
Setelah pernikahan mereka yang begitu megah, kini Rani dan Reza sudah pulang kerumah mereka yang ada di komplek perumahan Griya M.
Sebulan sudah pernikahan mereka. Tidak terasa. Tapi belum juga melihat Rani hamil. Hanya Rani dan Reza yang tau tentang masalah ini.
Sementara keluarga yang lain, termasuk ibu Saras tidak tau sama sekali. Mereka tetap berfikir positif untuk pasangan pengantin baru itu.
Masih baru, masih banyak waktu yang harus mereka tempuh. Nikmati aja dulu masa pacarannya.
Itulah kata-kata ibu Saras untuk mereka berdua. Rani tetap bersikap biasa saja. Namun berbeda dengan Reza.
Pemuda tampan bertubuh jangkung itu, setiap malamnya selalu menangis di sujud malam nya.
Rani tidak tau akan hal itu. Karena setiap kali pertempuran mereka selesai, Rani selalu ketiduran dan akan bangun saat subuh.
Inilah yang selalu di sesalkan Rani. Tidak bisa bangun diwaktu tahajud. Rani kesal pada Reza yang tidak mau membangun kan nya saat tahajud.
''Tak apa sayang. Kamu istirahat saja ya? Kamu pasti capek seharian ini mengurus Abang, ibu dan juga malamnya kamu harus melayani Abang lagi. Lain kali aja ya?'' tutur Reza begitu lembut, hingga membuat Rani selalu mengangguk pasrah.
Setiap harinya mereka selalu bermesraan seperti itu. Hanya di dalam kamar saja. Jika diluar, mereka akan bersikap biasa.
Kadang seluruh keluarga menebak jika Rani dan Reza ada masalah. Tapi itu dibantah oleh Rani.
''Dih, ngapain aku nunjukin kemesraanku sama kalian semua? Nggak baik tau, untuk kesehatan jantung!'' itu selalu yang Rani katakan pada kedua adik sepupunya.
Reza hanya tertawa saja.
Tak terasa setahun sudah perjalanan rumah tangga mereka. Hidup berdua tanpa seorang anak, membuat Reza semakin bersedih.
Tubuh yang yang dulu berisi kini semakin kurus. Rani setiap hari selalu menangis melihat keadaan Reza.
''Bang? Makan ya? Abang belum makan loh..'' bujuk Rani lagi untuk yang kesekian kali nya.
Reza tersenyum namun sendu. ''Abang nggak lapar sayang.. sini temani Abang!'' jawab Reza.
Dengan segera Rani mendekati Reza dan memeluknya dengan erat. Tubuhnya berguncang hebat.
Reza juga sama. Mereka berdua hanyut dalam rasa hati yang entah seperti apa. ''Hiks, makan Bang! Demi Rani.. ku mohon.. jangan siksa dirimu seperti ini.. aku sakit melihat Abang seperti ini.. aku sayang Abang. Walau tanpa kehadiran anak, itu tidak masalah untukku!'' ucap Rani dengan terus terisak di pelukan Reza.
''Seharusnya kamu tidak menikah dengan Abang, Dek? Sebaiknya kamu cari kaki-kaki lain yang bisa memberikan mu keturunan. Tidak seperti Abang. Keluarga besar sudah sangat menginginkan penerus Dek? Tinggalkan Abang ya? Cari ganti yang lain.. agar keluarga mu punya keturunan. Tapi bukan dari Abang.. Abang sakit Dek! Abang penyakitan. Sekarang aja tubuh Abang lemah tak berdaya. Pergilah! Abang mengizinkan mu untuk menikah lagi!''
Ddddduuuaaarrrr..
Rani tersentak mendengar ucapan Reza. Ia mengurai paksa pelukannya dan menatap Reza dengan tajam.
''Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan mu Reza! Aku mencintai kelebihan dan kekurangan mu! Aku tidak peduli jika aku tidak memilki anak sekalipun darimu! Itu tidak masalah bagiku! Ayo kita makan! Sekali lagi aku mendengar ucapan mu seperti ini, maka jangan salahkan aku. Jika...''
''Jika apa??'' tanya Reza dengan air mata yang masih beruraian.
''Jika ini! Cup!'' Rani mengecup bibir Reza sekilas. Lagi, ia kecup bibir itu. Berulang kali hingga kesekian kali.
Hasrat Reza yang sudah tidak ada lagi, semenjak ia di vonis tidak bisa memiliki keturunan enam bulan yang lalu setelah Reza sempat merasakan sakit di bagian itu, kini tiba-tiba menegang.
Rani tau itu. Sebelum nya ia sudah konsultasi dengan dokter. Dokter mengatakan, jika Rani harus sering memancing ha srat Reza untuk bisa kembali lagi seperti dulu.
Hampir empat bulan ini, Reza tidak pernah menyentuh Rani karena memikirkan penyakit nya itu.
Sering kali Rani memancing nya, namun Reza tetap menolak. Ia selalu mengatakan lelah dan mengantuk.
Padahal itu hanya alasan Reza. Ia sengaja tidak ingin menyentuh Rani lagi. Karena malu akan keterbatasan yang dimiliki nya.
