IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
BERKUNJUNG KE MAKAM


Beberapa hari setelah acara tujuh hari dan aqiqah nya baby Zahwa, Cyra sering melamun sendiri dan merenung sendiri, tanpa banyak berbicara sama sekali kepada orang-orang rumah.


Sikap Cyra yang murung seperti itu, diperhatikan sekali oleh penghuni rumah Ayah Rafiq, terutama oleh Ayah Rafiq itu sendiri, Mama Jian apalagi Akmal.


Seperti saat ini saja, pagi ini seperti lima hari yang lalu, Cyra setiap pagi sering termenung sambil menjemur baby Zahwa seorang diri dibawah terik sinar matahari pagi yang menyejukkan hati.


Ketika Cyra disapa oleh para Bibi yang berlalu lalang, dia hanya tersenyum, mengangguk atau menjawabnya dengan sekedarnya saja, dan itu terus berlanjut ke hari berikutnya.


Kebetulan hari ini adalah hari minggu, di rumah Ayah Rafiq ada formasi lengkap, ada Ayah Rafiq, Mama Jian maupun Akmal. Dan pada saat ini, mereka semua sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Ayah Rafiq sedang sibuk mengurus tanaman bersama para pekerjanya, Mama Jian sibuk dengan baby Zahwa, sambil memperhatikan Ayah Rafiq, sedangkan Cyra, memilih masuk kembali ke dalam kamarnya dan berdiam diri tidak melakukan apa-apa di sana.


Akmal yang baru saja selesai mandi, dia lalu turun untuk bergabung dengan para Keluarganya, namun yang ia temukan cuma ke dua orang tuanya saja tanpa adanya Cyra.


" Cyra mana Ma,? ko dia tidak terlihat sendiri?? ," tanya Akmal.


" Sepertinya dia masuk lagi ke dalam kamarnya ," jawab Mama Jian.


" Apakah Aiza sudah mandi?? ," tanya Akmal.


" Sudah ," jawab singkat dari Mama Jian dan Akmal hanya ber oh ria saja.


Ketika Mama Jian melihat Akmal berbalik badan ingin pergi, Mama Jian langsung bertanya kepadanya.


" Kamu mau ke mana Akmal?? ," tanya Mama Jian.


" Mau bertemu Cyra ," jawab Akmal.


" Awas lho ya, jangan macam-macam sama Cyra,!! ingat pesan Abi Rasyid tuh, kalau kamu bukan mahram bagi Cyra ," tegur Mama Jian.


" Sebentar lagi Ma, tenang saja ," jawab Akmal, setelahnya dia berlalu dari hadapan sang Mama.


Mama Jian sedikit bingung dengan jawabannya Akmal, yang mengatakan sebentar lagi. Namun, Mama Jian tidak mau mengambil pusing apa yang tadi sudah diucapkan oleh Akmal kepadanya.


Ketika Akmal ingin menemui Cyra, tiba-tiba dia tidak sengaja bertemu dengannya di pertengahan tangga.


" Cyra,!! mau ke mana?? ," tanya Akmal.


" Kamu habis nangis ya?? ," tanya Akmal lagi yang tidak sengaja melihat mata Cyra terlihat memerah.


Cyra langsung menunduk menyembunyikan kesedihannya dihadapan Akmal.


Akmal mencoba mendekat tepat di hadapan Cyra, lalu dia mendongakkan wajah Cyra menggunakan jarinya melalui dahinya.


" Katakan kepada Kakak, kenapa mata seindah ini bisa menangis lagi?? ," tanya Akmal dengan suara yang terdengar lembut dan juga manis.


Tidak mau sampai zina mata, Cyra pun langsung memalingkan pandangannya dan berjalan ke tepi tangga, berpegangan dengan pinggiran tangga.


" Cyra cuma rindu dengan Kak Mirza, Kak ," jawab pelan dari Cyra.


" Ingin sekali Cyra melihat Kak Mirza di dalam mimpi, tapi kenapa yang Cyra harapkan tidak terwujud ," ucap Cyra lagi.


" Berdoalah Cyra, sebelum kamu terkena pengaruh setan. Karena sejatinya, sikap bersedih kepanjangan adalah sikap yang tidak disukai oleh Allah ," nasihat Akmal.


" Maukah kamu ikut dengan Kakak pergi ke suatu tempat.? Siapa tahu di tempat itu kamu bisa meluapkan rasa rindumu dengan Kak Mirza ," kata Akmal hingga membuat Cyra refleks berbalik badan menatapnya.


" Ke mana Kak?? ," tanya Cyra.


" Ke makam Kak Mirza ," jawab Akmal.


