Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 122


"Assalamualaikum" Keduanya sontak mendongak melihat siapa yang datang menghampiri meja tersebut.


"Waalaikumsalam" Jawab keduanya kompak.


"Duduk, Kak" Zakia mempersilahkan Tony dengan sopan. Tony hanya mengangguk dan duduk berhadapan dengan Zakia. Karena untuk duduk di samping Zakia sangat tidak mungkin. Zakia sengaja meletakkan tasnya di kursi sebelah. "Kak Tony mau pesen apa? " Ucap Zakia sambil memanggil pelayan.


"Samain aja sama kamu" Jawab Tony tanpa melepas pandangannya dari Zakia.


"Khem, maaf tuan. Tapi tolong anda jangan menatap adik saya seperti itu, kalian bukan lagi mahram bukan? "


"Ah, maaf maaf"


Mereka terlibat keheningan cukup lama. Hingga suara pelayan yang mengantarkan pesanan memecahkan keheningan di meja tersebut. Zakia juga meletakkan ponselnya yang sejak tadi dirinya mainkan.


"Ada apa kamu meminta kakak bertemu Kia? " Tanya Tony kembali menatap Zakia.


"Kia langsung ke intinya saja, berhenti mengikuti kemanapun Kia melangkah. Kita sudah tidak ada hubungan apapun, jangan membuat Kia bertindak lebih jauh dari ini" Ucap Zakia tanpa menatap lawan bicaranya.


"Maaf jika tindakan kakak membuat kamu risih Zakia, kakak hanya ingin meminta maaf pada mu. Tapi kamu susah sekali untuk diajak bicara"


"Hanya meminta maaf? Yakin? " Zakia memiringkan kepalanya, memainkan jarinya memutar diatas gelas minumannya.


"Tidak. Kakak hanya ingin tahu kenapa kamu tiba-tiba menggugat cerai kakak dan kemana selama ini kamu menghilang? "


"Apa itu penting? "


"Mungkin tidak penting bagi kamu, tapi itu penting untuk kakak Zakia. Kakak minta maaf jika selama ini kakak tidak menjadi suami yang baik untuk kamu, tidak menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluarga kita. Tidak tegas terhadap mama dan adik kakak yang selalu menghina dan mencaci kamu. Kepergian kamu juga merupakan pukulan untuk kakak dan keluarga kakak, Kia" Ujar Tony menunduk.


Drama untuk naik jabatan, heh. Untuk pertama kalinya Zakia tersenyum sinis terhadap seseorang.


"Kakak tahu, kapan wanita akan meninggalkan lelaki yang ia cintai? " Tony mengangkat pandangannya menatap Zakia yang masih asik dengan gelas dihadapannya.


"Yaitu, disaat semua yang ia perjuangkan diremehkan dan disepeleken. Juga saat ribuan maaf, jutaan teguran diabaikan. Disaat perasaan yang begitu dalam dan tulus dihancurkan. Wanita akan susah meninggalkan seseorang yang amat ia cintai. Tapi saat dia sampai di titik lelah, dimana ia lelah akan semuanya. Yakinlah ia akan mudah meninggalkan mu tanpa berpikir dua kali"


"Tapi, Kia... " Ucapan Tony terhenti ketika Zakia kembali berbicara.


"Jika akhirnya Kia memilih untuk melepaskan Kakak, yang perlu kakak ketahui. Kia sudah mematahkan seluruh hati Kia, Kia sudah berdebat hebat dengan diri Kia sendiri, dan Kia sudah melangitkan beribu doa agar Tuhan menunjukkan jalan selain perpisahan. Dan akhirnya, Kia memilih takdir-Nya. Bahwa satu-satunya cara hanyalah merelakan demi sesosok tak berdosa yang hadir karena dosa kedua orang tuanya" Zakia tersenyum tipis di akhir kalimatnya.


"Kakak tau kakak salah Kia, kakak minta maaf akan hal itu. Kakak khilaf Kia" Tony menunduk dalam.


Zakia tak bersuara, dirinya sibuk meminum dan memakan dengan tenang apa yang sudah dipesan tadi. Tak ada yang bersuara hingga semuanya selesai.


"Jika suatu hari nanti, tanpa sengaja kita berjumpa di suatu tempat, sapalah Kka sebagai seseorang yang pernah menjaga kakak dala doa yang begitu baiknya. Tentang Kia yang sempat percaya jika kakak adalah takdir Kia, ah lupakan saja. Kia tidak menuntut apapun dari perpisahan kita, bukan? Cara kakak yang tidak setia, Kia sudah maafkan, bukan karena kesalahan kakak, Kia benarkan. Tapi Kia berhasil berdamak dengan diri Kia sendiri dan belajar ikhlas untuk melepaskan sesuatu yang menyakiti. Penyesalan kakak hari ini tidak Kia inginkan, karena kesalahan itu kakak lakukan dengan kesadaran penuh. Bahkan kembalinya hubungan kita seperti yang kakak angankan, tidak pernah Kia semogakan. Bagi Kia setiap kesalahan termaafkan"


"Kia rasa penjelasan Kia sudah cukup, tolong jangan ikuti Kia lagi. Ingat jika saat ini Kia adalah atasan Kakak di kantor. Tolong profesional saja, kita tidak sedekat itu untuk saat ini. Salam untuk keluarga kakak di rumah, Kia permisi. Ayo Mbak. Assalamualaikum"


Zakia langsung bangkit disusul dengan gadis yang sejak tadi hanya menyimak apa yang Zakia utarakan pada mantan suaminya itu. Jangan lupakan juga jika dirinya merekam apa yang Zakia bicarakan, entah kenapa hatinya meronta agar dia mengabadikan pertemuan ini dalam bentuk rekaman.


