Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 126


Zidan masih asik menatap wajah datar Zakia yang sibuk dengan ponselnya. Zidan selalu takjub saat melihat pahatan sempurna dihadapannya ini. Zakia dengan ekspresi datarnya saja begitu cantik, apalagi dengan wajah seriusnya menambah kesan anggun dan tak tersentuh nya.


"Sayang? "


"Ya? " Zakia langsung menatap Zidan yang memandang nya intens.


"Turun yuk, bentar lagi sarapan. Gak enak buat yang lain nunggu" Ajak Zidan dengan suara lembutnya. Hanya Zakia yang mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Bentar Kia pakai hijab dulu" Zakia langsung meletakkan ponselnya dan memasang hijab instan di kepalanya.


Zidan hanya mengamati gerak-gerik Zakia dengan intens. Jika boleh jujur Zidan masih merindukan kekasih halalnya ini. Bahkan semalam penuh mendekapnya tampaknya tak mampu mengikis kerinduan Zidan.


Entah Zidan yang terlalu lama berbincang dengan Zainal atau Zakia yang memangkas waktu mandinya. Hingga saat Zidan kembali ke dalam kamarnya sudah melihat Zakia terlelap kembali dengan keadaan yang berbeda. Tidak ada hijab yang menutupi mahkota indahnya, menampilkan kemolekan tubuh yang halal untuk Zidan pandang.


Zidan bisa menyimpulkan se lelah apa Zakia semalam. Menyempatkan diri membuka mata dengan alasan mandi adalah trik Zakia untuk menyapa dirinya. Zidan tahu itu, tapi tampaknya rasa lelah begitu erat memeluknya hingga membuat Zakia kembali tertidur dengan ponsel yang masih menampilkan pekerjaannya. Zidan tersenyum kecil melihat itu, Zakia menunggunya dengan menyibukkan diri agar tidak bosan. Namun, istrinya itu malah ketiduran. Bahkan saat Zidan mendekat dan mengganggu tidur nyenyak nya, Zakia hanya merespon dengan gerakan cemberut lucu menurut Zidan.


"Yuk, Mas" Ajak Zakia yang dihadiahi anggukan oleh Zidan.


Mereka berdua keluar dan turun menuju meja makan yang sudah terisi anggota keluarga besar itu walaupun belum lengkap. Zakia langsung memisahkan diri dengan Zidan. Zakia langsung memasuki area dapur yang sudah siap semuanya.


"Assalamualaikum" Sapa Zakia pada orang-orang yang ada di dapur.


"Waalaikumsalam, duh yang habis melepas rindu" Goda Danis pada Zakia yang menatapnya tanpa ekspresi.


"Kia bantu apa ini, Bu? " Tak menghiraukan godaan Danis, Zakia memilih mengalihkan perhatian setelah membalas Danis dengan gelengan kepala.


"Ini bawa ke meja makan ya, ayo bantu juga yang lain. Yang lain udah nunggu di meja makan" Seru Farida.


Para wanita yang ada di sana langsung membawa semua masakan ke meja makan. Tak terkecuali Dinda yang sejak tadi diam. Sesekali melirik Zakia yang tampak biasa saja. Memang keluarga Zidan langsung berkumpul saat mendapat berita itu, ini adalah kasus pertama yang menyentuh keluarga Al Fatih. Andai Zidan belum menikah mungkin mereka tidak akan mempermasalahkan, namun nyatanya Zidan memiliki istri. Jadi mereka berniat menegur bungsu Al Fatih itu secara bersamaan mengingat betapa keras kepalanya Zidan itu.


Setelah semuanya selesai mereka kembali bersiap untuk memulai sarapan. Namun Zakia malah berdiri dan berjalan ke arah dapur lagi.


"Zakia mau kemana? " Pergerakannya terhenti saat Farida bertanya.


"Buat teh Mas Zidan dulu, Bu" Zakia langsung melanjutkan langkahnya.


Di meja makan mereka memulai acara sarapan tanpa menunggu Zakia kembali. Bisa dipastikan istri dari Zidan itu akan mengomel jika mereka melewatkan sarapan karena dirinya.


"Loh Mas kok belum makan? " Tanya Zakia saat kembali dengan secangkir teh hangat di tangannya.


"Nungguin kamu sayang" Zidan langsung mengambil alih cangkir di tangan Zakia.


Sedangkan Zakia sudah sigap mengisi piring Zidan dengan menu sarapan kali ini. Baru setelahnya dia mengisi piringnya sendiri. Sarapan berjalan dengan tenang tanpa suara. Hingga akhirnya mereka selesai, membiarkan para ART membereskan sisa makanan mereka. Kecuali Zakia yang ikut bangkit membereskan bekas sarapan mereka. Tak heran jika itu Zakia, karena wanita itu memang tidak bisa diam.


