
Sesampainya di dalam mobil, Akmal langsung mengecek keadaan Cyra dan baby Zahwa.
" Kamu tidak apa-apa kan Cyra?? ," tanya Akmal.
" Bagaimana dengan baby Aiza?? ," tanya Akmal lagi.
" Cyra tidak apa-apa ko Kak ," jawab Cyra.
" Baby Aiza juga tidak kenapa-kenapa ko Abu, lihatlah, Aiza sedang membuka matanya ," ucap Cyra, dan Akmal langsung tersenyum sambil mengusap lembut pipi chubby nya baby Aiza.
" Kalau begitu, Abu jalankan mobilnya dulu ya sayang ," ucap Akmal kepada baby Aiza, namun entah kenapa, malah Cyra yang merasa panggilan sayang itu untuknya.
Akmal lalu menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya menjauhi area makam.
Semakin Akmal menjauh dari makam, semakin deras pula hujan yang turun membasahi bumi.
" Sepertinya hujannya semakin deras saja ya Kak ," kata Cyra.
" Iya ," jawab Akmal.
" Hati-hati ya Kak ," ucap Cyra dan Akmal langsung mengangguk.
" Apakah kamu dan baby Aiza kedinginan?? ," tanya Akmal.
" Tidak terlalu dingin sih ," jawab Cyra.
" Sebentar ," kata Akmal sambil meminggirkan mobilnya di pinggir jalan.
" Kenapa berhenti Kak?? ," tanya Cyra.
" Mau mengambil jaket milik Kakak yang sepertinya tertinggal di kursi belakang ," jawab Akmal.
Setelah bisa mengambil jaket tersebut, Akmal langsung memberikannya kepada Cyra, supaya bisa dipakai oleh Cyra sekaligus menyelimuti tubuh kecilnya baby Zahwa.
" Pakailah, biar kamu dan baby Aiza tidak kedinginan ," kata Akmal.
" Tapi Kakak yang lebih membutuhkan, karena baju dan jaket Kakak tadi basah terkena air hujan ," ucap Cyra.
" Tidak apa-apa, sebentar lagi juga kering ko ," jawab Akmal.
Akmal lalu menyelimuti Cyra beserta baby Zahwa dari arah depan, supaya baby Zahwa merasa hangat dan tidak masuk angin.
" Terimakasih ," kata Cyra.
" Iya, sama-sama ," jawab Akmal.
Lalu Akmal menjalankan lagi mesin mobilnya, untuk menuju ke suatu tempat. Karena hujan yang turun cukup lebat, membuat Cyra tidak menyadari, jika jalan yang dia lalui tidak menuju ke arah rumah Ayah Rafiq.
Sesampainya di tempat tersebut, hujan sudah reda dan cuaca kembali cerah seperti semula. Namun jalanan masih terlihat basah, karena baru saja disiram oleh air hujan.
" Ini rumah siapa Kak?? ," tanya Cyra, ketika Akmal sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang yang besar nan kokoh.
" Nanti kamu akan tahu ," jawab Akmal.
" Tunggu sebentar ya ," kata Akmal dan Cyra hanya mengangguk saja.
Akmal lalu turun dari dalam mobil untuk membuka pintu gerbangnya sendiri. Dan setelah terbuka, Akmal langsung memarkirkan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut.
Dari luar, rumah bercat warna putih itu terlihat sangat mewah dan juga bagus sekali. Tapi Cyra belum tahu, rumah siapakah yang saat ini dia datangi bersama Akmal.
" Ayo masuk Cyra ," ajak Akmal.
" Cyra takut Kak ," ucap Cyra.
" Tenang saja, ada Kakak ko, dan lagi pula, Kakak juga tidak akan macam-macam sama kamu ," jawab Akmal.
Akhirnya Cyra mau turun juga dari dalam mobil, dan lalu dia berjalan berdampingan bersama Akmal untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
" Kenapa rumahnya sepi sekali Kak, ke mana semua penghuni rumah ini?? ," tanya Cyra sambil memperhatikan sekitar.
" Nanti kamu juga akan tahu ," jawab Akmal sambil membuka pintu rumah yang masih terkunci.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Cyra dan Akmal mengucapkan kata salam secara bersamaan.
Cyra dan Akmal terus melangkah, sambil memperhatikan seluruh ruangan yang ada di dalam rumah tersebut. Hingga akhirnya, langkah kaki mereka berdua sampai juga di sebuah tempat, yang mana membuat Cyra langsung menghentikan langkah kakinya.
Mata Cyra mengarah ke satu obyek yaitu foto pernikahannya dengan Mirza, yang dicetak begitu sangat besar sekali yang menempel di dinding rumah itu.
" I-itu-itu foto?? ," ucap Cyra dengan suara tergagu sambil menunjuk foto tersebut.
" Iya, itu foto pernikahanmu dengan Kak Mirza ," jawab Akmal.
