
Airin yang melihat Reza terus menggumam memanggil nama Rani, terisak lagi. ''Bangun Bang.. jangan tinggalin adek napa?! Adek butuh Abang disini.. Kak Ai nggak ada! Adek sama siapa??'' tanya Airin sesegukan.
Reza masih tetap sama. Sudah dua Minggu ia dirawat dari rumah sakit Pirngadi Medan. Pak Rahmat mendatangi rumah Gilang untuk bicara pada pemuda itu.
Hanya dia yang tau di mana Rani berada. Tapi sayang, saat pak Rahmat datang kerumah itu ternyata Gilang sudah berangkat ke Amerika dari seminggu yang lalu.
Ternyata hari di mana Rani mengantarkan paket untuk Reza, keesokan harinya Gilang sudah berangkat ke Amerika untuk melanjutkan sekolahnya.
Pak Rahmat semakin kalut. Ia semakin khawatir dengan keadaan Reza. Hari-hari nya hanya terdengar suara panggilan Reza untuk Rani.
Bingung harus berbuat apa, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Paman Ali. Sebelum itu ia meminta izin dari Airin untuk menghubungi Paman nya itu.
Karena seminggu yang lalu, Paman Ali bertambah tentang keadaan Reza. Tapi pak Rahmat menutupi nya takut jika kedua orang tau Reza akan tau seperti apa keadaan Reza saat ini.
Dan sekarang? Terpaksa ia lakukan demi kesembuhan Reza.
''Neng?? Bapak hubungi Pak Ramliansyah ya? Karena hanya beliau yang bisa untuk membawa den Reza kembali selain Neng Rani. Dan untuk Neng Rani, biarlah Pak Ramli sendiri yang berbicara padanya tentang den Reza..'' lirih Pak Rahmat.
Airin mengangguk setuju. ''Silahkan Pak! Jika itu memang yang terbaik, lakukan!'' sahut Airin masih dengan mengusap lembut tangan Reza.
Selama dua Minggu ini Airin keluar masuk rumah sakit untuk sekolah dan juga mengurus Reza.
Lelah. Tapi inilah yang harus ia lakukan saat ini. Seseorang berdiri diluar jendela dengan tatapan yang entah seperti apa.
Selama dua Minggu ini, dia juga andil dalam menunggui Reza. ''Ternyata rasa cintaku padanya melebihi rasa cintamu untuknya. Bahkan kamu kehilangan separuh hidup mu saat tau jika Rani pergi dari mu! Maaf.. jika dulu aku mengacaukan segalanya.. sekarang aku sadar, jika memang kamulah yang pantas bersama nya.'' ia menyusut bulir bening yang mengalir di pipi nya.
''Aku akan maju membela mu jika kedua orang tua kita berani menghancurkan hubungan kalian berdua. Cukup sudah penderitaan yang selama ini aku alami. Aku akan melakukan ini untukmu adikku dan juga Rani, adik sepupu ku sekaligus mantan istriku! Aku ikhlas melepas nya bersama mu! Kamu tenang saja, selama dua Minggu ini aku sudah menghandle semua pekerjaan mu melalui pak Rahmat. Dan beliau pun setuju. Aku tak berniat ingin mengambil alih. Aku hanya ingin menebus rasa bersalah ku pada mu sejak ku tau jika kamu menderita karena kehilangan Rani. Bahkan lebih menyakitkan lagi, kamu harus menanggung semua masa lalu kedua orang tua kita sendiri! Aku berjanji pada mu Reza, aku akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik mu! Sebelum kamu sadar, maka aku lah yang akan mengurus segala nya. Aku berjanji pada mu!'' ucapnya, sembari berlalu meninggalkan Reza bersama dengan pak Rahmat dan Airin.
Sedangkan didalam ruangan Reza, kini Pak Rahmat sedang berbicara serius dengan Paman Ali.
''Apa?! Kenapa baru sekarang kamu mengatakan nya?! Kalau bagaimana dengan Reza?''
''Saat ini den Reza sedang koma sudah dua Minggu Pak Ramli, Den Reza juga sering menyebut nama Neng Rani dalam tidurnya-''
''Astaghfirullah!! Oke! Hari ini juga saya berangkat ke Medan!''
Tut.
Sambungan ponsel terputus. Pak Rahmat yang melihatnya hanya bisa menghela nafasnya.
