
Selesai dengan sholatnya, kini ia ingin turun dan bertemu anak-anak Alisa. Belum lagi perutnya terasa lapar saat ini.
Ia membuka pintu dan keluar. Terdengar suara gelak tawa yang membahana di ruang tamu Alisa.
Seperti suara yang begitu dikenalnya. Rani mengernyitkan dahinya. Benar atau tidak, pikirnya.
Malas berpikir tentang seseorang itu, Rani melangkah menuju dapur. Lagi, suara tawa itu menggelegar di ruang tamu Alisa.
Sedangkan diruang tamu Alisa, Reza datang menemuinya saat melihat Alisa sedang berjalan ke arah mereka.
Alisa tersenyum melihat seseorang itu begitu gelisah. Ia berjalan kesana kemari, tidak tentu arah.
Alisa yang melihatnya terkekeh kecil. Reza berbalik dan melihat jika Alisa datang menghampiri nya.
''Gimana? Apa dia sudah baikan??'' tanya Reza.
Alisa tersenyum. ''Ya, Rani sudah kembali seperti biasa. Cepat urus segala keperluan kalian berdua untuk berangkat ke Bogor. Malam ini bukan??''
''Ya, semuanya sekarang tergantung Rani. Jika Rani tidak mau ikut dengan ku, maka aku pun akan habis ditangan nya.'' lirih Reza.
''Berjuanglah! aku tau Rani tidak seperti itu. Ia hanya sedang terluka saja!''
''Ck! dasar kakak ipar kampret!'' Gerutunya sambil melirik Karin.
Karin melototkan matanya. Sedang Fatih tertawa. ''Eh? Enak aja lu ngatain gue kakak ipar kampret! mau lu tak kutuk jadi kodok??''
''Hahaha... Om akan jadi kodok! Berarti Om akan melahirkan cebong dong?!''
''Hah?? Cebong??'' beo Reza.
''Ya, cebong! Kata ibuk Rani, Om Reza sebentar lagi akan melahirkan cebong. Katanya rumah Om akan penuh dengan kecebong! Lah, Abang bilang dong. Masa' iya Om Reza yang tampan dan keren pelihara kodok? Ibuk Rani bilang, Om memang iya peliharaan kodok. Berarti Om beneran dong bakalan punya bayi cebong? Anak kodok lahir di rumah Om? Hahaha...''
''Hah? Dasar Rani! Dikira aku ini Raja kodok apa?! Hingga bayi kodok akan lahir dirumah ku?? Ck! Dasar Kakak ipar kampret!! Semua ini gara-gara kamu ya!'' tunjuk Reza pada Karin.
Fatih tertawa terbahak begitu juga dengan Lana. Mereka berdua kompak menertawakan Reza.
Saat sedang asyik-asyiknya tertawa, mata Reza melihat sekelabat bayangan sedang menuju ke arahnya.
Deg, deg, deg.
Jantung Reza berdegup kencang. Rani yang berjalan dengan menunduk tidak menyadari jika Reza sedang berdiri di depannya.
''Mbak.. ada apa sih! Seru banget kayaknya! Kok nggak ngajak-,'' ucapan Rani terhenti karena mendengar suara seseorang yang begitu di kenalnya.
''Dek...''
Deg!
Rani terkejut dengan suara itu. Rani mendongak dan...
''Ngapain kamu kemari!'' ketus Rani.
Ia berjalan melewati Reza dan duduk di dekat Alisa. Tanpa menoleh pada dua orang yang saat ini sedang menatapnya.
Reza tercengang melihatnya. Lana tertawa ngakak. ''Hahaha... Om. Reza di cuekin! hahaha..''
Alisa terkekeh mendengar Lana menertawakan Reza. Begitu juga dengan Karin dan Fatih.
Mereka terkekeh bersama. Membuat Rani mendongak. Ia menatap lurus ke depan.
''Loh?'' tunjuknya pada Karin dan Fatih.
''Apa?'' tanya Karin sembari cekikikan.
''Udah ah sayang! Kamu kok jahil banget sih? Kasian Rani loh..'' tegur Fatih semakin membuat Rani bingung.
Reza mendekati Rani dan duduk di sebelah nya. ''Dek-,"
"Apa!" ketus Rani lagi.
Lagi dan lagi Lana dan Karin tertawa. "Jiaaaahhh.. Reza di cuekin euuuyyy!" celutuk Karin.
Fatih yang gemas pun mencium pipi Karin. Cup!
Rani melototkan mata nya. "Ih. dasar tak tau malu. Adik ipar sendiri pun di embat juga! Sana! Urusin tuh bini elu! Jangan ganggu gue!'' ketus Rani lagi.
Lagi dan lagi mereka disana tertawa. Rani. semakin dibuat kesal. Ia bangkit dan berjalan memasuki kamarnya.
