Janda Kembang

Janda Kembang
Memaafkan


''Tunggu Dek.. Abang belum selesai bicara! Berhenti!'' cegat Reza


Ia berusaha bangun dan berdiri. Ia mencariitu selang infus ditangan nya dan turun mendekati Rani.


Reza turun dengan tergesa turun dari bangkar. Saat turun kakinya yang masih lemas, tidak kita untuk menahan tubuh nya.


Brruukk


''Aaaakkhhtt..' pekik Reza tertahan


''Astaghfirullah!! Rani!! Abang mu!!'' pekik Alisa pula.


Rani menoleh dan melihat Reza jatuh tersungkur di bawah bangkar dengan kepala nyusruk kesana.


Rani ingin tertawa melihatnya, tapi karena masih kesal dengan dua bersaudara itu. Ia bertahan dengan sikap dingin nya.


Padahal tadi saat mihat Reza terkapar tak berdaya ia menangis meraung. Alisa yang melihat Rani berubah menjadi dingin, menggeleng kan kepala nya.


''Bangun Nak!'' titah Paman Ali, dengan segera ia menolong Reza. Begitu juga dengan Fatih.


Airin berusaha merapikan kembali jarum infus yang dicabut paksa oleh Reza tadi saat akan mengejar Rani.


''Dek..'' panggil Reza, melihat Rani masih berdiri mematung disana melihatnya dengan dingin.


''Jangan pergi...'' lirih Reza dengan raut wajah sendu.


''Abang membutuhkan mu sayang..''


Deg!


Bagai dihantam batu besar hati Fatih. Sangat sakit. Jika orang lain yang mengatakan sayang, Fatih masih bisa menahan nya.


Tapi ini? Reza! Adik kandung nya? Apakah ia akan sanggup dengan semua ini?? Fatih menghela nafas nya kasar.


Paman Ali yang melihatnya hanya bisa terdiam.


''Ai??'' Rani menoleh pada Alisa.


''Selesaikan urusan mu dengan kedua saudara mu. Mbak tunggu diluar ya?? Jika sudah selesai, kita pulang! Sabar... jangan emosi. Memaafkan lebih baik, daripada harus menyimpan dendam! Hatimu akan kotor jika selalu mengingat masa lalu. Lupakan! Dengan melupakan nya, kamu bisa menemukan hidup mu yang baru. Belajar lah dari masa lalu Dek.. Mbak bukannya menggurui mu. Mbak hanya mengingatkan! Bukan kah tugas seorang Kakak itu adalah mengingatkan dan membawa adiknya ke jalan yang lurus jika adik itu tersesat??''


Rani mendelik menatap Alisa. ''Ck! Ini bukan di hutan Mbak, yang bisa membuatku tersesat! Ishh.. Gianna sih?!'' sungut Rani, membuat Alisa dan Paman Ali terkekeh.


Sedangkan tiga bersaudara itu tertegun mendengar ucapan Alisa. Fatih tak berkedip menatap Alisa.


Ia semakin kagum dengan sosok wanita dewasa di depan nya ini. Rani yang melihat Fatih masih saja menatap Alisa tak berkedip berdecak kesal.


''Sudah dibilangin! Jangan tatap kakakku seperti itu?!'' sentak Rani, hingga Fatih dan Reza terjingkat kaget.


''Eh?'' sahut Reza dan Fatih bersamaan.


Alisa yang melihat Rani jutek kepada Fatih tertawa. ''Udah ah! Mbak keluar ya? Selesaikan urusan kalian! Saya permisi keluar! Butuh waktu untuk bisa meluruskan Masalah hati ini!'' seloroh Alisa.


''Mbaaaakkk...'' rengek Rani.


Alisa tertawa dan berjalan keluar dari ruangan Reza. Sedangkan Fatih masih saja menatap wanita yang baru saja keluar dari ruangan itu.


''Dek...''


''Cukup Bang! Cukup sampai disini! Kalian berdua telah sama-sama memiliki kehidupan baru, jadi tolong.. lupakan aku! Aku adik sepupu kalian! Jangan hancurkan harapan ku karena kalian berdua yang sudah berusaha merusaknya! Hampir sebulan ini aku menutupi rasa sakit ku sendiri. Beruntung nya aku ada Mbak Alisa yang selalu menerima ku apa adanya.''


''Enggak! Abang nggak bisa sayang! Tolong jangan pergi... bukankah tadi kamu bilang, jika kamu akan pergi bila aku yang memintanya??'' cegah Reza pada Rani.


