Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 127


"Mas" Zakia menepuk pelan pipi Zidan.


"Emhh" Zidan hanya bergumam tak jelas.


"Bangun dulu yuk, sholat dhuhur dulu" Zakia masih berusaha membangunkan Zidan.


"Kenapa sayang? " Jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mandi terus sholat. Kia tunggu"


"Iya" Jawabnya, kemudian bangkit dari tidurnya.


Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Zakia yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Harusnya dirinya yang yang merasakan lelah karena digempur habis-habisan oleh Zidan. Tapi malah Zidan yang telat bangun.


Zakia merutuki kebodohannya kali ini, bagaimana mungkin dirinya bisa terbuai dengan godaan Zidan. Padahal jelas-jelas mereka hendak berangkat menuju kediaman orang tuanya. Bukankah tadi Zidan mengatakan untuk sekalian bertemu dengan temannya. Namun, sekarang sepertinya harus gagal karena ulah Zidan.


Cklek...


"Baju Mas mana, sayang? "


"Di dalem udah Kia siapin" Kia menunjuk walk in closed dengan dengan matanya.


Zidan hanya mengangguk dan berjalan menuju walk in closed. Memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh sang istri. Setelahnya Zidan langsung bergegas keluar dan mendapati sang istri sudah duduk diatas sajadahnya sendiri.


"Sayang? " Zakia langsung bangkit dan mengangguk saat Zidan berdiri mengambil posisi sebagai imam.


Mereka melakukan ibadah dengan sangat khusyuk. Zidan sebagai imam dan Zakia sebagai makmum. Tanpa ada yang tahu, kegiatan ini adalah kegiatan yang Zidan impikan sejak mengenal dan memulai memiliki rasa pada Zakia.


Zakia mencium tangan suaminya dengan hikmad saat Zidan mengulurkan tangannya. Tak lupa juga Zidan mengelus kepala sang istri dengan lembut. Saat Zakia mendongak langsung dihadiahi ciuman ringan di seluruh wajahnya oleh sang suami.


"Mau makan dulu atau langsung berangkat? " Tanya Zidan.


"Makan di luar aja gak papa kan, Mas? "


"Lagi pengen sesuatu? "


"Seafood, lama gak makan seafood" Zakia menjawab sambil melipat mukenahnya.


"Mas ganti baju dulu, kamu tinggal pakai hijab doang kan? "


"Iya, ke rumah Mama atau mau langsung ketemu temen Kia, Mas? "


"Ke rumah Mama dulu. Itu bisa besok sayang, atau ketemu di rumah aja" Tawar Zidan.


"Nanti Kia omongin lagi deh"


Akhirnya keduanya berpisah. Zidan kembali masuk ke dalam ruang ganti dan Zakia duduk didepan meja rias guna berkaca saat memasang hijabnya.


Tak berselang lama mereka berdua selesai secara bersamaan. Zidan menghampiri sang istri, mengecup pelan kening sang istri dan menatapnya intens.


Tatapan Zidan membuat rona merah timbul di pipi chubby Zakia. Hanya Zidan satu-satunya orang yang mampu membuat mantan janda kembang ini blushing.


Cup


"Mas" Zakia merengek pada Zidan.


"Kenapa sayang? " Zidan malah menggoda istrinya itu.


"Malu" Zakia langsung masuk ke dalam pelukan Zidan. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Hahaha, kita bahkan sudah melakukan lebih dari sekedar tatap menatap sayang. Kenapa masih blushing cuma digituin doang"


"Mas ih" Zakia memukul pelan punggung Zidan.


Zidan makin tertawa mendengar rengekan Zakia yang menurutnya lucu. Sayang sekali dirinya tak bisa melihat wajah merah sang istri, karena Zakia mendekap erat tubuhnya.


"Oke sudah, ayo kita berangkat. Bukannya masih mau makan siang" Ujar Zidan setelah menyelesaikan tawanya.


Zakia mengangguk dalam pelukan Zidan. Kemudian melerai pelukan keduanya. Menatap polos ke arah Zidan. Zakia harus mendongak untuk menatap wajah sang suami, karena perbedaan tinggi mereka.


Zidan menangkup kedua pipi chubby istrinya. Memencetnya hingga bibirnya mengerucut lucu. Zidan berkali-kali memberikan ciuman kupu-kupu pada bibir Zakia.


"Ayo ah berangkat, nanti yang ada Kia bisa mandi lagi" Ucap Zakia setelah Zidan membebaskan pipinya.


Zidan hanya terkekeh pelan dan segera menarik tangan Zakia dengan lembut. Keluar dari kamar mereka dan mulai menuruni satu per satu anak tangga.


