IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
BONCHAP `ICA` 2


Setelah mendapatkan kunjungan dari semua sahabatnya. Apalagi Kalila juga terus mendapatkan pesan semangat dari Cyra dan yang lainnya. Membuat Kalila perlahan sadar akan sifatnya yang salah itu. Sekarang dirinya benar-benar berjanji akan merubah pola pikirnya. Supaya tidak seperti kemarin lagi dan meragukan kekuasaan Allah Subhanahu wata'ala.


Hari-hari telah berlalu. Sekarang kita kembali ke Cyra dan Akmal lagi.


Semakin ke sini. Mual, muntah yang dialami oleh Akmal semakin hebat saja. Dirinya terlihat semakin kurus karena setiap makan apapun selalu ia keluarkan lagi. Bahkan Akmal cuma mau makan satu menu makanan saja. Yaitu telur mata sapi yang di kasih saos pedas plus nasi hangat. Selain itu, Akmal pasti akan muntah-muntah hebat.


Cyra yang baru pertama kali melihat laki-laki mengalami morning sickness menjadi kebingungan sendiri. Dirinya bingung harus berbuat apa. Supaya Akmal mau makan dan tidak terlihat pucat seperti itu.


Setiap hari Cyra browsing dan mencari tahu di internet. Tapi setiap kali dia mencoba mempraktekkannya kepada Akmal. Akmal selalu mual. Dan berakhir di dalam kamar mandi.


Semua nasihat dari para orang terdekat sudah Cyra lakukan. Nasihat dari para bibi, mama Jian, sang Umma. Serta para saudara-saudaranya yang suaminya pernah mengalami kehamilan simpatik seperti Akmal. Tapi apa yang terjadi. Tubuh Akmal seakan menolak masukan dari mereka semua.


Akmal menolak makanan yang disarankan, supaya dia tidak mual lagi. Akmal mencoba meminum minuman yang tidak membuat mual. Akmal harus tidur begini. Harus begitu. Yah! Semuanya berakhir sia-sia saja.


"Abu lelah Umi. Ternyata begini rasanya seorang wanita jika hamil muda. Abu nggak kuat!" wajah Akmal terlihat letih.


Mau tertawa. Tapi Cyra juga merasa kasihan. Tidak tertawa, tapi ko ya selalu melihat ekspresinya yang menggemaskan. Alhasil yang bisa Cyra lakukan cuma tersenyum dan juga tersenyum dihadapan Akmal.


"Apakah Umi dulu juga begini ketika waktu hamil Aiza?"


Cyra langsung menganggukkan kepalanya. "Iya Abu. Umi mengalami ini semua. Tapi setidaknya Abu harus bersyukur jika dibandingkan dengan kami para perempuan."


Akmal menunjukkan wajah sedikit kebingungan. "Memangnya kenapa Umi? Bukankah yang dirasakan itu sama saja yang namanya morning sickness?"


Cyra tersenyum. "Iya memang saja."


"Lalu?" tanya Akmal.


"Setidaknya Abu tidak membawa beban berat di perut yang harus dibawa selama sembilan bulan lamanya."


Sekarang Akmal mengerti. Dirinya langsung menaruh kepalanya di pahaa Cyra. Dan Cyra langsung mengusap kepala Akmal dengan lembut.


"Iya! Umi benar. Sungguh alangkah mulianya seorang wanita. Dia mau bersusah payah mengandung dan melahirkan dengan pertaruhan nyawanya."


"Pantas saja Nabi Muhammad menyebutkan kata Ibu sebanyak tiga kali. Sedangkan sang Ayah hanya satu kali."


"Iya! Karena wanita bisa sanggup menahan rasa sakit yang lebih banyak dari laki-laki. Dan para laki-laki tidak akan pernah bisa kuat menahan rasa sakit itu seperti kami."


"Maafkan Abu ya Umi."


Cyra bingung mendengar Akmal meminta maaf kepadanya. "Abu meminta maaf untuk apa Sayang?"


"Iya mau minta maaf saja Umi. 'Kan meminta maaf tidak perlu ada kata salah terlebih dahulu."


Cyra tersenyum. Hatinya menghangat. Semenjak dirinya dinyatakan positif hamil. Sikap Akmal semakin manja kepadanya. Semakin manis pula dengannya. Terlebih lagi. Akmal terlihat semakin dekat dengan Aiza. Seperti sudah tidak ada jarak lagi di antara mereka berdua.


Hari berikutnya. Semalaman Akmal tidak bisa tidur sama sekali. Dia tidur tidak nyenyak. Miring ke kiri dan ke kanan tidak tentu arah. Nanti bangun, lalu tidur lagi. Begitu terus hingga dirinya capek sendiri dan akhirnya dia tertidur dengan sendirinya.


Karena semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pagi harinya, tubuh Akmal seakan baru saja dipukuli oleh banyak orang. Rasanya sakit semua. Ditambah pula dengan kepala pusing dan perut yang masih eneg. Membuat tubuhnya semakin tidak karuan saja rasanya.


Pagi setelah sholat subuh. Biasanya Akmal akan terlihat rapi dan fresh, karena baru saja mandi. Tapi semenjak dirinya mengalami morning sickness. Wajahnya akan terlihat acak-acakan walau dia baru saja mandi. Dan hari ini Akmal terlihat lebih parah dari sebelumnya. Kantung mata yang besar. Lingkar panda yang terlihat jelas. Mata yang sayu dan juga kulit yang terlihat berminyak, nampak jelas sekali saat ini di wajahnya.


