IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
HMM??


Merasa baby Zahwa sudah tidak banyak bergerak lagi. Akmal lalu memindahkan baby Zahwa ke box babynya yang ada di samping ranjang sebelah Cyra.


Cyra sangat kooperatif sekali dalam membantu Akmal memindahkan baby Zahwa ke dalam box babynya.


"Tidur yang nyenyak ya princess Abu," Akmal mencium pipi baby Zahwa dengan lembut.


Setelah itu Akmal kembali tidur dan memeluk Cyra dengan sangat erat sekali. Dan untuk pertama kalinya mereka tidur berada di bawah satu selimut yang sama.


"Kakak sangat bahagia sekali malam ini," Akmal mencium pucuk kepala Cyra dengan mesra.


"Iya. Cyra juga bahagia ko Kak. Terimakasih atas cinta yang selama ini Kakak berikan kepada Cyra," Cyra mendongak melihat ke wajah Akmal.


Akmal menundukkan sedikit kepalanya. Dan bibirnya bisa berada tepat di depan bibir Cyra.


Mata Akmal menatap lekat ke arah bibir pink soft itu. Perlahan dan perlahan Akmal mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Cyra. Hingga akhirnya bibir mereka bertemu dengan sangat sempurna sekali.


Akmal mencoba menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Cyra yang tidak asing dengan yang namanya berciuman. Dia mencoba membalas ciuman yang diberikan oleh Akmal kepadanya.


Akmal mencoba berganti posisi dengan berada di atas tubuh Cyra. Dengan kepala Cyra masih beralaskan lengan tangannya.


Cyra mengalungkan tangannya ke pundak Akmal dengan mesra. Dan mereka cukup lama berciuman mesra seperti itu.


"Ternyata ini maksud ucapanmu tadi ya?" Cyra mengangguk pelan.


Mata mereka beradu pandang dengan sangat dekat sekali. Bahkan hidung mereka berdua masih saling bersentuhan.


"Iya Abu. Karena Umi tahu bagaimana haasrat seorang laki-laki yang sudah bersama istrinya di atas ranjang," Akmal tersenyum mendengarnya.


"Inilah salah satu yang Abu suka dari seorang janda. Dia lebih berpengalaman," Cyra tertawa sambil mencubit pipi Akmal.


Akmal berpura-pura merajuk. "Aduh! Kenapa harus dicubit sih."


Cyra langsung mencium pipi Akmal dengan lembut. Namun Akmal malah memalingkan wajahnya hingga akhirnya bibir mereka bisa bersentuhan lagi.


Lagi-lagi mereka mengulangi berciuman itu dengan mesra. Akan tetapi baru beberapa detik. Cyra melepaskan ciuman mereka dan membuat Akmal sedikit kebingungan.


"Bukankah Abu merasakannya sendiri jika sudah keras?" Akmal tertawa tertahan mendengar ucapan Cyra, supaya tidak membangunkan baby Zahwa.


Akmal lalu berbaring di samping Cyra sambil menutupi perasaan malunya.


Cyra mendekat, lalu memeluknya dari samping. "Apakah mau lanjut?"


"Hah?" Akmal kebingungan. "Bukankah katanya tadi Umi sedang berhalangan?"


Cyra mengangguk sambil tersenyum. "Tapi Umi punya cara lain supaya tidak meninggalkan kewajiban Umi sebagai seorang istri."


"Bagaimana caranya?"


Akmal benar-benar tidak mengerti apa maksud ucapannya Cyra. Dan tiba-tiba Akmal dibuat sangat terkejut sekali dengan apa yang dilakukan oleh Cyra kepadanya malam ini.


Walau cuma seperti itu yang dilakukan oleh Cyra. Tetap saja ini pengalaman pertama bagi Akmal melakukan hal tersebut. Sungguh pengalaman yang membuat seluruh ototnya menegang dengan sempurna.


"Hah! Hah! Hah! Apa aku yang terlalu polos?" nafas Akmal tersengal-sengal ketika baru selesai berada di puncaknya.


"Bukan terlalu polos. Cuma belum berpengalaman," Cyra tersenyum sambil mengusap mulutnya.


"Umi ternyata liar juga."


Cyra tidak marah mendengar ucapan Akmal. Tapi dia malah tertawa tanpa suara.


"Abu suka. Abu pasti akan ketagihan melakukannya lagi. Sangat pintar sekali Istriku ini memanjakan suami." Akmal mencubit pipi Cyra dengan gemas.


Setelahnya, Akmal berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai bersih-bersih. Akmal langsung kembali ke atas ranjang dengan perasaan, otot dan pikiran yang terasa lega sekali.


Mereka kali ini benar-benar tidur dengan lelap sambil berpelukan di dalam satu selimut yang sama.


