IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
PATAH HATI


Ketika Cyra dan Mirza sedang asik berfoto ria berdua saja sebagai kenang-kenangan, Abi Rasyid mencoba bertanya kepada Ayah Rafiq.


" Mas Rafiq, bukankah adiknya Nak Mirza juga mengajar di sini?? ," tanya Abi Rasyid.


" Siapa namanya,? lupa saya ," kata Abi Rasyid lagi.


" Akmal ," jawab Ayah Rafiq.


" Iya Nak Akmal, bukankah dia seorang Dosen di kampus ini?? ," tanya Abi Rasyid lagi.


" Iya, anak saya yang satu itu memang Dosen di sini, hanya saja sekarang dia sedang mengajukan cuti dan baru saja berangkat tadi pagi ke luar kota, katanya mau merilaxkan otak ," jawab Ayah Rafiq.


Padahal kenyataannya, saat ini Akmal yang sudah sampai di hotel tempatnya menginap, bukannya rilax tuh otak, malah terus keingat dan terbayang-bayang wajah Cyra.


Abi Rasyid tertawa pelan mendengar jawaban dari Ayah Rafiq.


" Bisa jadi dia ingin sekalian mencari calon istri Mas ," jawab Abi Rasyid.


" Kamu bisa saja Rasyid, tapi jika iya, ya alhamdulillah, karena dia juga sama seperti Mirza, sangat susah sekali jika disuruh untuk mencari pendamping, padahal dari segi umur dan penghasilan mereka sudah mapan dan juga matang ," kata Ayah Rafiq.


" Mungkin mereka belum menemukan jodohnya yang pas ," kata Abi Rasyid.


" Bisa jadi, dan saya sebenarnya sudah tidak sabar ingin melihat mereka berdua bersanding di pelaminan ," jawab Ayah Rafiq sambil menatap Cyra dan Mirza yang sedang tertawa senang bersama yang lainnya.


" Iya, semoga Nak Mirza bisa membimbing Cyra sampai ke surganya Allah ," jawab Abi Rasyid.


" Aamiin ," jawab Ayah Rafiq.


Singkat cerita selesai berfoto-foto ria, Keluarga Abi Rasyid mengajak sang calon besan dan calon menantunya yaitu Mirza, untuk menikmati makan bersama di sebuah restoran yang sudah ia pesan.


Mereka semua sangat bahagia dan juga gembira, karena itu artinya pernikahan Mirza dan Cyra tinggal menghitung hari lagi.


Cyra yang daritadi sibuk dengan ponselnya, membuat Mirza yang duduk di sampingnya pun menjadi sangat penasaran sekali.


" Kamu sedang apa sih Cyra, daritadi asik sendiri dengan ponselnya?? ," tanya Mirza berbisik kepada Cyra.


" Sedang membalas pesan dari teman-teman Cyra, Kak, ini lihatlah ," jawab Cyra.


Cyra pun memperlihatkan ponselnya kepada Mirza, karena dia tidak mau ada yang ditutup-tutupi dari Mirza.


" Mereka mengucapkan selamat sekaligus bertanya siapakah laki-laki yang ada di samping Cyra ," kata Cyra sambil tertawa pelan.


" Ko mereka tahu, jika Kakak saat ini sedang duduk di sampingmu?? ," tanya Mirza.


" Bukan itu Kak, coba saja dilihat insta story Cyra ," jawab Cyra.


Mirza langsung melihat insta story Cyra melalui ponselnya dan ternyata Cyra memasang foto mereka berdua tadi, dengan wajah Mirza yang disembunyikan.


Tidak lupa juga Cyra menambahkan sebuah caption yang mana kata-katanya terdengar sangat manis sekali.


" Terimakasih ku ucapkan, karena kesetiaanmu membuahkan hasil untuk hubungan ini. Terimakasih juga sudah menungguku sejauh ini, dan insyaallah Till Jannah denganmu, dua minggu lagi "


Di akhir captionnya, Cyra juga menambahkan emoticon love dan senyum super manis sekali.


Mirza yang membaca caption milik Cyra, menjadi gemas sendiri, bahkan dia reflek langsung mengusap kepala Cyra yang tertutup hijab dengan lembut, seperti yang biasa dia lakukan jika bersama Cyra.


Dan Cyra pun juga tidak keberatan jika Mirza mengusap kepalanya seperti itu.


Sedangkan di seberang sana, lebih tepatnya di tempat Akmal sedang menghabiskan waktu berliburnya.


Saat ini Akmal sedang mengunjungi tempat wisata yang ada di kota itu, walau dia berada di keramaian, tapi hatinya terasa hampa sekali.


Mata memandang lurus ke depan menikmati panorama dan pemandangan yang membentang luas dihadapan mata.


Di saat Akmal sedang bersantai sambil menikmati kopi hangat khas daerah situ, sambil juga memainkan ponselnya, tidak sengaja dia melihat insta story milik Cyra yang memperlihatkan foto Cyra dan Mirza yang wajahnya sengaja di tutupi dengan gambar love.


