Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 150


Zalia tersenyum melihat mobil menantunya memasuki halaman rumahnya, dirinya bahkan sengaja menunggu diluar. Zalia sudah tertidur saat Zidan memberitahu jika dirinya dan Zakia akan bermalam disana. Namun entah magnet dari mana membuat Zalia terbangun dan membuka ponselnya. Mengecek ponsel setelah bangun tidur bukan kegiatan yang Zalia lakukan.


"Assalamualaikum, Mama kok diluar" Tanya Zakia langsung menyapa sang ibu.


"Waalaikumsalam, Mama nungguin kamu" Zalia langsung memeluk putri bungsu nya itu erat.


"Kangen Mama" Zakia terisak dipelukan Zalia. Zalia hanya terkekeh, merasa lucu dengan anaknya yang satu ini.


"Assalamualaikum Ma"


"Waalaikumsalam" Tanpa melepaskan pelukannya Zalia menyodorkan tangannya pada Zidan yang ingin bersalaman.


"Maaf Ma, kita ganggu waktu istirahat Mama" Ucap Zidan gak enak hati pada ibu mertuanya.


"Apa sih, Dan. Kalian anak-anak Mama, gak ada ganggu atau repot ya. Mama gak suka dengernya".


" Kia bobok sama Mama boleh? " Pinta Zakia.


"Ada suaminya loh, masa tidur sama Mama" Bukannya tak mau, Zalia hanya tak enak hati pada Zidan. Sejujurnya ini momen yang Zalia tunggu.


"Gak papa Ma. Nanti Zidan tidur di kamar tamu aja. Cucu Mama yang mau" Jelas Zidan.


"Ya sudah Mama beresin kamar tamu dulu, asisten rumah tangga sudah tidur semua soalnya. Ayo masuk" Zakia hanya mengangguk tanpa melepaskan pelukannya.


"Zidan beresin sendiri Ma. Mama bawa istri Zidan istirahat aja, kayaknya dia udah ngantuk banget" Zidan terkekeh melihat mata sayu Zakia.


"Beneran gak papa? "


"Ma, Zidan menantu atau anak Mama? "


"Iya-iya"


"Yuk Mas gendong ke kamar kamu, langsung istirahat ya cantik. Besok aja kalau mau cerita-cerita sama Mama" Zakia hanya mengangguk namun matanya sudah mulai terpejam saat Zidan mulai mengangkat tubuhnya.


"Kalian sudah makan? "


"Sudah Ma, sebelum kesini tadi bumil minta makan diluar"


"Ya sudah, kamu antar Kia ke kamarnya dulu. Mama mau cek Al sebentar, sendirian dia soalnya"


"Loh Yash kemana Ma? " Dengan perlahan Zidan mulai menaiki satu persatu anak tangga.


"Ada jadwal operasi mendadak. Harusnya dia sudah cuti tapi karena dokter yang biasanya melakukan operasi sakit, jadi Yash yang gantikan. Urgent katanya" Zidan hanya mengangguk.


Setelah membukakan pintu kamar Zakia, Zalia langsung berbalik masuk ke kamar Alesha. Mengecek putri sulungnya yang tengah hamil besar itu. HPL Alesha sudah dekat, namun Yash masih dihantui dengan pekerjaannya yang seperti tidak pernah berhenti. Alesha memaklumi karena meskipun tak bersama, Yash selalu rutin melakukan panggilan video dengan sang istri. Terkadang juga Yash masih menyempatkan dirinya memenuhi ngidam Alesha.


Setelah memastikan Alesha tidur nyenyak, Zalia langsung keluar dan masuk kembali ke kamar si bungsu. Bisa dilihat jika Zidan sudah membuka hijab sang istri. Kini Zakia sudah tertidur pulas.


"Kamu tidur disini saja, Dan. Kia juga sudah tidur kan"


"Gak papa Ma. Daripada besok ngamuk dan moodnya kemana-mana mending Zidan tidur di kamar tamu aja. Lagi jaga mood Ma. Akhir-akhir ini sering gak mau makan" Jelas Zidan.


"Biasa moodswing, maklumi ya" Zidan hanya mengangguk. "Ngidamnya gimana? "


"Dia sering gak bilang kalau mau apa. Kadang ibu sama Mbak Danis sampai gemes sendiri kalau Kia cuma geleng-geleng kepala aja"


"Takut ngerepotin. Ya sudah kamu langsung istirahat" Zidan mengangguk.


