Janda Kembang

Janda Kembang
Pulang ke Medan


Reza dan Rani saat ini sudah berada di rumah sakit. Rani sedang ditangani oleh tim medis untuk mengeluarkan dua peluru di tangan dan kakinya.


Sementara Reza, pemuda itu saat ini sedang ditangani oleh seorang dokter. Luka di kepalanya tidak parah.


Hanya tergores sedikit saja. Namun, karena itu kepala maka terlalu banyak mengeluarkan darah. Dan harus dijahit tiga jahitan.


Setelah Operasi pengangkatan peluru di kaki dan tangan Rani, saat ini Rani dan Reza di satukan dalam ruangan yang sama.


Pama Ali dan Karin dengan setia menunggui mereka. Sementara Fatih, harus mengikuti jalan nya kasus kedua orang tuanya di kantor polisi.


Papa Rustam dan Mama Nia mengakui semua yang polisi tuduhkan pada mereka. Mereka berkata jujur hingga membuat para polisi tersenyum senang, karena para tersangka tidak lagi memberatkan mereka untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.


Namun mereka tetap harus di tahan, sesuai dengan tuduhan yang di layangkan kepada mereka berdua.


Hari demi hari, Fatih terus mengikuti perkembangan kasus itu hingga sebulan lamanya.


Mereka di jatuhi hukuman sepuluh tahun penjara karena mereka mengakui semua yang mereka melakukan itu adalah benar. Tanpa mengelak sedikit pun.


Pihak hakim pun memutuskan untuk mengurangi Mada tahanan Mama Nia dan Papa Rustam, karena pengakuan mereka berdua.


Akhirnya Fatih bisa bernafas dengan lega saat ini. Ia harus segera kembali ke Medan untuk meneruskan usahanya yang ia rintis bersama Reza.


Begitu juga dengan Reza dan Rani. Saat ini mereka sudah sembuh. Sempat terjadi pendarahan di otak, tapi Alhamdulillah nya Reza terselamatkan.


Masa penyembuhan Rani sudah usai. Saat ini ia sedang bersama ibu Saras. Sejak kejadian dimana Rani tertembak, ibu Saras sudah mulai sehat.


Rani sangat bersyukur akan hal itu. Dan hari ini, mereka semua akan pulang ke Medan. Segala syarat menyurat, sudah di selesaikan.


Hanya menunggu keberangkatan saja. ''Bu.. istirahat dulu. Masih ada setengah jam lagi untuk kita berangkat.'' ucap Rani, berusaha menuntun ibu Saras untuk duduk.


''Ibu tak apa, Nak. Mana Abang mu? Sedari tadi ibu tidak melihatnya?'' tanya ibu Saras.


Ia celingukan mencari Reza. ''Ibu ih! Rani ada disini kok malah Abang duh dicari? Nggak asik ah! Selalu saja Abang yang dicari!'' gerutu Rani. Ia memanyunkan bibirnya.


Melihat itu Reza terkekeh geli. Ternyata Reza memang sudah ada disamping mereka. Nun kedua orang itu tidak sadar.


''Haishh.. ni anak ya! Ibu tuh nanya, karena sedari tadi ibu tak melihatnya! Dia janji ingin pergi ke toilet? Tapi mana? Kok sudah satu jam pergi tapi nggak balik-balik!'' sungut ibu Saras.


Sekarang gantian ibu Saras yang merengut. ''Cie.. cie.. yang lagi nungguin Abang.. uhuyyyyy.. asik ah! Dirindukan oleh dua bidadari surga?'' ledek Reza pada dua orang beda generasi itu.


Reza tertawa terbahak. Senang sekali membuat dua orang itu merengut dengan wajah masam seperti itu.


''Jangan merengut gitu ih! Jelek banget mukanya! Masa' mau jadi pengantin, tapi mukanya di tekuk begitu? Jelek ah! Abang nggak suka!''


Rani memutar bola mata malas. ''Habisnya Abang Suka banget ngeselin kami berdua!'' ketus Rani.


Lagi Reza tertawa. Sementara Paman Ali dan Bibi Kasmi, mereka hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah Rani dan Reza.


Begitu juga dengan kedua adik sepupunya. Sementara Karin dan Fatih, saat ini sedang meluruskan kaki.


Karena kehamilan Karin yang sudah masuk delapan bulan lebih, sangat membuat Karin kelelahan.


Mereka berdua tak peduli dengan pasangan Yanga akan me Ijah seminggu lagi itu. Semua persiapan sudah siap.


Hanya menunggu tinggal menunggu waktu saja. Tiga puluh menit berlalu, kini keluarga besar Alamsyah akan segera berangkat ke Medan.


Tempat dimana ayah Alam dimakamkan. Dan menjalani amanah terakhir Ayah Alam sebelum ia meninggal.


Bahwa Reza dan Rani harus tinggal di Medan bersama ibunya, beserta adik kandung Ayah Alam. Paman Ramliansyah.


Paman Ali tidak menolak. Ia justru begitu bahagia saat Rani dan Reza mengajak mereka untuk tinggal bersama di rumah besar keluarga Alamsyah.


Bertetanggaan dengan Keluarga besar Gilang Bhaskara. Dan saat ini, keluarga itu sedang menunggu kepulangan Gilang empat tahun lagi.


Untuk bisa menikahkan Alisa dan Gilang. Keluarga Bhaskara harus bersabar. Mengingat Gilang, Rani tersenyum tipis.


Ia sudah mengatakan kepada Gilang, Jika ia akan menikah dengan Reza Minggu depan. Respon Gilang sangat luar biasa. Ia begitu senang.


Bahkan ia mengatakan jika suatu saat nanti, jika Reza dan Rani memiliki anak, maka akan mereka jodohkan ketika sudah besar nanti.


''Semoga itu terwujud, Gilang. Mbak sangat menunggu hari itu tiba. Dan hubungan keluarga kita akan lebih kuat lagi.'' Bisik Rani dalam hati.


Saat ini mereka sidah berada didalam pesawat. Untuk pulang kembali ke kota Medan.


Untuk menjalani wasiat terakhir ayah Alam dan menu aikn janji ibu Saras. Yaitu menikahkan Reza dan Rani seperti keinginan Almarhum Ayah Alam.