tebak doang Abang ..''
Reza menghela nafasnya. ''Kita buka saja dan ini ada suratnya juga.'' Ucap Reza dengan segera ia membuka surat berwarna merah muda itu.
~Teruntuk Abang Reza ~
Selamat menempuh hidup baru Bang Reza.. semoga sakinah mawadah warohmah.. Abang tidak usah khawatir dengan keadaan ku saat ini.
Aku baik-baik saja sekarang. Aku bersama dengan orang yang tepat! Disini aku sangat baik diterima oleh keluarga ini.
Mereka memang orang kaya, tapi sangat dermawan terhadap ku yang hanya wanita hina tidak punya harta sekalipun.
Tidak seperti istrimu yang memilki gelar dan pangkat seorang dokter! Sedangkan aku? Hanya seorang wanita rendahan, Janda pula!
Karena sejak Abang mengucapkan janji suci dengan wanita lain, wasiat Ayah Alam batal! Dan boleh tidak dilanjutkan.
Karena aku sendiri yang menolak mu untuk menjadi suami ku! Aku tak mau dianggap sebagai pelakorrr!
Berbahagialah Bang Reza. Ambilah semua harta Ayah untuk mu! Aku tidak membutuhkan itu! Sekarang, aku bekerja dulu setelah aku punya uang lagi aku akan kembali ke Bogor untuk menyusul Ibu dan aku bawa kemari.
Karena disinilah tempatku yang sebenarnya. Jika Abang ingin mengungkapkan kejahatan kedua orang tua Abang atas kematian Ayah ku, silahkan saja!
Tapi jangan bawa-bawa aku dan ibuku! Biarkan kami hidup bahagia tanpa adanya dirimu.
Sekali lagi selamat menempuh hidup baru! Terima Kak Karinita sebagai istrimu! Aku tau jika dia juga menyukai mu sedari dulu!
Selamat menempuh hidup baru Bang Reza.. Hubungan kita cukup sampai di sini. Rasa cinta yang ku punya untuk mu akan kubur dalam-dalam.
Biarkan aku saja yang merasakan sakitnya di khianati! Selamat menempuh hidup baru Bang Ar Reza Rustamsyah!
Semoga kelak kamu memiliki penerus seperti keinginan Mama mu! Selamat berbahagia Bang Reza...
Dari orang yang selalu dan selalu menyayangi mu. Adik sepupu mu.
AISYAHRANI.
Tes.
Tes.
Tes.
Buliran bening menetes jatuh hingga di kertas berwarna merah muda milik Rani yang sedang Reza pegang.
''Hiks.. kamu pergi?? Meninggalkan ku?? Seorang diri??'' ucap Reza masih dengan memegang surat milik Rani.
Airin terkejut melihat Reza yang menangis seperti itu. ''Bang..'' panggil Airin.
Reza melihat Airin. ''Dia pergi Dek! Dia pergi! Meninggalkan ku sendirian! Gara-gara aku mengikuti kemauan Mama, sekarang cintaku pergi dariku!!! Aku harus apa? Hah?!'' sentak Reza pada Airin.
''Raniiiii.... Raniiiiii... tidaaaaakkk.. jangan pergiiiiii...aaaaaakkkhhhttt...'' Reza meraung sekuat tenaga untuk melampiaskan rasa sakit dihatinya.
Sedangkan seseorang di bawah pohon jambu madu terisak. Ia menangis mendengar suara jeritan Reza.
''Maafkan Rani Bang.. ini yang terbaik hiks.. hiks.. lupakan Rani.. karena kita berdua memang tidak ditakdirkan untuk bersama..'' lirih Rani dengan jatuh terduduk di rerumputan di bawah pohon jambu milik Gilang.
Gilang juga sedang ada disana. ''Mbak... ayo! Waktunya pergi!''
Rani menoleh, ''Ya..'' sahutnya dengan bibir bergetar.
''Tidaaaaaakkkkk.... Raniiiiii.... aaakkhhtt..'' jeritan Reza begitu menusuk relung hati Rani.
Karin yang baru saja tiba terkejut melihat kelakuan REZA yang mengamuk seperti itu.
''Jangan Pergi sayang... Abang membutuhkan mu.. Jangan pergi.. hiks..'' racau Reza lagi.
Airin yang melihatnya pun ikut menangis. Tangan Reza sudah mengalir darah begitu deras.
Karena tadi saking kesalnya ia menghantam tangan nya ke kaca yang ada di dekat mereka duduk.
Karin masuk dengan tergesa.
Deg!
''Semua ini gara-gara Kau dan juga kedua orang tua Yang tidak punya hati itu! Gara-gara kau! Rani ku pergi! Jangan salahkan aku jika aku juga melakukan hal yang sama pada mu saat ini! Mulai saat ini, Aku bukanlah siapa-siapa kamu lagi Karinita Bramantyo! Aku melepas mu dari belenggu yang sedang mengikatmu karena kedua orang tuaku! Aku menjatuhkan talak tiga padamu Karinita Bramantyo!''
Ddddduuuaaarrrr..
💕
Talak lagi???
TBC