Reza sengaja menutup diri dari Rani. Seharusnya yang kecewa disini adalah Rani karena tidak bisa memiliki keturunan.
Tapi ini malah sebaliknya. Malah Reza pula yang seperti ini. Selalu menghindar, termenung sendiri, hingga pekerjaan pun tidak fokus.
Rani semakin geram dengan tingkah Reza.
Tapi kali ini Rani sudah bertekad, ia ingin mengembalikan Reza seperti dulu. Selalu kuat dan berstamina setiap kali menggagahinya.
''Aku tak peduli tentang keturunan! Yang aku mau sentuhan Abang! Tidakkah Abang kasihan padaku selama hampir empat bulan ini Abang sama sekali tidak mau menyentuh ku? Aku tersiksa Abang! Aku butuh sentuhan mu! jika dokter memvonis kamu mandul, tapi aku tidak! Aku yakin, kamu pasti bisa menghamili ku! Jika kamu tidak ingin menyentuhku, biarkan aku yang menyentuh mu! Aku membutuhkan ini!'' tukas Rani dengan menatap Reza tajam.
Reza tertegun. Ia menatap sendu pada Rani. Dengan segera Rani melepas hijab, baju gamis serta baju dalamnya.
Ia membuangnya asal. Tubuh putih mulus itu, membuat Reza menelan Saliva nya. Ada rasa ingin menyentuh, tapi rasa kecewa itu terus mendominasi hatinya saat ini.
Ia sangat ingin menyentuh Rani. Tapi Rani tidak peduli. Tubuh polos itu dengan segera duduk dipangkuan Reza.
Reza menatap datar padanya. Rani tak peduli. ''Jika kamu tidak mau menyentuhku, biar aku yang menyentuh mu! Aku bisa gila jika kamu tidak seperti dulu lagi! Kamu segalanya untukku bang Reza! Segala nya! Cup!'' ucap Rani.
Dengan segera ia ******* bibir tipis nan lembut miliknya. Reza terdiam. Semakin lama semakin hanyut. Tubuh Rani semakin panas.
Apalagi saat pusat intinya bersentuhan dengan milik Reza yang hampir berdiri sempurna.
Rani tersenyum saat merasakan itu. Ia semakin gencar membuat Reza ikut terbakar bersamanya.
Kecupan-kecupam lembut, mulai dari kening, pipi, hidung, mata dan bibir semakin membuat Reza terbakar.
Gairah yang sudah lama tidak ia rasakan lagi semenjak dokter memvonis nya. Rani semakin kuat memancing sesuatu di dalam diri Reza.
Tangan itu dengan cepat membuka kancing baju yang melekat di tubuh Reza. Setelah terbuka, ia buang asal.
Lagi, kecupan lembut itu memenuhi dada kurusnya. Rani mengepalkan tangannya saat melihat tubuh kurus Reza.
Setetes buliran bening jatuh menimpa tubuh kurus itu. Reza yang sedang terpejam, tersadar.
Ia merengkuh tubuh Rani. Tapi Rani menolak. Ia mengusap kasar air mata yang berjatuhan di pipi halusnya.
Dengan segera ia turun ke bawah dan membuka celana training Reza. Ia lorotkan sampai kebawah.
Tangan halus itu begitu pandai dalam memijat benda lunak tak bertulang itu. Semakin lama semakin nikmat, hingga tidak sanggup tertahankan lagi.
''Ughh.. sayang... hahhh..'' lenguh Reza dengan memegang kepala Rani.
Rani tak peduli. Ia semakin gencar membuat Reza ikut terbakar bersamanya. Butuh waktu yang sedikit Lama untuk bisa membangunkan benda lunak yang sudah lama tertidur itu.
Ah...
Dan ya, benda lunak itu terbangun dengan tegak. Rani tersenyum manis. Dengan segera ia bertindak menjadi kemudi.
Reza dengan segera memberikan akses untuk Rani.
Ah..
Huh..
Suara lenguhan sahut menyahut terjadi di dalam kamar itu. Rani puas bisa membuat Reza kembali lagi.
Dan benar tebakan nya, jika Reza juga merindukan ini. Tapi karena tekanan batin hingga berujung pada psikisnya, jadilah Reza sakit seperti itu.
Tidak mau makan dan tidak bergairah sama sekali untuk menjalani hidup. Dua hati satu tubuh telah menyatu setelah sekian lama.
Rani tertawa sekarang karena melihat Reza yang begitu bersemangat menyentuh dirinya hingga ke yang paling dalam.
Rani tersenyum saat mengingat jika ini adalah masa subur nya. Demikian juga dengan Reza, ia sudah memberikan obat yang diresepkan dokter untuk kesuburan s***** nya.
''Semoga kamu segera hadir, Nak. Papa mu sangat menginginkan kehadiran kalian disini. Berjuanglah disana. Kami menunggu kalian untuk hadir membawa warna di kehidupan kami.'' bisik Rani dalam hati.
Doa tulus dari seorang istri untuk suami tercinta.
💕💕💕💕💕