
Rani memeluk Reza begitu erat. Rasanya tidak ingin melepaskan Reza sama sekali. Ia semakin nyaman dengan hangatnya tubuh Reza.
Semakin lama ia menghirup bau tubuh Reza, semakin nyaman pula yang ia rasakan.
''Jangan tinggalin Rani lagi Abang.. Rani nggak sanggup tanpa Abang... Rani butuh Abang.. Rani mau Abang.. Jangan tinggalin Rani lagi Abang.. Rani sayang Abang... hiks..'' Isak Rani masih dengan memeluk erat tubuh Reza.
Deg.
Reza mematung mendengar ucapan Rani. Tangan nya perlahan turun untuk menyentuh pundak Rani.
''Nggak! Rani nggak mau lepasin! Rani mau begini saja.. Rani butuh Abang.. Rani mohon.. jangan pergi... hiks ..'' lirih Rani lagi.
Untuk sesaat Reza membiarkan Rani memeluk tubuhnya dengan erat. Karena ia tau, jika Rani sedang butuh dirinya.
Tangan Reza mengusap pundak Rani. Sesekali ia mengelus kepala Rani. Membuat sang empu semakin mengeratkan pelukannya.
Reza yang begitu erat dipeluk meringis. Begitu kuat cengkraman Rani ditubuhnya. Hingga rasanya sulit untuk bernafas.
''Sayang! Abang sesak inih... kendur kan dikit...'' lirih Reza ditelinga Rani.
Rani tersentak. Ia mencoba untuk melepaskan pelukannya, tapi Reza menahan nya.
Reza membawa Rani ke pinggir ranjang. Dan membawa nya duduk disana. Masih dengan Rani yang tidak mau melepaskan nya.
''Kenapa?'' tanya Reza masih dengan memeluk Rani, sesekali Reza mengecup kening Rani.
Rani menggeleng. ''Rani butuh Abang.. jangan pergi...'' lirihnya lagi.
''Abang nggak akan pergi.. kalau bukan kamu yang memintanya sayang.'' sahut Reza masih dengan memeluk Rani.
''Terimakasih..''
''Kalau begitu, bisa dong kita menikah hari ini juga??'' goda Reza.
''Eh? Me-menikah??'' Rani terkejut mendengar ucapan Reza.
Spontan ia melepas kan pelukan nya dari tubuh Reza. Ia mendongak menatap Reza. Begitu juga dengan Reza.
Ia menunduk melihat Rani. Reza tersenyum membuat Rani mengerjabkan matanya. Reza terkekeh.
''Gimana?? Jadikan kita menikah??'' tanya Reza lagi.
Rani mengerjabkan matanya berulang kali. Melihat itu Reza tergelak.
''Sudah, Abang mau mandi dulu! Kamu udah mandikan??''
Rani mengangguk. ''Sudah.'' sahutnya.
Reza tersenyum. ''Oke, Abang mandi!'' ucapnya dengan segera melepas Rani, membuat Rani kecewa karena pelukan itu terlepas.
Reza tersenyum tipis melihat Rani. Setelah nya, ia masuk ke kamar mandi dan memulai ritualnya.
Dua puluh menit kemudian, Reza keluar dengan tubuh basah, dengan handuk dililit sebatas lutut.
Rani mengerjabkan matanya berulang kali. Melihat itu, Reza tersenyum tipis.
''I-ini baju ganti a-abang.'' ucap Rani dengan terbata. Ia menunduk tak berani menatap Reza.
Wajahnya mendadak panas ketika melihat tubuh bagian atas milik Reza yang terbuka. Dada bidang dengan perut kotak-kotak membuat Rani merasa malu untuk melihatnya.
''Oke. Tunggu sebentar, setelah ini kita sarapan.'' sahut Reza.
Ia menatap Rani sekilas kemudian berlalu meninggalkan Rani menuju kamar mandi dan berganti pakaian disana.
Setelah selesai mereka berdua keluar bersama untuk sarapan pagi.
Tibanya diluar, mereka disambut oleh Bu Ani dan Pak Rahmat. Mereka berbincang sesaat dengan Rani hanya diam saja.
Karena Reza sibuk dengan pembahasan yang ia tidak mengerti. Melihat Rani yang diam saja, Reza menghela nafasnya.
''Dek... ayo dimakan, kenapa hanya diam saja? Makanan nya pun cuma diaduk-aduk begitu?? Atau.. kamu nggak suka ya sama makanan yang dimasak Bu Ani??'' tanya Reza dengan sedikit memiringkan kepalanya.
Rani menghela nafas berat. Sesak rasanya. Tapi entah kenapa. Ingin bicara takut salah. Kalau tidak dibicarakan, semakin tersiksa.
Seharusnya Abang mengerti apa yang aku inginkan tanpa harus bertanya. Gumam nya dalam hati.
Rani memaksakan senyum walau hanya senyum tipis. Reza yang melihat nya merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan. Tapi apa?? pikir Reza.
''Nggak kok, makanan nya enak! Aku udah selesai! Abang lanjutin aja obrolan nya! Aku mau ke depan sebentar.'' imbuhnya, kemudian berlalu meninggalkan Reza yang mematung melihat kepergian nya.
