Janda Kembang

Janda Kembang
Marah dan kecewa


Setelah sholat Maghrib, Pak Kurni pulang kerumah dengan menenteng nasi serta lauk pauknya untuk Rani makan malam.


Setibanya disana, ia langsung masuk dan mengetuk pintu Rani. Lagi ia mengetuk pintu itu, tapi tak ada sahutan.


''Mungkin lagi tidur?'' gumam nya sembari melayang kan lagi tangannya ke arah pintu. Tiba-tiba dari arah depan, terdengar suara gerbang di dorong.


Pak Kurni berlari dan melihat siapa kira nya yang datang. Setelah sampai disana, ia tersenyum melihat seseorang yang sudah dua hari ini Rani tunggu dengan gelisah.


''Selamat datang Den Reza..'' Sapanya.


Membuat Reza tersenyum, begitu juga Pak Rahmat dan Bu Ani. Mereka berempat berbicara sebentar, setelah nya masuk ke dalam rumah.


''Oh ya Pak, apakah Rani sudah makan?'' tanya Reza pada Pak Kurni.


Pak Kurni bingung harus jawab apa. Karena sedari tadi pintu itu di ketuk nya tapi tak ada sahutan dari dalam rumah.


''Pak??'' panggil Reza lagi.


Pak Kurni gugup. ''A-anu Den.. Bapak udah ngetuk pintu Neng Rani berulang kali, tapi tak ada sahutan. Ingin Bapak ketuk lagi, eh den Reza sudah balik dari Bogor. Jadi...'' Pak Kurni tak melanjuti ucapan nya karena melihat Reza yang tergesa masuk ke kamar Rani.


Brrraaaaakkkk..


Pintu di dobrak paksa oleh Reza. Lengang. Tak ada Rani di dalam nya. Reza celingukan mencari Rani, tapi tak jua ia temukan.


Saat ingin berbalik kearah kamar mandi, Reza melihat sebuah kertas putih menempel di kaca rias kamar Rani.


Reza mendekati itu dengan perasaan was-was. Ia mengambil kertas itu dan membukanya.


Aku pergi Bang Reza!


Selamat menempuh hidup baru, semoga sakinah mawadah warohmah!


Jangan pikirkan dimana keberadaan ku, karena aku pergi untuk mencari tempat di mana aku di terima dengan tulus.


Sekali lagi selamat menempuh hidup baru. Jangan pikirkan tentang wasiat Ayah Alam. Sejak Abang memilih menikah dengan wanita lain, wasiat itu batal!


Terimakasih, karena selama ini telah menjagaku. Sekali lagi, terimakasih dan selamat menempuh hidup baru.


Aku pergi!


Aisyahrani.


Reza meremas surat itu hingga hancur lebur. Seperti hatinya yang sekarang ini hancur dan kecewa karena kelakuan Rani.


Reza meluapkan semua amarah nya pada semua barang-barang Rani.


''Aaaakkhhtt... tega kamu Raniiiiii!!! Aaaakkkhhhh...'' pekik Reza dengan melempar semua barang milik Rani yang ia beli tapi tak satu pun dibawa oleh nya.


Pak Rahmat dan Bu Ani yang melihat Reza mengamuk berlarian menuju kamar yang ditempati Rani.


''Astaghfirullah! Aden! Istighfar!!'' tegur Pak Rahmat.


Reza menangis. ''Rani pergi Pak! Semua ini gara-gara Mama! Aku benci kedua orang itu, yang telah memaksa ku menikahi gadis lain! Aku benci Pak! Aaaakkkhhhh...'' pekik Reza lagi.


''Sabar Den.. semua ini takdir! Ingat tujuan Aden apa datang kesini! Aden ingin membawa Rani kembali kan?''


''Hiks.. Rani pergi Pak.. aku harus apa?? Jika Rani pergi dariku, apa artinya semua ini?? Aku kecewa Pak.. aku kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa menolak keinginan Mama...'' lirih Reza dengan sesegukan.


Ia menundukkan kepalanya keatas lutut. Pak Rahmat hanya bisa mengusap kepala itu dengan lembut.


Ia masih mengingat bagaimana Reza menolak ketika dinikahkan dengan putri sahabat kedua orang tuanya.


Flashback


''Halo, Ya ada apa??''


