
''Terimakasih Mbak.. aku sangat beruntung bisa mengenal Mbak.. jika tidak, entah apa yang terjadi pada diriku sekarang ini..'' lirih Rani.
''Sama- sama Dek.. Mbak juga beruntung bisa mengenal dirimu.. Ini memang sudah menjadi takdir untuk kita berdua. Setiap pertemuan itu sudah digariskan oleh yang maha kuasa. Begitu juga dengan kejadian hari ini. Pasti ada hikmahnya. Mana mungkin Allah memberikan ujian jika tidak Ia selipkan kebahagiaan di dalam nya??''
Rani tersenyum haru. Lagi ia memeluk Alisa dengan sayang. ''Terimakasih Mbak.. aku sayaaaaangg... sekali dengan Mbak!''
''Mbak juga menyayangi mu adikku.. sudah! ayo istirahat! Besok pagi-pagi sekali kita harus masak banyak untuk kita bawa kerumah sakit. Ya?'' ujar Alisa sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Rani.
Rani mengangguk, ''Ya, kaitannya harus masak banyak besok!'' sahut Rani dengan senyum terus tersungging di bibir tipisnya.
Keesokan paginya.
Sedari subuh Rani dan Alisa sudah bangun untuk menyiapkan bekal untuk dibawa kerumah sakit pagi ini.
Karena jam besuk mulai dibuka jam delapan tiga puluh, maka Rani dan Alisa menyempatkan diri mereka ke toko roti milik Alisa.
Tiba disana, mereka berdua mulai membuka toko itu. Dan hati ini Alisa kedatangan pegawai barunya yang disiapkan oleh Tama.
Putra angkat Alisa. Rani dengan cekatan mengelap kaca etalase, menyusun kue dengan rapi.
Setelah selesai kini Rani beralih pada meja kasir untuk memeriksa apakah uang ia tinggalkan kemarin masih ada dan cukup.
Setelah ia menghitung nya, Rani bergegas mengambil berapa loyang bolu pisang dan puding lumut buatan Alisa.
Rani bungkus semua itu dengan kotak yang sudah tersedia disana. Alisa yang melihat Rani begitu cekatan, tersenyum.
Semoga Allah selalu menjaga cinta kalian berdua.. Mbak yakin, jika kalian berdua itu jodoh. Hanya saja.. belum saatnya untuk kalian bersatu. Mbak jadi penasaran, seperti apa sih Reza ini? Gumam Alisa dalam hati dengan sedikit kekehan di bibirnya.
''Mbak?''
''Eh? Sudah siap semua??" tanya Lisa memastikan.
"Sudah Mbak.. Ayo kita menggadis seperti yang Mbak bilang kemarin?" seloroh Rani.
Alisa tergelak dengan ucapan Rani. Begitu juga dengan pegawai baru Alisa. "Dina, Mbak pergi dulu ya? Jaga toko! Ingat! Jika ada yang melakukan pemesanan dalam jumlah banyak, kamu segera hubungi Mbak ya?"
"Iya Mbak! Tentu. Mana berani saya macam-macam Mbak! Diterima bekerja disini saja saya sudah bersyukur..'' lirih Dina dengan menunduk.
Rani tersenyum begitu juga dengan Alisa. ''Ya sudah, kami berangkat! Assalamualaikum!''
''Waalaikum salam...'' sahut Dina.
Setelah itu mereka berdua pergi dengan mengunakan taksi online pesanan Alisa. Rani mengikut saja.
Setengah jam kemudian, mereka tiba dirumah sakit. Rani kebingungan mencari ruang inap Reza.
Dari kejauhan seseorang melihatnya dengan mata berkaca-kaca. ''Kakak!!!'' pekiknya.
Tapi Rani tak mendengar, ia sibuk mencari ruang inap Reza. Paman Ali yang berada diluar ruangan terkejut dengan suara Airin yang memanggil Kakak.
''Airin-'' belum sempat Paman Ali mengatakan sesuatu, Airin sudah berlari dan menubruk seseorang maka jauh disana sedang berjalan ke arah mereka.
''Kak Ai!!!''
Brruugg.
''Astaghfirullah!'' terkejut Rani saat adik nya itu memeluk dirinya hingga terhuyung ke belakang.
Untung ada Alisa yang menyangga tubuh Rani. Jika tidak kedua bersaudara itu akan jatuh terkapar di lantai.
''Isshhhh... kamu gimana sih Dek?? Kalau Kakak jatuh gimana?? Ini lagi kenapa pula menangis kayak begini? Awas ah! Engap Dek!'' gerutu Rani.
Alisa terkekeh melihat kelakuan dua saudara sepupu itu. ''Hiks .. nggak! Adek nggak akan lepasin kakak lagi! Cukup Abang aja! Adek nggak mau!!'' pekik Airin serat tersedu.
''Lah, lah? Ini kenapa lagi? Malu dek .. ih awas ah! Kakak mau lewat! Berat ini bawaan nya!!'' seru Rani kesal.
Airin melepas kan pelukan nya dari tubuh Rani. Ia melihat ke sisi kanan dan kiri Rani. Benar, jika kedua tangan Rani penuh dengan barang bawaan.
''Hiks.. hehe.. hiks.. adek nggak tau kak.. Yang Adek tau kakak datang. Nggak tau ada bawaan banyak kayak begini.. ssshhuuuttt..'' imbuh Airin, ia menyedot ingus nya yang hampir keluar.