"Kalau ada apa-apa telfon Zidan, Ma" zidan pergi setelah melihat Zalia mengangguk.


Sampai di kamar tamu, Zidan langsung berganti pakaian yang dirinya ambil di kamar Zakia tadi. Zidan langsung merebahkan tubuhnya di kasur king size itu. Berharap malam ini tidur dengan nyenyak karena sang istri tengah tidur dengan ibu mertuanya. Sejak kehamilan Zakia, tidurnya bisa dibilang tidak terlalu nyenyak. Karena Zakia sering terbangun tengah malam jika sedang mengidam. Belum lagi kondisi tubuhnya yang naik turun.


Entah jam berapa Zidan terbangun karena pintu kamarnya ada yang mengetuk. Dengan langkah gontai Zidan membuka pintu kamarnya. Mendapati sang asisten rumah tangga ibu mertuanya tengah berdiri dengan wajah panik.


"Itu Den... " Zidan mengangkat sebelah tangannya, tanda sang asisten rumah tangga untuk diam. Zidan menetralkan sakit di kepalanya akibat bangun secara tiba-tiba.


"Coba ulangi, Bibi tenang dulu. Kenapa, ada apa? " Tanya Zidan.


"Non Al... "


"Alesha kenapa? "


"Non Al mau lahiran, Den" Zidan hanya mengangguk dan langsung berlari ke arah kamar Alesha.


Belum sampai di kamar Alesha, Zidan sudah melihat jika Alesha digendong oleh ayah mertuanya. Sedangkan sang ibu mertua sudah membawa tas yang berisi perlengkapan bayi dan ibunya. Zidan dengan senyum kecilnya melihat sang istri yang mengekori di belakangnya.


"Mau ikut ke rumah sakit atau lanjut tidur? " Tanya Zidan sambil merangkul sang istri.


"Ikut boleh? " Zakia mendongak dengan wajah lucunya. Zidan mencubit kecil pipi chubby Zakia saking gemasnya dengan sang istri.


"Ya udah, Mas siapin mobil dulu. Kamu ambil tas sama ponsel kamu" Zakia hanya mengangguk dan memasuki kamarnya. "Mau dijemput kesini lagi atau gimana, Sayang? "


"Kia turun sendiri"


"Hati-hati turun tangganya ya" Zakia mengangguk sembari tersenyum.


Zidan langsung menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. Benar saja sesampainya di luar, mobil yang akan membawa Alesha ke rumah sakit masih belum berangkat.


"Dan, Kia mana? " Teriak Zalia. Zidan berlari kecil mendekat ke arah mobil yang dinaiki mertuanya itu.


"Zidan sama Kia nyusul, Ma. Ini Zidan lagi siapin mobil"


"Oke, Hati-hati kalian"


"Siap Ma. Al gue yakin lo kuat" Alesha mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya yang mulai pucat karena menahan kontraksi yang dialaminya. "Pak hati-hati bawa mobilnya"


"Siap Den"


Zidan memperhatikan mobil yang mulai menjauhinya. Baru setelah dirinya tak melihat siluet mobil yang membawa Alesha ke rumah sakit, dirinya baru berbalik dan menyiapkan mobil sendiri.


"Mas? " Zakia tiba tepat saat Zidan masuk ke dalam rumah.


"Sudah siap? "


"Kia lapar" Cicit Zakia.


"Ayo masuk dulu, siapa tau ada makanan. Mas panasin kalau enggak Mas buatin sesuatu, ayo" Zakia hanya mengangguk saja mengikuti kemana Zidan menuntunnya.


"Eh Non Kia sama Den Zidan mau makan? " Tanya salah satu asisten rumah tangga Zalia yang tadi membangunkan Zidan.


"Istri saya lapar katanya, Bi. Ada sesuatu yang bisa disantap? "


"Ibu ada buat kue, ada di kulkas. Mau saya ambilkan? " Zakia langsung mengangguk antusias.


"Kamu makannya ditemani Bibi gak papa kan? "


"Mau mau kemana? "


"Mas mau mandi, ini Mas bangun tidur langsung lari ke kamar Al tadi. Nanti sholat subuh di rumah sakit aja. Mas mandi bentar ya" Zakia hanya mengangguk saja.


"Bi, ini tolong buatkan teh hangat juga buat istri saya ya"


"Siap Den"