''Tunggu Dek! Ada yang mau Abang bicarakan dengan mu! Ini penting!'' cegat Reza saat melihat Rani berlalu meninggalkan mereka yang masih tertawa melihat nya.
''Tunggu sayang! Ini menyangkut orang tua kita. Ibu sayang! Ibu!'' seruu Reza sambil berlari.
Rani berhenti tapi tidak menoleh pada. Reza. Ia ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh Reza selanjutnya.
Sekarang mereka berada di depan pintu kamar Rani. Dengan cepat Reza memvuaknay dan menarik Rani ke dalam.
Reza mengunci pintu dan berjalan mendekati Rani. Rani cuek saja. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Reza menarik tangan Rani dan..
Grep!
Tubuh Rani menubruk tubuh Reza. Reza memeluknya dengan erat. Ia menciumi dahi Rani berulang kali.
''Abang kangen banget sama kamu Dek..'' ucap Reza masih dengan memeluk Rani.
Rani diam. Ia tak menyahut tak juga menolak pelukan Reza. Sesak yang tadi sudah ia buang entah kemana, kini kembali lagi.
Lagi tubuh itu berguncang. Reza semakin erat memeluk Rani. Rani sesegukan di dalam pelukannya.
Lama pada posisi seperti itu. Rani terbuai dengan wangi tubuh Reza yang selama ini ia rindukan.
Sadar jika ia kembali lemah karena kehadiran nya, Rani mengurai pelukan itu dengan paksa. Membuat pelukan itu terlepas secara paksa.
''Pergi! Pergi dari kamar dan dari hidupku! Aku sudah tidak ingin melihatmu lagi!'' seru Rani dengan datar.
Reza terkejut mendengar nya. Ia menatap dalam pada. Rani yang sudah berlalu pergi meninggalkan nya.
Ia menatap nanar pada Rani. ''Ada yang ingin Abang sampaikan padamu. Oke, jika kamu ingin jauh dari Abang, tak apa! Abang terima. Tapi tolong, dengarkan dulu apa yang akan Abang sampaikan padamu. Ini mengenai ibu kita. Ibu Saras!''
Rani berhenti melangkah kan kaki nya. Ia berbalik dan menatap Reza dengan serius. ''Ada apa dengan ibuku? Apakah kedua orang tua mu menyandera nya?''
Deg!
Reza terkejut. ''Bagaimana kamu tau?''
''Benarkah? Oh.. pastilah karena harta Ayah ku bukan? Makanya kedua orang tua mu menyiksa ibuku, agar aku bisa pulang ke Bogor dan memberikan apa yang mereka mau? Ck! Dasar gila harta!'' ketus Rani
Semakin membuat Reza terkejut. ''Katakan! Katakan kamu tau dari siapa tentang hal ini? Abang saja baru tau nya aja sekarang ini dari paman Ali. Bagaimana mungkin kamu lebih dulu tau? Apakah Paman Ali menghubungi mu?'' cecar Reza dengan banyak pertanyaan.
Rani terkekeh sumbang. ''Aku tak tau dari siapapun! aku menebak saja! Dan ya, baru saja kamu mengatakan nya!'' ketus Rani lagi.
Ia berjalan keluar dengan membuka kunci pintu kamar itu. Tapi di cegat oleh Reza. ''Tunggu sayang! Abang belum selesai bicara-,''
''Sayang, sayang, sayang! Jangan panggil aku sayang!! Karena aku bukan kekasih mu!!'' seru Rani begitu kencang.
''Tapi kamu istri sah ku Rani!!'' seru Reza tak kalah kencang dari Rani.
''Oh ya? Istri sah kata mu? Lalu bagaimana dengan seorang wanita yang sedang hamil disana! Bisakah kamu jelaskan? hah?! Cukup! Cukup sudah aku dikhianati seperti ini! Aku tak mau mendengar apapun lagi darimu! Pergi!! Pergi dari hadapan ku!!''
''Nggak akan! Aku nggak akan pergi Nyonya Reza putra Alamsyah!!'' seru Reza lagi
Rani semakin geram. ''Aku bukanlah istrimu! Pergi dari kamarku! Aku benci melihat mu! Aku benci! Pergi kau REZA!!!'' pekik Rani dengan air mata bercucuran.
''Aku tidak akan pergi darimu Rani. Baik! Kamu menolak ku bukan? Maka jangan salahkan aku, jika aku memaksa mu!''
Reza mendekati Rani dan membopong nya menuju ke atas ranjang. Tiba disana, Reza menghempaskan Rani begitu saja.
Bruukk.
''Ahh..''
''Kamu menolakku bukan? Baik, hanya cara ini yang bisa ku lakukan agar kamu tetap bersama ku!'' imbuh Reza dengan segera melepaskan seluruh pakaiannya.
Melihat itu Rani terkejut. ''A-apa yang ingin kau lakukan!''
''Melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri, apalagi?''
Deg!
''Tidaaaakkkk..''
💕💕
Weleh, mau ngapain itu!
TBC