
Sebelum Kalila pergi jauh dari Cafe yang mereka datangi, Abraham pun langsung bergegas menyusul Kalila.
Namun sebelumnya, Abraham meninggalkan beberapa lembar uang terlebih dahulu di atas meja, untuk membayar makanan serta minuman yang tadi sudah mereka pesan.
" Kalila tunggu!! ," cegah Abraham sambil mencengkeram pergelangan tangan Kalila.
" Ada apa Kak,? jangan seperti ini terus, jangan memberikanku harapan yang tiada ujungnya ," kata Kalila.
" Apakah Bapak kamu sekarang ada di rumah?? ," tanya Abraham.
" Entahlah, Kalila tidak tahu ," jawab Kalila.
" Coba telepon sekarang ," kata Abraham.
" Untuk apa Kak?? ," tanya Kalila.
" Sudah telepon saja!! ," jawab Abraham.
Kalila pun menurut, dia langsung saja menelpon ke nomor telepon sang Bapak.
" Halo Kalila ," kata Pak Hazin.
" Halo, Assalamu'alaikum Pak ," salam Kalila.
" Wa'alaikumussalam, ada apa Kalila? ," tanya Pak Hazin.
" Apakah Bapak ada di rumah sekarang?? ," tanya Kalila.
" Bapak ada di rumah, ada apa? ," jawab Pak Hazin.
" Oh, baiklah, tidak apa-apa ko Pak ," jawab Kalila.
" Kalau begitu, Kalila tutup dulu teleponnya ya Pak, Assalamu'alaikum ," kata Kalila.
" Iya, wa'alaikumussalam ," jawab Pak Hazin.
Kalila pun langsung saja menyampaikannya kepada Abraham, jika sang Bapak ada di rumah sekarang.
" Baiklah, ayo, Kakak akan ke rumah kamu sekarang juga, tidak perlu menunggu nanti malam ," kata Abraham.
" Apakah Kakak serius?? ," tanya Kalila.
" Iya, Kakak serius ," jawab Abraham.
" Baiklah, ayo Kak ," jawab Kalila, dan mereka lalu masuk ke dalam mobil milik mereka sendiri-sendiri.
Abraham terus mengikuti mobil milik Kalila dari belakang, dan tidak terlalu lama diperjalanan, akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah Kalila.
" Ayo Kak, silahkan masuk ," kata Kalila, dan Abraham hanya mengangguk saja.
Sebenarnya, selama diperjalanan tadi, jantung Abraham sudah tidak bisa dikondisikan, jantungnya berdebar dengan sangat kencang sekali. Dan ketika sudah sampai seperti saat ini, semakin berdebar saja jantungnya, seakan mau meletus, karena terlalu cepat debarannya.
Padahal, ini bukan kali pertama untuk Abraham bertemu dengan Pak Hazin, hanya saja pertemuan kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya.
" Assalamu'alaikum ," salam Kalila ketika masuk ke dalam rumah.
" Wa'alaikumussalam ," kebetulan yang menjawab salam adalah Pak Hazin sendiri.
Melihat Pak Hazin ke luar rumah, membuat Abraham reflek jadi gemetaran sendiri.
Begitupula dengan Pak Hazin yang sedikit terkejut melihat kedatangan Abraham bersama Kalila.
" Pak, Kak Abraham ingin bertemu dengan Bapak ," kata Kalila.
" Oh, ya, kamu masuk Kalila ," kata Pak Hazin.
" Baik Pak ," jawab Kalila.
" Nak Abraham, silahkan duduk ," kata Pak Hazin.
Kalila langsung saja masuk ke dalam rumah, membiarkan Abraham dan sang Bapak saling berbicara empat mata saja.
Abraham dan Pak Hazin saat ini sudah duduk berseberangan, dengan Abraham yang sedang mengumpulkan keberanian.
" Ada apa Nak Abraham,? apa yang ingin Nak Abraham sampaikan kepada Bapak?? ," tanya Pak Hazin.
" Bismillah ," kata Abraham sambil menarik nafasnya cukup panjang.
" Saya memang mencintai anak Bapak, tapi sampai sekarang, saya belum berani mengatakannya ," kata Abraham.
" Katakanlah saya pengecut Pak, karena saya merasa belum pantas bersama Kalila ," kata Abraham lagi.
" Dulu saya ingin menunggu Kalila cukup umur dulu, tapi karena kelamaan bersama seperti ini tanpa status, hingga membuat saya lupa, jika status itu penting ," kata Abraham.
" Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang Nak?? ," tanya Pak Hazin.
" Kita sudah sama-sama dewasa, bahkan umur Kalila juga sudah matang untuk menikah, ijinkan saya meminang putri Bapak, untuk saya jadikan seorang istri dan ibu dari anak-anak saya kelak Pak ," jawab Abraham.
Pak Hazin tersenyum mendengar perkataan mantap dari Abraham, dan feeling nya mengatakan jika selama ini Abraham, laki-laki yang baik, tidaklah salah.
Karena tadi pagi, dia baru saja memberikan ultimatum kepada Kalila, tapi siang harinya Abraham sudah berani datang menemuinya.
Kalila sendiri yang sedang berada di dalam kamarnya, merasa takut dan juga penasaran, sebenarnya apa yang ingin Abraham dan sang Bapak bicarakan.
Tapi Kalila tidak berani menguping, karena jika ketahuan sang Bapak, pasti dia akan dimarahi.
" Jika kamu serius, besok datanglah bersama ke dua orang tua kamu, dan juga Keluarga kamu untuk melamar anak Bapak secara resmi, apakah kamu sanggup Abraham?? ," tanya Pak Hazin.
" Sanggup, insyaallah, saya sanggup Pak ," jawab mantap dari Abraham.
" Bagus ," kata Pak Hazin.
" Jangan kamu kasih tahu dulu kepada Kalila tentang pembicaraan ini, apa kamu mengerti Nak?? ," kata Pak Hazin.
" Mengerti Pak ," jawab Abraham.
" Sekarang pulanglah, segera persiapkan, apa yang seharusnya kamu persiapkan untuk melamar putri Bapak ," kata Pak Hazin.
" Baik Pak, terimakasih atas semuanya ," jawab Abraham dan Pak Hazin hanya mengangguk saja.
" Kalau begitu, Abraham pamit dulu, assalamu'alaikum ," pamit Abraham.
" Iya, wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan ," jawab Pak Hazin.
Abraham pun lalu ke luar dari dalam rumah dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Setelahnya, Abraham langsung mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah, dan menemui ke dua orang tuanya, untuk menyampaikan maksud baik yang sedang dia rancang dengan Pak Hazin tadi.
Sedangkan Kalila yang mendengar bunyi mesin mobil ke luar dari pekarangan rumahnya, dia pun langsung segera ke luar kamar untuk melihat ke ruang tamu.
" Kak Abraham sudah pulang Pak?? ," tanya Kalila.
" Sudah, tadi ," jawab Pak Hazin.
" Siapkan dirimu untuk besok, karena besok ada laki-laki pilihan Bapak yang ingin melamarmu ," kata Pak Hazin kepada Kalila.
Kalila sangat terkejut sekali, karena dia pikir, Abraham datang menemui Bapaknya ingin memintanya kepada sang Bapak, tapi kenapa sekarang menjadi lain ceritanya.
" Ta-tapi Pak, Kalila tidak mau dengan laki-laki lain, Kalila maunya sama Kak Abraham ," kata Kalila.
" Tidak ada tapi-tapian, sudah menurutlah apa kata Bapak, Kalila, jadilah anak yang baik ," jawab Pak Hazin.
Pak Hazin pun lalu masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya ke dalam kamar dan meninggalkan Kalila yang sedang terbengong sendiri.
Kalila langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk menelpon Abraham, tapi sebanyak Kalila menelpon, satu pun tidak ada yang diangkat oleh Abraham.
" Kak, tolong angkat dong, beri kejelasan kepada Kalila, kenapa semuanya menjadi seperti ini ," kata Kalila sambil menangis.
Sedangkan di seberang sana, Abraham yang masih berada di dalam mobil pun juga berbicara sendiri.
" Maafkan aku Kalila, ini semua rencana dari Bapak kamu ," kata Abraham.
Akhirnya, setelah beberapa menit diperjalanan, Abraham sampai juga di rumah sang Ayah.
Dia langsung bergegas ke luar dari dalam mobil untuk segera menemui ke dua orang tuanya, sebab jika tidak sekarang, kapan lagi coba, dia akan mengutarakannya.
Mama Dami sedikit terkejut, ketika Abraham bertanya kepadanya di mana sang Ayah berada, karena katanya ada hal penting yang ingin disampaikannya.
Hal itu membuat Mama Dami menjadi sangat penasaran sekali, sebenarnya apa yang ingin Abraham sampaikan kepada mereka.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...