Zakia menoleh sekilas dan kembali menatap lurus kedepan.


"Rasa sakit dibalas dengan kata maaf? Itu tidak adil! Kakak tahu apa yang adil? Tangisan di atas sajadah, suara hati dalam sepertiga malam, kekuatan dengan ikhlas dan diam. Lalu Allah membalikkan keadaan"


"Hanya itu yang Kia lakukan, apa yang terjadi pada keluarga kakak itu adalah buah dari pohon yang kakak tanam sendiri. Lantas saat takdir berbalik berkedok karma, kenapa meminta pertanggungjawaban pada Kia yang notabene nya adalah korban untuk pupuk dari pohon yang kalian tanam? "


"Semoga kakak dan keluarga kakak baik-baik saja" Ucap Zakia sebelum benar-benar meninggalkan Tony seorang diri dalam lamunannya. Otaknya sedang mencerna setiap perkataan yang Zakia ucapkan sejak tadi.


Tidak ada kata-kata kasar atau umpatan seperti yang Tony takutkan. Bahkan hati Zakia masih selembut dulu saat menjadi istrinya. Bisa dikatakan saat Tony sedang dalam masa penyesalan yang terlambat.


Sedangkan diluar Zakia sudah mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran setelah memastikan temannya memasuki mobil miliknya. Zakia membunyikan klakson mobilnya sebagai tanda jika dirinya akan keluar lebih dulu.


Zakia mengemudikan mobilnya menuju rumah mertuanya, dirinya hanya ingin berkunjung ke rumah orang tua Zidan. Jujur saja, dia rindu dengan malaikat kecilnya disana. Tidak ada yang salah bukan jika dirinya menganggap Richi sebagai malaikat kecilnya saat ini.


Zakia melewati jalanan yang cukup padat, kota besar tanpa kepadatan kendaraan jalanan adalah hal mustahil terjadi. Namun, Zakia cukup menikmati itu. Jarang-jarang Zakia menikmati padatnya jalanan. Karena sejak tinggal di luar negeri Zakia lebih memilih menaiki sepeda atau motor bersama dengan yang lainnya. Bahkan saat keluarga Gibson menawari mobil keluaran terbaru Zakia dengan sopan menolak. Dirinya lebih nyaman menggunakan sepeda, keluarga Gibson hanya bisa menghargai keputusan Zakia, tanpa Zakia sadari jika keputusannya saat itu merubah sudut pandang keluarga besar Gibson padanya. Bahkan diam-diam tuan besar Gibson memasukkan Zakia kedalam daftar ahli waris setelah berdiskusi dengan panutua lainnya.


"Assalamualaikum" Sapa Zakia pelan saat memasuki rumah besar itu. Zakia menahan senyumnya beberapa detik, sebelum kemudian melebarkan kembali.


Disana, di ruang tamu tengah berkumpul anggota keluarga Al Fatih. Salah satunya adalah seseorang yang menentang pernikahannya dengan Zidan. Namun, Zakia tak ambil pusing dan tetap mencium tangannya sebagai rasa hormatnya.


"Kamu baru pulang? " Tanya Farida.


"Dari kantor tadi ada janji ketemu temen sebentar, udah ijin juga sama Mas Zidan kok. Terus langsung kesini" Jelas Zakia.


"Kamu nyetir sendiri? " Tanya Al Fatih pada menantunya ini.


"Sengaja Yah, besok kan libur. Jadi Kia mau disini, gak papa kan? " Tanya Zakia dengan binar polos di matanya. Tatapan yang membuat Farida menyukai wanita ini untuk pertama kalinya.


"Ini rumah kamu juga, nak. Kamu bebas kapan pun datang kesini. Jangan mentang-mentang Zidan di luar negeri kamu gak kesini ya" Peringat Farida.


"Iya, Bu. Mbak Danis mana kok gak keliatan? "


"Danis shift malam, mending kamu bersih-bersih dulu gih. Habis itu makan, biar Ibu siapin ya" Belum Zakia menjawab perkataan Farida seseorang yang Zakia yakini tak menyukai dirinya langsung menyerobot masuk dalam percakapan.


"Dia cuma menantu di keluarga ini, jadi gak usah segitunya lah Mbak. Udah kayak yang punya rumah aja" Sinisnya. Zakia ingat dia adalah tante Zidan yang bernama Susi.


"Enggak papa lah, Zakia sama Danis itu bukan menantu. Tapi anak perempuan kita" Tegas Al Fatih, Farida tersenyum menanggapi pembelaan suaminya.


"Kia udah makan kok, Bu. Kia ke atas dulu mau bersih-bersih" Pamit Zakia.


"Langsung istirahat aja ya, gak usah turun lagi"


"Gak janji ya, Bu" Cengir Zakia yang mendapat gelengan lemah dari Farida.


Farida cukup hafal dengan sikap dan kelakuan istri si bungsu ini. Berbeda dengan Danis yang akan menurut, Zakia adalah tipikal wanita keras kepala. Namun, dia tau kapan dan dimana harus bersikap. Selama Zakia selalu menjaga tatakramanya maka Farida maupun Al Fatih tidak keberatan dengan tingkah unik sang menantu ini.