
Karena berhubung Gus Afnan dan Syahlaa belum makan malam. Sekalian ada Akmal dan Cyra. Gus Afnan dan Syahlaa mengajak mereka berdua untuk makan malam bersama di rumah mereka.
"Kita lanjutkan mengobrolnya nanti saja. Ayo Mal ajak istrimu juga. Kita makan malam dulu yuk!" Gus Afnan mencoba ramah kepada Akmal.
Akmal mengangguk. Mereka semua lalu berjalan menuju ke ruang makan yang ada di rumah mewah Gus Afnan. Akmal tahu jika Gus Afnan mempunyai anak sulung yang sudah besar yaitu Zarina. Akan tetapi malam ini Zarina tidak terlihat di dalam rumah itu. Hal itu membuat Akmal sedikit penasaran.
"Ini si Zarina ko tidak kelihatan di sini? Apa dia sedang ikut sama Papinya?"
Syahlaa mengangguk. "Iya Mas Akmal. Zarina sedang ikut sama Papinya di Prancis.
"Maaf Ning Syahlaa. Emm! Apa Ning Syahlaa dulunya orang Prancis ya?" akhirnya Cyra berani bertanya juga setelah daritadi memendam rasa penasaran.
"Mas Akmal ini belum cerita ya sama Mbak?" Cyra refleks menggelengkan kepalanya.
Dengan tersenyum, Syahlaa menjawabnya. "Saya ini mu'alaf Mbak. Dan saya memang asli Prancis. Tapi sekarang sudah menetap di sini."
Cyra cuma mengangguk saja. Dirinya tidak berani banyak bertanya kepada Syahlaa. Walau sebenarnya banyak hal yang ingin dia tanyakan kepadanya.
"Sudah yuk! Di makan dulu makanannya. Nanti keburu dingin, 'kan jadi tidak enak," ucap Gus Afnan.
Mereka lalu menikmati makan malam dengan khidmat dan juga tenang. Sambil di selingi dengan ocehan lucu dari baby Chafia dan baby Zahwa. Sedangkan anak Gus Afnan yang nomor dua, yaitu Aara sudah cukup besar umurnya.
Senyum dari para orang tua tercetak jelas di wajah mereka masing-masing. Karena merasa gemas dengan tingkah ke dua baby yang ada di tengah-tengah mereka.
Selesai menikmati makan malam bersama. Gus Afnan mengajak Akmal dan Cyra kembali ke ruang tamu lagi.
"Oh ya! Katanya kamu mau meminta tolong kepadaku, Mal? Apa itu?" tanya Gus Afnan.
Akmal lalu mengutarakan maksud dan niat tujuannya datang menemui Gus Afnan. Gus Afnan merasa senang dan bangga dengan niat Akmal yang ingin membangun panti asuhan serta penampungan untuk kaum dhuafa yang tidak punya tempat tinggal.
"Masyaallah," ucap Gus Afnan dan Syahlaa secara bersamaan.
"Niat kamu dan istri kamu sangat mulia sekali Mal. Aku bangga menjadi teman kamu." Akmal cuma tersenyum saja ketika dipuji oleh Gus Afnan.
"Jadi kapan rencananya kamu akan mendirikan bangunan itu?"
Akmal langsung menjawab pertanyaan tersebut. "Insyaallah secepatnya. Dan aku ingin mengambil semua barang-barang bangunan di toko milikmu."
"Siap! Aku sangat siap membantumu. Dan aku akan memberikan harga yang berbeda kepadamu. Hitung-hitung itu sedekahku juga untuk mereka."
"Nanti! Untuk urusan pembelian semua bahan-bahan bangunan. Biar diurus sama adik iparku saja. Kamu masih ingat Aaqil 'kan, Mal?" ucap Gus Afnan.
"Masih," jawab Akmal.
"Nanti kamu hubungi dia saja. Biar semuanya dia yang mengatur. Dan soal harga kamu tenang saja."
Akmal merasa senang sekali dengan ucapan Gus Afnan. "Alhamdulillah. Aku senang sekali mendengarnya."
"Oh ya Ayah. Apa Mas Akmal dan Mbak Cyra ini tidak Ayah ajak untuk menginap di sini saja? Lihatlah! Sekarang sudah jam sembilan lebih. Pasti akan sangat kemalaman sekali jika mereka pulang ke rumah," ucap Syahlaa.
"Mama benar. Kalian menginap di sini dulu ya? Pulangnya besok pagi saja. Perjalanan ke kota akan sangat lama sekali dari sini."
