IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
PESAN MIRZA


Setelah cukup lama tertidur, karena efek obat penenang dari Dokter, akhirnya, Cyra terbangun juga dari tidurnya.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan yang ada di dalam ruang perawatan itu cuma Umma Nada serta Akmal saja.


Sedangkan Abi Rasyid, Ayah Rafiq, dan juga Mama Jian, mereka pulang sejenak untuk mengambil beberapa pakaian serta sesuatu yang mereka butuhkan nantinya.


" Cyra, kamu sudah bangun Nak?? ," tanya Umma Nada sambil tersenyum.


Akmal yang sedang menimang sang keponakan, langsung mendekat ke arah ranjang, ketika mendengar ucapan Umma Nada.


" Cyra ," ucap Akmal.


" Bawa sini Kak Akmal ," ucap Cyra, sambil mengulurkan ke dua tangannya.


Akmal dengan senang hati memberikan si baby ke pelukannya Cyra dengan sangat hati-hati.


Umma Nada dan Akmal saling pandang sambil tersenyum, karena mereka merasa bahagia bisa melihat Cyra sudah mau menyentuh anaknya.


Untuk pertama kalinya, sejak Cyra melahirkan anaknya tadi, baru sekarang dia bisa melihat dengan jelas, wajah sang putri yang benar-benar jiplakan dari Mirza hampir seratus persen.


" Kak Mirza!! ," ucap Cyra.


" Kak Mirza!! ," ucap Cyra lagi sambil berderai air mata.


Akmal langsung sigap mengambil si baby lagi dari dekapannya Cyra, karena dia takut, jika Cyra tiba-tiba mendorong si baby dari atas ranjang pasien.


" Tenanglah Nak ," ucap Umma Nada mencoba menenangkan Cyra.


" Dia,!! anak itu,!! wajahnya mirip sekali dengan Kak Mirza, Umma ," ucap Cyra sambil menunjuk sang putri yang sedang digendong oleh Akmal.


" Kak Mirza ," ucap Cyra sambil menangis sangat deras sekali.


" Ssuustt, tenanglah Cyra, istighfar, Mirza sudah meninggal, jangan seperti ini terus, kasihan cucu Umma ," ucap Umma Nada.


" Cyra ingin menyusul Kak Mirza saja Umma, ijinkan Cyra ," ucap Cyra sudah persis seperti orang gila.


" Istighfar Cyra, istighfar ," kata Umma Nada.


" Cyra tidak tahan, Cyra tidak kuat melawan ini sendirian Umma ," ucap Cyra lagi.


" Kamu tidak sendirian Cyra, ada Kakak, Umma dan yang lainnya juga ," jawab Akmal.


" Cyra tidak kuat Kak, Cyra tidak tahan melihat bayi itu yang wajahnya mengingatkan Cyra dengan Kak Mirza ," kata Cyra sambil menangis.


" Jangan jadi orang yang bodoh Cyra!! ," marah Akmal.


" Kak Mirza sudah tenang di sana, dan jika kamu seperti ini terus, apalagi sampai menelantarkan anak kalian, Kak Mirza pasti akan murka kepadamu!! ," ucap Akmal.


" Sadar Cyra, sadar!! ," bentak Akmal.


" Anak ini tanggung jawabmu, dia kewajibanmu untuk kamu bimbing menjadi anak yang sholehah,!! janganlah menjadi Ibu yang egois,!! bangun Cyra, bangun!! ," bentak Akmal lagi.


Cyra hanya bisa terdiam, sambil terus menangis dengan tersedu-sedu, ketika Akmal terus membentaknya.


Setelah itu, entah keberapa kali Cyra pingsan, namun kenyataannya, dia pingsan lagi setelah dibentak oleh Akmal.


" Jangan panggil Dokter, Umma ," cegah Akmal, di saat Umma Nada akan memencet tombol darurat.


" Tapi Akmal?? ," jawab Umma Nada.


" Biarkan Cyra tidur lagi, itu lebih baik, daripada dia sadar, nanti bisa semakin membahayakan si baby ," jawab Akmal.


" Yakinlah Umma, Cyra tidak kenapa-kenapa ," ucap Akmal lagi.


" Baiklah ," jawab pasrah dari Umma Nada.


Umma Nada dan Akmal, lalu meninggalkan Cyra dan memilih untuk berbincang santai sambil membicarakan tentang keadaan Cyra saat ini.


Sedangkan Cyra sendiri, di dalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba dia bertemu dengan Mirza, di sebuah tempat berwarna putih menyilaukan mata dan cuma ada mereka berdua saja.


" Kak Mirza ," ucap Cyra, lalu dia berlari untuk memeluk Mirza yang sedang merentangkan ke dua tangannya.


Cyra dan Mirza lalu berpelukan dengan sangat erat sekali, seperti menyalurkan kerinduan yang mereka rasakan saat ini, padahal mereka berpisah baru beberapa jam saja.


" Kenapa Umi menangis?? ," tanya Mirza sambil mengusap air mata Cyra.


" Bukankah anak kita sudah lahir ke dunia ini dengan selamat sayang?? ," ucap Mirza.


" Kenapa Abi tidak menemani Umi, ketika Umi berjuang melahirkan anak kita?? ," tanya Cyra dengan wajah yang terlihat bersedih.


