Janda Kembang

Janda Kembang
Resepsi pernikahan Rani dan Reza.


Selesai dengan acara akad, kini Rani dan Reza sudah diarak menuju hotel tempat dimana acara akan segera diselenggarakan.


Tiba di hotel milik keluarga Rani yang dirintis dari nol oleh Reza, mereka berdua di bawa masuk kemari hotel yang sudah di sediakan.


Mereka berdua kali dirias untuk menyambut para tamu dari pihak keluarga maupun kolega bisnis Reza dan Al Fatih.


Seluruh ruangan ballroom itu sudah di sulap menjadi ruangan pesta yang begitu indah. Dengan Bungan mawar putih dan lampu hias menambah cerah dekorasi pelaminan untuk Rani dan Reza.



Rani dan Reza di tuntun menuju kepelaminan oleh Ibu Saras dan Bibi Kasmi. Mereka didudukkan di pelaminan mewah itu.


Rani sampai tak percaya melihatnya. Seluruh ruangan ballroom itu sudah dihias sedemikian rupa.


Setelah Rani di dudukan di pelaminan, acara pun segera di mulai. Panitia mulai memandu acara Rani, mulai dari kata sambutan yang disampaikan oleh paman Ali, serta dengan pertunjukan demi pertunjukan yang sengaja di datangkan Reza dari Bogor, kini acara itu hanya menunggu ucapan selamat dari para undangan.


Puluhan ribu undangan menghadiri pesta pernikahan Rani dan Reza. Salah satunya adalah Alisa.


Wanita yang menjadi calon istri Gilang itu pun hadir beserta ke tiga anaknya. Berikut dengan putra Gilang.


Rani sengaja menhan Alisa agar tidak segera pulang. Karena ia ingin menelepon Gilang diluar negeri untuk melihat sang pujaan hati yang juga turut hadir memeriahkan acara resepsi Rani dan Reza.


Rani berbisik pada Reza untuk menghubungi Gilang melalui sambungan video call dan ditayangkan di layar kaca pesta pernikahan mereka.


Rani terkikik geli saat membayangkan jika Alisa akan terkejut melihat Gilang ada di layar kaca pesta pernikahan mereka.


Reza dengan segera meminta ponselnya pada Airin. Airin mengangguk dan memberikan ponsel milik Reza.


Dengan segera Reza mendial nomor Gilang di Amerika sana. Sambungan terhubung. Dengan cepat, Gilang mengangkat panggilan video call dari Reza.


''Assalamualaikum Mbak Rani, Bang Reza! What's aap Bro!'' Seru Gilang dari Sambungan ponsel miliknya.


Sedangkan seseorang yang sedang menyuapi makan bayi kecil berusia tiga belas bulan itu membeku di tempat.


Ia sangat kenal dengan suara siapa itu. Pandangan matanya mengabur, buliran bening itu siap meluncur di pipi mulusnya.


Rani terkikik melihat reaksi Alisa. ''Waalaikum salam Gilang.. Apa kabar? Kamu sehat? Ih, nggak seru! Kamu kenapa nggak pulang sih?!'' gerutu Rani, mendengar gerutuan Rani Gilang tertawa.


''Hahaha.. aku akan pulang kalau kuliah ku sudah selesai disini Mbak. Tiga setengah tahun lagi. Waktu tak akan lama berputar. Aku harus memantaskan diri untuk bisa menikahi calon ku! Doakan aku Mbak, agar aku bisa cepat pulang. Karena setelah dari sini aku harus ke Turki dan Kairo. Jadi aku belum bisa pulang. Sampaikan salam sayangku saja ya Mbak untuknya.'' imbuh Gilang dengan tersenyum menatap wajah Rani.


Rani dan Reza tersenyum, ''Ngapain aku sampaikan salam untuk calon istrimu. Bilang aja sendiri! Tuh, orang nya ada disudut Sono noh!'' jawab Reza dengan menunjukkan jika Alisa sedang menatap layar kaca yang begitu besar sedang memampangkan wajah tampan Gilang.


Gilang terkejut. ''Waduh! Kamu curang Bang! Masa' video call dengan keadaan ku yang acak-acak an gini sih?! Ishh.. malu Abang!'' seru Gilang salah tingkah.


