IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
JUMAT BERKAH


Cyra yang melihat Akmal terdiam sambil melamun. Dia mencoba menyadarkannya kembali.


"Abu kenapa sebenarnya? Apa yang tadi Abu mimpikan?"


Akmal yang mendengar suara Cyra. Langsung tersadar dan mengalihkan wajahnya ke arah Cyra. "Tadi Abu bermimpi kak Mirza."


Mendengar nama Mirza. Wajah Cyra sedikit terkejut dan terpaku. "Kak Mirza?"


"Iya. Dan kak Mirza mengucapkan selamat tinggal serta menitipkan kalian berdua kepada Abu. Seakan kak Mirza mengingatkan Abu dengan amanat yang sudah dia berikan kepada Abu dulu."


Cyra mencoba menjadi penengah yang baik antara Akmal dan Mirza. "Semua ini hanya mimpi Abu. Mungkin jika itu artinya. Umi yakin Abu pasti bisa menjaga Umi dan Aiza dengan baik." Cyra mengusap punggung Akmal dengan lembut sambil tersenyum.


"Sudah jam tiga pagi. Apakah Abu mau sholat tahajud dulu sebelum tidur kembali?" Akmal hanya mengangguk saja.


"Iya sudah. Sana bersih-bersih dulu di dalam kamar mandi," ucap Cyra.


Akmal lalu turun dari atas ranjang dan membersihkan dulu badannya lalu berwudhu. Setelahnya dia langsung menegakkan sholatnya untuk menunaikan ibadah sholat tahajud.


Selesai menunaikan sholat tahajud. Akmal lalu menengadahkan ke dua tangannya ke atas sembari berdoa untuk sang kakak yang sudah meninggalkannya terlebih dahulu.


Akmal berdoa dengan khusuk dan penuh penghayatan. Hingga tanpa sadar air mata sudah membasahi wajahnya.


Sedangkan Cyra tadi memilih langsung memejamkan matanya kembali. Sebab dirinya masih berhalangan.


Akmal yang sudah selesai. Dia pun juga ikut tidur kembali sambil memeluk Cyra dengan mesra.


Hari-hari silih berganti. Tanpa terasa Akmal dan Cyra sudah menikah sekitar satu minggu lamanya. Dan hari ini adalah hari jumat pertama bagi mereka berdua untuk saling berbagi kepada sesama.


Saat ini Akmal dan Cyra sedang berada di ruang makan untuk sarapan pagi bersama. "Umi sudah menyiapkan makanannya?"


Cyra mengangguk. "Sudah Abi. Semua makanan sudah disiapkan sejak tadi."


"Nanti Abu tidak bisa menemani Umi. Karena Abu harus segera berangkat ke kampus."


Cyra tersenyum. "Iya. Tidak apa-apa ko Abu."


"Ini. Jangan lupa berikan juga kepada mereka yang datang hari ini ya Umi."


Cyra menerima amplop dari Akmal dengan perasaan bingung. "Ini apa Abu?"


"Sedikit uang untuk mereka."


Cyra benar-benar tidak tahu. Jika Akmal ternyata sudah menyiapkan uang juga untuk yang datang ke rumah mereka nanti.


"Emm! Apakah Umi tidak boleh tahu. Ini isinya berapa Abu?" Cyra bertanya dengan sangat hati-hati sekali. Takut jika Akmal tersinggung atau marah.


"Tidak banyak. Cuma seratus lima puluh ribu. Nanti jika seumpama yang datang lebih dari yang sudah Abu siapkan. Umi ambil saja uangnya di laci yang biasanya."


Cyra menganggukkan kepalanya. "Masyaallah. Baik Abu."


Sedang asik berbincang. Pandangan mereka berdua teralihkan ke arah mang Roni yang ingin melapor. "Pak Akmal. Di luar sudah ada sekitar sepuluh kaum dhuafa yang ingin meminta makanan seperti yang Pak Akmal katakan kemarin."