" Lalu, kenapa Umi tidak bisa melihat keberadaannya Abi, jika Abi sedang menemani Umi?? ," tanya Cyra lagi.


" Bukan mata yang harus Umi gunakan untuk melihat Abi, sayang ," jawab Mirza.


" Tapi ini ," kata Mirza sambil menunjuk dada Cyra.


" Abi akan selalu menemani kalian berdua di manapun kalian berada, karena Abi selalu ada di dalam hatinya Umi dan anak kita, walau dia belum berjumpa dengan Abi sama sekali ," ucap Mirza sambil tersenyum.


Cyra langsung meneteskan air matanya mendengar perkataannya Mirza.


" Titip putri kita ya Umi, jaga dia, rawat dia, Abi sangat sayang sekali sama Umi dan putri kita ," kata Mirza sambil mundur satu langkah dari hadapan Cyra.


" Abi mau ke mana,? jangan tinggalkan Umi lagi ," kata Cyra.


" Tempat Umi bukan bersama Abi, rawat putri kita dengan baik, Abi percaya, Umi bisa membimbing putri kita untuk menjadi ahli surga ," kata Mirza.


" Bangunlah Umi, bangunlah dari ruang kosong nan hampa yang akan menyesatkanmu nanti ," ucap Mirza sambil terus berjalan mundur, hingga akhirnya, dia pun menghilang ditelan cahaya putih yang menyilaukan mata.


" Abi,!! Abi jangan pergi!! ," teriak Cyra.


Di kenyataannya, Cyra seperti sedang mengigau sendiri dan hal itu membuat Akmal dan Umma Nada langsung bergegas mendekati Cyra.


" Cyra, hei Nak, bangunlah, kamu kenapa?? ," kata Umma Nada sambil mengguncangkan tubuh Cyra.


Cyra akhirnya terbangun dengan keringat yang terlihat membasai dahinya.


" Mana putri Cyra, Umma, mana dia?? ," ucap Cyra ketika dia sudah bangun dari pingsannya.


" Dia ada di box babynya ," jawab Umma Nada.


" Tolong ambilkan dia, Umma, tolong ," pinta Cyra.


" Akan Kakak ambilkan ," kata Akmal dan Umma Nada langsung mengangguk.


Walau Akmal tidak sering menggendong bayi, tapi dia bisa, karena sudah terbiasa menggendong para keponakannya sendiri.


Akmal yang sudah mengambil sang baby, langsung dia berikan kepada Cyra, dan Cyra langsung memeluknya dengan sangat erat sekali sambil terus mencium wajahnya.


" Maafkan Umi, sayang, maafkan Umi yang sudah marah kepadamu ," ucap Cyra.


Umma Nada yang melihat Cyra sudah berubah seperti dulu lagi, langsung tersenyum sambil menangis terharu.


" Umi berjanji akan menjagamu dengan baik seperti amanat Abi kamu ," ucap Cyra lagi.


" Bantu Umi untuk menjadi Ibu yang baik untukmu ya sayang ," kata Cyra sambil memeluk sang putri.


Air mata Umma Nada terus mengalir melihat Cyra yang lembut sudah kembali seperti semula. Dan Akmal yang juga melihatnya, dia tersenyum senang sekali.


" Umma, tadi Kak Mirza marah kepada Cyra, karena Cyra ingin ikut dengannya?? ," kata Cyra.


Umma Nada dan Akmal refleks saling pandang, karena tidak mengerti dengan ucapannya Cyra.


" Kak Mirza juga mengatakan, jika Cyra harus bangun dari ruangan kosong nan hampa yang akan menyesatkan Cyra nantinya, itu apa artinya ya Umma?? ," ucap Cyra lagi.


" Itu artinya, kamu harus terus melangkah menyongsong masa depanmu, walau tanpa Kak Mirza di sisimu ," jawab Akmal.


" Sekarang juga ada si baby yang harus kamu jaga, kamu rawat dengan baik, supaya bisa menjadi ahli surga kelak, seperti keinginannya Kak Mirza ," kata Akmal lagi.


" Iya, Kak Mirza tadi juga berkata seperti itu, Kak Akmal ," kata Cyra.


" Bagaimana Kak Akmal bisa tahu itu semua?? ," tanya Cyra.


" Karena beberapa minggu yang lalu, Kak Mirza pernah mengatakan hal itu kepada Kakak ," jawab Akmal.


Iya, memang begitulah yang dikatakan oleh Mirza kepada Akmal, ketika mereka sedang berbincang berdua di taman yang ada di halaman rumah.


Mendengar ucapan dari Akmal, Cyra sedikit terbuka mata hatinya, untuk berusaha menjadi ibu yang baik bagi sang putri semata wayangnya.


Kita juga belum tahu jelas dan pasti, apakah baby blues syndrome yang dialami oleh Cyra sudah sembuh sepenuhnya atau belum.


Untuk lebih jelasnya nanti, Cyra harus diperiksa oleh orang yang ahli dan mendapatkan pengawasan khusus.


Sebab baby blues syndrome bisa terjadi sampai satu bulan lamanya, sejak bayi baru saja dilahirkan. Dan itu tergantung psikis dari sang Ibu itu sendiri.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


***TBC***