
Rani masih saja terisak di pelukan hangat Reza. Ia tidak sadar jika sang empu sudah sadar dari koma nya.
Airin menggerutu karena Rani. ''Ck! Dasar Kak Ai! Masa' aku di bilang mirip nyai Kunti?? Nggak asik ah!'' gerutu nya lagi.
Reza terkekeh mendengar gerutuan Airin untuk Rani, ia masih dengan memeluk tubuh Rani.
''Sayang...'' panggilnya.
Rani tidak menyahut, pikiran nya kosong melihat Reza yang sedang menatapnya.
Cup!
Reza mengecup kening Rani sekilas. Sangat cepat. Hingga Reza meringis merasakan sakit di urat lehernya.
Mungkin terlalu lama tidur kali ya? 😄
Deg!
Mata Rani membola melihat Reza.
''Abang!!! Abang udah bangun?? Kapan?!?'' pekik Rani, Reza yang mendengarnya tertawa namun meringis menahan sakit.
''Sudah dari tadi sayang.. Abang udah bangun dari tadi saat kamu nangis di dada Abang..'' sahut Reza lirih sekali.
''Iyakah??'' tanya nya dengan polos lagi.
Membuat Reza terkekeh lagi, namun air mata berlinangan di pipi nya.
''Beneran?? Abang udah bangun?? Rani nggak mimpi kan?? Ini beneran Abang??'' cecar Rani dengan sekali tarikan nafas.
Reza terkekeh dan mengangguk, namun menangis. ''Hiks.. hiks.. Abang udah sadar!!!!! Haaaaa... huhuhu... Bang Reza udah sadar! Cup. Cup. Cup.'' Rani mengecup seluruh wajah Reza, membuat Reza melototkan matanya.
Namun setelah nya ia semakin erat memeluk Rani yang semakin tersedu disana. Paman Ali yang melihat itu beranjak masuk, begitu juga dengan Airin dan Alisa.
''Abang udah bangun Paman hiks.. terimakasih ya Allah.. Abang sudah bangun hiks..'' ucap Rani lagi masih dengan menangis.
''Selamat datang kembali Nak.. akhirnya kamu bangun juga! Ternyata Rani lah yang bisa membuat mu bangun dari tidur panjang mu ya??'' goda Paman Ali pada Reza.
Reza terkekeh. ''Terimakasih Paman.. memang Rani lah yang ku mau.. bukan yang lain..'' lirih Reza masih pelan, belum bisa ia berbicara kuat saat ini.
''Hiks.. adek lama banget nugguin Abang! Sudah dua Minggu adek tungguin! Tapi Abang, nggak bangun-bangun juga! Hiks..'' gerutu Airin walau sambil menangis.
Paman Ali terkekeh. ''Kamu kan tau seperti apa Abang mu ini, hem? Kalau bukan Rani, ia tidak mau bangun sama sekali.'' celutuk Paman Ali membuat semua yang disana tertawa termasuk Alisa.
Rani melepaskan pelukannya dari tubuh Reza. Saat Rani bergeser, ia terkejut melihat seseorang.
''Gilang!'' seru Reza
Deg!
''Gilang??'' ulang Rani sembari menatap Reza. Ia melihat jika Reza sedang melihat seseorang yang sedang berdiri dan tersenyum teduh kepadanya.
''Mbak Alisa??'' ucap Rani. Reza terkejut.
''Alisa?? Istri Gilang?? Gilang Bhaskara??'' cecar Reza dengan banyak pertanyaan.
Alisa terkekeh. ''Ya, saya Alisa.'' sahut Alisa tidak di tambahi dengan sebutan istri Gilang.
''Mirip!'' celutuk Reza sembari terus melihat Alisa dengan instens.
''Hooh bener Bang! Di rumah Mbak Alisa pun ada foto nya Gilang loh.. Rani baru tau jika yang di katakan oleh Gilang benar ada nya. Mbak Alisa sangat baik!'' celutuk Rani pula.
Alisa tersenyum saja. Sedangkan Reza masih menatap Alisa dengan takjub. ''Saya beruntung bisa bertemu dengan mu disini. Terimakasih karena sudah bersedia menampung Rani di rumah mu!''
Ia mencebik kesal. Sedangkan Reza terkekeh. ''Memang Iya kamu orang susah! Kalau nggak susah, kenapa kamu tinggal dengan istri Gilang, hem? Pakai acara kabur-kabur segala?!'' balas Reza, membuat Rani tersenyum kaku.
