
Malam harinya. Ketika jam makan malam tiba. Cyra yang sudah selesai memasak masakan kesukaan sang suami dan dirinya sendiri dibantu oleh para bibi. Cyra langsung bergegas menemui Akmal yang sedang bermain santai di ruang keluarga bersama baby Zahwa.
"Abu. Kita makan malam dulu yuk."
Akmal mengangguk saja. Dirinya lalu menggendong baby Zahwa dan berjalan bersama Cyra menuju ke ruang makan.
Pertama kali makan berdua di meja yang sama dengan status sudah menjadi pasangan halal dunia akhirat.
"Ini pasti masakan Umi, 'kan?"
"Masakan Umi selalu enak. Terimakasih sayang sudah memasakkan untuk Abu malam ini," Akmal mengusap mesra pipi Cyra yang tertutup niqab.
Cyra tersenyum dibalik niqabnya. "Sama-sama Abu. Maaf ya, jika nanti masakannya tidak enak."
"Walaupun tidak enak sekalipun. Abu akan tetap memakannya ko. Karena Umi sudah memasakkan ini semua dengan bersusah payah. Dan pasti dengan penuh cinta."
Cyra tersenyum senang sambil menggenggam tangan Akmal dengan erat di atas meja makan.
Cyra mengambilkan makanan untuk Akmal dengan penuh perhatian. Sikap Cyra yang perhatian sekali dengannya seperti saat ini. Tiba-tiba mengingatkan Akmal dengan sikapnya dulu di saat sang kakak masih hidup.
Akmal tersenyum sendiri di dalam diamnya. Karena dirinya masih tidak menyangka. Jika dirinyalah saat ini yang diperhatikan oleh Cyra. Dulu dia sering memendam perasaan cemburu dan berpikir jika dirinya tidak akan pernah bisa memiliki Cyra. Akan tetapi Tuhan mempunyai jalan dan takdir lain untuk dirinya.
Akmal sangat bahagia akhirnya bisa memiliki Cyra. Tapi bukan berarti dia bahagia atas meninggalnya sang kakak. Kebahagiaan Akmal berbeda artinya dengan kejadian ini semua. Dan semua orang yang mengerti bagaimana kisah cinta Akmal yang berikhtiar mempertahankan cintanya. Mereka pasti tahu bagaimana yang dirasakan oleh Akmal sekarang.
"Apa lagi yang ingin Abu makan?"
Ucapan Cyra sukses membuyarkan lamunan sesaatnya tadi. Akmal tersenyum. "Sudah cukup Umi. Umi makanlah saja. Nanti jika kurang, Abu akan mengambil sendiri."
Cyra mengangguk. "Baiklah."
Mereka menikmati makan malamnya dengan nikmat. Serta diselingi dengan perbincangan yang hangat antara mereka berdua, sambil memperhatikan baby Zahwa yang sedang asik bermain sendiri dengan mainannya.
"Besok Abu masih belum berangkat ke kampus 'kan?"
Akmal menggelengkan kepalanya. "Belum Umi. Abu ijin tiga hari untuk tidak mengajar. Tapi Abu selalu memantau tugas mereka dan memberikan tugas kepada mereka melalui asisten dosen."
"Emm! Abu. Bolehkah Umi bertanya lagi kepada Abu?"
"Tanyakanlah saja Sayang. Kenapa setiap kali bertanya, Umi seperti ketakutan begitu. Kenapa? Hmm! Abu 'kan nggak marah." Akmal menjawabnya dengan lembut sekali.
Dengan ragu-ragu, walau penasaran. Cyra akhirnya berani juga bertanya kepada Akmal. Apa yang menjadi beban pikirannya sejak kemarin. "Apakah Abu masih berhubungan dengan Nona Aalifa?"
Akmal sedikit terkejut ketika Cyra bertanya tentang Aalifa kepadanya. Padahal dirinya saja sudah lupa dengannya.
"Tidak! Abu sudah tidak lagi berhubungan dengannya. Bahkan sejak diusirnya dia sama mama di rumah sakit dulu. Abu sudah memblokir nomor teleponnya dan semua akun media sosialnya."
"Abu sendiri sejujurnya sudah lupa sama dia, Umi. Kenapa Umi bertanya seperti itu kepada Abu? Apa Umi masih tidak percaya sama Abu?"
Cyra langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak! Umi percaya ko sama Abu. Sudahlah lupakan saja."
Akmal menggenggam tangan Cyra untuk menenangkannya. "Tenanglah Umi. Secantik apapun wanita di luar sana. Insyaallah Abu tidak akan tergoda, jika cinta Abu masih didasari dengan nama Allah di dalam hati."
Cyra mengangguk mengerti dan mempercayakan semua hatinya kepada Akmal.
Kebersamaan Akmal dan Cyra selalu menjadi pemandangan yang menarik bagi para bibi pokoknya. Mereka daritadi mengintip Akmal dan Cyra yang sedang menikmati makan malam bersama.
"Pokoknya! Kalau melihat pak Akmal dan bu Cyra bersama. Hatiku rasanya adem sekali," ucap bi Lilis.
