
''Ja-jadi... A-abang yang menyarankan Rani un-untuk menikah dengan Bang Fatih???'' tanya Rani dengan dada yang sudah berdebar kencang.
Reza mengangguk. ''Ya, semua itu rencananya Abang. Abang terpaksa harus menikah kan mu dengan Bang Fatih untuk mendapatkan liontin itu lagi. Jika tidak seperti ini, maka akan sulit untuk bisa mengambil apa yang menjadi milik Ayah, maaf sayang.. Abang terpaksa... sebenarnya Abang tidak rela jika kamu menikah dengan nya. Tapi setelah di pikir-pikir, salah satu dari kita harus berkorban, dan kebetulan Abang Fatih sering nyeritain kamu sama Abang. Abang tau, sedari dulu bang Fatih sangat menyukai mu.. tapi Abang tidak bisa berbuat apapun karena mengingat Ibu yang masih sakit dan sangat membutuhkan biaya banyak. Jadi.. Abang terpaksa mengorbankan mu untuk menikah dengan Bang Fatih, agar Abang bisa bebas masuk ke rumah itu...'' jelas Reza dengan menatap Rani, air mata sudah beruraian di wajah tampan nya.
''Kenapa??'' tanya Rani dengan bibir bergetar.
''Karena memang ini yang harus kita lakukan, agar bisa mengambil kotak itu dari kamar Papa. Karena Papa lah yang menyimpan kotak itu.''
Rani terisak. ''Abang tega! Abang tega mengorbankan Rani! untung saja Bang Fatih belum-'' leher Rani terasa tercekat untuk melanjutkan ucapannya.
''Belum apa??'' tanya Reza penasaran.
Rani menatap Reza yang juga sedang menatapnya.
Apakah aku harus mengatakan jika aku belum buka segel?? Jika di sentuh oleh Bang Fatih, sudah. Tapi segel?? Masih terkunci Rapat hingga sekarang.
Apakah aku harus mengatakan nya pada Bang Reza??? bisik hati Rani dengan terus menatap Reza.
''Belum apa sayang??'' tanya Reza lagi.
''Nggak! Nggak ada apa-apa Bang. Itu cuma masa lalu. Cukup aku saja yang tau..'' sahut Rani dengan menunduk.
''Kamu menyembunyikan sesuatu dari Abang, Sayang! Jawab yang jujur!'' tegas Reza.
Air mata yang tadi beruraian kini sudah berhenti karena mendengar ucapan Rani tadi.
''Nggak ada yang perlu di bicarakan. Jangan paksa aku untuk menjelaskan nya sama Abang. Karena ini menyangkut ranah pribadi ku!'' tegas Rani.
Membuat Reza menatapnya tajam. ''Apa yang tidak Abang tau tentang mu?! Sedari bayi Abang sudah tau semua tentang mu! Tentang kesukaan mu! tidak kesukaan mu! Bahkan hal yang terdalam dari dirimu pun, Abang tau!'' tukas Reza.
Membuat Rani mematung mendengar ucapan Reza. ''Kenapa??'' tanya Rani, ia menatap Reza yang sedang menatap ke depan tanpa melihatnya.
Reza diam.
''Jawab Bang, kenapa segitu taunya Abang tentang Rani?? Hingga dari rasa suka ataupun tidak, Abang tau? Kenapa??'' tanya nya lagi.
''Karena Abang mencintai mu sejak kamu masih dalam kandungan ibu.'' sahut Reza dengan cepat.
Deg.
''Apa?! Bagaimana mungkin Abang bisa mencintai ku, sejak aku masih dalam kandungan Ibu?? Itu nggak mungkin Bang! Abang ngacok!'' balas Rani dengan sedikit meninggikan suaranya.
Reza menoleh. ''Karena saat Ibu hamil dirimu, Ayah selalu ingin dekat dengan Abang. Ayah tidak tidur jika tidak memeluk Abang. Ayah selalu membawa Abang kemana pun Ayah pergi. Termasuk ke Inggris!'' sahut Reza lagi.
Rani semakin terkejut. ''Apa?! Nggak! nggak mungkin Bang!''
''Mungkin saja, karena waktu itu Abang sudah berusia tujuh tahun. Dan saat Ibu melahirkan mu, Abang berusia delapan tahun. Bang Fatih dan Abang hanya selisih satu setengah tahun saja.'' jelas Reza dengan wajah serius nya.