''Iyyyuuuuhhhh.. kamu jorok ah! Buang sana tuh ingius! awas ah! Kakak mau lewat!'' usir Rani pada Airin.
Airin nyengir kuda walau matanya masihengalir kan air mata. ''Eh? Mbak Alisa ya??'' tanya Airin.
Alisa tersenyum teduh. ''Assalamualaikum.. emm.. siapa namanya??''
''Hoho.. Waalaikum salam Mbak! Nama adek, Airin! Adek sepupu nya Kak Ai! Ya kan Kak Ai?'' tanya nya sembari melihat Rani, sedang yang dicari sudah berdiri mematung di depan pintu yang inap Reza.
''Lah... orang yang dicari sudah kesana rupanya? Ck! Ayo Mbak.. mari sini Airin yang bawa?'' pinta nya pada Alisa.
''Halah makanan kok berat sih Mbak? Yang ada tuh ya, ngangkat semen itu baru namanya berat!'' sahut Airin santai.
Alisa tertawa. Begitu juga dengan Airin. Mereka berjalan mendekati Rani yang berdiri mematung di depan pintu karena melihat kondisi Reza.
Tidak seperti kemarin terlihat dari layar ponsel saat mereka Video call. Kondisi Reza bahkan lebih buruk dari itu.
''Abang...'' lirih Rani dengan mata berkaca-kaca.
''Masuk, Nak! Reza sudah menunggu mu dari kemarin. Tadi malam bahkan dia terus saja memanggil nama mu.. Masuklah! Kami akan menunggu mu disini.'' imbuh Paman Ali, sembari mendorong tubuh Rani untuk masuk kedalam ruangan yang bernuansa putih tempat Reza tertidur dengan lelap.
Tubuh Rani bergetar, begitu juga dengan hati nya. Kaki nya seakan tak bertulang. Ia lemas melihat kondisi Reza sangat buruk saat ini.
Rani menyeret kakinya agar bisa melangkah menuju bangkar Reza. Tiba disana Rani sudah mendengar bisikan Reza yang begitu lirih.
''Rani... pulang Dek... Abang kangen.. pulang Dek..'' bisik Reza begitu pelan.
''Hiks.. Abang..''
''Rani.. sayang.. pulang... Abang butuh Adek.. jangan pergi.. Abang nggak sanggup tanpa mu.. Rani.. pulang sayang... pulang...'' bisiknya lagi begitu lirih di telinga Rani.
Rani semakin tersedu. Tak akan dengan bisikan Reza yang terus menerus memanggilnya nama nya, Rani berlari dan menubruk tubuh Reza yang tergeletak tak berdaya.
Brruugg.
''Haaaaa... Abang... Rani datang... banguuuunnnn... aaaaa... huhuhu...'' Rani tersedu Di dada Reza.
Reza pun ikut menangis. ''Jangan pergi lagi Dek .. Abang mohon.. Abang akan mati tanpa mu..''
''Nggaaakk.. Rani nggak akan pergi lagi. Jika bukan Abang yang memintanya! Banguuuunnnn.. Rani sayang Abasaaang.... Banguuuunnnn... huhuhu...'' sahut Rani masih dengan tersedu.
Klep, klep, klep.
Reza mengerjabkan matanya. Ia melihat tubuh wanita yang selama dua Minggu ini begitu ia rindukan.
''Rani??''
''Abang banguuuunnnn... haaaa... jangan tinggalin Rani.. aaaa.. Rani pergi... karena.. ingin.. dipandang pantas bila bersanding dengan Abaaaaang... huhuhu.... Banguuuun..''
''Sayang??''
''Hiks.. bangun Bang.. bangun.. Rani udah masak banyak untuk Abang makan! Ayo bangun. Sedari tadi manggil-manggil aja! Tapi nggak bangun juga! Gmana sih?! Hiks..'' gerutu Rani masih dengan menangis.
''Rani?? Sayang Abang.. Bangun dulu.. dada Abang sakit kamu tekan kayak gini..'' lirih Reza begitu pelan di telinga Rani.
Rani terdiam, tapi masih terisak di dada Reza. Sekuat tenaga Reza mengangkat kedua tangan nya untuk memeluk Rani.
''Sayangku.. Rani??'' lirih Reza lagi. Perlahan namun pasti, kini kedua tangan Reza sudah memeluk Rani.
Deg!
''Abang!'' Rani terkejut saat merasakan kedua tangan Reza memeluk nya.
Rani mendongak dan melihat Reza. Reza tersenyum teduh, walau pipi nya tirus tapi tak mengurangi ketampanan nya.
''Hiks.. Abang sudah bangun??'' tanyanya dengan polos.
Alisa dan Paman Ali terkekeh melihat tingkah Rani. Begitu juga dengan Airin. Ia cekikikan disana.
''Diamlah Dek! Pusing Kakak dengar suara kamu yang kayak nyai Kunti! Bener kan Bang??''
Airin yang mendengar nya melototkan. ''Kak Ai!'' pekik Airin sebal.
Reza terkekeh, masih dengan memeluk tubuh Rani.
''Sayang...''
Cup!
Deg!
''Abang!!!''
💕
Tuh si Reza udah bangun, karena obatnya udah datang! 🤣🤣🤣
TBC