
Setelah puas berbincang, Misha meminta ijin kepada Cyra dan Akmal untuk melanjutkan lagi berbelanjanya. Karena masih ada yang ingin mereka beli lagi di butik milik Cyra.
"Oh ya. Silahkan Misha. Maaf, aku malah mengajakmu mengobrol terus," Cyra merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Aku malah senang, bisa berbincang seputar kehamilan denganmu," jawab Misha sambil tersenyum.
Misha dan Hamzah lalu ke luar dari dalam ruang kantor tersebut menuju ke ruang butik lagi, untuk memilih-milih barang yang ingin mereka beli.
Tinggallah Cyra dan Akmal saja di dalam ruang kantor itu. Bersama baby Zahwa yang saat ini sedang berada digendongannya Akmal.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan kepada Kakak, Cyra?"
"Sebenarnya. Banyak Kak, yang ingin Cyra tanyakan seputar butik. Hanya saja, Cyra bingung harus memulai dari mana?" jawab Cyra. Ia pun lalu mencoba membaca salah satu berkas yang ada di atas meja kerja.
Akmal berjalan mendekati Cyra dan berdiri di sampingnya. Lalu, Akmal mencoba melihat berkas apakah yang sedang dibuka oleh Cyra.
"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja untuk memulai ini semua. Ada Kakak yang akan selalu membantumu," ucap Akmal tersenyum manis.
"Cyra ingin makan atau minum yang segar-segar Kak. Apa di sini ada minuman dingin?" Akmal langsung bersemangat untuk mengambilkannya.
"Ada. Mau Kakak ambilkan untukmu?" Akmal bertanya.
"Emm, tidak perlu. Kita ke luar saja yuk Kak," Akmal pun menurut. Sambil menggendong baby Zahwa, dia lalu berjalan di belakang Cyra.
Akmal terus mengikuti ke mana langkah kaki Cyra berjalan. Hingga tiba-tiba, Cyra melihat dari balik jendela kaca besar, ada gerobak tukang rujak yang sedang lewat di seberang jalan.
"Kak, sepertinya siang-siang begini makan rujak enak," ucap Cyra.
"Rujak? Mana yang jual rujaknya?" tanya Akmal.
"Tuh. Ada di seberang jalan." Cyra menunjuk ke arah luar. Dan Akmal mengikuti ke mana tangan Cyra sedang menunjuk.
"Oh baiklah. Ini tolong gendong Aiza, biar Kakak belikan dulu," kata Akmal. Dan Cyra langsung mengambil alih baby Zahwa ke dalam gendongannya.
Akmal lalu berjalan ke luar menyeberang jalan untuk membelikan rujak seperti keinginan Cyra.
Sedang asik menatap Akmal dari balik jendela kaca. Cyra dikejutkan oleh tepukan di pundaknya. "Kamu belum pulang Misha?" Cyra bertanya dengan ekspresi terkejut.
"Belum. Ini mau kami bayar dulu pakaiannya," Cyra mengangguk saja.
"Kamu sedang apa Cyra?" Hamzah bertanya.
"Sedang menunggu kak Akmal membeli rujak tuh," Cyra menunjuk Akmal menggunakan wajahnya.
"Tunggu sebentar ya. Cyra mau meminta tambah sambal, sepertinya segar," ucap Cyra bersemangat.
Cyra lalu ikut ke luar dari dalam butiknya, untuk menyusul Akmal. Sedangkan Hamzah dan Misha langsung membayar semua belanjaan yang tadi sudah diambilnya.
Dirasa sudah aman untuk menyeberang jalan. Cyra lalu melangkahkan kakinya untuk berjalan. Tapi tidak tahunya, ternyata ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang sekali. Hingga terdengarlah suara Akmal yang sedang berteriak sambil berlari mendekati Cyra.
"Cyra, awas!" Akmal memeluk tubuh Cyra hingga mereka berdua jatuh ke aspal yang keras dan panas.
Akmal mengorbankan lengan tangannya, untuk melindungi tubuh Cyra yang sedang menggendong baby Zahwa.
"Astaghfirullah," penjual rujak itu langsung berlari mendekati Akmal dan juga Cyra.
"Tolong!" teriak sang penjual rujak.
"Kak Akmal. Kak Akmal tidak apa-apa?" terlihatlah raut wajah khawatirnya Cyra dari balik niqabnya.
Hamzah yang kebetulan berdiri didekat jendela karena menemani Misha membayar belanjaan. Dia langsung berlari, ketika melihat Akmal sedang terjatuh ke aspal.
"Ada apa ini Cyra?" Hamzah terlihat khawatir sekali.
"Ta-tadi. Cyra mau tertabrak mobil Kak. Dan kak Akmal menyelamatkan Cyra bersama Aiza," Cyra menjawab dengan wajah yang terlihat syok serta ketakutan.
"Cyra! Ada apa ini Cyra? Kenapa dengan kak Akmal?" tanya Misha yang baru saja menyusul sang suami.
