
Tidak cuma Akmal saja yang merasa terkejut. Abi Rasyid dan umma Nada pun sama halnya seperti Cyra.
Mata Akmal melotot seperti akan ke luar dari tempatnya. Dan wajahnya terlihat memerah karena memendam keterkejutan dan juga amarah.
Abi Rasyid langsung berdiri dari duduknya untuk menyapa Akmal.
"Nak Akmal. Ayo silahkan duduk."
"I-iya Kak. Ayo duduk dulu." Cyra malah terlihat gugup berbicaranya.
Tanpa banyak berbicara. Akmal langsung duduk di sofa single tidak jauh dari laki-laki berpakaian polisi tersebut.
"Apakah mau langsung? Kalau begitu Cyra ambil tas dulu ya Kak."
Cyra jadi salah tingkah melihat keterbungkaman Akmal dengan tatapan dingin nan menusuk.
"Tidak perlu. Selesaikanlah dulu urusanmu bersama dia, Cyra. Karena Kakak tidak mau ada sesuatu yang tertinggal selama kita pergi."
Suara Akmal terdengar dingin, tenang dan juga dalam sekali dengan tatapannya yang tajam.
"Maaf. Laki-laki ini siapa ya Om Rasyid?"
Laki-laki berseragam polisi itu bertanya sambil menunjuk sopan ke arah Akmal.
Abi Rasyid bingung mau menjawab bagaimana pertanyaan dari pemuda tersebut.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, Tuan." Abi Rasyid merasa sedikit lega. Tapi tidak bagi Cyra.
"Sudah! Lanjutkanlah saja apa yang tadi menjadi perbincangan kalian. Saya tidak akan ikut campur." Seperti tidak bergerak sama sekali mulutnya ketika Akmal berbicara.
Justru Cyra lebih takut dengan Akmal yang bersikap seperti saat ini dibandingkan dengan melihat amarahnya kemarin.
"Baiklah! Terimakasih atas waktunya, Tuan." Akmal cuma mengangguk saja menanggapinya.
Setelah itu. Laki-laki berseragam polisi tersebut langsung mengutarakan niatnya lagi untuk apa datang ke rumah abi Rasyid.
"Sekali lagi akan Kakak ucapkan Cyra. Apakah kamu mau menjadi istriku dan menerima lamaranku ini?" Cyra malah mengalihkan pandangannya ke arah Akmal yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan diam menusuk.
Abi Rasyid sudah terbiasa melihat dan menerima, bahkan menolak lamaran dari para laki-laki yang ingin melamar Cyra. Tapi entah kenapa? Sekarang karena ada Akmal juga di rumahnya. Abi Rasyid merasa ingin segera berakhir saja situasi saat ini.
"Emm! Sebelumnya maafkan Cyra, Kak Zamra. Cyra belum bisa menerima lamaran Kakak." Cyra berbicara dengan sangat serius sekali.
"Boleh Kakak tahu? Apa yang membuatmu menolak lamaran Kakak, Cyra?"
"Apa karena Tuan ini? Karena kamu daritadi terus melihat ke arahnya?" pemuda itu menunjuk Akmal dengan ke lima jarinya.
Cyra mengangguk pelan. Dan anggukan kepalanya itu sudah membuat sang pemuda tersebut tahu betul apa artinya.
"Baiklah? Saya mengerti Cyra. Kalau begitu Kakak pamit undur diri. Semoga kalian langgeng dan dilancarkan sampai ke hari pernikahan." Akmal lagi-lagi cuma mengangguk saja.
Sesama laki-laki pasti dia sudah tahu. Dari tatapan Akmal saja sudah terlihat sekali bagaimana kedudukannya bagi Cyra saat ini. Dengan berlapang dada. Pemuda itu menerima keputusannya Cyra.
Setelahnya. Laki-laki itu berpamitan pulang kepada Cyra dan yang lainnya. Dan tinggallah Akmal saja saat ini.
"Cyra mau mengambil tas dulu sebentar." Akmal hanya mengangguk saja. Dan Cyra bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Tidak ada perbincangan sama sekali antara abi Rasyid, umma Nada dan juga Akmal. Karena mereka malah terkesan canggung. Terutama Akmal yang enggan mengeluarkan sepatah katapun kepada mereka berdua.
Ketika Cyra sudah mengambil tas miliknya. Mereka berdua langsung bergegas menuju ke rumah sakit tempat Misha baru saja melahirkan putra pertamanya.