" Tapi,!! ini sebenarnya rumah siapa Kak?? ," tanya Cyra.
" Ini rumah Kak Mirza yang khusus sudah dia siapkan sejak dulu dan akan dia tempati ketika sudah menikah ," jawab Akmal.
Meleleh air mata Cyra mendengar jawabannya Akmal.
" Jika Kak Mirza sudah mempunyai rumah sendiri sejak dulu, kenapa ketika kami ijin ingin pisah rumah, Mama dan Ayah tidak memperbolehkan kita, Kak Akmal?? ," tanya Cyra menuntut jawaban.
" Kami bukannya tidak memperbolehkan Cyra, tapi pada waktu itu, Ayah dan Mama sangat khawatir jika kalian pisah rumah, Mama sama Ayah tidak bisa mengawasi kondisi Kak Mirza dari jarak dekat ," jawab Akmal.
" Kak Mirza tahu, kenapa Ayah sama Mama melarangnya, tapi dia sengaja tidak jujur kepadamu, karena tidak mau membuatmu khawatir dengan keadaannya ," ucap Akmal.
Semakin deras saja air mata Cyra mendengar penjelasannya Akmal.
Akmal lalu mengambil alih baby Zahwa ke dalam gendongannya, dan Cyra langsung melangkah untuk mendekat ke arah semua foto-foto yang tertempel rapi di dinding rumah.
Cukup lama Cyra menatap semua foto-foto pernikahannya dengan Mirza, sampai membuat niqab yang dipakainya basah karena air mata.
" Ayo Cyra, akan Kakak tunjukkan di mana kamar kalian berdua ," kata Akmal.
Dengan langkah tertatih, Cyra lalu mengikuti ke mana kaki Akmal melangkah.
Sesampainya di lantai dua rumah itu, Akmal membukakan salah satu pintu, yang ternyata adalah pintu kamar utama di rumah tersebut.
Di dalam kamar utama, sudah cukup banyak foto milik Cyra dan Mirza yang tertempel di dinding kamar. Ada foto pernikahan juga yang ukurannya sama besarnya seperti yang ada di ruang Keluarga, serta ada foto-foto Cyra yang sengaja Mirza cetak sebagai pajangan di dinding kamar.
Apa yang ada di dalam rumah itu, semuanya hasil rancangan Mirza sendiri. Di dalam rumah itu juga sudah komplit perabotannya, cuma tinggal menempati saja.
Tapi sayang, angan-angan cuma angan-angan saja, karena sang pemilik rumah, sudah kembali ke rumah abadinya, yaitu ke pangkuan Sang Ilahi.
Cyra tiba-tiba terduduk lemas di pinggir ranjang sambil menangis sejadi-jadinya. Rasa rindunya kepada Mirza, sekarang semakin bertambah besar, karena melihat semuanya yang sudah disiapkan Mirza untuknya.
Ingin sekali Akmal duduk di samping Cyra, memberikan bahunya dan memeluknya cukup erat, untuk memberikan ketenangan hati bagi Cyra.
Tapi apa boleh buat, semua itu hanya bisa Akmal bayangkan saja untuk saat ini, sebab dirinya belum halal bersama Cyra.
" Apakah kamu tahu Cyra, ucapan apa yang Kak Mirza katakan selain menitipkan mu kepada Kakak, sebelum Kak Mirza meninggal?? ," kata Akmal dan membuat Cyra langsung mendongak untuk menatap ke arahnya.
" Kak Mirza menyuruh Kakak untuk menikahi mu ," ucap Akmal dengan sangat jelas sekali.
Cyra refleks menggelengkan kepalanya, karena merasa sangat terkejut mendengar ucapannya Akmal.
" Kakak tidak mau munafik dan berbohong kepadamu Cyra ," kata Akmal.
" Rasa cinta yang selama bertahun-tahun ini Kakak rasakan untukmu, tidak pernah pudar sama sekali di dalam hati Kakak ," Akmal mencoba jujur lagi.
" Dan Kakak sedikitpun tidak ingin terburu-buru menjadikanmu sebagai istri Kakak, karena Kakak sangat tahu sekali, jika di dalam hatimu masih banyak cinta untuk Kak Mirza ," ucap Akmal lagi dan Cyra masih diam mendengarkan.
" Tapi ingatlah satu hal Cyra, Kakak akan terus memperjuangkan cinta Kakak ini, sampai kamu mau membuka hatimu untuk Kakak ," kata Akmal terlihat sangat bersungguh-sungguh sekali.
" Dan Kakak juga tidak menyuruhmu untuk menyingkirkan Kak Mirza dari dalam hatimu, yang Kakak inginkan, Kakak bisa bersanding dengan Kak Mirza di dalam hatimu yang paling dalam ," ucap Akmal lagi.
Cyra masih terus menatap lekat ke arah Akmal, yang saat ini sedang mengungkapkan perasaannya lagi kepadanya, setelah sekian lamanya dia pendam di dalam hatinya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...