Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 142


Setelah pagelaran resepsi mewah ala Zidan dan Zakia itu kini kehidupan mereka kembali tenang. Tak ada lagi berita buruk yang menghantam nama baik Zakia setelah tahu siapa saja backingan Zakia. Para awak media memilih bungkam daripada bunuh diri dengan menyenggol mantan janda kembang itu.


Zakia dan Zidan kembali ke aktivitasnya masing-masing. Zidan belum kembali ke luar negeri, dirinya masih memantau perusahaan nya dari jarak jauh. Sekaligus mulai mengurus pusat perusahaan yang berhasil dia pindahkan, Zidan harus menata ulang kepemimpinan di perusahaan barunya. Sedangkan Zakia masih asik keluar masuk pulau untuk memantau usahanya, sesekali Zidan akan ikut atau bahkan menyusul dirinya.


Zakia juga terkadang berkunjung ke perusahaan keluarganya, dirinya enggan terjun langsung meskipun sudah mengetahui jika Lawrence akan jatuh ke tangannya. Zakia enggan berurusan dengan perusahaan sebenarnya, namun Alesha tetap pada pendiriannya jika dirinya tak ingin mengelola perusahaan itu lagi, Alesha ingin melebarkan bisnisnya sendiri dibidang fashion. Zakia hanya bisa pasrah menerima itu, tidak mungkin jika dirinya meminta sang mama untuk memimpin perusahaan itu bukan?


Berbeda dengan Zakia yang menikmati masa tenangnya dengan sang suami. Berbeda pula dengan keluarga Tony yang dilanda duka mendalam. Riny, bocah mungil nan cantik itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengalami kecelakaan. Bahkan Sari berteriak histeris hingga pingsan mengetahui kabar tersebut. Tak jauh berbeda dengan Tony yang juga terlihat terpukul akan kepergian putrinya.


Tubuh mungil tak bernyawa itu tampak damai dengan wajah terpejamnya, Riny seperti orang tertidur dengan sedikit senyum diwajahnya. Bahkan Sari tak berhenti menangis menyaksikan tubuh putri kecilnya mulai tertutup dengan tanah.


"Baru kemarin, nak. Baru kemarin kamu minta mainan sama Mama kan. Kenapa tinggalin Mama, padahal Mama udah belikan Riny mainan yang Riny mau" Tony hanya memejamkan matanya mendengar perkataan istrinya itu.


"Bangun ya nak, jangan tinggalin Mama. Mas kenapa Riny gak mau bangun" Sari menggoyang kaki Tony pelan. Tony hanya bisa diam dan merengkuh tubuh istrinya itu. Dia membawa Sari kedalam pelukannya, membimbing Sari agar kembali ke rumah.


Papa pulang dulu ya cantik, Papa janji besok Papa akan kembali kesini lagi. Batin Tony bermonolog menatap baru pusara sang anak.


Sesampainya di rumah, Tony langsung merebahkan tubuh Sari di ranjang mereka. Sari ketiduran di mobil, tampaknya dia begitu lelah karena terlalu banyak menangis dan shock pastinya. Kematian Riny terbilang mendadak. Meskipun Tony menangkap gelagat aneh anaknya semenjak kepulangan dari resepsi Zakia beberapa minggu lalu. Riny yang biasanya tak terlalu manja pada dirinya, beberapa minggu terakhir seakan tak ingin lepas dari dirinya. Bahkan satu minggu terakhir Riny meminta tidur bersama dengan dirinya dan Sari.


"Aku harap setelah ini kita bisa merajut kembali hubungan kita agar lebih baik Ma, maafin Papa atas kesalahan Papa selama ini. Kepergian Riny ini pukulan terberat bagiku, aku juga tak mau kehilangan untuk kesekian kalinya. Aku harap kamu berbesar hati mau menerima ku kembali" Tony mengecup kening istrinya lama sebelum keluar untuk menemui adik dan ibunya.


Setelah kepergian Tony, air mata Sari kembali tumpah. Tampaknya Sari terbangun setelah Tony meletakkan dirinya di kasur, namun dirinya enggan membuka matanya.


