Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 149


"Maas" Zidan menoleh ke arah istri mungilnya yang tengah merengek sejak tadi.


"Sebentar sayang, sebentar lagi Mas selesai" Zidan seperti sedang membujuk anak kecil menghadapi ngidam sang istri.


"Maunya sekarang" Lihatlah sekarang mata ibu hamil yang satu ini tengah berkaca-kaca.


Zidan langsung menutup laptopnya dan beranjak dari kursinya. Mengambil jaket dan memakainya. Zakia hanya memerhatikan kegiatan yang Zidan lakukan.


"Pakai dulu" Zidan menyodorkan hoodie berwarna pink pada istrinya.


Zakia hanya mengangguk dan memakai hoodie yang Zidan sodorkan. Zidan sendiri masih asik mondar-mandir entah apa yang dilakukan.


"Mas"


"Ayo, mau cari dimana sayang? Pinggir jalan gak papa? Ini sudah cukup larut" Zakia hanya mengangguk. Zidan langsung menggandeng tangan sang istri.


Zidan kembali menuruti ngidam istrinya itu. Tadi Zakia masih tertidur dengan pulas saat Zidan memulai kembali pekerjaannya. Sudah satu minggu Zidan bekerja dari rumahnya karena kondisi Zakia yang naik turun.


Satu minggu juga Zidan dibuat kelimpungan oleh sang istri yang benar-benar tidak ingin makan. Dan malam ini dengan tiba-tiba istrinya ingin makan lalapan, namun ibu hamil itu ingin membelinya diluar.


"Kuat jalan kan? "


"Kia gak papa" Zidan hanya mengangguk namun masih memperhatikan sang istri yang mulai menuruni anak tangga.


Zidan sudah menyarankan untuk pindah kamar, namun Zakia enggan beradaptasi dengan kamar baru. Zidan hanya bisa mengikuti apa kemauan istrinya. Yang penting sang istri nyaman dan tidak tertekan. Zidan tidak ingin hanya gara-gara kenyamanan membuat sang istri uring-uringan dan berimbas pada kandungannya.


Zidan mulai menjalankan mobilnya keluar dari garasi setelah memastikan keadaan sang istri nyaman didalam mobil.


"Mau lalapan apa sayang? " Tanya Zidan.


"Liat nanti deh Mas, Kia pengennya ayam"


"Di pinggir jalan gak papa kan? Jam segini susah cari resto buka" Zakia hanya mengangguk.


Zidan juga merasa aneh, akhir-akhir ini Zakia lebih banyak di, tak seperti biasanya yang ceria. Kini ibu hamil yang satu ini tampak terlihat murung tanpa alasan.


Zidan masih berpikir sebab murungnya sang istri. Zakia kembali menjadi pribadi yang pendiam adalah satu hal yang tak Zidan inginkan.


"Sayang? " Zidan mengelus lembut kepala sang istri.


Zakia langsung mengambil tangan Zidan dan memeluk lengannya, membiarkan sang suami menyetir dengan satu tangan. Zidan membiarkan saja istrinya melakukan apapun yang dirinya suka.


Hingga Zidan kaget dengan is akan kecil yang terdengar. Dengan segera menepikan mobilnya.


"Sayang? " Zakia masih erat memeluk lengannya. "Sini Mas lihat dulu istri Mas ini" Zakia menggeleng pelan. Bukannya marah Zidan malah terkekeh kecil, lucu sekali bukan calon ibu yang satu ini?


"Ya udah selesaikan dulu, Mas tunggu" Zidan mengelus kepala Zakia yang bersandar di lengannya. "Atau kita cari makan dulu, setelah itu kamu lanjut nangis lagi gak papa. Biar ada tenaga, yuk lanjut aja. Takutnya aegi kelaparan di dalam perut ummanya" Goda Zidan.


"Mas" Zakia menepuk pelan lengan Zidan dan mengangkat pandangannya.


"Kenapa hmm? " Zidan membersihkan sisa air mata yang menempel di pipi chubby sang istri itu.


Zakia hanya menggeleng pelan.


"Cerita sama Mas kenapa? Mau apa? Jangan tiba-tiba diem sayang. Kalau Mas ada salah coba tegur Mas ya, Mas gak mau kayak waktu itu lagi"


Zakia masih menggeleng pelan.