Terlihat jika seluruh para undangan tertawa melihat tingkah Gilang. Begitu juga dengan Mama Dewi.


Tapi tidak, dengan Alisa. Wanita cantik itu terus saja menatap Gilang di layar kaca sana. Tanpa disadari oleh siapapun, buliran bening itu menetes di pipinya.


Lana yang melihat itu, memeluk Alisa dengan erat. ''Mak?? Ada Oma Dewi disini. Sabar ya?'' bisik Lana di telinga Alisa yang sedang membungkuk untuk menyamai tinggi dengan putra semata wayang Gilang.


Rani dan Reza masih saja bercakap-cakap dengan Gilang melalui sambungan ponsel. Hingga di rasa cukup, Rani memutus sambungan ponsel itu.


Ia menatap Alisa yang sedari tadi terus menampilkan senyum terpaksa kepada Ibu Dewi. Mama Gilang.


Membuat Rani terdiam. Ia memejamkan kedua matanya saat merasakan tangan Reza yang sudah nangkring di pinggang rampingnya.


Cekrek!


Sinar dari seorang fotografer menyorot mereka berdua. Rani membuka matanya dan melihat Reza sedang terkekeh geli.


Geram karena di kerjain, Rani mencubit pinggang Reza.


''Aduhh... sakit sayang!'' keluh Reza. Ia mengusap-usap pinggangnya yang terasa sakit.


Semua tamu tertawa melihat kelakuan pengantin baru itu.


Pukul sepuluh malam barulah acara itu selesai. Acara yang begitu megah dan mewah. Akan selalu di kenang sepanjang masa.


Reza dan Rani masuk ke kamar hotel yang sudah dirias khusus untuk kamar pengantin. Rani melongo melihatnya.


''Loh? Kapan kamar ini dirias? Bukannya tadi kosong melompong ya?'' tanya Rani kebingungan.


Matanya menelisik seluruh ruangan. Kamar yang sudah dirias secantik mungkin. Dengan tirai berwarna pink muda bergantungan di sisi ranjang.


Seprei berwarna putih di taburi bunga mawar dan satu pasang handuk yang sudah di bentuk angsa oleh petugas hotel.


Lilin-lilin juga sudah bertaburan di setiap sudut. Harum wangi semerbak memenuhi ruangan pengantin baru itu.


Rani berdiri mematung. Ia dengan segera melepas high heels nya dan berdiri dengan menatap kosong pada seluruh kamar itu.


Reza yang sudah berdiri di belakang nya terkekeh. Ia mendekati Rani dan memeluknya dari belakang.


''Kamu suka?'' lirih Reza di telinga Rani.


Rani mengangguk. ''Suka. Terimakasih, Abang mau menerima ku yang hanya seorang janda ini..'' lirih Rani dengan menunduk.


Reza melepas pelukan nya dan membalik tubuh Rani agar menghadap padanya. ''Lihat Abang.'' titah Reza sambil menarik dagu Rani sedikit agar melihat padanya.


Cup!


''Apapun dirimu, Abang menerima mu apa adanya. Abang mencintai mu bukan karena statusmu. Tapi Abang mencintai mu karena Allah lah yang memilih mu untuk menjadi jodoh Abang. Kita berdua sama. Sama-sama memiliki kekurangan. Jadikan kekurangan itu menjadi penyemangat kita untuk saling melengkapi. Abang percaya, kamu pasti bisa. Apapun dirimu, Abang menerima mu dengan ikhlas!''


''Beneran??''


''Ya, sayang. Ayo, buka gaun mu. Setelah nya kita sholat dan istirahat. Abang sangat pegal ini..'' keluh Reza.


Rani tertawa. ''Katanya mau ngajak bulan madu? Eh, ternyata sang empu malah capek! hihihi..'' goda Rani sambil berlalu.


Reza terkekeh, ''Tentang bulan madu, tidak perlu keluar negeri atau dimana pun! Cukup diruangan ini, kita sudah bisa bulan madu!'' ucap Reza menggoda Rani dengan menaik turun kan alisnya.


Rani tersipu malu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Huhuhu... sedikit lagi end! Pantengin terus ye!