
Satu bulan berpisah dengan Zidan, satu bulan juga Zakia dirundung sakit kepala dengan segala permasalahan yang ada. Di mulai dari permasalahan kantor yang tengah sibuk dengan berbagai proyek besar yang dirinya menangkan, kini Zakia merutuki kebodohannya yang terlalu berambisi untuk memenangkan sebuah tender. Alhasil dirinya dibuat sibuk dan memakan waktu bersantainya.
Belum lagi masalah-masalah lainnya. Namun yang paling membuatnya jengkel adalah permasalahan dengan mantan suaminya yang terus menerus mendekati dirinya. Berbagai macam penolakan sudah Zakia lontarkan, bahkan tak jarang Ika dan security juga ikut menghadang Tony. Namun, laki-laki itu tampaknya keras kepala untuk tetap teguh mengejar Zakia. Entah apa yang ada didalam pikiran Tony hingga begitu gencar mengejar dirinya.
Zakia menghela napas berkali-kali, kepalanya berdenyut tak karuan. Pikirannya tak bisa fokus, rasanya tidak baik-baik saja. Apalagi saat mendengar Dinda, sepupu Zidan malah menjadi sekertaris Zidan saat ini. Tidak berburuk sangka, namun feeling seorang istri jarang meleset. Zakia benar-benar dihajar oleh dunia. Bahkan untuk saling bertukar kabar saja hanya sesekali dengan Zidan karena kesibukan keduanya.
"Mari kita selesaikan permasalahan ini satu per satu" Gumam Zakia menyemangati dirinya sendiri.
Zakia mencari satu nama dalam ponselnya lalu mendial nomor tersebut untuk dihubungi. Pada dering ketiga panggilannya diangkat.
"Assalamualaikum, bisa temani Kia ke kafe bulan nanti?, ketemu disana aja ya, Kia tunggu. Assalamualaikum" Zakia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Zakia membuka laptop pribadinya, memasukkan sandi rumit entah untuk memantau apa yang hanya Zakia yang tahu. Matanya begitu serius menatap layar laptop tersebut. Hingga tanpa sadar kepalanya mengangguk kecil.
Tok... Tok... Tok..
"Masuk" Zakia langsung menutup laptopnya begitu ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Permisi Ibu Zakia, ini ada berkas yang harus Ibu tanda tangani" Ucap Kia sopan.
"Bisa ditinggal, saya baca dulu. Tolong juga atur jadwal saya minggu depan ya. Saya harus ke Bengkulu sekitar dua atau tiga hari"
"Baik, Bu. Mau sekalian saya cari tiket untuk pesawatnya? "
"Terimakasih tawarannya, tapi asisten saya sudah mengurus semuanya. Jadi Bu Ika hanya bantu saya di perusahaan"
"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi"
Setelah kepergian Ika, Zakia langsung mengambil berkas yang diletakkan diatas meja kerjanya. Membacanya dengan teliti dan begitu cermat. Tangannya dengan sigap mengambang bolpoin dan menandai yang mana yang tidak tepat, tidak lupa juga catatan kecil di sampingnya untuk evaluasi karyawannya yang membuat laporan. Zakia mau semuanya terlihat sempurna, meminimalkan musuh untuk menggulingkan perusahaan Wijaya.
...****************...
Sesuai perkataannya tadi saat menelepon, kini Zakia tiba diparkiran kafe bulan. Zakia langsung mengedarkan pandangannya, mendapati gadis berhijab maroon melambaikan tangan padanya. Senyumnya mengembang dan dengan tergesa menghampirinya.
"Assalamualaikum" Sapa Zakia lembut.
"Waalaikumsalam cantik" Balas gadis itu dengan senyum merekah.
"Cantik ih pake hijab" Zakia dengan tulus memuji gadis didepannya. Gadis tersebut hanya bisa tersipu malu saat Zakia memujinya.
"Makasih, ini juga berkat kamu. Pelajaran yang kamu berikan emang top, gak heran sekelas keluarga Gibson bisa pindah agama" Jawabnya dengan antusias.
"Kia hanya perantara, semua sudah diatur oleh-Nya. Alhamdulillah kalau hidup Kia berguna buat sesama cucu Adam" Zakia tersenyum manis seolah-olah tak memiliki beban berat di pikirannya.