Rani terus menyusuri jalan rumah besar itu hingga tiba di teras. Saat ia sedang celingukan mencari sesuatu, Rani melihat ada sebuah pohon yang begitu rindang.
Lebat sekali buahnya. Rani menyukai buah itu, hingga tanpa sadar ia menghampiri batas antara pagar rumah mereka dan tetangga sebelah.
Terlihat seorang wanita yang belum paruh baya, sedang berjalan kearahnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Ia melihat Rani kemudian mendekati nya. Tibanya disana, Rani mematung melihat seorang pemuda yang begitu tampan.
''Ma??'' sapanya.
''Eh? Gilang! mau berangkat kah??'' tanya wanita itu.
Pemuda tampan itu mengangguk. Wajahnya sama persis dengan ibunya. Datar tanpa ekspresi.
Sekilas ia melihat Rani dan tersenyum. Ia mengangguk kan kepalanya sedikit dan menyapa Rani.
''Assalamualaikum, Mbak... Mbak orang baru ya disini??'' tanya nya dengan ramah.
Wanita yang belum tua itu yang ternyata ibu dari pemuda tampan yang sedang menyapa nya menatap Rani dengan datar.
Rani tersenyum kaku. ''Iya, saya orang baru disini. Baru tiba tadi pagi. Tapi pemilik rumah ini juga ada kok.'' imbuh Rani masih dengan menatap Pemuda tampan itu.
Saat pemuda tampan itu ingin menjawab ucapan Rani, terlihat seseorang mendekati Rani.
''Loh? Gilang??''
''Bang Reza!''
''Kamu mau berangkat kerja??'' tanya Reza.
''Hehehe.. iya Bang! sebelum berangkat ke Amerika, jadi belajar dulu disuruh Papa sih sebenarnya.'' sahutnya dengan sedikit meringis ketika melihat Mama nya menatap mereka dengan datar.
''Hoo.. kenalkan Gilang, ini calon istri Abang! yang juga sepupu Abang dari sebelah Ayah Alam. Nama nya Aisyahrani, putri kandung dari paman Alam.''
''Hah? Yang benar Bang?? Ini kak Rani yang Abang ceritakan itu??'' tanya nya dengan antusias.
Reza tertawa. ''Iya Dek.. ini dia yang Abang bilang sama kamu! ini dia orang nya!'' sahut Reza masih dengan tertawa nya.
''Wuaahh.. selamat datang kak Rani! semoga betah ya disini? Tadi Gilang lihat, kakak mau buah ini ya??'' tanya nya dengan senyum manis nya.
Membuat Rani tertular juga karena senyum manis nya itu.
''I-iya.. kalau di izinkan sih. Hehehe..'' ujar Rani dengan sedikit cengengesan.
Gilang tertawa melihatnya. ''Ya sudah, ambil saja kak! Pohon ini saya yang tanam. Ambil aja! nggak akan ada yang melarang! Buah nya enak dan manis loh..'' ucapnya sembari memetik buah itu dan memakannya.
Rani yang begitu menginginkan nya pun mengambil buah itu yang dahan cabang pohonnya menjuntai ke sebelah rumah mereka.
Dengan cepat Rani mengambil nya dan memakan buah itu. Pertama kali yang dirasakan Rani adalah manis.
''Aku sangat menyukai buah ini Kak! Buah jambu madu berwarna merah ini buah kesukaan ku setelah buah pokad. Buah lain suka juga sih, tapi dua ini saja yang menonjol. Tuh, kakak lihat buah pokad ku banyak kan buahnya??'' tunjuknya sembari mengunyah buah jambu madu yang baru saja ia petik.
''Hehehe.. maaf kalau Kakak menyukai buah ini. Habisnya buah nya itu sangat menggiurkan pemandangan mata!'' celutuk nya membuat Reza dan Gilang tertawa.
''Kakak bisa aja! Selamat datang di komplek perumahan Griya M, Kak Rani. Semoga betah ya tinggal disini? Selamat datang tetangga baru! Hanya buah ini sebagai sambutan untuk Kakak! Habisnya, Bang Reza nggak ngomong sih.'' imbuhnya masih dengan sedikit kekehan di mulutnya.
''Terimakasih Dek.. Kakak betah tinggal disini, jika tetangga nya ramah seperti kamu!'' ucap Rani dengan tertawa.
Membuat Reza juga ikut tertawa. ''Ya sudah, ayo Dek! kita masuk. Ada yang perlu Abang bicarakan dengan mu.'' ucap Reza seraya berlalu menggandeng Rani.
Gilang yang melihat nya terkekeh. ''Hati-hati Kak! Bang Reza ganas!'' teriak Gilang, setelah mengatakan itu ia lari ngacir dengan sedikit tertawa.
Membuat Reza menggerutu kesal. ''Awas kau Gilang! Abang bilangin bini mu baru tau rasa kau!'' ucap Reza dengan geram.
Melihat itu Rani tertawa. Reza menoleh.
Cup.
Eh??
💕
Apaan tuh??
Ada yang tau nggak siapa Bang Gilang ini??
Kalau belum, cuss kepoin di sebelah udah banyak bab nya!
Maaf ya othor update nya lama.
Maklum Mak Mak Rempong punya bayi! 😁😁
TBC