"Tanyanya nanti saja. Kita harus segera membawa Akmal ke rumah sakit." ucap Hamzah sambil membantu Akmal masuk ke dalam mobilnya.
"Berapa nomornya, Pak?" Cyra sangat penasaran sekali.
Tukang rujak itu langsung menyebutkan berapa plat nomor mobil yang tadi ingin menabrak Cyra.
Sambil tergesa-gesa dan memberikan beberapa jumlah uang. Cyra langsung menjawabnya. "Terimakasih Pak. Ini uang untuk rujak yang sudah kak Akmal pesan."
Walau sebenarnya tukang rujak itu menolak uang pemberian dari Cyra. Tapi dia akhirnya mau, karena Cyra terus mendesaknya.
Setelah itu. Cyra langsung menyusul Akmal dan Hamzah menggunakan mobil milik Akmal yang dia kendarai sendiri ditemani oleh Misha.
Sementara baby Zahwa berada digendongannya Misha. Karena Cyra sedang menyetir mobil. Sedangkan Akmal tadi langsung diantar ke rumah sakit oleh Hamzah menggunakan mobilnya.
Cyra benar-benar khawatir sekali dengan keadaan Akmal yang terlihat sangat kesakitan sekali. Cyra seperti masih trauma melihat orang terdekatnya merasa kesakitan seperti itu. Karena itu seperti mengingatkannya dengan almarhum suaminya.
Hamzah yang baru saja sampai di rumah sakit terdekat, langsung disusul di belakangnya ada Cyra bersama Misha.
Cyra yang sudah memarkirkan mobilnya, langsung bergegas menuju ke ruang UGD untuk mencari keberadaannya Akmal dan Hamzah.
Dari jauh Cyra melihat Hamzah sedang berdiri di depan ruangan. Dan Cyra pun langsung memanggilnya.
"Kak Hamzah." Cyra segera mempercepat jalannya supaya sampai di depan Hamzah.
Hamzah yang mendengar ada seseorang sedang memanggil namanya. Langsung berbalik badan untuk melihat, siapakah yang baru saja memanggilnya.
"Bagaimana keadaan kak Akmal, Kak?" Cyra terlihat benar-benar sangat khawatir sekali.
"Sedang ditangani oleh Dokter," jawab Hamzah.
"Apakah kamu ingat plat nomor mobil yang tadi sudah hampir menabrakmu, Cyra?" tanya Hamzah.
"Berapa ya? Cyra lupa Kak," Cyra yang khawatir dengan Akmal, jadi melupakan berapa plat nomor mobil yang tadi sudah dikasih tahu oleh tukang rujak.
"Misha ingat Kak," untung ada Misha yang ingat. Dan Misha langsung menyebutkan berapa plat nomor mobil yang tadi ingin menabrak Cyra.
"Baiklah. Tunggu sebentar," ucap Hamzah. Dan dia terlihat langsung menghubungi seseorang, seperti ingin mencari tahu siapa pemilik mobil tersebut.
Tidak lama, ruang perawatan Akmal terbuka. Dan ke luarlah seorang Dokter laki-laki yang cukup tampan.
"Dokter. Bagaimana keadaan kak Akmal?" Cyra sudah tidak sabar sekali.
"Tuan Akmal cuma mengalami pergeseran tulang saja. Karena dia terjatuh terlalu keras. Jadinya, ada tulang yang terlewat dari tempat semestinya," jawab sang Dokter.
"Lalu? Pengobatan apa yang harus kak Akmal lakukan Dokter?" tanya Cyra.
"Cuma diterapi pijat dan minum obat anti nyeri saja. Insyaallah, tuan Akmal akan segera sembuh," jawab Dokter.
Cyra merasa sedikit lega mendengar penjelasan dari Dokter. Namun, dia juga merasa bersalah. Karena lagi dan lagi sudah membuat Akmal susah.
"Tuan Akmal, sudah saya perbolehkan pulang Nyonya. Hanya saja dia tidak boleh banyak bergerak dulu, sampai lengannya sembuh. Supaya tidak semakin bengkak," ucap Dokter.
"Baik Dokter. Saya mengerti. Terimakasih," Cyra mengangguk mengerti.
Setelahnya, Dokter itu langsung berlalu pergi. Dan tidak lama, Akmal ke luar dengan tangan yang diperban dikalungkan di pundaknya.
Cyra sangat khawatir sekali melihat keadaan Akmal yang seperti sekarang. "Kak Akmal. Terimakasih sudah menyelamatkan Cyra dan Aiza."
Sambil tersenyum manis. Akmal lalu menjawab. "Sudah menjadi tugas Kakak untuk menyelamatkanmu, Cyra."
Tiba-tiba Hamzah menyela pembicaraan mereka dan mengatakan hal yang membuat Akmal dan Cyra sangat terkejut sekali. "Apakah kalian mengenal Aish maharani? Karena dia yang mengendarai mobil yang ingin menabrak Cyra tadi."
Perkataan Hamzah benar-benar membuat Akmal dan Cyra langsung saling pandang, dengan tatapan syok dan juga terkejut.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...