Janda Kembang

Janda Kembang
Dapat!


''Cih! Ternyata bandot tua bangkotan ini, suami takut istri ya ternyata? Hahaha...'' suara tawa Rani begitu nyaring di dalam ruangan yang sempit itu.


Membuat Reza dan Fatih bergidik ngeri mendengar suara tertawa Rani. Dengan segera Reza bangkit dan berlari menuju ruangan itu.


Melihat Reza berlari, Fatih pun menyusul. Namun belum lagi ia berlari, kakinya berhenti saat mendengar ucapan Karin.


''Jangan ganggu urusan Rani dan kedua orang tua kita Hubby! Biarkan ia menyelesaikan tugasnya. Tugas kita hanya menjaga Rani. Itu saja. Cepat cegah Reza sebelum semuanya terlambat. Kayak nya Rani lebih dulu menyusun siasat tanpa berperang melawan musuh, namun ia dapatkan buktinya!'' imbuh Karin dengan menatap dalam pada Fatih.


Fatih bingung dengan ucapan Karin. ''Maksudnya apa nih?''


''Temui adik iparmu! Kamu pasti akan tau segalanya nanti. Aku akan keluar menuju Paman Ali. Beliau sudah menunggu kita disana untuk pulang. Cepat selesai kan!'' ucap Karin. Fatih mengangguk.


Walau masih bingung, ia tetap menyusul Reza di ruangan sebelah. Dimana kedua orang tua mereka sedang disekap sekarang ini.


Tiba disana, Fatih dan Reza berdiri tepat di belakang Rani dengan wajah datar. Mereka ingin berbicara, tapi Rani mengangkat tangannya menyuruh mereka untuk diam.


''Sekarng giliran ku yang akan berbicara! Kalian berdua diam!'' tegas Rani.


Suaranya begitu dingin saat ini. Reza dan Fatih saling pandang. Akhirnya mengangguk patuh.


''Apa yang sebenarnya kalian inginkan dengan membunuh ayahku? Kenapa kalian tega membunuhnya! Apakah tidak ada rasa belas kasih dihati pada saat kau membunuh ayahku waktu itu, Pakde? Apa yang membuat mu harus membunuh kedua orang tua ku?'' tanya Rani dengan menatap dingin pada Papa Rustam dan Mama Nia.


Mereka berdua menatap datar pada Rani. Mama Nia tersenyum mengejek pada Rani. Ia ingin berbicara pada Rani, tapi kalah cepat dari Papa Rustam.


''Aku sengaja membunuh ayahmu, karena ibu mu Sarasvati lebih memilih menikah dengannya ketimbang dengan ku!''


Deg!


Deg!


Mama Nia terkejut. Ia menoleh pada Papa Rustam. Wajah paruh baya itu begitu serius saat ini.


''Apa maksud Papa?!'' Seru Mama Nia.


Papa Rustam tidak menoleh sama sekali pada Mama Nia. Matanya terus menatap serius pada dua sosok yang ada dibelakang Rani saat ini.


Rani tau itu. Namun ia sudah bertekad ingin bertanya dan mendengarnya secara langsung dari mulut Papa Rustam.


Papa Rustam menatap datar pada Rani, namun tatapan mata itu begitu sendu terlihat. ''Dulu, sebelum Ibu mu menikah dengan Ayah mu, akulah yang lebih dulu ingin menikahi nya. Tapi sayang, ibu mu menolakku dan memilih menikah dengan Ayah mu, adik kandungku.'' ucap Papa Rustam, semakin membuat Mama Nia terkejut.


''Ini ada apa sih? Kok jadi ngaur gitu kamu ngomong nya? Papa!'' seru Mama Nia lagi.


Wanita paruh baya itu begitu jengkel pada suaminya saat ini. Cerita yang ia katakan sekarang tidak pernah ia ceritakan kepadanya.


''Diamlah Bude! kau akan tau segalanya setelah ini. Setelah Pakde mengakuinya, aku akan melepaskan kalian berdua. Aku janji!'' imbuh Rani, masih dengan suara datarnya.


Papa Rustam mengangguk. Ia sudah lelah menyimpan rahasia masa lalu yang membuatnya harus terus berperang dengan hatinya.


''Aku menyukai ibumu, sebelum ia bertemu dengan adikku, Alamsyah. Ia pertama kali datang kerumah ku sebagai pembantu dirumah kami yang pada saat itu Mama Fatih sedang hamil Reza. Aku menyukai nya pada pandangan pertama. aku jatuh cinta padanya. Namun cintaku itu pupus, saat aku mengetahui jika ayahmu pun menyukai ibumu.''


''Aku kesal padanya. Aku cemburu melihat kebersamaan mereka di hadapan ku. Bukan aku tidak mencintai Nia. Tapi itulah hatiku. Pertama kali aku melihat wajah ayu nan lembut itu, untuk pertama kalinya hatiku bergetar untuknya. Aku yakin, jika pada saat itu aku jatuh cinta padanya. Ya.. walaupun ku tau, Jika aku sudah memiliki istri dan istri ku pun sedang hamil anak kedua? Namun aku bisa apa? Kita kan tidak pernah tau kepada siapa kita akan jatuh Cinta? Begitu juga dengan diriku.''


Rani terdiam mendengar ucapan Papa Rustam. Begitu juga dengan Reza dan Fatih. Sementara Mama Nia, wajahnya sudah datar sedari tadi.


Rani sudah bisa menebak, jika semua ini pasti karena cemburu. Cemburu pada satu orang yang sama.


Yaitu pada Ibu Saras. Ibu kandung Rani. Dua paruh baya ini cemburu kepada ibunya.


''Dapat!'' gumam Rani, masih terdengar oleh Reza dan Fatih. Mereka berdua saling pandang sejenak sebelum Rani mengatakan sesuatu yang memantik api kemarahan. dihati Mama Nia dan Papa Rustam.


''Hoo.. ternyata Kalian cembokur toh. Hahahaha... dua paruh baya cembokur pada orang yang sudah gila! Aku yakin, kalian berdua memang sengaja membunuh kedua orang tuaku karena maksud lain bukan? Bukan karena cemburu saja! Apakah mungkin karena salah satu dari kalian pernah melakukan kesalahan, hingga kalian membunuh orang yang menjadi saksi kunci dari kesalahan kalian itu?''


Deg!


💕💕💕


Kesalahan apa kira-kira?


Kembang kopinya dong.. votenya juga! Udah Senin aja nih, ya kan?


Bolehlah dukung othor? Ya nggak?? 😁😁