
Rani tertawa kecil namun licik. ''Lakukan! Seperti yang kau inginkan bandot tua!'' ia terkekeh setelah mengatakan hal itu.
Pakde Rustam melotot melihat Rani. ''Apa katamu? Bandot tua? Baik! Akan ku buktikan padamu jika bandot tua ini lebih perkasa dari mantan suamimu Al Fatih putraku itu! Bude mu saja kewalahan menghadapi ku! Hahaha...'' ia tertawa dengan senangnya.
Rani tersenyum licik. ''Silahkan! Lakukan sekarang!!'' pekik Rani.
Brraaakkk..
Pintu di dobrak paksa dari luar. Beberapa orang masuk kedalam kamar Papa Rustam. Melihat itu Papa Rustam terkejut.
''Siapa kalian??'' tanya nya dengan menatap satu persatu orang yang memakai topeng itu.
''Aku adalah malaikat pencabut nyawa mu Rustamsyah!''
Deg!
Deg!
''Apa?! Mencabut nyawaku? heh? Buahaha...'' Papa Rustam tertawa terbahak di depan beberapa orang berbaju hitam dan bertopeng.
''Diam kau!! Hari ini akan ku buktikan! Jika kau juga manusia sama seperti kami! Kau akan mati di tanganku!'' gertaknya.
Lagi Papa Rustam tertawa.
Dalam hitungan detik sesuatu itu membuat Papa Rustam terkejut. Tubuhnya bergetar. Ia tidak bisa berbicara.
Semakin lama semakin sakit hingga jatuh ke lantai.
Brruukk..
Rani tersenyum sinis melihat itu. ''Gimana Pakde? Masih mau? Katanya tidak bisa mati! Tapi kok bisa lemah ya gara-gara arus listrik tegangan rendah ini?''
Papa Rustam tidak menyahut, ia jatuh terkapar dilantai dengan bibir bergetar. Ia hanya menatap Rani dengan datar.
Rani memberi kode kepada orang itu. ''Bawa dia!''
''Baik Nyonya!'' sahutnya.
Dengan segera Papa Rustam dibawa keluar dari rumah itu beserta Mama Nia. Mereka membawa dua paruh baya itu ke dalam mobil pickup.
Di letakkan di bagian bak belakang dan ditutupi dengan terpal biru. Pakde Rustam terus mengumpat dalam hati.
''Awas kau Rani! Berani bermain-main dengan ku ya? Tunggu saja pembalasanku! cih!'' sungutnya di dalam hati.
Sedangkan Rani dan para anggota nya segera meninggalkan rumah itu. Seluruh penghuni rumah itu sudah diamankan oleh Rani.
Mereka semua sudah dibawa ke tempat seharusnya berada. Termasuk Reza, Fatih dan Karin.
Saat itu Reza dan Fatih serta Karin sedang membicarakan tentang kekanjutan dari tugas mereka untuk membalas kedua orang tua nya.
Dengan sengaja Rani membawa masuk seekor biawak besar yang sudah di isi dalam karung ke dalam rumah keluarga Rustamsyah.
Ia masuk ke rumah itu dengan tenang nya. Namun ada satu orang yang tau jika Rani sudah datang, dengan segera ia berlari ingin mengatakan nya pada Reza.
''Eits! mau kemana? Hem?'' cegatnya pada mang Udin.
Mang Udin ketakutan berhadapan dengan Rani. ''Ma-mang ma-mau ke-ketemu den Reza, Neng!''
''Hoo.. sebentar!'' imbuhnya. Dengan segera ia buka karung itu dan mengeluarkan isi nya.
Bruukk..
''Aaahhh.. biawak!!! biawak patah pinggang! Biawak patah pinggang! biawak patah pinggangnya!!!'' pekik mang Udin begitu kuat.
Ia pun ikut berjoget-joget karena kelakuan biawak itu yang mutar-mutar pelan di ujung sofa ruangan itu.
Rani melongo melihat nya. Sedangkan asisten nya, Aldi. Sudah terpingkal-pingkal tertawa di belakang nya.
Mang Udin masih saja berjoget ala biawak patah pinggang saat Reza turun dengan berlari, begitu juga dengan Fatih.
Melihat Reza datang, Rani menyingkir. Ia sembunyi di belakang pilar begitu juga dengan Aldi.
Reza turun dengan berlari. ''Ada apa Mang? Mamang kenapa?'' tanya Reza begitu panik.
Mang Udin tidak menjawab, ia masih sibuk dengan berjoget ria ala baiwak patah pinggang.
Fatih melongo melihat mang Udin seperti itu. Lama ia menatap mang Udin, setelah sadar jika yang dilakukan mang Udin itu mengocok perutnya, ia tertawa.
Begitupun dengan Reza. Namun itu hanya sebentar. Rani muncul di belakang mereka berdua dengan segera ia membius dua pemuda tampan nan jangkung itu.
Brruukk..
Dua tubuh lelaki itu jatuh terkapar dilantai. Begitu juga dengan mang Udin. Tidak ada lagi suara dan joget ria ala biawak patah pinggang.
''Kamu urus yang disini karena aku harus keatas menemui dua paruh baya lansia itu. Hihihi..''
''Baik Nyonya!'' sahut Aldi dengan terkekeh kecil.
Dengan segera ia membawa Reza dan Fatih ke depan dan dimasukkan kedalam karung besar oleh Aldi.
Aldi geleng-geleng kepala saat mengingat kelakuan Rani. Begitu unik. Pikirnya.
TBC