Tiba-tiba Cyra melihat pintu kamarnya terbuka dari luar. Ada cahaya putih yang menyilaukan mata sekali. Dan ketika sudah Cyra lihat ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar, yaitu Mirza.


Mirza tersenyum saja ketika disapa oleh Cyra. Dia tidak menghentikan langkah kakinya dan terus berjalan masuk ke dalam kamar. Cyra yang melihat langsung bergegas turun dari atas ranjang untuk mengejar Mirza.


"Kak Mirza! Tunggu!"


Mirza terus melangkah. Hingga tanpa Cyra sadari, dirinya sudah sampai di sebuah ladang yang sangat luas sekali.


"Kak Mirza!" teriak Cyra lagi. Dan akhirnya Mirza menghentikan langkah kakinya.


"Jangan mendekat!" Mirza menghentikan langkah kaki Cyra yang ingin mendekatinya.


Cyra merasa terkejut. "Kenapa?"


"Kamu sudah punya suami Cyra. Kamu sudah milik orang lain. Jangan menyentuh Kakak yang sudah tidak lagi menjadi milikmu. Dunia kita sudah berbeda."


"Tapi nama Kakak masih tersimpan rapi di dalam hati Cyra, Kak?" Cyra meneteskan air matanya.


Mirza tersenyum manis. "Kakak tahu itu."


"Jadilah istri yang berbakti kepada suamimu ya Cyra. Akmal adalah laki-laki yang baik. Kakak merasa tenang akhirnya kamu bisa menikah dengannya."


Cyra berderai air mata. "Bolehkah Cyra memeluk Kakak sekali saja?" Mirza menggelengkan kepalanya.


"Berbahagialah dengannya Cyra. Kakak menyayangimu."


Tiba-tiba Mirza ditelan cahaya putih lagi. Dan Cyra langsung terbangun dari tidurnya.


Cyra mengusap wajahnya dengan kasar. "Astaghfirullah."


"Ternyata cuma mimpi. Tapi apa arti mimpi tadi?"


Cyra lalu mengalihkan pandangannya ke arah Akmal yang sudah tidur sangat lelap sekali. Dirinya juga melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua malam.


"Lebih baik ku bangunkan kak Akmal saja untuk menunaikan sholat tahajud,"


Namun alangkah terkejutnya Cyra ketika dirinya memegang tangan Akmal. "Astaghfirullah panas sekali tubuh kak Akmal."


Cyra mencoba menyentuh dahi serta leher Akmal. Dan semuanya panas.


Cyra langsung mencoba membangunkan Akmal. "Kak! Badan Kakak panas sekali?" Cyra terlihat benar-benar sangat khawatir.


Akmal menjawab tanpa membuka matanya. "Ennghh! Tidak apa-apa Sayang. Ini sudah hal biasa jika Kakak sedang kecapekan."


Tapi Cyra tidak bisa berpangku tangan. Dirinya langsung bergegas turun dari atas ranjang untuk mengambil sesuatu yang bisa untuk mengompres Akmal.


Akmal tahu jika saat ini dirinya sedang dikompres oleh Cyra. Dirinya diam saja dan menikmati perhatian yang diberikan oleh Cyra kepadanya.


"Panas begini ko dikata biasa saja!" Akmal tersenyum tipis mendengar gerutuannya Cyra.


Akmal berkata di dalam hatinya. "Ya Allah terimakasih. Terimakasih atas nikmat yang Engkau berikan kepada hamba."


Setelah selesai mengompres Akmal. Cyra membesarkan suhu AC kamarnya supaya Akmal tidak merasa kedinginan.


Tidurnya malam ini tidak lelap. Karena Cyra sering terbangun untuk mengganti handuk yang untuk mengompres Akmal. Hingga tibalah waktu adzan subuh berkumandang.


Cyra membangunkan Akmal dengan pelan untuk mandi besar terlebih dahulu, sebelum menunaikan ibadah sholat subuh. Dengan langkah tertatih karena kepala terasa pusing. Akmal pun tetap melakukan kewajibannya sebagai umat islam.


Cyra yang melihat wajah Akmal sedikit pucat. Dia menyuruhnya untuk tidur lagi saja setelah selesai sholat subuh tadi.


Wajar saja sih jika Akmal sekarang sedang sakit. Karena sebelum hari pernikahan tiba. Dirinya benar-benar sibuk untuk menyiapkan ini dan itu.


Kalaupun bisa tidur. Tidurnya tidak bisa nyenyak, selalu kepikiran dengan rencananya tersebut. Jadi! Setelah acara selesai dan berjalan dengan lancar. Tubuh Akmal seakan merespon memberi signal kepadanya, untuk beristirahat setelah beberapa hari lamanya diajak bekerja berat plus pikiran tidak tenang.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...