"Dompet Mas ketinggalan deh kayaknya" Zidan meraba setiap saku celananya.


"Biar Kia yang ambil" Zakia langsung kembali ke kamar mereka.


Zidan sendiri melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Bisa Zidan lihat jika di ruang tengah ada kedua orang tuanya dan sang kakak yang tengah berbincang santai.


"Bener kan Bu kata Zain, Zidan itu lagi kejar setoran. Liat aja jam segini baru turun" Zainal mulai menggoda adiknya.


Zidan hanya memasang wajah datar dan mendudukkan dirinya di samping sang ibu. Total abai dengan godaan sang kakak.


"Dan? "


"Ya Mbak"


"Menu makan siang di kamar lebih mantep ya? " Danis menaik turunkan alisnya menggoda Zidan.


Yang digoda hanya mendengus pelan menanggapi godaan yang dilontarkan kepadanya. Jika ditanggapi akan panjang urusannya.


"Mas? " Zakia menghampiri Zidan dan yang lainnya.


"Ayo" Zidan bangkit dari duduknya. "Kita ke rumah mama dulu Yah Bu" Pamit Zidan.


"Mau nginep atau gimana nak? " Tanya Farida.


"Liat nanti deh, Bu. Ibu jadi mau ke rumah Mama Lia? " Tanya Zakia.


"InsyaAllah, nanti Ibu kabari lagi" Jawab Farida.


"Iya, Kita berangkat dulu" Pamit Zidan langsung mencium satu per satu anggota keluarga sang suami itu.


Zidan langsung menggandeng tangan Zakia saat akan keluar dari rumah besar itu.


"Sayang mau belanja dulu gak? " Tawar Zidan setelah memastikan Zakia duduk nyaman di kursi penumpang.


"Boleh deh, tapi makan dulu ya Mas"


"Iya sayang" Zidan langsung memutari kembali mobilnya menuju kursi kemudi.


Menjalankan mobilnya dengan perlahan meninggalkan pekarangan besar itu. Membelah jalanan yang tidak terlalu ramai karena sudah lewat jam makan siang.


"Dimana sayang? " Maklum jika Zidan bertanya, karena dirinya tidak terlalu hafal dengan jalanan karena terlalu lama di luar negeri.


"Masih di depan Mas, setelah lampu merah. Di situ aja deh"


"Kapan-kapan makan di pinggir pantai ya. Mas penasaran"


"Emang belum pernah makan di pinggir pantai gitu, Mas? " Zidan menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Zidan.


"Mas dulu jarang keluar, sejak kenal kamu Mas sering healing"


"Apa Kia membawa pengaruh buruk? "


"Tidak sayang, Mas justru bersyukur. Kalau gak ada kamu, Mas gak mungkin tau, seindah apa ciptaan Tuhan yang Mas lewatkan karena sibuk dengan huruf dan angka" Zidan mengelus kepala Zakia dengan sebelah tangannya.


"Mas kenapa pulang gak kasih kabar ke Kia dulu, kan Kia bisa jemput di bandara"


"Kamu aja masih di Bengkulu pas Mas pulang sayang"


"Ya kan kalau Mas kabari, Kia bisa pulang lebih awal"


"Mas yang mendadak pulang karena liat berita itu"


"Jangan negative thinking sama Kia. Meskipun Kia tahu, Kia gak mungkin kemakan gosip murahan seperti itu, karena Kia tau seperti apa sikap dan sifat suami Kia"


Zidan tersenyum menanggapi ucapan Zakia. Se positif dan selembut itu istrinya. Zidan tidak habis pikir dengan pikiran orang di luar sana yang menilai buruk pada istrinya itu. Bahkan Zidan bisa menjamin jika Zakia tak memiliki dendam di hatinya. Zakia hanyalah wanita yang akan membungkam orang-orang yang menghina dan merendahkan nya baik itu dulu ataupun di masa depan dengan prestasinya.


Zidan masih tak habis pikir, kenapa istrinya ini begitu asik bersembunyi daripada menampilkan jati dirinya. Padahal Zakia memiliki segalanya, Zakia bisa dibandingkan dengan seluruh penerus muda keluarga Lawrence maupun Wijaya.


"Kiri Mas" Ucap Zakia saat melihat papan nama restoran yang dirinya maksud.


Zidan hanya mengangguk dan mulai membelokkan setirnya memasuki area restoran tersebut. Begitu sampai Zakia langsung turun begitu saja tanpa menunggu Zidan. Melihat tingkah Zakia, Zidan hanya bisa terkekeh lucu. Istrinya memang beda dari kebanyakan wanita lainnya.