Sedangkan Airin terkekeh. ''Lihatlah Bang! bahkan Paman pun sangat khawatir dengan keadaan mu! Apakah Abang tidak ingin bangun sama sekali??'' tanya Airin pada Reza masih sama seperti sejak pertama kali ia dibawa kerumah sakit.
''Rani.. jangan.. pergi.. aku mau.. Rani...'' Igau Reza lagi.
''Sabar Bang.. Paman sedang dijalan. Sebentar lagi Paman akan kesini dan membawa Kak Ai kesini untuk menemui Abang..'' bisik Airin di telinga Reza.
''Rani... Abang mau Rani dek.. Abang mau Rani...'' igaunya lagi.
Airin tersenyum. Ternyata benar dugaan nya. Jika hanya Rani yang bisa membawa Reza ke alam nyata.
''Ya, tentu. Sebentar lagi Kak Ai akan kesini bersama dengan Paman. Abang istirahat aja dulu ya??'' bisiknya lagi.
Tanpa di duga, Reza mengangguk walau sangat lemah. Airin tersenyum haru. Begitu juga dengan Pak Rahmat.
Malam hari nya.
''Assalamualaikum...''
Grep!
''Hiks.. hiks.. Paman.. Abang...'' adu Airin pada Paman Ali.
''Tenang dulu, Nak.. Abang mu pasti bangun! Sabar ya??'' sahut Paman Ali, memeluk dan mengusap kepala Airin yang tertutup hijab.
Airin mengangguk dan melepaskan pelukannya dari Paman Ali. Paman Ali mendekati Reza yang masih tertidur lelap setelah bisikan Airin tadi.
Hah!
Paman Ali menghela nafas nya. Sakit rasanya melihat Reza seperti ini lagi. ''Za... bangun.. Paman ada disini.. apakah kamu tidak ingin bangun untuk mengetahui seperti apa keadaan Ibu mu saat ini?? Ibu mu sudah sehat Za.. dia sangat ingin bertemu dengan mu dan Rani.. beliau ingin menikahkan kalian berdua segera.. sadarlah Nak.. jangan berfokus pada satu orang saja. Lihatlah di sekeliling mu, masih ada Paman, Airin, Pak Rahmat, dan juga ibu mu.. Bangun ya?? Apakah kamu sangat ingin bertemu dengan Rani??'' Bisik Paman Ali di telinga Reza.
Buliran bening mengalir di pipi Reza. Paman Ali mengusap nya dengan sayang. ''Tentu! Paman akan membawanya kesini untuk mu! Bersabarlah! Besok! Besok malam Paman akan membawa Rani kesini. Setelah ini kamu bangun ya??''
Lagi Reza mengangguk. Walau buliran bening itu masih saja mengalir di pipi tirus nya. Bagaimana tidak tirus, selama dua Minggu Reza tidak makan dan minum.
Hanya bertahan dari infus saja. Paman Ali mengusap air mata yang mengalir di pipinya. ''Rahmat, kamu tau di mana Rani berada??''
Pak Rahmat menggeleng. ''Dulu ada seseorang yang mengantar Rani kesana. Tapi sekarang orang itu sudah pergi dari seminggu yang lalu. Hanya tersisa ponsel Neng Rani saat ini..'' lirih Pak Rahmat.
''Ponsel??'' Lama paman Ali berfikir, setelahnya ia buru-buru mengeluarkan ponsel nya dan melihat status Rani.
Aktif!
''Ya, ponsel! kenapa tidak terpikirkan dari tadi oleh ku! Sebentar, Rani sedang online!'' ucapnya pada mereka yang mematung mendengar ucapan paman Ali.
Paman Ali mendial nomor Rani, masuk. Tapi sangat lama diangkat.
Hingga deringan ke sekian kalinya barulah Rani mengangkat nya. Langsung saja Paman Ali merubahnya menjadi panggilan Video call.
''Hallo Pa- Abang!!!!'' pekik Rani.
''Rani....'' panggil Reza.
Paman Ali tersenyum. ''Masihkah kamu ingin pergi Rani setelah tau seperti apa sekarang keadaan Reza??'' tanya paman Ali, tanpa mengubah layar ponselnya menjadi wajah Paman Ali.
''Kembalilah Rani...''
''Abang... hiks.. hiks..''
''Kembalilah Rani! Apakah kamu ingin Reza mati dulu baru kamu kembali pada nya??''
Deg!
''Tidakkk!!!!!''
💕
Apakah Reza akan bangun dari koma nya??
Ikuti terus kelanjutannya!
TBC