IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
MEMBANTU SESAMA


Cyra benar-benar mencoba mobil barunya keliling kompleks ditemani oleh Akmal. Dia begitu enjoy dan sangat menikmati sekali mobil super mewahnya dengan perasaan bahagia.


"Bagaimana Sayang? Tidak susah 'kan mengendarai mobil ini?"


Cyra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak! Suara mesin mobilnya sangat lembut dan tarikan gasnya sangat enteng sekali."


"Terimakasih Abu. Umi sangat suka sekali dengan mobil ini. Tidak Umi sangka. Umi bisa memiliki mobil semewah ini."


Akmal tersenyum manis sekali. "Jika Umi mau ganti mobilnya dengan yang lebih bagus dari ini. Ayo! Akan Abu antarkan saat ini juga ke showroom."


"Eh! Ngapain? Yang ini saja Umi sudah sangat bersyukur sekali. Jangan suka menghambur-hamburkan uang untuk barang yang tidak terlalu bermanfaat Abu. Nanti akan semakin lama di hisabnya kelak di akhirat."


Akmal mencubit pipi Cyra dengan mesra. "Makin cinta kalau begini ceritanya."


Cyra pun cuma tersenyum dibalik niqabnya sambil menikmati menyetir mobil barunya itu.


Ketika Akmal dan Cyra akan kembali ke rumah. Tidak sengaja pandangan mata mereka, melihat ada seorang pedagang es cendol keliling yang sedang berteduh di bawah pohon yang rindang di pinggir jalan.


Cyra tiba-tiba menghentikan mesin mobilnya tepat di samping pedagang es cendol tersebut. Dan Akmal pun tidak banyak bertanya akan hal itu kepada Cyra. Sebab Akmal ingin tahu? Apa yang akan dilakukan oleh Cyra dengan pedangan es cendol itu.


Cyra yang sudah mematikan mesin mobilnya lalu ke luar dari dalam mobil. Sang penjual es cendol pun merasa terkejut sekali. Ketika ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping gerobaknya yang lusuh.


Pedagang cendol yang melihat Cyra ke luar dari dalam mobil. Dirinya pun langsung berdiri dari duduknya dan menyapa ramah kepada Cyra. "Mau es cendol Neng?"


"Emm nanti saja Pak. Bolehkah saya bertanya sebentar kepada Bapak?"


Si bapak penjual cendol pun merasa sungkan dan akhirnya memperbolehkan Cyra bertanya kepadanya. Bapak penjual cendol mengira. Jika Cyra akan bertanya alamat kepadanya. Tapi tidak tahunya?


"Apakah dagangan Bapak hari ini laku?"


Walau terkejut. Sang bapak penjual cendol tetap menjawabnya. "Baru laku lima bungkus Neng. Mungkin karena masih terlalu pagi juga saya berangkat berdagangnya," sambil mengusap keringat yang ada di dahinya.


Akmal yang masih ada di dalam mobil. Cuma memperhatikan saja sang istri yang sedang berbicara dengan sang penjual cendol. Walau sebenarnya dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ya Allah kasihan sekali," ucap Cyra.


"Emm! Kalau begitu? Bolehkah dagangan es cendol bapak hari ini saya borong semua?"


Mata sang bapak penjual cendol berbinar sangat cerah sekali. "Benarkah Neng? Neng tidak bercanda 'kan sama Bapak?"


Cyra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dibalik niqabnya. "Benar Pak. Kalau begitu. Bapak bisa mengikuti saya menuju ke rumah saya?"


Si bapak penjual cendol pun sangat bersemangat sekali. "Mau-mau Neng. Boleh."


Akmal yang benar-benar sudah merasa sangat penasaran sekali dengan perbincangan antara Cyra dan bapak penjual cendol. Akhirnya, dia memutuskan keluar juga dari dalam mobil.


Pandangan mata Cyra dan bapak penjual cendol langsung teralihkan ke arah Akmal yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Ada apa Sayang?"


Cyra langsung berdiri dari duduknya dan memperkenalkan Akmal kepada si penjual cendol. "Pak perkenalkan? Ini suami saya. Namanya Akmal."


Bapak si penjual cendol dan Akmal lalu saling menyapa dengan ramah.


"Abu. Umi mau memborong semua dagangan bapak ini. Boleh ya? Kasihan bapaknya."


Akmal tersenyum sambil merangkul pundak Cyra dengan mesra. "Tentu saja boleh dong Sayang. Kalau begitu. Umi pulanglah saja dulu. Biar Abu ikut mendorong gerobak ini bersama si bapaknya. Sekalian olahraga."


Tentu saja bapak penjual es cendol merasa sangat tidak enak sekali dengan Akmal. "Jangan Tuan! Nanti baju Tuan bisa kotor dan tangan Tuan bisa capek."


