
Akmal sudah memberitahu kepada para mamang yang berjaga di pintu gerbang. Jika ada orang yang mencarinya. Mereka disuruh untuk membukakan pintunya dan di suruh untuk langsung masuk saja.
Benar saja. Tidak lama setelah Akmal membuka pintu garasi mobilnya dan mengeluarkan satu mobil miliknya serta satu mobil milik sang kakak dulu. Laki-laki yang sombong tadi akhirnya sampai juga di rumahnya.
Laki-laki tadi bersama sang istri sangat terkejut melihat rumah megah nan mewah yang ada di depan matanya. Sebab rumah mereka saja tidak semewah milik Akmal dan Cyra.
Laki-laki sombong tadi langsung memarkirkan mobilnya ke dalam halaman rumah Akmal. Nyali laki-laki tadi langsung menciut ketika melihat deretan mobil mewah terparkir rapi di halaman rumah dan juga di dalam garasi.
"Lebih baik kita pulang saja yuk Ayah. Lihatlah mobil yang mereka punya. Mewah sekali. Kita masih bisa membenarkan spion ini di bengkel," ucap sang istri.
"Tidak Ma! Kita sudah sampai sini masa harus pergi. Jangan cuma karena melihat semua mobil itu nyali kita jadi kecil. Gengsi Ma! Apalagi dia yang sudah salah kepada kita," jawab sang laki-laki.
Akmal sebenarnya sudah menunggu kedatangan mereka daritadi. Dan Akmal tiba-tiba datang dari dalam rumah untuk menyambut laki-laki tadi yang hanya berdiri saja di samping mobilnya.
"Ternyata Anda sudah datang Pak. Mari-mari! Kita masuk dulu ke dalam," Akmal mencoba menjadi tuan rumah yang baik.
Padahal niat di dalam hatinya juga ingin menunjukkan kepada mereka. Jika rumahnya sangat mewah sekali.
Dengan langkah tegap dan tidak mau dianggap kalah. Laki-laki tadi lalu masuk bersama sang istri ke dalam ruang tamu rumah Akmal.
Akmal tersenyum ramah menyambut tamunya. "Silahkan duduk."
Laki-laki itu bersama istrinya lalu duduk di sofa mewah milik Akmal sambil melirik interior yang ada di ruang tamu tersebut. Sedangkan sang istri sudah terpukau sejak tadi dengan rumah Akmal yang benar-benar sangat bagus dan mewah sekali.
"Emm! Mau minum apa Pak, Bu? Biar bisa dibuatkan oleh para pembantu saya."
Walau Akmal berucap sambil tersenyum. Tapi Akmal juga sengaja menekan kata para pembantu kepada mereka berdua.
"Tidak perlu! Kami di sini cuma ingin meminta uang ganti rugi saja!" laki-laki itu masih menunjukkan sikap sombongnya. Namun kali ini sikap sombongnya itu untuk menutupi rasa gengsinya.
Cyra tiba-tiba keluar dari dalam rumah sambil menggendong baby Zahwa.
"Eh ada tamu ternyata," Cyra berbasa-basi langsung duduk di sofa samping Akmal.
Pandangan mata semua orang teralihkan ke arah Cyra yang baru saja datang.
"Umi tolong buatkan minuman untuk mereka. Mereka 'kan tamu kita," Cyra tersenyum dan mengangguk.
Setelah itu Cyra langsung berdiri dari duduknya untuk melakukan perintah Akmal. Tapi langsung dicegah oleh laki-laki tadi. Karena dirinya sudah tidak betah berada di rumah Akmal dan Cyra.
"Tidak perlu Nyonya. Saya cuma sebentar saja."
Sekarang saja laki-laki itu memanggil Cyra dengan panggilan nyonya. Hadeuh! Dasar manusia. Cyra otomatis langsung duduk kembali karena mendengar ucapan sang laki-laki tersebut.
"Cepat berikan uang ganti ruginya Tuan. Karena saya masih ada keperluan lagi setelah ini!"
Akmal mengangguk. Lalu menyuruh Cyra lagi. "Umi! Tolong ambilkan cek milik Abu yang ada di dalam laci dong! Karena kita tidak punya uang cash yang banyak di rumah."
Cyra mengangguk patuh kepada Akmal. Sama seperti tadi. Ketika Cyra akan berlalu masuk ke dalam rumah. Langsung dicegah lagi oleh laki-laki sombong itu.
"Bisakah anda memberikan uang cash saja kepada saya. Karena saya tidak mau repot menukarkan cek itu ke bank."
Akmal menganggukkan kepalanya lagi. "Di rumah cuma ada uang cash seratus juta. Apakah cukup untuk mengganti spion mobil anda itu Pak? Jika saya berikan cek. Anda 'kan bisa menulis berapapun jumlah uang ganti rugi yang anda mau."
Wuih! Tidak kaleng-kaleng Akmal menunjukkan kesombongannya dihadapan orang seperti laki-laki itu. Namun masih dengan cara yang terlihat elegan dan keren.
Sang laki-laki sombong itu sebenarnya sangat terkejut sekali mendengar ucapannya Akmal. Begitupun dengan sang istri. Tapi laki-laki itu masih gengsi menunjukkan, jika dirinya sudah kalah telak dengan Akmal.
