Janda Kembang

Janda Kembang
Dalang teror


''Apa ini pekerjaan arwahnya Neng Rani??'' bisik mang Udin.


Deg!


Lagi, jantung Mama Nia seperti di pompa saat ini. ''Ra-rani?? Bu-bukan nya dia sudah mati ya?'' tanya Mama Nia begitu pelan.


Ia yang tadinya sedang memijit tengkuk Papa Rustam seketika berhenti. Ia melihat kesana kemari seperti ketakutan.


Reza tersenyum tipis melihat Mama Nia gemetaran seperti itu. ''Berhasil!'' pekiknya senang di dalam hati.


''Iya sih.. tapi kan tidak menutup kemungkinan jika Rani masih hidup saat ini. Dan dia kembali untuk balas dendam sama kita?'' sahut Karin dengan wajah ketakutan nya.


Fatih mengulum senyum saat melihat istrinya ikut menimpali ucapnya Mama Nia. ''Bagus sayang! Dalami teroooossss..'' gumam Fatih dalam hati.


Ia ingin tertawa melihat wajah Karin yang ketakutan seperti itu. ''Ah, nggak mungkinlah.. mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi??'' elak Reza, padahal hati nya saat ini sedang tertawa jahat.


Ck! Dasar Reza!


''Kan bisa jadi, Ma!'' bantah Karin.


Mama Nia semakin ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar. Ada rahasia masa lalu yang hanya Reza dan Papa Rustam yang tau. ''Nggak! Nggak mungkin!'' bantah Mama Nia lagi.


Reza tersenyum smirk.


Mama Nia menggelengkan kepala nya tak percaya dengan ucapan Karin. Tubuhnya bergetar mengeluarkan keringat dingin.


Kakinya tiba-tiba lemas bagai tak bertulang. ''Nggak! Aku nggak percaya!'' kata nya lagi.


Tubuh nya semakin bergetar hebat seiring dengan matanya yang terpejam. Pandangannya tiba-tiba gelap dan..


Brruukkk..


''Mama!!!!'' pekik Fatih dan Reza secara bersamaan.


''Mama!'' seru Papa Rustam dengan wajah begitu pucat saat ini karena lemas baru saja mengeluarkan semua isi perutnya pagi ini.


Mang Udin bergidik ngeri saat melihat muntahan Papa Rustam. Dengan segera ia mengambil cangkul yang ada disampingnya rumah untuk menutup muntahan Papa Rustam.


Sambil mengangkat rasa mual yang sedang melanda dirinya, ia berusaha terus mengubur muntah itu dengan tanah yang ia korek di sebelah muntah itu.


Setelah tertutup, mang Udin berjalan masuk ke dalam. ''Hadeeeuuhh.. lebih baik aku tanam kepala lembu daripada harus menutup muntahan orang! Gara-gara dia muntah, aku pun ikut muntah juga! Mual aku!'' keluh Mang Udin.


Perutnya tiba-tiba mual mengingat muntah itu. Ia menutup mulut dengan tangannya. Dengan segera ia berlari ke wastafel yang ada didekat dapur.


Ia berlari ke dapur dan melihat jika mang Udin sedang muntah di wastafel dapur rumah mereka.


''Loh, mang Udin kenapa?'' tanya Reza dengan segera ia memijit tengkuk mang Udin.


Mang Udin yang masih merasa mual, tidak menyahuti ucapan Reza. Ia masih sibuk mengeluarkan muntahan itu dari mulut ya.


Keningnya mengeluarkan keringat dingin. ''Mamang tidak apa Den.. hanya.. mual saja melihat muntahan Tuan tadi..'' lirihnya dengan wajah pucat.


Mendengar itu, Reza tertawa sarkas. Mang Udin menghela nafas. ''Masih segitu aja Mamang sudah mabok duluan? Gimana mau ngikutin yang selanjutnya?'' ucap Gilang kembali ia tertawa tak tahan dengan kelakuan mang Udin juga ikut muntah karena Papa Rustam.


''Hadeeeuuhh.. Mamang pusing Den.. mamang mau istirahat sebentar boleh yak?''


Reza terkekeh dan mengangguk, ''Tentu, Mang. Silahkan. Nanti saya minta Mbak Tina untuk membuat kan teh jahe untuk mang Udin ya?''


Mang Udin mengangguk, ''Terimakasih Aden.. mamang ke belakang dulu..'' lirihnya dengan segera ia berjalan ke dapur.


Setelah bang Udin pergi, Reza tertawa terbahak seorang diri di dapur. Airin yang melihat Reza tertawa menghampiri nya.


''Lah... Abang kenapa? Kerasukan? Atau kesurupan!''


Reza berhenti tertawa. ''Abang nggak pa-pa dek.. kamu ngapain kemari?''


''Nyari Abang lah. Di suruh Papa tuh ke kamarnya. Mau ngomong penting kata nya.''


''Hoo.. oke. Abang akan kesana.''


''Hem.'' sahut Airin dengan segera ia berlalu menuju taman belakang rumahnya.


Reza berjalan menuju kamar kedua orang tuanya. Tiba disana, ia melihat Mama Nia sudah siuman karena Karin yang berusaha untuk menyadarkan nya.


Mata mama Nia menatap Reza dengan tatapan kosong. Papa Rustam terlihat begitu lemas. Wajahnya pucat pasi. Reza masuk dan mendekati dua orang itu.


''Pa..''


''Temukan dalang teror itu Za! Jika sudah, bun*h dia!''


Deg!


Deg!


TBC