Akmal mengangguk. "Iya baiklah. Suruh mereka masuk dan menunggu di teras. Besok lagi suruh mereka langsung masuk saja ya Mang."


"Baik Pak Akmal. Permisi." Mang Roni menganggukkan kepalanya.


Akmal dan Cyra cuma mengangguk saja. Dan mang Roni lalu keluar kembali untuk menyuruh mereka semua pada masuk ke teras rumah.


"Ayo Umi. Jangan menyuruh mereka menunggu. Kasihan."


"Abu! Jika seumpama siang atau sore nanti masih ada yang datang bagaimana?"


"Iya kalau masih ada makanannya, kasihkan saja sama uangnya juga. Tapi jika makanannya habis. Kasih uangnya saja," jawab Akmal.


"Jangan takut miskin jika kita sedang menanamkan saham kepada Allah. Percayalah Sayang. Allah akan menggantinya dua kali lipat dari yang kita keluarkan."


Cyra tersenyum manis sekali. Dan mereka berdua lalu ke luar dari dalam rumah untuk menemui para tamu mereka.


Bapak penjual es cendol yang kemarin pun juga ada dibarisan mereka semua. "Mas Akmal. Saya ke sini lagi. Tapi saya mengajak semua teman-teman dan tetangga saya. Mereka semua ada yang menjadi pengemis dan cuma jadi pemulung atau penyapu jalanan."


"Tapi sebelumnya saya mau meminta maaf. Karena saya tidak bisa menemani kalian semua. Sebab saya harus segera berangkat bekerja. Nanti ada istri saya yang mewakilkan saya. Perkenalkan namanya Cyra. Dan saya sendiri Akmal. Kalian bisa memanggil saya dengan Mas, dan istri saya dengan Mbak."


"Baik Mas Akmal, Mbak Cyra," jawab serempak dari mereka semua.


"Mas Akmal. Sebelumnya sebagai perwakilan. Saya dan semuanya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan Mas hari ini. Semoga Allah memberikan gantinya yang jauh lebih banyak untuk kalian berdua. Dan Mas Akmal serta Mbak Cyra semoga selalu menjadi orang yang tawadhu'."


Ucapan bapak penjual cendol langsung di aamiinkan oleh Cyra dan Akmal dengan tulus dari hati yang terdalam.


"Abu berangkat dulu ya sayang. Daa Aiza," Akmal memeluk Cyra. Mencium keningnya dan memberikan ciuman sayang kepada Aiza tanpa malu dihadapan mereka semua.


"Assalamu'alaikum," salam dari Akmal langsung dijawab serempak dari semua orang.


Setelahnya. Akmal pun langsung masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat ke kampus. Sedangkan Cyra dibantu oleh para bibi dan pekerja di rumahnya. Langsung memberikan makanan serta uang tunai yang sudah Akmal siapkan sebelumnya.


Sedang asik berbagi. Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah. Dan ternyata mobil tersebut milik ayah Rafiq.


Ayah Rafiq dan mama Jian yang baru saja datang cukup terkejut melihat banyak orang datang ke rumah sang anak menantunya.


"Masyaallah. Kamu berbagi itu semua kepada mereka, Nak?" ayah Rafiq merasa senang sekali melihat apa yang dilakukan oleh Cyra.


"Iya Ayah. Dan tadi baru saja kak Akmal keluar pintu gerbang. Apakah Ayah tidak berpapasan dengannya?"


"Iya. Tadi kami berpapasan dengannya ko Nak," bukan ayah Rafiq yang menjawab, melainkan mama Jian.


"Mbak Cyra. Kami sudah menerima semuanya. Terimakasih ya Mbak atas pemberiannya hari ini. Semoga hidup Mbak sekeluarga menjadi berkah dan jauh dari kata masalah," ucap salah satu orang yang datang.