"Anda masih mau pilih uang cash Pak? Atau cek yang akan saya berikan kepada Anda?"
"Atau begini saja! Saya beri uang lima puluh juta. Apakah cukup untuk mengganti spion Anda yang patah itu?" Akmal sengaja berbicara seperti itu.
Laki-laki sombong itu ingin sekali menerima uang yang sangat banyak tersebut dari Akmal. Akan tetapi dirinya berpikir lagi. Jika orang seperti Akmal pastilah sangat tahu sekali berapa pastinya harga spion mobil miliknya.
"Kenapa Anda diam saja Pak?" ucapan Akmal sukses membuat laki-laki itu tersadar.
"Engh!"
Belum sempat dirinya berbicara. Akmal menyelanya lagi. "Atau begini. Saya mempunyai toko sparepart mobil terbesar di kota ini. Di sana saya juga menjual berbagai spion mobil. Jika Anda mau. Saya bisa mengantarkan Anda ke toko saya dan memilih sendiri spion yang Anda inginkan plus pemasangan gratis. Bagaimana dengan tawaran saya yang ini?"
Nah 'kan! Semakin bingung laki-laki sombong itu. Hingga dirinya sekarang tidak ada suaranya sama sekali seperti tadi.
"Saya butuh lima juta saja Tuan. Biar saya beli sendiri dan memperbaiki spionnya di bengkel langgananku."
Akmal tersenyum sangat tipis sekali dibalik diamnya. "Oh! Bukankah uang lima juta itu terlalu sedikit untuk orang seperti Anda, Pak?"
"Atau Bapak mau mengambil motor saya yang tadi yang sudah menyebabkan spion Bapak patah. Tidak apa-apa untuk saya. Supaya saya tidak mempunyai hutang dan pertanggung jawaban kepada Bapak nanti di akhirat."
Cyra tersenyum dibalik niqabnya. Karena sang suami sudah benar-benar terlihat sombong namun berkelas.
"Tidak perlu Tuan. Uang lima juta saja sudah cukup ko. Benar 'kan Ma?" ucap sang laki-laki. Dan sang istri langsung menganggukkan kepalanya.
"Ok baiklah! Jika itu permintaan Anda, Pak," ucap Akmal.
"Umi tolong ambilkan dompet Abu di dalam laci. Sini biar Aiza ikut sama Abu dulu ya."
Cyra mengangguk. Dan kali ini dirinya langsung bergegas menuju ke dalam kamar untuk mengambil dompet Akmal di dalam laci. Setelah mendapatkan dompet tersebut. Cyra langsung memberikan dompetnya kepada Akmal.
Akmal lalu mengeluarkan sejumlah uang untuk dia berikan kepada laki-laki sombong itu. "Ini Pak. Uang enam juta. Yang satu juta bonus dari saya. Karena sudah mengganggu waktu Bapak hari ini. Silahkan dihitung kembali."
Laki-laki sombong itu langsung mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya. "Tidak perlu Tuan. Saya percaya ko kepada Anda."
"Emm! Terimakasih banyak Tuan. Kalau begitu. Saya pamit undur diri dulu."
Cyra dan Akmal hanya mengangguk saja, sambil tersenyum ramah kepada ke dua tamu mereka yang sudah berdiri dari duduknya.
Akmal dan Cyra mengantarkan mereka berdua hingga ke teras depan. Dan akhirnya. Sang tamu pun masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari halaman rumahnya.
Setelah mobil laki-laki tadi tidak terlihat dari halaman rumahnya. Akmal tertawa terbahak-bahak sangat keras sekali. "Mana ada uang cash di rumah ini sebanyak seratus juta. Kalau di bank, ada!"
Cyra refleks langsung memukul pelan pundak Akmal. "Tapi akting Abu hebat lho. Bisa membungkam mulut laki-laki sombong itu!"
"Iya! Abu tahu. Tapi kesombongan yang tadi jangan sampai menjadi kebiasaan ya Umi. Tidak baik."
"Apa tho yang harus disombongkan oleh manusia? Sedangkan Allah sang Maha pencipta saja Maha Pemurah."
Cyra tersenyum. "Abu benar. Dan semoga saja laki-laki tadi bisa merubah sifatnya setelah melihat pelajaran dari Abu tadi."
Akmal mengangguk. Setelahnya Akmal mengajak Cyra dan baby Zahwa untuk masuk ke dalam rumah.
Sedangkan untuk laki-laki tadi yang sudah sampai di penjaga pintu portal. Dia mencoba memastikan lagi siapa Akmal sebenarnya. Setelah mendengar pengakuan dari para scurity. Barulah sang laki-laki semakin yakin. Jika Akmal adalah seorang sultan. Dirinya kali ini salah memilih lawan yang jauh lebih kaya darinya.
Inti dari bab ini dan sebelumnya. Sifat sombong adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah. Dan membalas orang yang sombong dengan kesombongan adalah sedekah. Niatkan untuk menyadarkan orang yang mempunyai sifat sombong seperti laki-laki tadi supaya sadar akan sifat tercelanya itu.
Semoga kita semua dihindarkan dari sifat sombong dan angkuh serta semena-mena. Aamiin.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...