"Kenapa hmm? " Zidan masih bertanya dengan begitu lembut.


"Kangen Mama" Cicitnya pelan.


"Yakin cuma itu? " Zakia mengangguk kembali. "Kenapa gak bilang, Mas bisa antar sayang. Kalau Mas kerja ada supir di rumah, gak ada temen bisa ajak Ibu main ke rumah Mama kan? "


"Kia maunya sama Mas" matanya kembali berkaca-kaca.


"Mau nginep? " Zakia mengangguk lagi. "Kenapa gak bilang hmm? " Dengan gemas Zidan menarik pipi chubby itu.


"Mas sibuk" Zakia cemberut dengan mengerucutkan bibirnya.


Zidan terkekeh pelan. "Sayang, kamu itu prioritas Mas. Kamu nomor satu. Kemauan kamu adalah perintah buat Mas dan kewajiban buat Mas. Ada apa-apa ngomong ya, Mas bukan cenayang yang bisa nebak kamu mau apa kalau gak ngomong" Zakia hanya mengangguk.


"Sudah seminggu juga Mas kerja dari rumah, kenapa gak bilang kalau mau ke rumah Mama Lia? "


"Kia ngerepotin Mas ya"


"Kata siapa?"


"Menurut Kia"


"Mas suka direpotin kamu" Zakia hanya mencebikkan bibirnya.


"Kia laper"


"Kita jalan lagi, masih pengen lalapan atau kita cari makan apa aja yang ada di depan? Atau mau beli roti dulu buat ganjel? "


"Cari makan apa aja deh" Zidan mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya lagi.


se perhatian dan se lembut itu Zidan pada istrinya. Bahkan sang Ibu juga heran dengan sikap bungsunya itu. Zidan yang biasanya cuek dan terlihat dingin kini malah terlihat bucin dengan sang istri.


Diam-diam Zidan mengirim pesan pada ibu mertuanya jika mereka akan menginap di sana. Bukan apa-apa jam sudah menunjukkan tengah malam, bisa dipastikan jika Zalia tidur.


"Mau itu gak? " Tunjuk Zidan pada warung pinggir jalan yang kebetulan masih cukup ramai pembeli.


"Nasi goreng? "


"Kalau enggak kita cari yang lain, atau masih mau cari lalapan? " Dengan sabar Zidan melayani sang istri.


"Itu aja deh Mas, Kia udah laper banget ini" Zidan hanya mengangguk dan mulai menepikan mobilnya.


"Mau makan di sana atau mau didalam mobil aja? " Zidan hanya takut sang istri kedinginan. Masalah mobilnya bau makanan itu urusan belakang, yang penting sang istri dulu.


"Kia mau ikut turun" Zidan langsung turun setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya.


Zidan langsung memesan sesuai keinginan sang istri.


"Mas juga pesan kan? " Tanya Zakia setelah Zidan duduk di hadapannya.


"Iya, kebetulan Mas juga laper"


"Mas tadi makan malam apa nggak sih? Kia lupa, Kia tidur habis sholat isyak tadi kan ya? " Zidan hanya mengangguk. "Terus Mas makan apa enggak? " Zidan menggelengkan kepalanya membuat Zakia melebarkan matanya.


"Setelah kamu tidur Mas gak turun lagi, mager sayang" Zakia langsung mendelik ke arah sang suami.


"Jangan gitu lagi ih, masa lewatin makan malam" Zidan terkekeh melihat ekspresi cemberut sang istri yang menurutnya lucu.


"Iya-iya. Kamu juga jangan tidur sebelum makan malam. Paling nggak isi perut dulu ya, jangan tidur dulu" Zakia mengangguk lucu.


Zidan terkadang heran dengan hormon ibu hamil yang bisa berubah tanpa bisa diprediksi. Kehamilan Zakia memang masih di Tri semester pertama. Namun sudah mampu membuat Zidan geleng-geleng kepala. Zakia kadang menjadi menggemaskan seperti anak kecil, terkadang juga cerewet dan galak. Bedanya jika orang ngidam lainnya langsung diungkapkan dan harus terpenuhi, berbeda dengan Zakia yang berdiam jika melihat sang suami sibuk.