
Malam harinya di rumah abi Rasyid. Tidak seperti biasanya baby Zahwa rewel terus menerus, menangisnya tidak mau diam sama sekali.
Sudah Cyra coba susuii dia tidak mau. Coba dibuatkan susu formula juga tidak mau. Jika tidur maunya digendong, kalau ditaruh di atas ranjang baby Zahwa menangis.
Umma Nada yang belum terbiasa dengan baby Zahwa juga sedikit kebingungan. Begitupun dengan abi Rasyid yang ikut mencoba menenangkan baby Zahwa.
"Apakah Zahwa memang begini Cyra? Kalau malam suka menangis dan tidak mau tidur?" tanya abi Rasyid sambil menimang sang cucu.
Umma Nada ikut mengalihkan pandangannya ke arah Cyra untuk menunggu jawaban.
Dengan wajah cemas dan khawatir, Cyra lalu menjawab. "Tidak pernah Abi. Aiza selalu anteng. Kalaupun rewel pasti cuma haus atau kurang tidur saja."
"Lalu kenapa sekarang Zahwa rewel begini Cyra?" Cyra menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu.
"Emm. Mungkin Zahwa belum terbiasa tidur di rumah ini, Abi." Umma Nada ikut berbicara.
"Bisa jadi Umma," Abi Rasyid dan Cyra menganggukkan kepala.
Malam itu mereka bertiga tidak bisa tidur sama sekali. Karena terus bergantian menjaga baby Zahwa yang sedang rewel. Kalaupun bisa tidur pasti akan mudah terbangun.
Keesokan harinya. Ketika Cyra sudah selesai memandikan baby Zahwa. Dia pun merasa ada yang aneh dengan tubuh sang putri.
"Ko badannya sepertinya hangat ya?" Cyra bertanda tanya sendiri.
Namun, baby Zahwa tidak rewel seperti semalam walau badannya sedang hangat saat ini.
Setelah memakaikan baju kepada baby Zahwa. Cyra lalu ke luar dari dalam kamarnya untuk menemui ke dua orang tuanya.
"Umma! Umma!"
"Ada ada Cyra?" Bukan umma Nada yang menjawab. Melainkan abi Rasyid.
"Umma mana Abi?"
"Umma sedang pergi ke pasar. Ada apa memangnya?" Abi Rasyid sedikit penasaran.
"Abi. Ini Aiza badannya hangat. Cyra harus bagaimana?" Abi Rasyid langsung menyentuh wajah sang cucu.
"Iya, hangat?" ucap abi Rasyid.
"Sebentar. Biar Abi telepon umma dulu." Cyra menganggukkan kepalanya.
Mendapatkan telepon dari sang suami. Umma Nada langsung bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah. Umma Nada langsung menemui Cyra dan baby Zahwa.
"Cyra." Umma Nada langsung menggendong baby Zahwa.
"Sudah kamu beri obat belum?" Cyra menggelengkan kepalanya.
"Kita segera pergi ke Bidan depan saja yuk. Takutnya jika Zahwa kenapa-kenapa." Cyra langsung mengangguk setuju.
"Cyra mau mengambil niqab sama tas dulu Umma."
Setelah mengambil yang Cyra butuhkan. Umma Nada bersama Cyra langsung membawa baby Zahwa ke klinik yang tidak jauh dari kompleks perumahan mereka.
Di sana sang Bidan cuma mengatakan, kalau baby Zahwa cuma kurang tidur dan kecapekan saja. Bidan itu lalu memberikan kepada Cyra, obat khusus bayi yang harus diminumkan sehari tiga kali.
Ketika sudah selesai dan mendengar penjelasan dari Bidan. Umma Nada dan Cyra merasa lega. Lalu mereka memutuskan kembali pulang ke rumah.
"Ternyata begini rasanya melihat anak sedang sakit." Cyra menimang baby Zahwa dengan perasaan sedih.
"Tenang Cyra. Anak sakit juga bukan karena penyakit," Cyra merasa kebingungan dengan ucapan sang umma.
"Lalu karena apa Umma?" tanya Cyra.
"Karena kontak batin dengan ke dua orang tuanya. Terutama dengan ibunya." Cyra mengangguk mengerti.
"Umma tinggal memasak sebentar ya," kata Umma Nada.
"Iya Umma," jawab Cyra.
Umma Nada berlalu pergi ke dapur untuk memasak. Sedangkan Abi Rasyid ikut kegiatan kerja bakti dengan para warga yang lainnya. Karena hari ini adalah hari minggu.
Pandangan mata Cyra teralihkan ketika dirinya mendengar kata salam dari depan rumah.
Cyra langsung bergegas ke luar rumah untuk melihat tamu yang sedang datang ke rumahnya.