Ia tersindir sekarang. Memang benar apa yang dikatakan Reza baru saja. Rani menghela nafasnya.
Alisa terkekeh kecil.
''Duduk dulu Mbak.. Paman.. Airin! bantu Kakak untuk buka ini bekal, biar Abang bisa makan!'' ucapnya dengan tangan terus cekatan membuka setiap rantang yang berisikan bekal yang ia buat bersama Alisa.
Alisa tak tinggal diam, ia juga turut membantu. Disana sudah ada Pak Rahmat yang tadi keluar sebentar kini sudah kembali.
Alisa menghidangkan makanan itu di karpet yang di gelar Pak Rahmat untuk mereka makan.
Reza tersenyum melihat Alisa. Benar kata Gilang, jika istrinya sangat baik. Baik kelakuan nya baik juga parasnya. Walaupun ia janda tapi tidak mengurangi kecantikan yang ada pada dirinya. Cerminan setiap perilaku nya adalah hati. Hatinya begitu baik. Kamu beruntung Gilang! Abang setuju jika kamu menikah dengan Alisa. Bisiknya dalam hati.
Rani melihat Reza yang terus menatap Alisa dengan tersenyum. Aku tau apa yang Abang pikirkan. Aku juga berpendapat sama dengan Abang. Kalau Mbak Alisa ini memang lah sangat baik. Hanya saja.. takdir belum berpihak pada nya.. lirih Rani dalam hati dengan terus melihat Alisa yang sedang menghidangkan makanan di karpet.
Sesekali ia juga ikut menimpali ucapan Paman Ali dan Pak Rahmat.
''Abang makan ya?? Rani masak semur ayam kesukaan Abang! Sama udang tumis cabe hijau. Ayo!'' ajaknya pada Reza.
Reza mengangguk dan mulai bangkit perlahan-lahan dibantu oleh Rani. ''Abang haus Dek.. mau minum.'' lirih Reza.
''Sebentar!'' sahutnya, kemudian ia dengan cepat menuangkan minum dalam gelas dan menyerahkan minum itu langsung ke mulut Reza.
Alisa yang melihatnya tersenyum tapi sendu. Pak Rahmat yang melihatnya menghela nafas.
''Neng .. sudah ada kabar dari Gilang??'' tanya Pak Rahmat hati-hati takut menyinggung perasaan tamu nya ini.
Alisa tersenyum dan menggeleng. ''Tidak Pak. Biarkan saja. Biar Gilang fokus dengan belajar nya disana. Kami baik-baik saja kok. Bapak tak perlu khawatir ya?'' sahutnya dengan sedikit senyum namun sendu.
Kamu bisa berbohong dengan orang lain Neng.. tapi tidak dengan Bapak. Bapak sudah puluhan tahun bekerja dengan Den Reza. Jadi Bapak tau, seperti apa seseorang yang sedang menahan rindu, sama seperti Den Reza dulu. Ucapnya dalam hati.
''Hemmm.. enak banget loh kue nya! Mbak sendiri nih yang buat??'' tanya Airin dengan terus menyuapkan bolu pisang itu ke mulutnya.
Alisa tersenyum dan mengangguk. ''Ya, resep turun temurun dari Nenek nya Mbak di kampung!'' sahut Alisa dengan sedikit kekehan di bibirnya.
''Pantas enak!!'' celutuk Airin pula.
''Apalagi masakan Mbak Alisa. Beeuuuhhh.. kalah Dek sama masakan Kakak!'' Rani ikut menimpali.
Semua yang ada disana tertawa. ''Kamu bisa aja Dek!'' ucap Alisa dengan terkekeh kecil.
Rani menyuapi Reza dengan pelan. Melihat Reza tersenyum seperti itu, Paman Ali ikut tersenyum.
''Besok Paman harus kembali ke Bogor, Za. Karena pesanan kopi yang diminta oleh mereka, lusa akan di kirim. Jadi... yah.. Paman harus balik besok!''
''Lah? Cepat amat Paman!''
''Memang harus Nak.. kamu tau sendiri kan Abang mu masih sakit?? Beruntung ada Fatih yang membantu, jadi agak meringankan dikit beban Paman.'' sahutnya santai, tanpa melihat reaksi Rani berhenti menyuapi Reza karena mendengar paman Ali menyebut Fatih.
''Bang Fatih??''
''Ya, Al Fatih! Dialah yang membantu kita selama kamu di rumah sakit!''
''Apa?!''
💕
Ada apa dengan Fatih?
TBC