Hati Akmal sakit melihat foto tersebut, dan semakin sakit lagi ketika Akmal membaca caption yang Cyra tujukan untuk laki-laki yang foto dengannya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mirza.


" Sepertinya dia laki-laki yang sudah melamar kamu Cyra, dan kamu bahagia dengan dia ," kata Akmal di dalam hatinya.


" Tapi hatiku tidak bahagia melihatmu dengannya ," kata batin Akmal lagi.


" Harusnya aku yang di sana dan bukan dia ," kata Akmal dengan lirih.


Tidak sadarkah Akmal, jika perkataanmu tadi seperti lirik lagunya Armada yang berjudul harusnya aku.


Kembali ke restoran lagi.


Mirza tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, yang ternyata itu sebuah gelang manis yang sengaja dia pesan khusus di pengrajin emas untuk dia berikan kepada Cyra, ketika Cyra sudah lulus kuliah seperti sekarang.


" Cyra ini untuk kamu ," kata Mirza.


" Apa ini Kak?? ," tanya Cyra merasa kebingungan menerima kotak kecil berwarna merah.


Semua mata sekarang sedang tertuju ke arah Cyra.


" Buka saja ," jawab Mirza.


Cyra langsung saja membukanya, dan dia langsung melihat sebuah gelang tangan yang sangat manis sekali.


" Cantik sekali Kak, simple dan ada nama Cyra juga di sini ," kata Cyra.


" Lihatlah tulisan di dalamnya ," kata Mirza.


" Ada nama Kakak di ukiran tulisan namamu ," kata Mirza lagi.


" Iya, pasti ini mahal sekali harganya ," kata Cyra.


" Tidak seberapa harganya jika untuk kamu Cyra ," jawaban manis dari Mirza.


" Pakaikan dong Mirza ," kata Mama Jian kepada Mirza.


Mirza langsung memakaikan gelang cantik tadi ke pergelangan tangan Cyra dan pas sekali sangat cocok dipakai oleh Cyra.


" Semakin cantik ketika sudah kamu pakai ," kata Mirza.


" Terimakasih Kak Mirza ," kata Cyra.


" Sama-sama ," jawab Mirza sambil tersenyum.


Mereka semua lalu merundingkan acara pernikahan Cyra dan Mirza yang akan berlangsung dua minggu lagi. Dan selama dua minggu ini mereka semua menjadi sibuk untuk mengurus ini dan itu semuanya, supaya bisa berjalan dengan lancar.


Tepat di hari ke tujuh, Akmal pun kembali pulang ke rumah sang Ayah, dan di rumah itu sudah cukup sibuk serta ramai orang yang akan membantu persiapan pernikahan sang Kakak yaitu Mirza.


Akmal ikut senang dengan pernikahan sang Kakak, karena itu artinya sang Kakak akan segera melepas masa lajangnya.


Kegiatan Akmal juga sudah kembali seperti semula, namun bedanya dia sudah tidak mengajar Cyra dan ke tiga temannya.


Membicarakan teman-teman Cyra, rencana pernikahan Misha dan Hamzah akan dilangsungkan dua bulan lagi.


Karena memang sudah menjadi kesepakatan dari dua belah pihak.


Sedangkan Abraham dan Kalila, mereka berdua belum ada komitmen yang pasti, sebab Kalila saat ini sedang merajuk kepada Abraham.


Abraham yang tidak jujur dari awal tentang siapa dirinya kepada Kalila akhirnya ketahuan juga, dan hal itu membuat Kalila sedang tidak mau bertemu dengan Abraham.


Kalila sudah marah dengan Abraham sejak tiga hari yang lalu, gara-gara ada saudara yang datang berkunjung ke rumahnya, dan Kalila disuruh untuk mengantarkan saudaranya itu untuk mengecek mobilnya di salah satu bengkel.


Eh tidak tahunya, bengkel tersebut milik Abraham, dan lebih memalukannya lagi, Kalila malah mengatakan jika pakaian Abraham terlalu bagus untuk membenarkan atau memperbaiki mobil.


Abraham sebenarnya merasa terkejut melihat kedatangan Kalila ke bengkelnya.


Mau menghindar pun tidak bisa, dia sudah terpojok, dan lebih parahnya lagi, salah satu pekerjanya malah menjawab perkataan dari Kalila.


" Mas Abraham ini bukan montir Mbak, dia yang punya bengkel ini ," begitulah perkataan dari salah satu pekerja bengkel Abraham kepada Kalila.


Kalila merasa dibohongi dan dia langsung marah kepada Abraham sejak saat ini.


Ingin sekali Abraham menjelaskan, namun Kalila sudah keburu pergi dari bengkelnya.


Kalila marah, bukannya dia malu jika Abraham menjadi seorang montir atau pekerja rendahan sekalipun.


Yang membuat Kalila kecewa, kenapa Abraham tidak jujur saja sejak awal, karena itu akan lebih enak dalam menjalin hubungan, entah persahabatan atau hubungan yang lebih lanjut lagi.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...