
Setelah membaca surat wasiat dari ayah Alam, kini Rani menyendiri didalam kamar. Ia ingin mengambil keputusan yang tidak merugikan kedua belah pihak.
Berulang kali menghela nafas yang terasa berat. Sudah dua hari Rani mengurung diri di kamar. Sudah dua hari juga Rani tidak bertemu dengan Reza.
Rani merindukan pemuda tampan nan jangkung itu. Ingin sekali menghampiri nya walau hanya sekedar ingin memeluk nya saja.
Tak tahan karena tak melihat Reza selama dua hari, Rani keluar dari persembunyiannya. Rani keluar dengan melihat kesana kemari.
Kedapur, Rani tak menemukan siapa pun. Di ruang tengah, sepi. Bahkan Rani mencoba untuk kedepan, terlihat hanya seorang satpam yang sedang duduk disana.
Rani mendatangi satpam itu dan bertanya. ''Ehm, permisi pak! Apakah bapak tau, kemana orang-orang dirumah??'' tanya Rani sembari terus celingukan mencari seseorang yang sangat ingin dilihat olehnya.
''Loh? Neng Rani sudah keluar toh? Tak kirain ankrem terus di dalam kamar!'' celutuk pak satpam bernama Kurniawan.
Rani tersenyum tipis. ''Bang Reza kemana? Pak Rahmat juga? Terus Bu Ani, kemana Pak??''
Pak Kurniawan terdiam sesaat. Ia menghela nafasnya. ''Dua hari Neng Rani mengurung diri, dua hari juga den Reza tidak ada di tempat. Den Reza, Pak Rahmat serta Bu Ani pulang kembali ke Bogor!'' sahut pak Kurniawan.
Membuat Rani yang tadinya begitu antusias mendengar jawaban dari Pak Kurni, kini malah sebaliknya.
Wajah itu berubah menjadi datar. ''Oohh.. terus, yang siapkan makanan untuk saya siapa??'' tanya Rani denggan wajah datarnya.
Pak Kurni gugup. ''I-it-itu...''
''Pak??''
''Istri saya Neng! karena tak tega saya melihat Neng Rani di tinggal sendirian tanpa bekal apapun..'' lirih pak Kurni.
''Benarkah??'' tanya Rani lagi masih dengan wajah datarnya.
''Oke. Saya masuk dulu ya Pak!''
''Silahkan Neng...'' Pak Kurni menghela nafasnya.
Setelah melihat Rani masuk kedalam rumah, Pak Kurni menghela nafasnya. ''Kasian kamu Neng, Bapak tau jika kamu sangat sedih akan kehilangan Ayah mu. Tapi... Bapak tidak bisa berbuat apapun saat ini. Karena pesan den Reza, agar bapak selalu mengawasi Neng, selama tinggal disini. Yang sabar ya Neng..'' lirih pak Kurni.
Sedangkan Rani, wajahnya semakin datar saja, saat membuka ponselnya dan melihat beberapa gambar yang di kirimkan oleh orang tak di kenal ke ponselnya.
''Karena inikah kau pulang, sampai tidak mengabari ku?? Hah! bodohnya aku, percaya dengan mulut buaya mu itu! Maaf! sekali ini aku akan benar-benar pergi dari kehidupan mu! Antara kau dan aku, sudah selesai! Nanti malam aku akan keluar dari rumah ini, saat Pak Kurni melaksanakan sholat Maghrib di komplek perumahan ini. Tiada gunanya aku disini, sekarang kau sudah bahagia Bang Reza! Selamat! kau sukses membuatku menangis dan terluka dalam waktu yang bersamaan! Aku pergi!'' ucap Rani dengan segera mengemasi pakaian yang dibawa nya dari Bogor ke Medan.
Rani ingin pergi dan menghilang dari pandangan Reza. Jangan kan untuk melihat bayangan nya, baunya tak kan terendus oleh Reza.
Rani pergi dengan membawa sekeping hati yang telah hancur. Ingin teriak, tapi tak bisa. Rani hanya bisa diam, tapi air mata terus saja mengalir di pipinya.
''Maafkan Ai Ayah, Ai tidak bisa menjalani wasiat Ayah. Karena semua ini tidaklah mungkin terjadi. Jika bukan karena campur tangan dari Bang Reza. Selamat menempuh hidup baru bang Reza! Semoga kau bahagia. Keputusan ku sudah bulat, aku akan pergi dari kehidupan mu selama-lamanya.'' ucap Rani lagi dengan tangan terus bergerak memasukkan bajunya ke dalam ransel kumuh milik Ayah Alam.
Sedangkan seseorang di luar sana, tersenyum ketika mendapati pesan yang ia kirimkan sudah centang biru.
Dan berarti pesan itu telah dibaca oleh Rani. Ia tersenyum lebar, saat membayangkan, jika ia dan Rani akan bersatu kembali.
Dengan cara menyingkirkan Reza. ''Kau ingin bermain-main dengan ku Ar Reza! Rani itu istri ku! kau tak berhak padanya! Sekarang rasakan akibatnya, karena kau berani menentang ku!'' imbuhnya, setelah itu ia tertawa terbahak-bahak di dalam sebuah kamar yang begitu mewah.
💕
Ada yang tau siapa itu??
TBC