Akmal dan Cyra saling pandang. Mau menolak rasanya tidak enak. Tapi jika tidak di tolak. Perjalanan yang akan mereka tempuh memang cukup memakan waktu yang lumayan lama. Akhirnya. Akmal setuju saja ketika disuruh menginap malam ini di rumah Gus Afnan.
Keesokan harinya. Suara adzan subuh sudah berkumandang. Gus Afnan mengajak Akmal untuk segera menuju ke masjid yang ada di dalam pondok pesantren. Sedangkan Cyra dan Syahlaa menunaikan ibadah sholat subuh di dalam kamar mereka masing-masing.
"Eh! Ning Syahlaa! Sini! biar saya saja yang menyapu."
Syahlaa tentu saja menolaknya. "Eh! Jangan! Kamu di sini tamu Mbak Cyra. Biar saya saja. Sambil menunggu para mbak datang ke rumah."
Mbak yang dimaksud oleh Syahlaa adalah para pembantu yang membantu bersih-bersih atau memasak di rumahnya.
"Lalu baby Chafia dan Aara mana Ning?" tanya Cyra.
Sambil menyapu, Syahlaa menjawabnya. "Mereka masih pada tidur."
Percakapan mereka terhenti ketika mendengar salam dari Akmal dan Gus Afnan yang baru saja pulang dari masjid.
"Eh! Zahwa sudah bangun. Chafia sama Aara mana Mama? Belum pada bangun ya?" kata Gus Afnan.
Syahlaa menganggukkan kepalanya. "Iya! Masih pada tidur Ayah. Tuh! Di dalam kamar."
Gus Afnan lalu berpamitan masuk ke dalam kamar. Sedangkan Akmal memilih menemani Cyra dan baby Zahwa yang sedang duduk di ruang keluarga.
Sarapan pagi pun tiba. Saat ini Akmal, Cyra, Gus Afnan dan Syahlaa, sedang menikmati sarapan pagi bersama untuk pertama kalinya. Mereka menikmati sarapan bersama dengan tenang. Dan masih ditemani dengan kelucuan dari dua baby.
Selesai sarapan. Karena tidak mau nanti kesorean sampai rumahnya. Akmal dan Cyra berpamitan pulang kepada Gus Afnan dan Syahlaa saat itu juga.
Selama berada di rumah Gus Afnan. Cyra banyak bertanya tentang Pondok Pesantren milik Gus Afnan kepada Syahlaa. Dan sepertinya Cyra ada ketertarikan ingin memasukkan baby Zahwa ke Pondok Pesantren tersebut nantinya.
Selama perjalanan pulang. Cyra mencoba banyak bertanya kepada Akmal.
"Abu. Apakah Ning Syahlaa itu seorang janda?"
Akmal menggelengkan kepalanya. "Tidak!"
"Lalu? Jika Ning Syahlaa bukan seorang janda. Tapi katanya anak pertamanya sedang sama Papinya di Prancis."
"Kisah hidup Ning Syahlaa sangat kasihan sekali Umi. Ning Syahlaa dulu diperkoosa sama atasannya waktu masih menjadi sekretaris. Dan menghasilkan Zarina."
Cyra sangat terkejut sekali. "Astaghfirullah."
"Tapi semua itu sudah berlalu. Ning Syahlaa sudah berdamai dengan masa lalunya dan bisa memaafkan papinya Zarina."
"Bahkan Gus Afnan dan Ning Syahlaa sekarang berteman baik dengan papinya Zarina. Walau sebelumnya pernah terjadi pertikaian di antara mereka."
"Sepertinya menarik cerita mereka Abu. Tapi apapun itu. Umi tidak kuat mendengar cerita masa lalu Ning Syahlaa." Akmal tersenyum saja sambil melirik ke arah Cyra.
Setelah menempuh perjalanan yang menguras tenaga. Akhirnya! Akmal dan Cyra sampai juga di rumah mereka ketika waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.
Sesuai perjanjian dengan Gus Afnan kemarin. Tiga hari berikutnya setelah mengadakan syukuran kecil-kecilan bersama keluarga dekat dan para pekerja di rumah. Semua bahan-bahan bangunan sudah pada mulai berdatangan ke lahan yang Akmal berikan kepada Cyra kemarin sebagai mahar.
Akmal memantau langsung pekerjaan para tukangnya. Supaya pembangunannya sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Akmal dan Cyra sangat serius mengurus pembangunan panti asuhan milik mereka. Hingga tanpa mereka sadari. Pernikahan mereka berdua sudah berjalan sekitar sepuluh minggu. Alias dua bulan lebih dua minggu. Lebih tepatnya jalan tiga bulan. Dan selama itu pula. Cyra tidak menyadari. Jika dirinya sudah telat datang bulan sekitar tiga minggu lamanya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...