''Nggak! Abang ngacok! Dari mana Abang tau, jika janin dalam kandungan Ibu itu perempuan?!'' sanggah Rani lagi.
Reza menatapnya. ''Ibu pernah melakukan USG dirumah sakit untuk memastikan jika janin dalam kandungan Ibu adalah perempuan. Memang pada masa itu, ditempat tinggal kita, tidak memliki alat seperti itu. Tapi ayah punya banyak kenalan, dan beruntung nya rumah sakit di Jakarta memiliki alat untuk melihat jenis kelamin saat masih dalam kandungan. Dan juga, Ayah selalu berkata, jika beliau menginginkan anak perempuan agar kelak, bisa menjadi perisai nya ketika di hari kiamat nanti. Dan juga, karena Ayah yakin, jika penerusnya adalah perempuan yang berarti .. calon istriku kelak! Yaitu kamu, Aisyahrani binti Muhammad Alamsyah!''
Ddddduuuaaarrrr...
Tubuhnya limbung. Tak sanggup rasanya untuk menahan bobot tubuhnya lagi.
Reza yang melihat Rani shock, hanya bisa pasrah sekarang. Inilah waktu nya, bagi Reza untuk menjelaskan semuanya.
Wajah Rani memucat. ''Abang pasti bohong kan??'' tuduhnya pada Reza.
Reza menghela nafasnya. ''Jika Abang bohong, maka lihatlah bukti ini. Didalam kotak persegi panjang ini semua yang Abang katakan ada didalam nya. Abang tau ini semua dari Ayah. Karena sebelum Ayah pergi, Ayah berpesan dan menyampaikan hal yang baru saja Abang katakan pada mu itu adalah wasiat terakhir nya. Kamu boleh tidak percaya! Tapi sebelum itu, lihat dulu bukti dari dalam kotak ini. Semuanya sudah tertulis dan terkunci rapat di dalam kotak ini. Tidakkah kamu sadar? Jika nama mu dan nama ku disanding dalam satu buah kotak seperti ini?? Coba kamu lihat?? Belum kah kamu pahami maksud dari kotak ini, Rani??''
Deg.
Lagi, Rani terkejut dengan ucapan Reza yang begitu dingin terhadap nya. Wajahnya datar. Sama seperti saat mereka ingin mengunjungi makam Ayah Alam.
Kenapa??
''Duduk disini! Dan kamu akan tau, apakah ucapan ku itu hanya sekedar bualan? Ataukah fakta yang tidak ingin kamu dengar!'' tukas Reza lagi.
Wajahnya semakin dingin saat berbicara seperti itu. Rani semakin takut melihat perubahan pada diri Reza.
Rani masih berdiri ditempat nya, sedangkan Reza, tangan nya sudah sibuk untuk menekan beberapa kode yang Rani tidak paham sama sekali.
Reza memang pintar dalam memecah kan kode-kode sulit. Maka dari itu, Papa nya Rustamsyah, menahan Reza agar tidak pergi dari rumah itu.
Karena dia tau, jika hanya Reza lah yang bisa membuka kotak wasiat dari Ayah Alam.
Ia sengaja diperalat untuk bisa memecahkan kode-kode sandi dari kotak almarhun ayah Alam.
Dan untuk surat wasiat itu, papa Rustam sudah tau.
Darimana beliau tau??
Papa Rustam tau, karena dirumah Ayah Alam, ia sengaja menelusup kan salah satu mata-matanya disana.
Makanya beliau memburu Ayah Alam dan Ibu Saras, sampai kemana pun untuk mengambil kotak wasiat itu.
Karena didalam kotak itu, semua berkas kepemilikan tanah serta kebun kopi juga aset-aset lainya ada disana.
Papa Rustam sengaja mengambil kotak wasiat itu, agar bisa ia rubah isinya. Dan mereka mendapatkan semua harta Ayah Alam.
Tapi sayang nya, mereka hanya mendapatkan kotak serta liontin saja. Sedang untuk memecahkan kode-kode sandi itu mereka tidak tau.
Dan ya, Papa Rustam sangat tau, jika putra kedua nya itu sangat lah pintar. Hanya Reza yang bisa membuka kotak itu.
Karena apa??
Tunggu kelanjutannya!
💕
TBC