Bi Sukma yang mendengar dan melihat kelakuan dari ke dua temannya, lalu menegurnya. "Kalian ini! Kenapa suka sekali menguping dan mengintip pak Akmal dan bu Cyra sih! Walau mereka tidak akan marah kepada kalian. Tapi kalian harus tahu privasi seseorang dong. Jangan begini. Dosa!"
"Maaf Mbak Sukma," ucap bi Lilis dan bi Ripka secara bersamaan.
Selesai menikmati makan malam bersama. Cyra dan Akmal memutuskan untuk masuk ke dalam kamar saja. Sebab mereka masih ingin menikmati waktu bersama secara pribadi tanpa ada yang melihat.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mata Cyra tiba-tiba merasa sangat mengantuk sekali. Matanya lama kelamaan tertutup sendiri, ketika memperhatikan Akmal dan baby Zahwa yang sedang bercanda.
Akmal yang melihat Cyra sudah tertidur. Akhirnya dialah yang menggantikan posisi Cyra untuk menimang dan menidurkan baby Zahwa.
"Bobo yuk Sayang. Sudah malam. Lihat tuh! Umi saja sudah bobo." Akmal sambil menimang baby Zahwa ke dalam pelukannya.
Pelukan hangat khas seorang Ayah. Membuat baby Zahwa akhirnya tertidur juga dan wajahnya terlihat semakin menggemaskan sekali dengan pipi gembulnya itu.
Setelah Akmal menaruh baby Zahwa ke dalam box babynya. Tidak lupa Akmal langsung membacakan doa-doa dan alfatihah sebanyak tiga kali lalu dia tiupkan ke ubun-ubunnya baby Zahwa.
Sudah selesai dengan rutinitasnya itu. Akmal langsung ikut merebahkan badannya di samping Cyra. Lalu menyelimutinya dengan selimut yang sama dengannya. Sambil membawanya ke dalam pelukannya.
Pagi harinya. Akmal yang sedang berolahraga pagi dengan lari-lari cuma mengitari halaman rumah depan-belakang. Dia sedikit terkejut melihat Cyra yang berada di dalam garasi mobil.
Akmal menghentikan olahraga larinya dan memilih masuk ke dalam garasi.
"Eh Abu!" Cyra cukup terkejut melihat kedatangannya Akmal.
"Ada apa Sayang kamu melihat mobil ini terus? Mau mencobanya?" Akmal menunjuk mobil pemberiannya kemarin.
"Tapi Umi takut menabrak. Mobilnya paling mahal sendiri dibandingkan yang lain," jawab Cyra.
Di dalam garasi mobil rumah mereka. Setidaknya ada enam buah mobil yang terparkir rapi di sana. Dua mobil mewah peninggalan Mirza. Satu mobil milik Cyra pemberian abi Rasyid dulu waktu kuliah. Satu lagi mobil super mewah keluaran terbaru hadiah pernikahan dari Akmal kemarin untuk Cyra. Dan dua lagi mobil mewah pribadi milik Akmal.
"Sama saja ko seperti mobil pada umumnya. Cuma beberapa saja yang berbeda."
"Jika mau? Ayo Abu ajarin naik mobilnya. Kita keliling kompleks ini saja," Akmal mengambil kunci mobil yang tersimpan rapi di rak yang ada di situ.
Akmal memberikan kunci mobilnya kepada Cyra. "Coba nyalakan dulu mesinnya. Biar Abu keluarkan dulu salah satu mobil milik Abu. Supaya Umi bisa mengeluarkan mobilnya nanti."
Akmal pun langsung masuk ke dalam mobilnya untuk memberi jalan kepada mobil mewah milik Cyra. Sebab mobil yang berada paling luar adalah dua mobil milik Akmal.
Setelah mengeluarkan mobilnya. Akmal langsung masuk ke dalam mobil Cyra dan duduk di kursi penumpang. Sebab mobil itu cuma ada dua kursi saja. "Ayo jalan."
"Tapi Aiza bagaimana Abu?" tanya Cyra.
"Tidak apa-apa, biarkan dia sama bibi dulu. Kita cuma keliling kompleks ini saja ko. Ayo jalankan mesin mobilnya," jawab Akmal.
Cyra lalu mencoba memundurkan mobilnya. Dan baru kali ini Cyra menaiki mobil super mewah hingga membuat tangannya sedikit gemetaran takut menabrak atau salah pencet.
Lagi pula. Selain mobil. Akmal juga mempunyai tiga buah sepeda motor matic pribadi miliknya. Yang bisa digunakan oleh semua para pekerja rumahnya untuk pergi ke supermarket atau warung-warung terdekat.
Sengaja Akmal memfasilitasi itu semua untuk para pekerja rumahnya. Atau bila ada yang ingin pulang kampung dan dalam keadaan mendesak. Akmal mengijinkan motornya dibawa pulang sama pekerjanya.
Bila keadaannya membutuhkan mobil pun. Akmal siap membantu. Itulah yang sang ayah ajarkan kepadanya. Sebab para pekerja yang ada di rumah kita, mereka itu bukan budak. Tapi orang yang berjasa untuk membantu semua pekerjaan kita. Begitulah yang selalu diucapkan ayah Rafiq kepada mama Jian dan ke dua anaknya.
ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ
...***TBC***...