" Cyra mau sekali Kak, ayo tolong antarkan Cyra ke sana ," kata Cyra lagi.


" Baiklah, kamu segeralah bersiap-siap, biar Aiza, Kakak saja yang mengurusnya ," jawab Akmal dan Cyra langsung mengangguk setuju.


Cyra lalu berbalik badan untuk kembali ke dalam kamarnya lagi. Sedangkan Akmal pun sama, berbalik badan untuk kembali ke tempat sang Mama dan baby Zahwa berada.


" Baby Zahwa mau kamu bawa ke mana Akmal?? ," tanya Mama Jian dan membuat Ayah Rafiq yang mendengar langsung mendekat ke arahnya.


Akmal lalu menjelaskan kepada ke dua orang tuanya, perihal ucapannya kepada Cyra tadi, dan Ayah Rafiq bersama Mama Jian menyetujui mereka untuk pergi.


Singkat cerita, Cyra yang sudah selesai bersiap-siap, baby Zahwa juga sudah ganti baju, saat ini mereka bertiga termasuk Akmal sudah berada di dalam mobil milik Akmal.


Sebelum masuk ke dalam mobil tadi, Cyra mencoba meminta ijin kepada Mama Jian dan Ayah Rafiq, akan tetapi Cyra sedikit terkejut, ketika ternyata ke dua mertuanya sudah mengetahui terlebih dahulu ke mana dia akan pergi.


" Tadi Cyra ingin meminta ijin, tapi Mama dan Ayah sudah tahu, Kakak ya yang sudah bilang sama mereka?? ," tanya Cyra.


Sambil menjalankan mobilnya, Akmal pun menjawab. " Iya, Kakak memang sudah mengatakan kepada Mama dan Ayah tadi perihal ke mana kita akan pergi ," jawab Akmal dan Cyra hanya ber oh ria saja.


Untuk kali ini, Cyra duduk di kursi penumpang yang ada di depan, karena entah kenapa, dia lebih nyaman duduk di depan sambil menggendong baby Zahwa.


Selama di dalam perjalanan menuju ke makam Mirza, Akmal terus mencoba mengajak bercanda Cyra dan membuatnya tersenyum. Itu semua, semata-mata Akmal lalukan, supaya Cyra tidak terlihat bersedih lagi.


Akhirnya, setelah beberapa saat berada di perjalanan, Cyra dan Akmal pun sampai juga di makam Mirza berada.


Cyra bersimpuh di samping makam sang suami, sambil menatap batu nisan bertuliskan nama sang suami yang sangat dia cintai.


Sebelum berdoa dan berdzikir, Akmal dan Cyra mencoba menyapa Mirza untuk sejenak.


" Kak ," ucap Akmal.


" Akmal sudah mengajak Cyra dan baby Aiza untuk ke sini, apakah Kakak senang?? ," ucap Akmal lagi.


" Semoga Kakak di atas sana bisa melihat kehadiran kami ," kata Akmal.


" Assalamu'alaikum Abi ," gantian Cyra yang berucap.


" Umi datang bersama Aiza, dia cantik sekali bukan?? ," ucap Cyra sambil menahan air matanya.


Sedangkan Akmal, terus menatap ke arah Cyra yang sedang menguatkan hatinya.


" Semoga Abi tidak marah kepada Umi, karena Umi belum bisa menjadi Umi yang baik untuk Aiza ," kata Cyra.


" Doakan Umi ya Abi, bantu Umi dari atas sana ya Abi, supaya Umi bisa menjadi Ibu yang baik untuk Aiza, dan juga bisa membimbingnya menjadi anak yang sholehah seperti keinginan Abi ," kata Cyra lagi sambil meneteskan air matanya.


Akmal yang melihat Cyra menangis, dia mencoba menghentikan ucapannya Cyra, supaya dia tidak terlarut dalam kesedihannya lagi.


" Cyra, sudah, ayo kita berdoa yuk ," kata Akmal dan Cyra langsung mengangguk pelan.


Akmal lalu membimbing jalannya doa, mereka berdzikir dan memanjatkan doa, supaya Mirza semakin tenang di atas sana.


Hingga tiba-tiba, ada setetes air yang turun dari langit membasahi tubuh mereka. Dan itu pertanda, jika hujan akan segera turun, padahal langit tidak terlihat mendung sama sekali.


Akmal yang sigap, langsung segera mengakhiri bacaan doanya, lalu dia melepaskan jaket yang dipakainya untuk dia payung kan kepada Cyra yang sedang menggendong Aiza. Dan setelah berjalan cukup jauh, akhirnya, Cyra dan Akmal sampai juga di dalam mobil mereka.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...