"Aku harap kali ini kamu benar-benar berubah, Mas. Tak ada lagi kebohongan-kebohongan yang membuat hubungan kita retak. Ini kesempatan terakhir kamu. Anak Mama tenang disana ya nak, Mama tau kamu tak ingin Mama dan papa berpisah. Maafkan keegoisan Mama nak" Sari memeluk guling yang biasa Riny peluk ketika tidur di kamarnya.


Di ruang tamu, Tony duduk dengan mata menatap sang adik dengan intens. Tina hanya bisa menunduk takut.


"Kakak akui, Riny memang lasak luar biasa. Kamu kenapa menyanggupi kalau memang tidak sanggup menjaga keponakan kamu. Awalnya kakak senang kamu mau menjaga ponakan kamu, yang kakak heran. Dimana kamu saat ponakan kamu kecelakaan, kamu yang mengajaknya bermain di taman. Tapi kenapa kamu bisa tak tau saat keponakan kamu tertabrak, kenapa malah orang lain yang membawanya ke rumah sakit. Sebenarnya kamu ini kemana? " Tony dengan suara tenangnya membuat Tina semakin menunduk takut. Tina lebih baik menghadapi Tony yang meledak-ledak daripada Tony yang seperti ini.


"Jawab kakak Tina jangan hanya diam, dimana keberanian kamu yang biasa membantah kakak iparmu, mana keberanian kamu ketika melawan kakak? "


"Kakak kecewa sama kamu Tina, sekarang terserah kamu. Urus hidup kamu sendiri Tina, kakak sudah sampai diambang batas sabar kakak menghadapi segala tingkah laku kamu. Kepergian Riny kakak sangat menyayangkan karena itu keteledoran kamu, tapi ini juga kesalahan kakak. Andai kakak tak menitipkan Riny padamu saat Mama tak ada di rumah, pasti saat ini dia masih berceloteh riang disini" Tony menghembuskan nafasnya pelan.


Memang Sarah sedang di luar kota, Sarah mengunjungi makam kedua orang tuanya. Rencananya Tony akan menyusul esok dengan keluarganya, namun sayang dirinya malah mengantarkan putri kecilnya ke tempat abadinya. Bahkan Tony tak memberitahu Sarah jika sang cucu sudah tiada, Tony hanya memberi kabar jika tak bisa menyusul. Tony tak ingin Sarah shock dan berimbas pada kesehatannya, karena Sarah seorang diri disana.


Tony melangkahkan kakinya menuju kamar putrinya, meninggalkan Tina yang masih menunduk dengan badan bergetar, tampaknya wanita muda itu menangis. Entah menyesali perbuatan atau karena sang kakak sudah tak peduli lagi dengan dirinya.


Sari yang melihat itu dari kejauhan sebenar merasa iba dengan adik iparnya. Namun, dirinya membiarkan Tina begitu saja. Ini adalah pelajaran bagi Tina agar bisa berpikir lebih dewasa kedepannya. Tina terlalu kekanakan di umurnya yang sudah dewasa selama ini. Sari lebih memilih mengikuti langkah suaminya menuju kamar sang putri.


Sari terkejut saat membuka pintu kamar Riny dengan perlahan. Sari bisa melihat bagaimana terpukulnya Tony saat ini. Lihatlah, pria keras itu sedang menangis memeluk foto putrinya. Bersimpuh dilantai dengan kepala disandarkan pada ranjang kecil milik Riny. Bahunya bergetar dengan tangisnya yang tertahan.


Sari menghampiri Tony, tak mampu melihat Tony begitu terpukul. Dirinya juga merasa kehilangan, namun dirinya yakin jika ini semua bagian dari takdir-Nya. Sari harus bangkit, tak baik jika sedih berkelanjutan, itu akan membuat jalan putrinya susah diatas sana.


Melihat siapa yang menghampirinya, Tony langsung memeluk Sari yang kini tengah duduk disampingnya. Tangisnya semakin pecah dibahu kecil milik sang istri itu.


"Maafin kelalaian Tina, Ma. Harusnya aku tak menitipkan Riny pada Tina. Harusnya aku membawa saja Riny saat rapat harusnya aku... " Ucapan Tony terpotong karena Sari langsung memotobg perkataan nya.


"Sudah Pa, Mama ikhlas. Ini sudah takdir putri kita yang pergi mendahului kita. Sedih boleh Pa, tapi jangan berkelanjutan. Kita harus bangkit, daripada menangis lebih baik kita doakan putri kecil kita"