''Pulang sekarang! Atau Mama mu akan mati!'' ancam seseorang dibalik telpon itu.


''Tidak! Aku betah tinggal disini!''


Reza membulatkan matanya. ''Jangan lakukan apapun pada ibu ku!!'' sentak Reza.


Seseorang disana, terkekeh. ''Pulang atau Wanita gila itu Mati!!'' ancam nya lagi.


Reza menutup sambungan telpon itu dengan kasar. Dengan cepat ia memesan tiket untuk pulang ke Bogor hari itu juga.


Dengan membawa serta Pak Rahmat dan Bu Ani sebagai mata-mata nya selama ia di sana. Reza pergi tanpa pamit pada Rani.


Padahal saat itu Rani sedang rapuh karena ia telah mengetahui isi surat wasiat Ayah Alam. Reza tidak sempat pamit dengan Rani.


Saking terburu-buru nya ia melupakan keadaan Rani. Karena harus menyelamatkan seorang wanita paruh baya disana.


Reza tiba disana sudah malam hari. Saat Reza tiba di kediaman keluarga Rustamsyah, Mama dan Papa nya sudah menunggu Reza disana.


Dengan seorang gadis dan juga sepasang paruh baya yang sedang menatap nya dengan mata berbinar.


''Akhirnya kamu pulang juga Nak..'' sapa seorang wanita paruh baya dengan senyum lebar di bibir nya.


Sedangkan Reza menatap datar pada keempat orang itu.


''Duduk!'' titah Papa Rustam.


Reza menurut, dan itu membuat senyum smirk timbul dari bibir wanita tua itu.


''Kau harus menikahi Karin malam ini juga! Fatih tidak bisa menggantikan nya. Karena ia sedang sakit saat ini. Dan bukankah, Fatih sedang bersama mu Reza??'' tanya Papa Rustam dengan sedikit senyum tipis di bibirnya.


Mama Nia tersenyum sinis melihat Reza. ''Bagaimana dia bisa tau Pa? Orang dia nya sibuk dengan gadis dari wanita gila itu?!'' ketus Mama Nia.


''Dengar Reza, kau harus menikahi Karin malam ini juga! Jika ingin wanita gila itu selamat dari kami berdua!'' tegas Papa Rustam.


Reza menatap datar pada kedua orang tuanya. Juga seorang gadis di sebelah nya. Gadis itu tak kalah cantik dari Rani.


Ia juga berhijab sama seperti Rani. Ia berprofesi sebagai dokter. Karena itulah Mama Nia sangat ingin bermenantukan Karin.


Padahal Karin sudah tau seperti apa hubungan antara Reza dan Rani saat ini. Tapi demi menuruti kedua orang tuanya, Karin mengalah.


Ia terpaksa menerima Reza sebagai suaminya. ''Kami menginginkan penerus untuk kerajaan bisnis kami Reza. Dan itu hanya kamu yang bisa!'' ucap Papa Rustam.


Reza tersenyum sinis. ''Kerajaaan bisnis yang mana yang kalian maksud? Kerajaan bisnis milik Ayah alam yang klaim rampas dua puluh tahun yang lalu??''


''Reza!!! Jaga bicara mu!!''


''Kenapa?? Papa takut jika aku membongkar semuanya disini??'' Sahut Reza lagi.


''Sampai kapan pun harta ini milikku!'' tegas Papa Rustam.


''Lakukan apapun yang ingin Papa lakukan, tapi ahli waris yang asli masih hidup! Kalian tidak berhak sama sekali dengan harta kedua orang tua Rani!!'' seru Reza dengan dingin.


Membuat dokter Harun menghela nafasnya. ''Nak.. kami datang kemari karena ingin menikahkan kalian berdua. Kamu dan Karin anak saya. Karena ini adalah perjanjian sejak dulu. Bisakan?''


''Cih! Demi memenuhi janji kalian aku yang yang menanggung nya!''


Deg.


Karin menoleh pada Reza dengan raut wajah datar. Ternyata Reza pun sama. Ia pun menolak untuk menikah dengan Karin.


''Menikah? Atau ibumu itu....''


''Jangan!! Baik! Akan saya lakukan!''


💕


Hehehe.. bolong lagi ya? 😄😄


TBC