"Aku salut padamu, Kia. Usiamu begitu muda, tapi kamu mampu melakukan semua yang kamu mau, kamu juga begitu pintar dan cakap dalam hal apapun. Tak heran jika kamu menjadi rebutan para lelaki"
"Ini hanya titipan, usia juga tidak menentukan bagaimana pencapaian kita. Masih ada diluar sana yang lebih muda dari Kia bahkan lebih sukses dari Kia. Yang patut kita tekankan disini adalah bagaimana cara kita mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan pada kita"
"Maka dari itu, aku benar-benar berterimakasih pada mu Kia. Sudah berhasil menyeret aku dan mami kejalan yang benar. Sudah memaafkan segala apa yang sudah keluarga ku perbuat, baik itu untuk papa mu dan aku yang selalu iri hati pada mu dulu"
"Tuhan ku saja pemaaf, aku sebagai hambanya hanya mengikuti apa ajarannya. Tapi maaf jika aku tak bisa memaafkan tanpa menghukum, karena aku bisa terluka jika papa tak mendapat keadilan"
"Kemurahan hati mu ini yang membuat banyak orang menyukai mu Kia" Pacaran mata gadis itu benar-benar menatap kagum pada Zakia. Gadis yang Zakia hancurkan mentalnya, lalu dengan tangan lembutnya kembali membentuk mental dan keinginan baru hanya dengan kata-kata lembut dan tatapan teduhnya. Membuat gadis yang awalnya begitu bebas dan cukup liar Zakia seret dengan paksa untuk mengenal agama lebih dekat. Terbukti dua minggu ini gadis itu menjadi pribadi yang baik, bahkan jangan lupakan hijab yang selalu menutupi mahkotanya sekarang.
"Kia pesen minum dulu" Zakia menoleh memanggil karyawan yang tampaknya selesai melayani meja disebelahnya.
"Lemon tea sama apa ya" Zakia menelisik daftar menu yang ada dihadapannya. "Samain kaya pesanan didepan saya aja deh" Zakia langsung menyerahkan buku menu tersebut pada pelayan kafe.
"Baik, Kak. Mohon ditunggu pesanannya" Zakia hanya mengangguk dengan senyum manisnya.
"Jadi? " Zakia hanya menaikkan sebelah alisnya ketika gadis didepannya bertanya.
"Jadi apa? " Tanya Zakia polos.
"Kesini mau ngapain? Mau meet up aja atau gimana? " Zakia hanya nyengir kuda.
"Menyelesaikan masalah. Maaf buat Mbak terlibat sama masalah Kia"
"Ada masalah apa dulu? " Tanya gadis tersebut.
"Mantan suami Kia ngejar Kia mulu, Kia capek. Makanya Kia ajak ketemu disini" Jawab Zakia.
"Terus kenapa ngajak aku? "
"Ish, masa lupa kalau Kia udah punya suami. Ya kali Kia cuma ketemu berdua, bisa jadi gosip yang membangongkan jaman ini" Zakia tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Hahahaha, jadi pengen lihat gimana cara permata tiga keluarga besar ini menghadapi sebuah rumor tak sedap" Gadis itu terkekeh pelan.
"Aish, untuk saat ini jangan lah dulu, belum siap mental ini"
"Gayamu belum siap mental, tapi tender besar dilibas semua" Gadis itu kembali terkekeh.
"Dan sekarang Kia merutuki kebodohan Kia sendiri"
"Disyukuri sayang bukan dirutuki"
"Jangan ngejek ya anda" Zakia melotot lucu pada gadis di depannya, bukannya takut malah gemas melihat ekspresi Zakia.
"Oke, jadi berita acara kali apa nih? "
"Berita acara gak tuh? " Zakia tertawa mendengar pertanyaan didepannya.
"Sekarang serius dulu, Mbak beneran nanya ini. Maunya kamu gimana ini sama mantan suami kamu? "
"Kia cuma mau negasin aja sama mau nanya maunya dia apa? Kia risih diikuti kesana kesini, Kia sekarang malah bingung mau kemana. Masa Kia diikuti sampek apartemen. Udah kayak sasaeng aja"
"Biasa fans" Zakia tertawa mendengar celetukan gadis didepannya.
Zakia hanya terkekeh pelan menanggapi candaan gadis didepannya.
"Kamu ada masalah yang belum usai kah Kia, sampai dia ikutin kamu? "
"Kita selesai di meja hijau, bahkan Kia tak meminta apapun saat itu. Mau minta maaf kali, tapi kan ya gak harus ngejar Kia mulu" Zakia berekspresi cemberut membuat gadis didepannya harus menahan gemas dengan mantan janda kembang yang satu ini.
"Atau mungkin ada barang kamu yang tertinggal? " Tebaknya.
"Dia sudah tau kalau Kia bagian keluarga Wijaya, kenapa gak langsung dikirim aja. Biasa trik playboy cap kadal ya gitu" Cibir Zakia.
"Assalamualaikum" Keduanya sontak mendongak melihat siapa yang datang menghampiri meja tersebut.