Rani menatap sendu pada Reza. ''Aku mengatakan itu hanya untuk membuat mu bangun dari koma mu Bang Reza.. setelah kamu bangun dan sehat kembali, aku harus pergi dari kehidupan mu! Aku tidak kemana pun! Aku tetap ada di sekitar mu! Hanya tempat saja yang berbeda. Hiduplah sebagaimana mestinya Bang! Kamu sudah menikah dengan Kak Karin! Tolong.. hormati dia sebagi istrimu! Dia dan aku kami berdua sama! Sama-sama wanita. Lalu bagaimana bisa ia bertahan jika suami nya lebih menginginkan adik sepupunya dibandingkan dengan dirinya?? Aku sadar diri Bang.. aku tidak pantas bersama mu.. terlepas dari semua ini, kedua orang tuamu juga tidak menyukai wanita yang terlahir dari wanita kurang waras dan gila seperti ibuku, Ibu Saras!''


Fatih memejamkan matanya. Setitik bulir bening mengalir dari sudut mata terpejam nya.


''Maafkan Abang, Dek.. Abang nggak bermaksud mengatai mu dulu.. Abang emosi Dek.. maafkan Abang.. Abang salah...'' lirih Fatih dengan menunduk.


Ia duduk tepekur di hadapan Rani. Rani memundurkan kakinya ke belakang. ''Semuanya sudah terjadi! Tidak perlu di ingat lagi. Semua itu hanya masa lalu. Kita hidup sekarang dimasa depan Bang! Bangunlah! Aku sudah memaafkan mu! Kamu bukanlah jodohku! Jadi berbesar hati lah menerima nya.'' Ucap Rani mencoba untuk menjelaskan yang seharusnya pada Fatih.


''Dek...'' panggil Reza pula.


Ia melihat Fatih sudah menangis terisak di depan Rani. Rani beringsut dan mendekati sedikit saja ranjang Reza.


''Demikian juga dengan Abang! Aku tetaplah menjadi adikmu terlepas dari wasiat ayah yang menjodohkan kita! Hiduplah dengan baik, sekarang kamu tidak sendiri Bang.. ada Kak Karin bersama mu.. aku mohon.. berbahagia lah dengan nya.. aku ikhlas melepas mu dengannya! Jangan bantah ucapan kedua orang tuamu, karena kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya nanti. Untuk seminggu ke depan, aku yang akan mengurus mu, selebihnya ku serahkan pada Kak Karin nanti. Sekarang aku harus pulang! Abang istirahat ya??'' Rani berbalik setelah mengucapkan itu.


Hatinya tak kuat melihat wajah sendu Reza. ''Tunggu Dek.. hiks.. jangan pergi.. Abang butuh kamu disini! Kembali Rani! Abang butuh kamu! Jangan pergi...'' Isak tangis Reza terdengar di ruang inap VVIP itu.


Rani tertahan langkahnya saat melihat Alisa menggeleng kan kepalanya.


''Mbaakk... aku nggak kuat... hiks..'' lirih Rani.


''Kamu bisa! Pergilah! Dia membutuhkan mu Dek.. apa kamu tidak kasihan melihatnya menangis seperti itu? Hem? Paling tidak, sampai dia sembuh saja ya? Mbak mohon..'' pinta Alisa dengan sangat.


''Kenapa Mbak?'' tanya Rani memastikan kenapa Alisa menyuruh nya untuk tetap tinggal, padahal Alisa sudah tau kenyataan nya seperti apa.


''Mbak melihat di dalam dirinya sama seperti Gilang .. kuat diluar tapi rapuh di dalam. Bukankah sudah Mbak katakan, tinggalkan kenangan manis untuknya sebelum kamu benar-benar meninggalkan nya.. percayalah sama Mbak, pasti itu yang di inginkan Reza saat ini. Kabulkan permintaan nya ya? Tidak untuknya, tapi lakukan itu untuk Mbak.. Kamu bersedia kan??''


''Jangan pergi Rani.. Paman, nikahkan kami berdua agar Rani tidak pergi lagi dariku! Sudah cukup selama ini aku melepas nya! Kali ini tidak lagi! Nikahkan kami segera Paman! Sebelum Paman balik ke Bogor!'' tegas Reza membuat Rani mematung.


''Nggak! aku tidak mau menikah dengan mu bang Reza!'' sentak Rani.


''Kenapa?? Kita perlu ija qobul aja sekarang, agar kamu sah menjadi istriku!''


''Nggak! aku nggak mau! Aku tidak mau mengulangi hal yang sama dua kali! Cukup sekali aku merasakan nya! Dinikahi kemudian di ceraikan dalam waktu dua hari! Cukup sudah! Jika Abang menginginkan ku tetap mengurus mu disini, maka lupakan niatmu itu untuk menikahiku! Abang tak berhak atas ku! jadi jangan coba-coba untuk menahan ku!''


''Kamu istriku Rani!''


''Apa?!''


''Kamu istriku sah secara hukum tapi belum sah secara agama!''


Deg!


Deg!


💕


Loh?


Sah secara hukum tapi belum sah secara agama??


Samaan kayak Gilang dong?? 🤔🤔


🤣🤣🤣🤣


TBC