Cyra tersenyum dibalik niqabnya. "Aamiin. Semoga kalian suka dengan makanannya. Dan uang yang kalian terima semoga bisa bermanfaat juga untuk kalian."


"Jumat depan apakah Mbak Cyra dan Mas Akmal akan berbagi lagi kepada kami?" salah satu orang lainnya mencoba bertanya.


"Insyaallah. Kami akan berbagi semampu kami untuk jumat yang akan datang dan jumat-jumat yang lainnya," jawaban Cyra sangat disukai oleh mereka semua.


Setelah mengucapkan kata terimakasih dan rasa bahagia mereka. Para kaum dhuafa itu langsung pergi dari rumah Cyra.


Makanan yang masih tersisa, Cyra menyuruh para pekerjanya untuk memberikan kepada orang-orang yang sekiranya membutuhkan.


Setelah kepergian dari kaum dhuafa tersebut. Ayah Rafiq dan mama Jian langsung diajak masuk oleh Cyra dengan baby Zahwa yang sudah berada digendongannya ayah Rafiq.


Dirasa sudah cukup jauh dari rumah Cyra. Para kaum dhuafa langsung mengintip uang yang ada di dalam amplop tersebut.


"Alhamdulillah seratus lima puluh ribu. Bisa untuk ku buat beli beras dan lauk. Jadi anak-anakku di rumah tidak makan singkong lagi.


"Alhamdulillah. Aku juga bisa buat beli beras," ucap yang lainnya juga.


"Aku berjanji. Jika seumpama aku berdagang dan lewat di rumah Mbak Cyra dan Mas Akmal. Mereka akan aku beri es cendolku gratis," ucap bapak penjual cendol.


"Iya. Aku juga berjanji. Jika seumpama Mas Akmal dan Mbak Cyra sedang kesusahan di jalan. Aku akan membantu mereka semampuku," ucap bapak pemulung.


"Iya aku juga!" jawaban itu langsung bersahut-sahutan.


"Mas Akmal dan Mbak Cyra benar-benar orang yang sangat baik sekali. Jarang sekali ada orang seperti mereka. Kalaupun ada pasti cuma dijadikan sebuah konten belaka."


"Iya benar!" sahut semua orang.


"Ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar ingin membelikan fried chicken untuk anakku di rumah. Kasihan mereka sudah sangat teringin sekali memakan ayam itu. Tapi aku belum bisa membelikannya sampai sekarang," ucap salah seorang bapak penyapu jalanan dengan raut wajah bersedih.


"Iya aku juga ingin membelikan sepatu untuk anakku. Kasihan sepatunya sudah pada berlubang. Setidaknya walau cuma bisa beli sepatu bekas. Tapi itu lebih baik daripada melihat anakku memakai sepatunya yang jelek itu."


Ya! Sekiranya seperti itulah perbincangan dari para kaum dhuafa yang mendapatkan sedekah dari Cyra dan Akmal. Bahkan ketika mereka semua mendapatkan lauk yang enak dan banyak di dalam nasi boxnya. Ada yang tidak tega untuk memakannya sendiri. Kebanyakan dari mereka memilih membawa pulang nasi box itu untuk di makan bersama dengan para keluarganya. Supaya semua keluarganya bisa ikut merasakan makanan yang enak yang mereka dapatkan pagi itu.


Bagi Cyra dan Akmal. Makanan dan uang segitu tidak ada apa-apanya. Namun mereka sadar dan tahu. Jika uang segitu dan makanan yang menunya tidak terlalu wah bagi mereka. Ada orang yang sangat bersyukur dan berterimakasih bisa merasakan kenikmatan tersebut.


Di sini kita bisa mengambil pelajaran. Berapapun harta yang kita punya. Jangan lupa untuk bersedekah dan bersyukur. Sebab apa yang kita punya, terkadang ada orang lain yang menginginkannya juga. Tapi tidak kesampaian.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...