Akmal tersenyum mendengar ucapan si bapak. "Tenang saja Pak. Insyaallah saya bisa."


"Ya sudah! Kalau begitu? Umi tunggu di rumah ya Abu."


Walau jam baru menunjukkan pukul delapan lebih. Masih terbilang sangat pagi sekali. Tapi si bapak penjual cendol sudah mulai keliling untuk menjajakan es cendol dagangannya.


Sambil jalan dengan posisi Akmal yang mendorong gerobak es cendolnya. Dia pun juga sambil bertanya-tanya kepada sang bapak penjual cendol.


"Bapak sudah lama berjualan es cendolnya?"


"Sudah sekitar lima belas tahun Tuan."


Akmal yang risih dipanggil Tuan. Dia menyuruh si bapak memanggilnya dengan panggilan Mas saja.


"Masyaallah. Lama sekali Pak. Bapak punya keluarga?"


"Punya Mas. Saya juga sudah mempunyai satu orang cucu perempuan yang masih berumur tujuh tahun. Tapi ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan waktu dia umur lima tahun. Dan ibunya memutuskan jadi TKW ke luar negeri."


Akmal terenyuh mendengar cerita dari si penjual es cendol. "Bapak punya anak berapa?"


"Alhamdulillah saya punya tiga orang anak Mas. Yang pertama tadi, pergi jadi TKW. Yang ke dua sudah kerja. Walau cuma jadi cleaning service di rumah sakit. Dan yang ketiga masih SMA kelas dua."


"Jadi? Bapak masih menghidupi satu orang anak lagi dan juga satu cucu perempuan tadi serta istri Bapak?"


Bapak penjual cendol mengangguk membenarkan. "Iya Mas."


"Apakah anak bapak yang pertama suka mengirimkan uang untuk anaknya? Atau anak bapak yang ke dua pernah memberikan sisa gajinya ke bapak atau ibu?"


"Anak saya yang pertama sering mengirimkan uang gajinya Mas. Sekitar tiga juta atau paling banyak empat juta perbulan. Tapi uang itu tidak semuanya saya gunakan. Saya cuma mengambil secukupnya. Dan sisanya saya tabung untuk masa depan cucu saya."


"Kalau anak saya yang ke dua. Dia sering memberi kepada saya atau istri saya, jika dia ada uang lebih dari gajinya. Tapi saya dan istri selalu menolak. Sebab dia sendiri juga butuh berumah tangga nanti. Saya bilang uangnya di simpan saja untuk berumah tangga."


"Terus kalau dari jualan sendiri. Bapak bisa dapat untung berapa?" tanya Akmal lagi sambil terus mendorong gerobaknya.


"Sehari sekitar seratus atau dua ratus ribu Mas. Itupun kalau laku semuanya. Dan untuk diputar lagi buat modal."


(Untungnya author ngarang ye)


"Tapi alhamdulillah bisa ketolong dengan uang kiriman dari anak saya yang pertama. Jadi? Walau cuma makan nasi sama lauk seadanya. Setidaknya kami hari itu bisa makan. Daripada tidak sama sekali."


Akmal merasa senang mengobrol dengan si bapak penjual es cendol. "Masyaallah Pak. Bapak pekerja keras sekali."


"Oh ya. Bukankah di kompleks ini yang saya tahu tidak boleh ada penjual keliling ya, Pak?"


"Boleh ko Mas. Asal dengan satu syarat. Jangan membuat keributan dan melakukan hal-hal tercela, contohnya mencuri atau mengganggu kenyamanan warga sini. Dan kalau mau jualan di dalam kompleks ini juga harus ijin dulu sama pak penjaga portal di depan. Asal jangan menggelar lapak Mas. Kalau cuma keliling saja boleh."


Akmal mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban dari bapak penjual cendol.


Mengobrol sambil berjalan. Membuat mereka tidak sadar. Jika langkah kaki mereka ternyata sudah sampai di depan pagar rumah yang kokoh dan super mewah sekali.


"Ini rumah saya Pak. Ayo gerobaknya di bawa masuk saja."


Si bapak penjual cendol merasa malu. "Tidak perlu Mas. Di depan sini saja."


"Tidak apa-apa. Tidak perlu sungkan Pak." Akmal lalu memanggil mamang penjaga pintu gerbang. "Mang Kasim. Tolong bantu bapak ini membawa gerobaknya ke dalam."


Mang Kasim. Suami dari bi Ningsih pun langsung sigap. "Baik Pak Akmal."


Cyra yang sudah menunggu daritadi sambil menggendong baby Zahwa, tersenyum senang melihat kedatangannya Akmal dan penjual es cendol tersebut.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...