Cyra bahkan reflek sampai mengucap istighfar melihat penampilan sang suami yang jauh dari kata tampan. "Astaghfirullah! Abu kenapa? Abu tidak gila 'kan?"


Akmal memajukan bibirnya dikatakan gila oleh Cyra. Sedangkan Cyra langsung tertawa cekikikan sendiri melihat wajah cemberutnya Akmal.


"Umi!" Akmal malah merengek seperti anak kecil.


"Hmm! Iya! Ada apa Abu?"


"Abu ingin sesuatu?" jawab Akmal.


"Apa itu?" tanya Cyra.


"Abu ingin melihat ayah naik pohon mangga untuk memetik mangga muda. Lalu yang makan mangganya abi, Umi, dikasih garam sama cabai rawit."


Mata Cyra melotot. Mulutnya menganga cukup lebar mendengar permintaan aneh sang suami. Dan baru kali ini Akmal mengidam seperti itu. Setelah sebelumnya cuma mual-mual biasa saja.


"A-apa telinga Umi tidak salah mendengar!" Cyra mengorek telinganya.


"Ayolah Umi! Telepon ayah sama abi. Suruh mereka ke sini."


"Ta-tapi kan pohon mangga di rumah kita belum pada berbuah Abu?" jawab Cyra.


Wajah Akmal lalu terlihat cring. "Aaa! Di rumah ayah 'kan banyak mangga Umi. Ayo kita ke sana saja. Sekalian abi suruh ke sana juga."


Cyra sampai bingung dengan keinginan Akmal yang aneh itu. Kepalanya tiba-tiba menjadi pusing sendiri.


"Sebentar-sebentar! Biar Umi telepon ayah sama abi dulu." Cyra menetralkan perasaannya.


Akmal tersenyum senang. "Ok! Siap Umiku sayang."


Cyra lalu mengambil ponselnya. Dirinya memilih menghubungi sang ayah mertua dan sang abi di balkon kamarnya. Dan orang yang pertama kali dihubungi oleh Cyra adalah abi Rasyid.


"Halo Nak. Assalamu'alaikum."


Cyra langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam Abi."


"Ada apa Nak?" tanya abi Rasyid.


"Apakah Abi ada tugas dinas di rumah sakit hari ini?"


Kebetulan abi Rasyid lagi libur. "Tidak! hari ini 'kan jadwalnya Abi libur Nak."


"Baguslah kalau begitu. Emm! Bisakah Abi sama umma datang ke rumah ayah saat ini juga?"


"Memangnya ada apa Nak?" tanya abi Rasyid lagi.


"Akan Cyra jelaskan di sana saja Abi."


Tanpa rasa curiga sama sekali. Abi Rasyid langsung mengiyakan permintaan sang putri sulungnya. "Iya baiklah. Abi sama umma kamu akan segera datang ke sana sekarang juga."


"Baiklah. Terimakasih Abi. Kalau begitu, Cyra tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Abi Rasyid langsung mematikan sambungan teleponnya.


Setelah menghubungi abi Rasyid. Gantian Cyra menghubungi ayah Rafiq. Sama seperti abi Rasyid tadi. Ayah rafiq tidak menaruh curiga sama sekali, ketika Cyra mengatakan jika akan berkunjung ke rumahnya. Bahkan ayah Rafiq sudah tidak sabar ingin melihat kedatangan anak dan menantunya serta cucu kesayangannya itu.


Di sinilah mereka semua. Sudah berkumpul di ruang tamu rumah ayah Rafiq. Formasi lengkap. Ada mama Jian, ayah Rafiq, abi Rasyid, umma Nada, Cyra, Akmal dan jangan lupa si kecil nan lucu menggemaskan, yaitu baby Zahwa.


"Nak! Ada apa kamu menyuruh abi datang ke sini dan berkumpul begini?" abi Rasyid sudah sangat penasaran sekali.


"Abi! Akmal ingin melihat ayah naik ke atas pohon mangga yang ada di depan itu untuk memetik mangga mudanya. Lalu Abi yang makan mangga mudanya dikasih garam sama cabai rawit. Mau ya Abi!" bukan Cyra yang menjawab. Melainkan Akmalnya langsung sambil menunjuk pohon mangga yang ada di luar.


Ekspresi para orang tua sama persis seperti Cyra tadi. Mulut mereka terbuka dan matanya melotot. Dan baru kali ini mereka dikerjai anak mereka sendiri.


"Akmal! Kamu mengidam ya!"


Akmal tidak mengerti dengan ucapan sang mama. "Apa itu mengidam Ma? Ko Akmal tidak sadar ya?"


"Mengidam ya seperti permintaanmu yang aneh-aneh ini!" jawab mama Jian.


Akmal mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh! Jadi ini toh yang namanya mengidam?"


"Kalau begitu! Ayo Ayah! Cepat naik pohon mangganya. Dan Mama! Tolong siapin garam sama cabai rawitnya ya untuk di makan sama mangga mudanya."


Abi Rasyid sudah menelan ludahnya sendiri membayangkan makan mangga muda yang dikasih garam sama cabai.


Ayah Rafiq tiba-tiba berdiri dari duduknya. Lalu berjalan mendekati Akmal yang sedang duduk di samping Cyra.


"Dasar anak kurang ajar!" ayah Rafiq menjitak kepala Akmal. Hingga membuat semua orang langsung tertawa terbahak-bahak.


"Iya! Apa boleh buat demi cucu kesayangan. Untung saja dulu waktu hamil Zahwa tidak begini." Abi Rasyid terlihat pasrah sekali.


...~.~...