"Dan jadi ke rumah mertua kamu? " Tanya Al Fatih pada anak bungsunya.


"Jadi Yah, tapi agak siangan kayaknya"


"Jangan lupa urus untuk acara resepsi kamu. Ayah mau dalam waktu dekat kamu menggelar resepsi untuk hubungan kalian" Tekan Al Fatih tak ingin dibantah.


Zidan hanya mengangguk pasrah, bahkan dirinya belum membicarakan ini dengan Zakia. Zidan hanya takut tidak bisa mengikuti kemauan istrinya jika menggelar acara dengan mendadak. Padahal Zidan tahu bagaimana ajaibnya sang istri jika mewujudkan sesuatu.


"Sayang" Panggil Zidan saat melihat Zakia melintas.


"Bentar doang, Mas tau kamu masih ada kerjaan" Zakia terpaksa mendekat. Zakia duduk kembali di kursinya karena mereka belum beranjak dari meja makan.


"Kenapa? " Tanya Zakia seadanya.


Gelagat Zakia memang agak berbeda. Wanita yang biasanya tersenyum ramah dan ceria itu kini lebih banyak diam dan tak banyak bergerak. Aura Zakia juga tak sehangat biasanya, wanita terlihat dingin saat ini.


"Soal resepsi kita"


"Nanti Kia yang urus, gimana kalau nanti ke tempat temen Kia yang ngurus acara Kak Al? " Zakia menoleh ke arah Zidan.


"Boleh, mending kamu kabari aja dulu sayang. Takutnya dia lagi di luar kalau gak konfirmasi dulu"


"Iya nanti Kia telfon pas di rumah mama aja deh"


"Mau sekalian cari gedung? " Tawar Zidan.


"Jangan forsir tenaga kalian, istirahat yang cukup. Itu bisa pelan-pelan atau minta anak buah Ayah bantu untuk acara kalian" Tegur Farida saat melihat anak dan menantunya seakan dikejar deadline untuk acara tersebut.


"Iya Bu" Jawab Zidan.


"Jangan iya iya aja Zidan, perhatikan kesehatan istri kamu. Ibu tahu kamu gak jauh beda sama Zainal. Gak usah kayak orang dikejar setoran, kalau udah ditakdirkan ya kalian bakal kasih Ayah sama Ibu cucu juga" Siapa yang akan menyangka jika Farida akan berucap sefrontal itu.


Zakia menunduk dengan wajah memerah malu, sedangkan Zidan hanya melongo mendengar ucapan Farida.


"Kalau Zidan kan emang lagi kejar setoran Bu, wajarlah selama LDR dia kan puasa" Celetuk Zainal tanpa tahu tempat.


"Biar urusan resepsi kita aja deh yang urus, kalian fokus sama proses Zidan junior aja" Danis ikut menambahkan godaan pada Zakia dan Zidan.


"Kia permisi ke kamar duluan" Zakia langsung berlari menuju tangga dengan wajah memerah malu.


Setelah kepergian Zakia tawa meledak di meja makan. Zidan hanya memasang wajah datarnya kembali. Masih tak habis pikir dengan keluarganya, sejak kapan mereka gemar menggoda menantunya itu. Daripada pusing meladeni ejekan dan godaan para saudaranya, Zidan memilih menyusul istrinya ke kamar.


"Masih pagi, Dan. Udah gas aja" Zainal berkata sedikit berteriak.


Zidan tak menghiraukan dan tetap melanjutkan langkahnya. Membiarkan tawa yang terdengar di meja makan sana. Membuka pintu kamar dengan sangat pelan bahkan juga menutupnya dengan perlahan.


Menghampiri Zakia yang tampak berdiri di depan cermin, sepertinya sang istri tengah bersiap untuk pergi. Zidan melingkarkan kedua tangannya dipinggang ramping sang istri.


Pergerakan Zakia yang tengah memasang bedak itu terhenti. Menatap Zidan dari cermin di depannya.


"Kenapa, hmm? " Zakia mengelus pelan rahang kokoh yang tengah bersembunyi di ceruk leher sang istri.


"Mau berangkat sekarang? " Tanya Zidan dengan suara yang kecil, dirinya sibuk menghirup aroma candu yang selama ini dirinya rindukan.


Zakia hanya mengangguk. Zidan melirik ke arah cermin, hingga senyum tipis muncul dibibirnya. Bagaimana tidak, Zakia mengelus tangannya dengan mata terpejam. Mendongakkan kepalanya sengaja memberi akses pada sang suami agar lebih leluasa.


Zakia tak bisa lari kali ini, kewajibannya melayani sang suami sudah didepan mata. Bukankah dosa jika dirinya menolak, satu-satunya cara hanya pasrah dengan semua kelakuan Zidan. Zidan menggendong tubuh mungil itu menuju ranjang.


"Let's play baby"