Di dalam mobil. Cyra dan Akmal tidak terlibat perbincangan sama sekali. Ingin sekali Cyra menjelaskan kepada Akmal. Tapi lidahnya terasa kelu karena tidak tahu harus memulai dari mana. Terlebih lagi tatapan Akmal masih terlihat tajam sekali.
Sudah hening beberapa saat lamanya. Tiba-tiba Akmal mengucapkan sesuatu.
"Dia tadi siapa Cyra?"
"Eh!"
"Apakah baru kali ini kamu dilamar laki-laki lain selain Kakak?" Akmal bertanya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Cyra.
"Ti-tidak Kak," Cyra menjawab dengan ragu-ragu. Takut jika Akmal cemburu dan tersinggung.
Mendengar jawabannya Cyra. Akmal langsung mengalihkan pandangannya ke arah Cyra sambil mengerem mendadak.
"Emm! Maaf." Akmal langsung menjalankan mesin mobilnya lagi ketika sudah membuat Cyra terkejut tadi.
"Maksudnya tidak! Apa Cyra?" Akmal sangat ingin tahu sekali.
"Sebenarnya. Sebelum Kak Akmal melamar Cyra. Sudah ada dua laki-laki yang melamar Cyra terlebih dahulu. Dan setelah Kak Akmal melamar Cyra. Ada sekitar delapan laki-laki yang silih berganti datang ke rumah untuk melamar Cyra." Cyra menjelaskan dengan kepala menunduk dan suara sangat pelan sekali.
Entah kenapa Cyra merasa takut dengan Akmal yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya.
Sebenarnya Cyra tidak ingin bercerita masalah itu kepada Akmal. Tapi? Karena Akmal sudah tahu sendiri tadi. Mau tidak mau Cyra akhirnya menjawab jujur kepada Akmal.
Akmal benar-benar sangat terkejut sekali. Dia kira dirinya yang sudah tidak mempunyai saingan. Tapi tidak tahunya?
"Ke sepuluh laki-laki itu siapa saja Cyra?"
"Ada yang dari anak temannya abi. Kerabat jauh. Dan anak dari temannya umma," jawab Cyra.
"Apa pekerjaan mereka semua?" Seakan ingin tahu lebih jelas lagi.
"Ada yang polisi ... "
"Zamra tadi?" Cyra langsung mengangguk.
"Dokter, pengacara, ustadz pemilik pondok pesantren, CEO, general manager, pengusaha batu bara dan yang satunya seorang masinis."
Ada rasa di dalam dada yang tidak bisa Akmal jelaskan. Ketika dirinya mendengar jabatan dari para pesaingnya.
Akmal merasa masih kalah jauh dari mereka semua. Sebab dirinya cuma seorang Dosen di sebuah Universitas saja.
"Ehem!" tenggorokan Akmal seakan tercekat dan juga kering.
Sedangkan Cyra terus menunduk menutupi kegugupannya yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Tidak ada perbincangan lagi setelah itu. Hingga akhirnya, mobil yang Akmal kendarai sampai juga di rumah sakit tempat Misha baru saja melahirkan.
Kedatangan Akmal dan Cyra langsung disambut hangat oleh keluarga Hamzah dan juga Misha.
Misha sangat senang sekali melihat kedatangan Cyra yang ingin menjenguknya.
"Masyaallah sangat tampan sekali anak kamu Misha." Misha tersenyum bahagia sekali.
"Siapa namanya Hamzah? Apakah kamu sudah memberikannya nama?"
"Namanya Abbiyya, Nak Akmal." Bukan Hamzah yang menjawab. Melainkan ayahnya Hamzah.
"Abbiyya Gaffar Kaysan." Hamzah langsung menambahkan.
"Kalau tidak salah artinya anak laki-laki yang berani, berhati lembut dan juga bijaksana ya kan Kak?" Cyra mencoba mengartikannya.
"Wah! Betul sekali Cyra. Masyaallah." Cyra tersenyum malu karena disoraki bahagia dari semua orang yang ada di situ.
Mereka lalu berbincang santai dan mengobrol bersama keluarga Hamzah dan juga Misha.
Akmal dan Cyra sejenak melupakan masalah hati yang baru saja mereka rasakan karena lamaran dari Zamra tadi. Dan ketika dirasa waktunya sudah malam. Akmal lalu mengajak Cyra untuk kembali pulang ke rumah.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...