"Wa'alaikumussalam. Eh Kalila." ternyata yang datang adalah Kalila.
"Ayo-ayo masuk, silahkan duduk," ucap Cyra dengan ramah.
"Iya. Aiza sedang sedikit demam hari ini."
"Oh ya? Kamu sendirian saja. Di mana kak Abraham?" tanya Cyra.
"Kak Abraham ada urusan. Dan yah aku ke sini karena ingin menjengukmu. Kata kak Abraham kamu kemarin baru saja kecelakaan bersama kak Akmal ya Cyra?" Cyra mengangguk lagi.
"Iya Kalila."
"Kamu baik-baik saja kan sama baby Zahwa?" Kalila merasa khawatir sekali.
"Alhamdulillah. Aku baik-baik saja ko. Tapi tidak untuk Kak Akmal."
"Iya. Aku sudah mendengar semuanya dari kak Abraham." ucap Kalila.
"Oh ya. Kamu pagi-pagi ke sini apa tidak berangkat mengajar?" Kalila tersenyum geli mendengar pertanyaan Cyra.
"Kamu lupa? Ini tuh hari minggu." Cyra langsung menepuk dahinya.
"Astaghfirullah. Aku lupa." ucap Cyra.
"Hari minggu? Jam segini biasanya kak Akmal sedang menonton televisi di ruang keluarga." Cyra berbicara sendiri di dalam hatinya.
Tapi di seberang sana. Kenyataannya Akmal tidak sedang menonton televisi. Tapi sedang dipijat oleh tukang pijat untuk membantu cedera lengannya.
"Aaaaarrghh! Sakit!" Akmal menahan rasa sakit di lengannya.
"Tahan ya Mas. Biar bengkaknya cepat kempes."
"Tahan dong Mal. Masa cuma dipijat begitu saja sudah berteriak kesakitan," ayah Rafiq ikut bersuara.
"Tapi ini beneran sakit Ayah!" ayah Rafiq malah tertawa mengejek.
"Tahan-tahan."
"Aaaaaaarrrrrgghhh!" sang tukang pijat menarik tangan Akmal cukup kuat sekali. Dan itu rasanya sangat sakit bagi Akmal.
"Hei Cyra! Kenapa malah melamun sih?" Kalila mencoba mengejutkan Cyra.
"Eh! Maaf." Cyra langsung tersadar dari masa melamunnya.
"Pasti sedang memikirkan kak Akmal ya?" Cyra tersipu malu ketika Kalila menggodanya.
"Apa sih Kalila." ucap Cyra.
Kalila tertawa puas melihat Cyra malu-malu kepadanya dengan mengalihkan keadaan sambil menimang baby Zahwa.
"Nih Cyra. Aku ke sini juga ingin memberikan ini kepadamu." Kalila menyerahkan kartu undangannya.
"Masyaallah. Barokallah Kalila." Cyra merasa senang sekali.
"Akhirnya sebentar lagi kamu akan menikah." Kalila tersenyum senang.
"Iya. Aku sendiri juga tidak menyangka. Seminggu yang lalu kak Abraham datang ke rumah untuk meminta bapak supaya mencarikan hari baik dan tanggal pernikahanku dengannya." Cyra ikut senang melihat sahabatnya bahagia.
"Semoga lancar sampai hari pernikahan ya Kalila. Aku doakan semoga pernikahanmu langgeng. Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah. Aamiin." Kalila langsung mengaamiinkan ucapannya Cyra.
Mereka berdua lalu mengobrol ringan dan santai. Mereka juga saling bertukar pengalaman, terutama tentang masalah pernikahan dan kehamilan.
Sedangkan kembali ke rumah ayah Rafiq lagi. Saat ini Akmal sudah selesai dipijatnya oleh tukang pijat.
Mata Akmal memerah. Karena baru saja merasakan tulangnya seperti bergeser dari tempatnya.
"Tenang saja Mas Akmal. Mungkin dua sampai tiga hari lagi sudah tidak bengkak seperti ini," ucap sang tukang pijat.
"Iya. Terimakasih Pak." Akmal menjawab dengan lirih.
"Dinikmati dulu Pak hidangannya. Pasti kan capek karena baru saja memijat Akmal." Ayah Rafiq mencoba menjamu dengan baik.
"Terimakasih Pak Rafiq." tukang pijat itu pun lalu menikmati camilan yang sudah disediakan.
Tukang pijat itu mengobrol biasa bersama ayah Rafiq. Akmal yang masih ada di situ, hanya mendengarkannya saja, sambil menahan rasa sakit di lengan tangannya.
Semua orang mempunyai kegiatan mereka masing-masing di hari minggu itu. Semoga di minggu-minggu yang akan datang. Ada hari baik untuk Cyra dan Akmal. Aamiin.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...